Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Terlambat


__ADS_3

Aisyah POV


Anak-anak ku kini sudah tumbuh dewasa bahkan empat di antara enam anakku sudah menikah dan aku juga sudah memiliki cucu. Mereka tinggal jauh denganku, hanya Aa Rey sama si cantik kalem Ais yang masih setia menemaniku dan juga suamiku dimasa tua ini. Tapi bukan tak mungkin kedua anakku ini juga pasti akan meninggalkan ku saat jodoh mereka sudah datang. Aku sebagai orang tua hanya bisa pasrah apa lagi empat anakku perempuan sudah sewajarnya jika di bawa oleh suami mereka.


Untuk kepengurusan rumah sakit, harapanku juga suami hanya Rey, dia yang akan menggantikan Abi nya, kalau A Arsya tak mungkin bisa meneruskan kepemimpinan Abi nya, sebab ia sekarang di Singapore meneruskan bisnis milik keluarga sang mama, Almarhumah Lisa.


Fokus utama ku dari dulu adalah Ais, karena hanya ia satu-satunya yang tak aku kirim mondok. Alasannya agar aku tak sendiri di rumah dan aku juga ingin merasakan bagaimana pusing dan riweh nya mendidik anak itu. Bukan pilih kasih atau apa itu namanya, tapi yang pasti aku benar-benar menerapkan nilai-nilai agama, batasan mahram dan semua pokok-pokok agama aku ajarkan pada Ais, sesuai apa yang aku ketahui.


Jangan salah, meski Ais tak mondok Alhamdulillah berkat qudrat dan iradat Alloh ia menjadi seorang Hafizah. Tepat usianya 18 tahun ia sudah menamatkan hafalannya.


Dan tahun ini usianya genap dua puluh tahun. Serasa baru kemarin aku mandiin ia, gantiin popoknya, menemani ia belajar jalan, menemani ia menghafal Al-Qur'an dan masih banyak lagi kenangan suka dukanya selama merawat dan membesarkannya.


Siang malam di dalam setiap doa ku selalu aku selipkan untuk mereka orang-orang yang aku cinta dan sayang. Kebahagiaan anak-anak, suami, Adikku serta semua orang-orang yang telah mendahului ku tak luput aku mendoakannya, terlebih Bapak sama Ibu.


Aisyah pov off


*************


Aisyila pov


"Umma, Ais berangkat ke kampus dulu yah" izinku pada Umma.


"Sarapan dulu dek, gak baik ninggalin sarapan" nasihat umma padaku.


"Nanti saja Umma, Adek benar-benar sudah terlambat. Umma tahu kan ini hari pertama adek masuk kampus"


"Ya udah nih (memberikan kotak makan) bawa ini, Umma gak mau kalau adek sampai melupakan sarapannya"


Mengambil kotak makan lalu memeluk Umma "Terima kasih, Umma memang yang terbaik. Abi mana Umma?"


"Abi sama Aa pagi-pagi sekali udah berangkat ke rumah sakit, katanya ada Operasi mendadak"


"Pantesan rumah sepi, biasanya kalau ada si Aa suka rame ini rumah. Ya udah ah adek berangkat, Assalamu'alaikum." pamit ku pada Umma lalu salim dan mencium tangan Umma.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa motornya."


"Ia Umma."


Dari SMA kelas 2 pas banget baru punya KTP, aku udah di beri izin bawa motor. Begitu banyak perjuanganku untuk dapat izin bawa motor, well ini hasilnya sampai sekarang masih ngantongin izin bawa motor.


Alasanku sebenarnya hanya satu, yaitu biar cepat. Kita tahukan Ibu kota itu tempat yang namanya macet. Entah akan sampai kapan yang namanya macet bisa teratasi. Kalau bawa motor setidaknya bisa selip sana selip sini, jadi gak terlalu berlama-lama bermacet-macetan.


Saat aku menikmati jalanan ibu kota yang masih lenggang ini, mataku terfokus pada seorang pria yang begitu sabarnya menggandeng sepasang manula menyebrang jalan. Hingga tanpa sadar aku malah menghentikan laju motorku dan sedikit menepi, hanya untuk melihat sosok di sebrang sana.


Aku memang tak bisa melihat wajahnya, tapi aku salut ternyata masih ada pria yang mempunyai rasa empati pada sesama. Di jaman yang menurutku nilai agama, moral serta akhlak kian merosot. Terlalu di jajah oleh kehebatan teknologi dan gaya hidup hedonisme.


Jujur aku juga menikmati kecanggihan Teknologi, tapi aku gunakan sewajarnya saja. Dan aku juga memanfaatkannya untuk hal positif. Alhamdulillah dan Qudratullah aku dan teman-teman komunitas peduli sesama bisa menciptakan satu aplikasi yang mutakhir.


Banyak orang yang suka, dan dari hasil itu aku juga komunitas bisa membangun satu yayasan . Di sana kami menampung anak-anak gelandangan serta manula-manula yang ter luntang-lantung di jalanan tanpa arah tujuan.


Ingat, bukan hanya sekedar menampung. Tapi kami juga mengajarkan keterampilan pada mereka setidaknya mereka punya satu keterampilan, yang bisa menghasilkan uang.


**********


"Kamu telat sepuluh menit" ucap senior yang di bajunya tertera nama Rika.


"Maaf kak," ucapku.


"Sit Up." titahnya padaku.


Aku ikuti keinginan senior, bukan berarti aku takut, tapi aku sadar diri karena ulahku yang telat dan ini risikonya.


"Lima puluh kali."


"What" pekik ku.


"Gak kebanyakan kak? itu namanya nyiksa bukan ngasih hukuman." protes ku.

__ADS_1


"Apa bedanya? dihukum artinya kan gak beda jauh nyiksa orang yang salah." ucap senior itu sinis.


Menurutku percuma berdebat dengan yang namanya senior, karena junior tetap akan salah.


Aku pun terpaksa menyanggupi di hukum sit up 50 kali. meski menurutku ini keterlaluan tapi apa boleh buat, kembali lagi ke awal senior selalu benar dan junior selalu salah. Saat aku khusu dengan hukuman itu, tiba-tiba dari arah belakangku terdengar suara pria dewasa yang entah siapa itu, telah menyelamatkanku dari hukuman ini.


"Rika, ingat yah Bapak gak suka ada hukuman terlalu keras. Cukup buat mereka jera saja."


Pandanganku tertuju pada senior itu yang terlihat melongo, seperti sedang mengagumi sesuatu. Sampai-samapi ia tak menjawab suara pria dewasa itu.


"Rika! kamu dengarkan Bapak bicara." pria itu sedikit menaikan suaranya.


Senior nampak kaget dan langsung menjawab dengan terbata-bata.


"Eh ia pak, ini juga udah kok di hukumnya." senior langsung memerintah ku untuk berhenti.


"Ya udah Bapak tinggal dulu."


"Silahkan pak."


Sepertinya pria yang tadi di panggil Bapak adalah salah satu dosen di sini. Aku ingin tahu orang nya, hingga membuat senior terus saja memperhatikannya tanpa berkedip sedikit pun. Saat ku membalikkan tubuhku sosok itu sudah menjauh, hanya punggungnya saja yang terlihat. Tubuh jangkung dan dan berpeci hitam, aku tak menyangka masih ada orang yang pakai peci hitam di kampus.


Pak dosen itu pasti sudah menikah, beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya itu, pikirku.


Aku hanya tersenyum sendiri merasa sedang di permainkan takdir, tadi di jalan bertemu pria impianku pria yang punya jiwa sosial tinggi dan sekarang di kampus bertemu pak dosen berpeci hitam, yang aku nilai pasti berjiwa religius.


"Hai sadar." bentak senior benar-benar membuat lamunanku musnah seketika.


"Apa kak."


"Hari ini kamu selamat, tapi jika kamu melakukan kesalahan lagi ( sambil nunjuk -nunjuk ke wajah), jangan harap bisa lolos dari hukuman ku." ucap senior lalu pergi.


Aku hanya bisa mengelus dada, baru pertama masuk udah di suguhkan sesuatu yang tak mengenakan hati serta mood.

__ADS_1


Andai kata senior dan junior tak pernah ada.


TBC


__ADS_2