
Setelah melihat drama yang dilakukan Abi maupun Aa, kini pria yang sangat berharga di hidupku tengah menghadap dua pria yang akhir-akhir ini menggangu pikiranku.
Sementara itu, aku masih berdiam diri di kamar bersama Uma. Dengan sejuta ke was-wasan, sejuta ketakutan dan sejuta kegugupan yang melanda. Di dalam kamar aku tak hentinya berjalan mondar. Ingin duduk pun serasa enggak nyaman, akhirnya aku memutuskan untuk terus berdiri lalu mondar-mandir seperti setrikaan.
Wajar gak, sih? Seorang wanita merasa takut, gugup saat menentukan sesuatu yang penting dalam hidupnya? Memilih jodoh misalnya. Apa hanya aku saja yang terlalu mendramatisir? Entahlah, tapi inilah yang memang tengah aku rasakan.
"Sayang, sini duduk! Kamu enggak pegal apa dari tadi berdiri, belum lagi mondar-mandir enggak jelas?"
Aku menatap Uma, terlihat teduh dan menenteramkan hati. Aku pun langsung saja menghampiri Uma yang tengah duduk di sofa yang ada di dalam kamarku. Lalu aku memeluk Uma sangat, sangat erat. Aku berusaha menyuplai tubuhku dengan ketenangan yang selalu ada pada diri Uma.
Uma membelai kepalaku. Uma itu paranormal, yang selalu bisa tahu keadaan dan situasi yang dialami anaknya.
"Jangan nervous, Sayang. Tenangkan hatimu. InsyaAllah semua akan berjalan dengan lancar. Uma mau cerita pengalaman Uma dulu. Ais mau dengar?"
Aku mengangguk.
"Dulu, saat Uma masih sama Ayah Rudi. Mengalami proses seperti kamu. Tiba-tiba saja tanpa ada angin dan hujan ia melamar Uma. Romantis, awalnya sering kirim surat sama bunga. Lama-lama ia bilang mau jadiin Uma pelengkap hidupnya. Uma pun seperti Ais. Nervous, tapi Uma berusaha untuk tenang. Bahkan proses istikharah sangat lama. Hingga saat waktu itu tiba dengan gugup dan takut Uma bilang. 'Datanglah kepada kedua orang tuaku'."
"Uma bilang kaya gitu?"
"Iya, Meski pernikahan Uma tidak berlanjut. Kami tidak berjodoh lama."
"Terus saat bersama Abi gimana?"
__ADS_1
"Saat sama Abi. Kau tahu tidak? Abi melamar Uma begitu tidak romantis tapi sukses buat wajah Uma bersemu merah. Setelah empat tahun terpisah Allah mempertemukan kami kembali dan dipertemukan kedua Abi langsung melamar Uma."
"Ais takut, Uma."
Uma memegang kedua pundakku.
"Apa yang kamu takutkan? Jika kamu sudah melibatkan Allah? Pasrahkan saja dan yakinlah Allah selalu tahu yang terbaik untuk umatNya. Dan perlu kamu ingat, meski pernikahan pertama Uma gagal. Bukan berarti kamu akan bernasib sama seperti Uma. Kita ambil hikmahnya saja, dengan gagalnya pernikahan pertama Uma. Uma bisa menikah dengan Abi dan melahirkan anak-anak luar biasa seperti kamu dan kakak-kakak mu."
Aku mengangguk mengerti. Hanya saja yang aku takutkan kenapa mimpi buruk itu yang menjadi isyarat perkara siapa yang harus aku pilih. Apa mungkin sebuah isyarat atau petunjuk ada yang caranya seperti itu?
***
Setengah jam menunggu, akhirnya Aa datang ke kamar dan memintaku untuk segera ke bawah. Sebelum turun, Aa terlebih dahulu memelukku lalu mendaratkan kecupan lama di puncak kepalaku. Aa mengusap-usap pipiku lalu kembali memelukku. Lagi-lagi perlakuan Aa membuat aku terharu.
Kini aku sudah ada di antara dua pria itu. Aku tundukan kepala seraya Abi dan Uma terus memegangi tanganku. Beberapa kali aku mencoba menarik napas agar aku bisa tenang.
"Waalaikumusalam."
Pak Zain dan Keanu menjawab secara bersamaan.
Perkataanku tercekat rasanya sulit untuk berbicara.
"Sebelumnya, aku ucapin terima kasih atas kesediaan kalian datang. Jujur, aku enggak nyangka saat tahu kalian menemui orang tuaku. Aku hargai niat baik kalian. Jika mengingat masa kenal kita yang cukup singkat, lalu aku mempelajari CV taaruf kalian. Sungguh aku merasa tidak ada apa-apanya bahkan tidak layak bersanding dengan salah satu di antara kalian. Entah apa yang membuat kalian ingin menjadikanku pendamping hidup."
__ADS_1
Aku sejenak menghentikan perkataanku.
"Setelah aku melakukan istikharah, Alhamdulillah, Allah memberiku petunjuk siapa yang harus aku pilih. Sebelumnya, aku ingin bertanya, apakah kalian ikhlas dengan semua keputusan yang aku ambil?"
"InsyaAllah, aku ikhlas. Aku tidak akan memaksakan, meskipun besar harapan saya untuk kamu pilih," terang Pak Zain.
"Bagimana denganmu? Apakah kamu ikhlas apapun keputusan yang akan aku ambil?" aku bertanya pada Keanu.
"Aku ikhlas, InsyaAllah."
Ada perasaan lega saat mendengar kata ikhlas dari mereka. Setidaknya, tidak akan ada orang yang tersakiti di sini. Karena mereka sudah mengikhlaskan, jadi mereka akan berlapang dada menerimanya.
"Bismillah, dengan menyebut nama Allah. Aku Aisyila Renata Sanjaya, dengan penuh kesadaran dan ikhlas hati. Melalui berbagai pertimbangan dan istikharah maka aku terima...."
Kembali rasa kelu menghampiri. Memilih pasang hidup bukanlah perkara seperti memilih barang yang kita sukai lalu langsung ambil. Sungguh ini tidak demikian. Jika ada yang bilang aku terlalu berlebihan atau mendramatisir menurut ku tidak. Aku hanya ingin yang terbaik sesuai yang telah Allah siapkan. Ada yang bilang jodoh itu cerminan diri, jika jodoh kita ingin baik maka perbaikilah diri kita sendiri. Pun itu tidak salah.
"Bismillah," Aku kembali mengucapkan Bismillah.
"Aku menerima pinangan dari Pak Zain."
Ah, rasanya lega saat kalimat itu berhasil aku ucapkan.
"Alhamdulillah,"
__ADS_1
Terdengar suara ucapan syukur dari mulut Pak Zain. Aku mencoba sedikit menatap Pak Zain dan Keanu, masih ada perasaan tak enak hati terlebih pada Keanu. Aku melihat Keanu tengah memeluk Pak Zain dengan terucap kata selamat.
Semoga ini yang terbaik, semoga Allah selalu memberi kelancaran sampai waktu tiba. Waktu di mana aku akan berstatus menjadi istri.