Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

Saat ini aku berada di dalam kamar, mataku masih saja terjaga padahal malam semakin larut. Berulang kali aku mencoba untuk memejamkan mata tetap saja rasa kantuk enggan datang. Al hasil aku hanya rebahan saja, menekuk tangan kiri dan menempelkannya pada wajah. Sementara tangan kanan ku sibuk memainkan tombol on off lampu tidurku. Menyala lalu aku matikan, nyala-mati, terus seperti itu hingga berulang-ulang.


Aku jadi terpikir perkataan Umma tadi, pria baik dan serius pasti akan meminta anak gadis pada orang tuanya untuk ia jadikan istrinya. Apa aku boleh berharap? berharap jika yang serius itu Pak Dosen? Hah, memang mudah berharap itu apa lagi jika membayangkan apa yang kita inginkan terwujud.


Namun, jika sudah berurusan dengan takdir tak ada yang bisa mengalahkannya. Sekuat apa pun kita berharap, sekuat apa pun kita ikhtiar jika memang bukan takdirnya maka, ya, sudahlah. Allah SWT lebih tahu yang terbaik untuk setiap makhluk-Nya.


Berulang kali aku membaca istighfar, merutuki diri sendiri sempat-sempatnya aku berharap sesuatu yang mungkin saja mustahil. Siapa aku? Hingga berharap dosen sendiri menjadi suami ku. Bagaimana jika beliau sudah menikah? Gak mungkin 'kan aku harus jadi istri kedua? Nanti kaya di sinetron-sinetron lagi, istri kedua dianiaya istri pertama, Subhanallah ngomong apa, sih aku ini.


Sudah jelas, maksud Pak Dosen mengklaim aku sebagai calon istrinya agar pria tak beradab itu tidak menggangguku, tidak lebih dari pada itu.


Aku menarik selimut menutupi seluruh tubuhku, aku harus segera tidur dan stop untuk terus mengkhayal ketinggian, takut jatuh dan sakit.


***


Waktu begitu cepat berganti, baru saja aku tertidur suara azan tiba-tiba berkumandang saja. Mataku yang mengantuk berat terpaksa harus aku buka lebar-lebar karena panggilan untuk salat sudah tiba. Jangan sampai setan menguasai kita, hingga kita melalaikan kewajiban.


Aku bangun tak lupa baca doa sesudah tidur lalu membereskan tempat tidur, meski masih ngantuk akibat semalaman tidak bisa tidur. Dengan mandi subuh-subuh aku yakin rasa kantuk bisa jadi segar kembali. Apalagi mandi subuh sangat baik untuk kesehatan, untuk melancarkan peredaran darah.


Selesai mandi dan berwudu aku bergegas ke Musola untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah. Dan sepertinya aku datang terlambat, mereka sudah pada pasangan badan siapa melayangkan ceramah paginya.


Kalau sudah seperti ini aku hanya bisa minta maaf dan tak akan terlambat lagi untuk salat berjamaah. Rasakan dan nikmati jika setiap hari kita salat berjamaah bersama keluarga, rasanya damai, tentram dan tenang. Aku bersyukur terlahir dari keluarga Abi dan Umma, mereka sangat menyayangi anak-anaknya enggak pernah pilih kasih apa lagi membandingkan anak satu dengan yang lain. Bagi Abi dan umma setiap anak itu unik dan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Mereka juga sangat terbuka pada anak-anaknya, enggak pernah ada yang mereka sembunyikan termasuk jika ada masalah besar di rumah sakit. Kami selalu diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat dan ide. Abi bilang harus belajar memecahkan masalah, kita ini calon pemimpin, pemimpin diri sendiri, pemimpin keluarga, pemimpin untuk anak-anak serta pemimpin dalam sebuah perusahaan.


Matahari kini sudah muncul, langit yang gelap kini sudah terang benderang. Efek semalam enggak bisa tidur sepertinya berpengaruh sekarang. Meski sudah mandi subuh-subuh tetap saja rasa kantuk masih nempel. Kalau begini caranya aku enggak berani bawa motor sendiri, aku lebih baik pergi bareng Aa dari pada memaksakan diri dan berakibat fatal.


Aku menghampiri Aa Rey yang tengah memanaskan motor sport miliknya. Sebenarnya agak malas jika harus naik motor itu, tapi, mau bagaimana lagi, enggak ada pilihan lain.

__ADS_1


"A, Ais ke kampus bareng Aa, yah?"


Aa melirik ke arahku lalu kembali fokus ke motornya.


"Tumben, bukannya kapok enggak mau naik motor Aa lagi," sindir Aa.


"Iya, tapi, ini emergency A, aku semalam enggak bisa tidur. Jadinya ngantuk, masa iya Ais bawa motor sendiri," terang ku pada Aa.


"Lagian kenapa enggak bisa tidur? Enggak biasanya," selidik A Rey dengan mata elangnya yang terus menatap curiga padaku.


"Aa, kok, kepo! Gimana mau enggak?"


"Jelasin dulu kenapa enggak bisa tidur? Apa jangan-jangan... habis nonton drakor, ya," tuduh Aa tak beralasan.


"Duh, A, sejak kapan Ais suka Drama gitu? Enggak, lah!"


"Ais juga enggak tahu, A."


"Atau jangan-jangan... habis telepon sama pacarnya, ya. Aa bilangin ke Umma sama Abi kalau kamu pacaran, lho."


"Ya Allah biha, Aa ngeselin, ih. Semuanya salah enggak ada yang bener! Semalam aku sakit perut jadi enggak bisa tidur!"


Terpaksa aku berbohong, jika enggak seperti itu Aa enggak akan berhenti terus saja bertanya.


***


Sampai di kampus, aku langsung menuju kelas. Sebab sebentar lagi ada kelas pagi dan aku enggak mau terlambat. Enggak sengaja aku berpasan dengan Pak Zain, dan entah kenapa aku jadi salting seperti ini.

__ADS_1


"Kemarin ke mana? kenapa pergi enggak bilang," tanya Pak Zain perhatian.


"Aku... aku...."


Demi Allah, aku enggak bisa berkata apa-apa. Ini mulut tiba-tiba sulit untuk berbicara.


"Aku apa?" tanya balik Pak Zain.


"Itu...."


"Iya, apa?"


Huh, aku mencoba untuk menenangkan diri. Dengan meletakkan tangan di belakang dan mengepalkan nya. Tujuannya agar aku bisa tenang.


"Aku enggak suka ada di posisi seperti kemarin. Melihat Bapak dengan pria itu saling menatap dan aku melihat tatapan itu penuh dengan persaingan aku...."


"Dan kamu merasa takut? Begitu?"


Pak Zain terlihat menghela napas lalu menatap ku dan aku langsung tertunduk.


"Maafkan saya yang sudah membuat mu takut. Jujur, saya juga enggak tahu, kenapa saya bisa bersikap seperti kemarin. Rasanya saya enggak terima melihat kamu di ganggu dia."


MasyaAllah, aku tetiba merasa ada angin segar menerpaku saat mendengar perkataan Pak Zain. Rasanya aku seperti terbang dan menembus awan.


"Terima kasih, Pak. Maaf, Pak, sepertinya saya harus segera ke kelasnya. Saya sudah hampir terlambat."


"Baiklah. Sekali lagi maafkan atas sikap saya yang kemarin."

__ADS_1


Aku hanya menjawab dengan anggukan saja. Lalu pergi meninggalkan Pak zain sendiri. Sesekali aku melihat ke belakang dan tersenyum ke arah Pak zain yang ternyata masih melihatku.


__ADS_2