Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
126


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Hubungan pernikahanku dengan Keanu masih abu-abu. Tidak ada perkembangan tidak pula ada keinginan untuk mundur.


Selama satu bulan ini aku belajar untuk mengikhlaskan semua. Aku tahu semua yang terjadi pada diri kita tidak lain ada campur tangan Allah SWT. Semua sudah tersusun rapi di Loh Mahfuz. Sekarang tinggal membenahkan hati.


Selama satu bulan itu pula, Keberadaan Pak Zain dan keluarganya dinyatakan meninggal dunia hanya Reni, ya hanya dia yang selamat. Tubuhnya ada di pinggir sungai dengan luka yang begitu serius.


Reni sudah sadar setelah kurang lebih satu Minggu lamanya ia koma. Hanya saja dia sering melamun, ia tidak mau diganggu termasuk olehku.


Namun aku berusaha untuk bisa menghibur Reni. Dia tidak boleh terus seperti ini, dia harus melanjutkan hidupnya dia tidak boleh terus terjebak dalam peristiwa itu.


Alasan ini juga kenapa hubungan aku dan Keanu masih abu-abu. Sebab waktuku hanya dihabiskan bersama Reni. Keanu tidak keberatan aku seperti ini malah dia mendukung.


Namun yang sebenarnya terjadi, aku menjadikan Reni sebagai alasan untuk aku agar tidak tidur sekamar dengannya. Sungguh aku belum siap.


Saat Reni sudah tertidur karena pengaruh obat. Aku pun beranjak dan kebetulan berpasan dengan Umma entah mungkin Umma memang sengaja ingin menemuiku.


"Tidur?" tanya Umma seraya mengintip sebentar lalu kembali fokus padaku.


"Iya," jawabku.


Aku menutup pintu kamar Reni dengan perlahan. Setelah pintu tertutup Umma tiba-tiba terdiam dan menatapku begitu dalam. Aku melihat Umma menghela napas, sungguh aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang Umma pikirkan.


"Ikut Umma."


"Ke mana? Ais gak bisa pergi jauh, takut Reni bangun nanti dia histeris lagi."


Umma sepertinya kembali menarik napas dalam dan panjang.

__ADS_1


"Ikut ke kamar Umma. Sebentar saja."


Kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini? Apa Umma marah padaku? Karena apa?


"Ais, dengar kata Umma kan?"


"Ah, iya, Ais dengar Umma. Tapi sebentar, ya. kasihan Reni. Umma tahu sendiri keadaannya."


"Iya, hanya sebentar."


Umma lalu menggandeng tanganku menuju kamarnya. Sampai di kamar Umma langsung menyuruhku duduk di sofa yang ada di kamar Umma .


Umma menggenggam tanganku dengan erat. Aku yang bingung hanya bisa menatap ke arah tanganku yang digenggam Umma .


"Ada apa, Umma?" tanyaku saat tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Umma.


"Kamu tidak lupakan jika kamu itu seorang istri?" Umma mulai berkata.


"Kalau tidak lupa Umma harap kamu tunaikan kewajiban kamu sebagai seorang istri. Layani dan berbakti pada suamimu."


Jadi, ini yang ingin Umma sampaikan. Aku tahu apa yang aku lakukan ini salah. Namun apa boleh buat aku belum bisa menerimanya.


"Ais belum siap, Umma ."


Aku berkata dengan tertunduk.


"Apa yang membuat kamu belum siap, Ais."


Aku mencoba untuk mengangkat kepalaku.

__ADS_1


"Ais tidak tahu apa yang menyebabkan merasa belum siap. Aku setiap bersama dirinya selalu merasa sedang bersama orang lain m Ais merasa asing, Umma ."


Aku berkata jujur. Kenyataan memang seperti itu. Jika bersama Keanu aku justru seperti sedang bersama orang lain, terasa asing.


"Coba untuk belajar menerimanya. Jika kamu terus menghindar seperti ini mau sampai kapan pun akan terasa asing. Coba buka sedikit hatimu. Coba untuk lebih dekat lagi. Caranya bagaimana? Tidur satu kamar lalu bicara dari hati ke hati. Kenali suamimu. Sebab suamimu sudah mengenal lama padamu."


Aku mengerutkan kening saat mendengar, jika suamiku mengenal lama padaku. Mana mungkin?


"Maksud Umma apa?"


Umma melepaskan pegangan tangannya, lalu ia beranjak sepertinya Umma hendak mengambil sesuatu. Aku mengikuti ke arah Umma melangkah.


Umma terlihat mengambil sesuatu dari balik laci nakas. Setelah itu Umma memberikan sebuah kertas padaku.


"Apa ini?" tanyaku saat aku meraih kertas yang dilipat itu.


"Bacalah! Nanti kamu akan tahu."


Aku pun membuka kertas itu dan membacanya dengan seksama. Aku membekam mulutku saat kata demi kata aku baca isinya. Aku tidak percaya lalu kutatap wajah Umma.


Aku ingin mencari kebohongan dari raut Umma . Sayangnya apa yang aku harapkan tidaklah terjadi. Umma seolah-olah membenarkan apa yang baru saja aku baca.


Ini tidak mungkin! Kenapa bisa? Kenapa aku tidak menyadarinya? Kenapa... ah, rasanya aku tidak bisa berkata-kata lagi.


"Umma...."


Seakan mengerti akan kegelisahanku, Umma membelai wajahku lalu mencium keningku.


"Tidak ada yang tidak mungkin, Ais. Mungkin memang harus dengan jalan seperti ini."

__ADS_1


Aku langsung saja memeluk tubuh Umma . Sungguh aku merasa menyesal. Namun akan aku pastikan semuanya akan membaik. Aku akan memperbaiki apa yang sudah aku sia-siakan. Setelah ini aku akan menjadi orang yang paling bahagia.


__ADS_2