
Semenjak pertemuan pertama ku dengan Irman setelah empat tahun tak bertemu, ada setitik harapan untuk bisa bersamanya aku ingin menebus semua kesalahan yang aku lakukan. Orang sebaik dan se sabar Irman aku sia -sia kan tapi tetap kembali lgi pada takdir , mungkin harus seperti inilah kisah percintaanku begitu rumit sulit untuk dijelaskan.
Sesaat setelah acara pertemuan rutin , Irman memanggilku dan mengajak sebentar berbincang - bincang. Anehnya kelakuan ku seperti seorang gadis saja yang sedang jatuh cinta ,salah tingkah, gugup bahkan yang lebih memalukan pipiku merah merona.
Kenapa aku harus ada di posisi seperti ini? ini memalukan aku gak mau Irman tahu bahawa saat ini aku seneng bisa bertemu dengannya lagi dan aku gak mau dia tahu kalau aku menunggunya, menunggu janji -janjinya.
Suasana begitu sangat canggung, bingung harus bagaimana. Padahal Irman yang memanggil ku dulu tapi nyatanya ia pun diam seribu bahasa.
Aku pun berusaha untuk memulai berbicara agar tak ada kecanggungan lagi. Kebetulan juga sore itu aku harus segera pulang karena Shafira menungguku hingga waktu bersamanya pun begitu singkat.
*
*.*
*.*
*
Kini mobilku telah sampai di parkiran Cafe, sesuai dugaanku Shafira sedang menangis beruntung ada kekasih Jo sedikit banyak membantu di saat Shafira seperti ini.
Saat melihatku Shafira langsung berlari ke arahku dan ku sambut dengan pelukan.
" Umma kenapa lama, Ila mau sama Umma" rengek nya
"Maafin Umma yah, tadi acaranya memang lama. Nah terus kenapa Ila menangis? Ila kan udah sekolah masa nangis? "
" Emang Ila gak boleh nangis?
" Bukan gak boleh sayang, hanya saja tadi Umma kan udah izin sama Ila kalau Umma ada acara di rumah sakit tempat Umma kerja dan nanti pasti pulang terlambat. Umma juga bilang ke Ila jangan nangis kalau Umma lama, Jadi harusnya Ila belajar bersabar yah?"
Sambil terisak - isak " Ila gak bisa lama -lama jauh sama Umma , "
" Cup. .cup anak Umma sayang, ia maafin Umma yah "
Ila hanya menganggukan kepalanya, tak tega sebenarnya harus meninggalkan Ila saat aku bekerja pun pikiranku terus teringat pada Ila,. Takut ia rewel lah atau mungkin menyusahkan kekasih Jo seperti tadi. Meski kekasih Jo menawarkan diri untuk menjaga Ila Saat aku kerja tapi tetap saja ada perasaan tak enak hati di saat Ila rewel seperti itu.
" Riska makasih ya udah mau jaga Ila, maaf sering merepotkanmu "
" Mba Aisyah jangan bicara seperti itu, Riska sama sekali gak di repotkan . Aku suka sama Ila mba dia lucu "
" Sepertinya kamu suka anak kecil?"
" Ia mba suka sekali "
" Kalau gitu segeralah menikah dengan Jo , biar kamu dan Jo punya baby " ucapku sambil terkekeh.
" Bujukin Jo mba, padahal aku udah siap lahir batin untuk membina rumah tangga tapi Jo bilang jangan terburu-buru tunggu sebentar lagi katanya"
" Begitulah Jo , mba juga bingung entah apa yang bocah itu tunggu lagi"
Aku tahu sebenarnya alasan Jo terus mengulur -ngulur waktu untuk segera mungkin menikah, hanya satu alasannya benar-benar memantapkan hatinya agar apa yang aku alami tak terjadi pada Jo. Padahal sudah aku bilang berulang kali untuk tak menjadikan diriku patokan karena setiap orang punya takdir masing-masing dan tak mungkin juga Jo bernasib sama Seperti ku yang mengalami kegagalan dalam berumah tangga.
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
Pagi ini aku memantapkan hatiku untuk resign dari pekerjaanku menjadi dokter, keputusan ini aku ambil setelah menimbang - nimbang dan memikirkannya semalaman meski aku tahu baru tiga bulan aku menjadi dokter ,tapi tak masalah yang terpenting Shafira mendapatkan perhatian , kasih sayang lebih dariku dan juga supaya aku tidak terus merepotkan Riska calon istri dari adikku Jo.
Setelah mengantarkan Shafira ke sekolah ,mobil yang aku kemudi melaju ke arah rumah sakit tempat aku kerja surat resign sudah ada tinggal memberikannya saja pada atasan.
Berat memang, karena menjadi dokter adalah cita-cita ku bahkan ini juga keinginan mendiang Bapak juga Ibu, tapi aku tak boleh egois karena Shafira lah yang terpenting saat ini.
Kini aku sudah ada di depan pintu ruangan kepala rumah sakit, aku coba untuk menarik nafas dan tanganku ku arahkan pada hendle pintu dan membukanya dengan begitu yakin.
" Assalamu'alikum pak"
" waalaikumsalam, silahkan duduk! !!
Dokter Aisyah ada keperluan apakah hingga dokter sepagi ini sudah mendatangi ruangan ku ? " tanya kepala rumah sakit penuh selidik
Aku gugup benar-benar gugup " a--nu Pak saya hanya ingin menyerahkan ini" Memberikan surat resign.
" Apa ini?" tanya kepala rumah sakit sambil membolak balik surat resign ku.
" Itu.. surat resign saya pak"
Kemudian kepala rumah sakit membuka dan membaca surat resign ku , semoga saja bisa lolos agar aku bisa kembali kerutinitas awalku merawat Shafira dan mengelola Cafe bersama jo.
Setelah membacanya kepala rumah sakit langsung menatap kearah ku " Dokter Aisyah saya terima keputusan anda untuk resign, Hanya saja saya menyayangkan hal itu karena meski anda baru bergabung di sini selama 3 bulan kinerja anda sangat bagus .Saya harap anda memikirkanya baik-baik"
" Saya sudah yakin pak dengan keputusan saya untuk resign "
" Baik kalau begitu, saya ucapkan terima kasih pada anda karena selama tiga bulan bekerja di sini begitu sangat baik" ucap kepala rumah sakit .
" Terima kasih banyak pak atas pengertiannya"
*
*
*
Kini matahari semakin tinggi sudah saatnya aku untuk menjemput Shafira pulang sekolah, Aku tak mau mengecewakan Shafira aku mau menjadi ibu sekaligus Ayah yang baik untuk Shafira meski aku tahu semakin ia tumbuh sesuai usianya ia pasti akan menanyakan sosok yang bernama Ayah entah apa yang harus aku jawab nanti.
Saat tiba di depan sekolah Shafira, aku melihat Shafira sedang duduk dengan seseorang yang aku tak kenal karena posisi dia membelakangi ku.
Setelah aku memarkirkan mobil segera mungkin aku turun dan menghampiri Shafira karena takut orang yang bersama Shafira itu orang yang ingin memanfaatkan Shafira.
Aku pun memanggil Shafira dari kejauhan sambil berlari kecil " Ila "
Terlihat Shafira menengok ke arahku dan di sambut dengan senyuman. " Umma " berlari memelukku.
" Ila sayang maafin Umma yah, Umma telat lagi jemput Ilanya "
" Gak apa-apa Umma, Ila ngelti ko "
" Uh anak Sholehah nya Umma" sambil mengelus kepala Shafira. " Yaudah sekarang kita pulang yah "
" Bental Umma , Ila mau kenalin sama Ayah Dokter ayo ikut Ila " menarik tanganku
" Sebentar sayang jangan tarik tangan Umma, Emangnya Ayah Dokter itu siapa ? Umma kan udah pernah bilang jangan terlalu percaya dengan orang asing "
" Gak umma , Ayah Doktel baik ia itu Ayahnya Ila"
Untuk kali ini aku pasrah saja dengan kemauan Shafira, meski agak risih dengan kehadiran Orang itu yang Shafira sebut Ayah Dokter.
__ADS_1
" Ayah..ayah " ucap Ila menyentuh tangan sang dokter karena posisi sedang menelpon dan membelakangi aku juga Ila
Orang itu mematikan telponnya lalu membalikkan tubuhnya dan berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Shafira.
Maka terlihat jelas siapa Ayah Dokter yang Shafira maksud, seketika itu ingin rasanya lari aku tak menyangka anakku sedekat itu dengan dia. Dia mendongkakkan kepala nya dan tersenyum manis padaku.
Aku hanya bisa diam tubuhku tiba-tiba seperti tak bisa di gerakkan dan mulutku serasa terkunci.
" Ada apa Ila sayang ?
" Ila mau kenalin Ayah ke Umma , nih Umma Ila "
Dia bangkit dari jongkoknya. " Jadi Ila itu anakmu?
Aku tak berani berkata hanya mengisaratkannya saja dengan anggukan kepala.
" Aku merasa dunia itu sempit, kemana pun aku pergi takdir selalu saja mempertemukan kita, apakah kau tak merasa ini aneh?
" Tidak, karena Aku yakin apa yang kita alami sudah tercatat semuanya di loh mahfud tak ada yang kebetulan di dunia ini"
" Jadi kamu fahamkan maksud Aku?
" Kamu tak berbicara apa pun jadi apa yang harus aku fahami?
" HEhe Kamu ini " ....
Tiba-tiba Ila berbicara.
" Apa umma sama ayah sudah saling kenal?
" Tentu sayang , Ayah sama Umma Ila sudah saling kenal " jawab Irman
" oh belalti Ila gak usah ngenalin lagi dong " ucap Shafira begitu polos.
Tak mau ada di posisi ini akhirnya aku mengalihkan pembicaraan, yaitu meminta Shafira untuk segera pulang. Namun di luar dugaan Shafira ternyata malah ingin pulang bersama Irman.
" Shafira gak boleh gitu, ayo pulang sama Umma, om nya sibuk" ucapku
" " Aku sama sekali gak sibuk , yaudah ayo pulang bareng ayah "
Apa? ayah ? sejak kapan dia jadi ayah Shafira.
" Bukan ayah tapi om"
" Gak umma Ila mau panggil Ayah saja "
Lagi-lagi Aku tak bisa menolak Shafira,
" Kamu bawa mobil" tanya Irman padaku dan ku jawab dengan anggukan.
" Mobilnya nitip di sini saja kamu dan Shafira pulang bareng aku,naik mobilku "
" Gak usah , ak---- : pembicaraan ku terpotong.
" Sudah Ayo ikut aku"
Deg. .deg. ..deg. ... ini jantung kenapa Ya Alloh, gak kuat harus ada di posisi ini bisa -bisa pertahananku runtuh meskipun memang ini yang aku mau.. Tapi aku tak mau terlihat senang dia bisa ke GR-an
....
tbc
__ADS_1