
Harapan hanyalah tinggal harapan , mungkin untuk saat ini aku belum bisa bersamamu wahai wanitaku . Jika ada yang bilang penantianku padamu itu hanyalah sebatas obsesi masa lalu tentu itu salah , ini cinta murni cinta bukan obsesi semata.
Wanitaku tak tahukah hatiku sakit saat melihat mu dipeluk mesra suamimu, hatiku sakit saat kau bersedih seperti saat ini ingin rasanya aku memelukmu memberi ketenangan untukmu tapi lagi-lagi tak bisa aku tahu batasanku. Aku hanyalah orang asing Yang tak ada berhak atas dirimu.
Kata orang cinta itu buta , dan aku tegaskan benar cinta itu memang buta. Buktinya jelas -jelas kau milik orang lain tapi aku begitu lancang menyimpan rasa padamu, tapi jangan salahkan perasaanku karena perasaanku padamu sudah ada sejak dulu 10 tahun yang lalu tepatnya.
Berulang kali aku bilang padanya sampai kapan pun aku akan tetap menunggunya karena aku yakin kau jodoh ku walau entah kapan tepatnya kita bersama. Aku selalu berusaha membuang dan mengubur dalam-dalam perasaan ini dan berdoa di setiap sepertiga malam ku untuk menunjukan dimna jodohku dekatkan dia karena aku sadar diri sebenarnya aku juga tak mau menjadi penghancur rumah tangga wanitaku. Di luar dugaan dirimu wahai Aisyah Husnah dirimu yang selalu hadir di setiap mimpiku, bukankah ini pertanda bahwa kau jodohku meski ku tahu kau sudah ada yang memiliki tapi aku akan senang hati menunggu waktu itu datang yaitu saat kau dan aku menjadi kita.
Mungkin untuk saat ini aku akan pergi dari dirimu, ingat! !!! hanya jasad ku saja yang pergi tapi hatiku tetap milikmu. Keyakinan ku pun semakin kuat tatkala Ibu mu Aisyah meminta langsung padaku untuk menjagamu entah kenapa beliau malah menitipkan dirimu padaku. Apakah beliau tak percaya pada suamimu? atau apalah alasannya aku juga tak tahu.
Wanitaku , tunggu aku jika kita memang bertakdir berjodoh pasti Alloh akan memberi jalan kita untuk bersama. Aku akan selalu menunggu waktu itu.
Irman pov off
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu tak terasa pula Ibu dan Bapak sudah 2 bulan meninggalkan kami. Johan pun kini sudah bisa beraktifitas kembali setelah ia mengalami drop lagi saat mengetahui kepergian Ibu dan Bapak untuk selamanya.
Aku selalu berusaha menguatkan Johan dan bisa mengikhlaskan mereka meski sebenarnya akupun rapuh tapi aku tak ingin Johan melihatnya yang malah akan menambah kesedihan nya.
Sementara mertua dan adik-adik Abang telah kembali ke London, sebenarnya Ibu mertua enggan untuk kembali karena mengkhawatirkan diriku, tapi aku bilang aku tak apa-apa jangan khawatir karena ada Abang yang akan selalu melindungi diriku.
Seperdetik kemudian aku teringat kepada Irman, entah pergi kemana dia karena setelah ia pamit untuk pergi dan selama itu pula dia tak pernah ada lagi menghubungi ku. Sedih, kenapa aku harus bersedih saat dia bilang akan pergi harusnya aku seneng setidaknya mungkin ia bisa melupakan diriku saat berjauhan seperti ini. Dan aku berdoa semoga kau berbahagia dan mendatapatkn wanita yng lebih baik dariku. Jangan lagi menungguku meski waktu itu kau begitu kekeh dengan pendirianmu.
flasback on
"Aisyah, tunggu jangan dulu pergi " ucap Irman sambil berlari ke arahku yang meninggalkan dia.
'' Apa lagi Irman? sudahlah aku tak mau mendengar apa - apa lagi darimu"
" Aku hanya ingin menegaskan saja padamu bahwa aku akan tetap menunggu mu , sampai takdir yang mejawab"
" Terserah! ! yang penting aku sudah memperingatkan dirimu tapi kau tetap kekeh dengan pendirianmu " sarkasku.
__ADS_1
" Biarkan seperti ini aku mohon jangan kau menyuruhku untuk berhenti mengharapkan mu, karena sampai kapan pun tak akan pernah berhenti , camkan itu!!!
" Terserah! !!!!
" Aisyah !!!
"Apa lagi Irman? ?
"Saat aku pergi kau baik-baik ya di sni"
" Jangan mengkhawatirkan diriku , karena ada suamiku yang akan melindungi aku akan. juga anakku "
" Berjanjilah! !!
" Berjanji apa?
" Berjanjilah untuk selalu bahagia "
" Tentu aku akan bahagia bersama suamiku dan juga calon anakku , jika kau tak mengganggunya "
"Aku tak akan menggangu mu lagi Aisyah, tenanglah"
"Bagus kalau kau sadar diri, maaf aku harus pergi"
Aku berjalan menjauh darinya , air mataku tanpa permisi terjatuh di pipiku entah apa yang aku tangisi aku juga bingung sendiri dengan perasaanku.
.
.
.
.
.
" Sayang'" Abang memelukku dari belakang.
"Eh Abang! ! kaget adek tahu''
" Lagi apa sih kok diam di luar, masuk yuk angin malam gak baik untuk ibu hamil"
"Sebentar lagi yah Bang, Adek masih ingin melihat bintang. Lihat bang indah kan?
" Mana?
" Tuh " tanganku menunjukan gugusan bintang-bintang di langit
__ADS_1
" hmmm. .menurut Abang biasa saja , karena bintang yang paling indah itu sekarng ada di hadapan Abang " membelai wajahku
" Hahahaha Abang -Abang gombal "
" Seriusan sayang, Ka----
dret. ...dret ... Tiba-tiba ponsel Abang bergetar , dan terlihat dari mimik wajahnya begitu senang .
" Bentar yah dek , Abang mau angkat dulu telpon " ijin Abang padaku dan di anggukan olehku.
Ku tatap nanar kepergian Abang, entah kenapa perasaan gelisah , cemas sellu hadir saat Abang sedang bersamaku lalu tiba-tiba ada telpon maka Abang akan menjauh dariku. Kejadian ini terjadi semenjak aku mulai tinggal serumah dengan Abang bahkan Abang sering pulang larut malam . Aku berusaha untuk tidak berprasangka buruk mungkin saja Abang memang banyak kerjaan hingga membuat dia terus pulang larut .
Pernah suatu hari aku mendengar ponsel Abang tak berhenti berdering ,sedangkan saat itu Abang sedang di dalam kamar mandi, aku ragu-ragu untuk menjawab telponnya karena takut telpon penting dan ketika aku akan mengangkatnya tiba-tiba saja Abang langsung mengambilnya dan bilang telpon dari klien . Dari sanalah kecurigaan ku mulai tumbuh aku mencium roman -roman perselingkuhan .
Namun terkadang sikap Abang yang lembut membuat diriku membuang semua pikiran buruk ku mungkin saja telpon dan kepulangan Abang yang begitu larut karena banyaknya pekerjaan Abang. Harusnya aku mendukungnya bukan mencurigainya karena abang bekerja pun tentunya untuk aku dan anak-anak ku kelak.
Beberapa menit kemudian Abang kembali,
" Telpon dari siapa? tanyaku penuh selidik.
" Dari clien Abang katanya mau bertemu sekarang " jawabnya
Aku lihat jam yang terpasang di tanganku menunjukan pukul delapan malam " ini udah malam lo Bang, gak bisa besok saja"
" Abang juga inginnya seperti itu tapi klien Abang sudah menunggu Abang "
Dengan berat hati aku iyakan saja permintaan Abang untuk keluar menemui kliennya, sempat berpikir malam-malam begini mau membahas apa seperti tidak ada hari esok saja.
" Oh ya dek, jadwal periksa kandungan kapan? tanya Abang sebelum ia beranjak pergi
" Dua hari lagi"
" ok , yaudah Abang pergi dulu yah" mengecup kening.
" Ya hati -hati Bang "
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.