
Sesuai janji Mas Irman bahwa jam 10 akan menjemputku untuk menemui Rani di rumah sakit. Dan kini ia benar-benar ada di hadapanku sangat on time, aku pun tersenyum kearah nya.
" Lama menunggu Yank ? tanyanya padaku
" Tidak mas , soalnya kamu datangnya on time sih , gak kecepatan gak ngaret juga.Pas" ucapku sambil melingkarkan tangan seperti huruf O dan mengedipkan satu mata.
" Yank, kok kamu jadi genit gitu sih. Main kedip - kedipan segala"
" Ketularan kamu sih Mas" ucapku terkekeh lalu meninggalkan mas Irman dan masuk kedalam mobil.
" Yank.....
******
Sampai di rumah sakit aku juga mas Irman langsung menuju ruangan rawat Rani. Di luar ruangan ada dua polisi yang sedang berjaga , sudah seperti benar-benar seorang napi saja ,pikirku .
Saat sudah tiba di depan pintu ,polisi itu berkata pada Mas Irman bahawa tadi Rani sempat sadar , namun histeris dan di beri obat penenang oleh dokter.
Perlahan aku membuka handle pintu dan masuk , terlihat seorang dokter dan seorang perawat yang sedang memeriksakan keadaan Rani.
" Bagaimana dok keadaan dia?"
Tanpa melihat kearahku dokter itu menjawab " Baik, tak ada yang mengkhawatirkan. Hanya saja kemungkinana kakinya akan mengalami kelumpuhan akibat terjepit badan mobil. "
Ada perasaan sedih , meski aku tahu dia hampir saja mencelakai diriku tetap saja hati nurani ku begitu sakit menerima kenyataan ini.
" Apa bisa sembuh dok?"
" Untung nya ,Tuhan begitu berbaik hati padanya .Sebab kelumpuhan nya hanya kelumpuhan sementara , seiring berjalannya waktu ia pasti bisa berjalan kembali dengan cara terapi. Baiklah, saya pamit karena tugas saya sudah selesai. Mungkin satu jam kedepan ia akan segera sadar"
"Iya, terima kasih dok,"
Setelah dokter dan perawat keluar, aku mendekati Rani , dia orang yang baru aku kenal , yang entah punya tujuan apa dia ingin membunuhku.
Dia tertidur terlihat tenang, aku yakin dia orangnya baik , mungkin pertemuan pertama kita berkesan buruk baginya.
Aku Ingat - ingat kembali saat pertama bertemu dengannya, mungkin saja ada kata atau perbuatanku yang menyinggungnya.
Apa dia marah karena mas Irman lebih memilihku dari pada dirinya? apa karena itu ? Aku hanya bisa menduga - duga saja.
Tak lama terdengar suara seseorang membuka handle pintu, kulihat Mas Irman masuk dan berjalan menghampiriku.
__ADS_1
" Apa dia sudah sadar?" tanya mas Irman dan aku menggeleng.
" Belum Mas"
" Baiklah kalau begitu mas tunggu di luar saja yah"
Aku mengangguk dan kembali memperhatikan Rani yang sedang tertidur tenang.
"Rani, aku percaya kamu orang baik, meski aku tidak terlalu mengenalmu. Jika aku punya salah padamu tolong maafkanlah aku, aku tak mau punya musuh karena bagiku satu musuh saja berasa seribu orang musuh."
" Cepat bangunlah, aku ingin mendengar penjelasan darimu. Agar Aku tak lagi menduga -duga yang mengakibatkan aku terus saja su'udzon. Meski aku berusaha untuk tak berburuk sangka padamu. ",
Merasa belum ada juga tanda-tanda ia akan sadar , aku memutuskan untuk makan siang dan sholat terlebih dahulu karena waktu memang sudah masuk waktu shalat dan istirahat makan siang.
Baru ku berdiri dan membalikkan tubuhku, tiba-tiba saja tangan ku di tarik , hingga aku pun membalikkan kembali tubuhku ke arah semula.
Aku lihat tangan ku di pegang oleh Rani, dengan matanya yang berkaca-kaca mungkin satu kedipan saja air matanya itu bisa jatuh. Rani sudah sadar tapi sorot matanya memperlihatkan sebuah penyesalan.
" Kau sudah sadar rupanya " ucapku pura-pura bersikap dingin.
Tak ada kata yang keluar dari mulutnya selain kata maaf.
" Maaf " Lirih Rani sambil terus memegang tanganku.
" Tunggu, aku keluar sebentar aku mau panggil mas Irman dan bilang kalau kau sudah sadar "
Namun lagi-lagi tanganku ia cekal.
" Jangan !! aku mohon! ! mengatupkan kedua tangannya di atas dadanya.
" Aku ingin berbicara denganmu , empat mata saja. Aku Mohon, !"
Huft membuang nafas kasar' "Baiklah, Apa yang ingin kamu bicarakan padaku, cepatlah! " ucapku
" Tolong maafkan aku, aku mengaku salah ,aku khilaf, aku benar-benar sudah di butakan cinta hiks. .hiks." kata Rani dengan menangis sesegun.
Lagi - lagi hati nurani ku meronta -ronta, aku seperti merasakan kesedihan Rani .
" Apa kamu tahu? siang malam aku terus saja kepikiran ? aku berfikir pada siapakah aku berbuat salah , berbuat dosa apa ? sampai -sampai ada orang yang menginginkan kematianku "
"Maaf ' lirihnya lagi
__ADS_1
" Coba kamu ceritakan padaku , dosa apa , kesalahan apa yang telah aku perbuat padamu.Agar aku tahu dan bisa memperbaiki kesalahanku itu?"
" Tidak, kamu tidak salah Aisyah "
"Lantas apa tujuanmu ingin kematianku dan apa untungnya bagimu?!"
Tak ada jawaban, yang ada hanyalah suara tangisan, tangisan yang penuh penyesalan.
" Jawablah! aku ingin tahu langsung dari mu , apa salah dan dosaku padamu serta apa untungnya bagimu kalau saja tadi malam kamu berhasil menabrakku?"
" A - ku, a-ku " ucapnya terbata -bata
" Aku apa?"
" Aku tak suka padamu karena mas Irman lebih memilih mu. Dia sama sekali tak menghargai penantianku .Aisyah Bagaimana jika kau jadi aku hampir tiga tahun menunggu, tapi dia tetap saja acuh , cuek seolah-olah aku tak ada sekali pun aku ada di hadapannya. Hatiku makin sakit saat mendengar kau calon istrinya apalagi Ibu juga malah memilih mu. Semenjak saat itu aku membencimu Aisyah , membenci mas Irman juga Ibu. Yang ada di pikiranku Saat itu jika aku tak bisa mendapatkan apa yang aku mau maka orang lain pun tak boleh mendapatkannya. maka muncullah ide untuk melenyapkan mu, agar kau juga tak bisa memilikinya, "
"Rani dengarkan aku, Aku memang tak tahu bagaimnan perasaanku jika berada di posisimu, , tapi sikap dendam mu sungguh itu tak baik. Dan maaf aku egois , aku juga tak mau membagi mas Irman dia miliku, calon suamiku. Tak tahukah kamu Ran , 14 tahun coba kamu bayangkan , selama itu mas Irman menungguku. Dia sama sekali tak membenciku, tak dendam saat dia tahu aku sudah menikah malah aku menikah dengan sepupunya sendiri. Itu yang namanya cinta sejati Ran, sedangkan aku rasa apa yang kamu sebut cinta pada Mas Irman itu bukanlah cinta tapi obsesi. Makanya kau melakukan segala cara untuk mendapatkan mas Irman, termasuk menyingkirkan semua yang kau anggap penghalang. "
Tangisan Rani begitu pecah , mungkin penyesalan sedang menghampirinya.
" Aku benar-benar menyesal Aisyah, Tuhan sudah membayar kontan atas apa yang aku perbuat. hiks hiks lihat !!sekarang aku lumpuh "
Tak terasa aku meneteskan air mata, aku tak tega melihat keadaan Rani .Walau bagaimanan pun aku masih punya perasaan, aku akan ikut merasakan kesedihan orang lain. Ku peluk Rani , ku coba untuk menenangkan dia .Ku usap kepalanya memberi kenyamanan , memberi sokongan padanya .
" Sudahlah jangan menangis lagi , yang sudah -sudah biarlah berlalu. Tak ada manusia yang tak luput dari dosa dan kesalahan " ucapku pada Rani.
" Apa kau memaafkan semua kesalahan ku padamu Aisyah ?"
Aku mengangguk " Jauh sebelum kau meminta maaf , aku sudah memaafkan mu .Aku bukan tipe orang pendendam. Aku hanya ingin mendengar alasan kamu saja melakukan itu padaku"
" Terima kasih Aisyah, hatimu begitu mulia. Mas Irman beruntung memilikimu dan tentunya kau sangat pantas bersanding dengan mas Irman "
" Kau berlebihan , kau istirahat saja, aku mau pergi shalat karena ini sudah waktunya shalat Dzuhur , dan percayalah kau pasti akan sembuh karena dokter bilang kelumpuhan mu hanya sementara , dengan terapi akan mempercepat proses penyembuhnmu . Maafkan aku juga karena telah membawa kasus ini ke polisi tapi aku pastikan tak akan melanjutkan lagi kasus ini"
" Jangan! ! aku pantas mendapatkannya Aisyah, jangan kau cabut tuntutan mu padaku, aku ingin menebus semua kesalahan ku "
Dengan tersenyum pada Rani" Sudahlah kamu istirahat saja jangan terlalu banyak pikiran, aku pergi yah " pamit ku pada Rani.
Tekadku sudah bulat aku akan mencabut tuntutanku pada Rani. Aku rasa sudah cukup, teguran dari Alloh swt untuk membuatnya sadar akan kesalahannya.
Dengan kakinya yang lumpuh membuat dia tersadar , dan itu sudah cukup bagiku. Aku sadar diri aku juga begitu banyak kesalahan dan dosa tak ada hak aku untuk menghakimi orang , cukup Alloh saja yang membalasnya.
__ADS_1
tbc