
Waktu sudah menunjukan sore hari , tak terasa aku berdiam diri diruangan mas Irman selama tiga jam. Karena merasa gak enak akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja, selain itu juga takut Shafira sudah pulang dan mencari keberadaanku.
" Mas, udah sore aku pulang yah? "
" Nanti bareng mas pulangnya, sebentar lagi juga selesai pekerjaan mas"
" Gak usah mas, lagian aku bawa mobil " tolakku pada Mas Irman.
" Ya udah gini saja , kita tetap pulang bareng .Kamu naik mobilmu nanti mas di belakang ngikutin kamu .Gimana? "
" Mas apa -apaan sih, buat apa mas ngikutin aku biasanya juga aku suka sendiri "
" Gak boleh nolak! mas hanya berjaga-jaga saja supaya gak ada lagi yang teror kamu pake ancaman segala" ucap mas Irman sambil membereskan berkas berkas yang ada di atas mejanya.
" emm , Aisyah nurut saja deh" jawabku sambil berdiri dari posisi dudukku.
Saat hendak melangkah mas Irman tiba-tiba memberiku sebuah kotak . Dan aku hanya mengerutkan keningku dan menatap kotak yang di pegang mas Irman.
" Yang , ambil ini buat kamu yang "
Aku menerima kotak itu dan bertanya pada Mas Irman.
" Ini apa mas " ucapku sambil membolak balikan kotak itu.
" Itu yang tadi mas maksud , mas gak jadi kirim lewat kurir . Mas pikir lebih baik di kasih langsung saja,"
Sebelum pergi aku memutuskan untuk membuka kotak dari mas Irman, dan isinya itu sebuah kalung berliontin berlian yang sangat cantik.
" Mas ini buat aku ?"
" mmm, suka ?
" Suka mas, terima kasih ya Mas "
" Ia , mas seneng kalau kamu suka. Nanti jangan lupa pakai yah"
Aku menjawab dengan anggukan, tak seperti pasangan lainnya jika sang kekasih memberi hadiah berupa kalung atau cincin pasti suka di pasangin, tapi itu tidak berlaku padaku karena menurutku hal seperti itu layaknya dilakukan oleh sepasang suami istri.
Untungnya mas Irman mengenal diriku seperti apa, jadinya ia tak terlalu mempermasalahkan.
******
Aku tak langsung pulang kerumah karena jam segini Cafe masih buka. Saat sampai disana aku sudah di sambut oleh bidadari ku , membuat semua kejadian hari ini aku lupakan.
" Umma " teriak Shafira sambil berlari dan merentangkan tangannya.
Aku menyambut rentangan tangannya dan membawanya kepelukanku.
" Ila , Umma kangen banget sama kamu. Sehari ini gak dekat Shafira rasanya seperti setahun " goda ku pada Shafira.
" Umma , Ila juga kangen kalau lama -lama jauh sama Umma " jujur Shafira.
Dari arah belakang terdengar rengekan seseorang yang merasa dirinya terabaikan,
" Huhuhu. ... sedih gak ada yang kangen sama aku " rengek mas Irman pura -pura-pura.
" Maaf , Ayah Doktel Ila tadi gak liat ayah doktel , sungguh Ila juga kangen banget sama Ayah Doktel" menghampiri dan naik kepangkuan mas Irman.
" Masa sih "
__ADS_1
" Selius Ayah "
" Ia Ayah percaya sama Ila" mencium kening dan mengelus kepala Shafira.
" Tadi main sama Oma seneng gak?" tanya mas Irman
" Senengggggggg banget Ayah, tadi Oma ajak Ila jalan -jalan , telus di beliin mainan sama Oma"
" Oh, yah... Uh curang dong, gak ajak-ajak Ayah"
" Ayah sama Umma kan kelja, kalau gak kelja pasti tadi Ila suluh ikut "
" Ia deh gak apa-apa, nanti kalau Ayah sama Umma libur kita jalan -jalan bareng yuk? mau ?"
" Ayo, Ila mau bangett"
"Tos dulu dong " Mas Irman mengepalkan tangan tanda tos dan di sambut oleh tangan Ila.
Seneng rasanya melihat ke akraban Shafira sama mas Irman, semoga saja mas Irman bisa jadi ayah sambung yang sayang pada Shafira. Bukan sayang hari ini saja , tapi selamanya jika pun nanti Aku nikah dengan mas Irman dan mempunyai keturunan semoga saja rasa sayangnya pada Shafira tidak berubah atau berkurang sedikit pun.
Saat aku sedang fokus memperhatikan interaksi antara Shafira dan mas Irman, Riska datang dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang.
" Kak Aisyah, tadi di luar aku nemuin ini terus ada nama kakak disini. Apa benar ini punya kakak ?" tanya Riska sambil meletakkan kotak itu di atas meja.
Hatiku mulai cemas, takut dan gelisah. Dalam pikiranku terpikir kalau kotak itu pasti berisi ancaman lagi. Aku gak mau membukanya menyentuhnya pun aku tak mau.
" Riska, buang saja kotak itu .Itu bukan punya Kakak"
" Tapi, disini tertera jelas nama kakak. Berarti ini untuk Kakak."
"Tolong! buang Riska! !! bentak ku dan membuat Riska terkejut.
" Yang , kamu kenapa ? kok ngebentak gitu sama Riska? di depan Shafira lagi"
Mataku tertuju pada Shafira, Ya Rabb apa yang telah aku lakukan ? batinku.
Aku menghampiri Shafira dan berjongkok mensejajarkan diri dengan Shafira.
" Ila, maafin Umma " memeluk Shafira.
" Umma kenapa? lagi banyak pikilan yah? makannya tadi tante Riska Umma bentak?"
Aku hanya menganggukan kepala saja.
" Umma istirahat kalau gitu, tenangin dulu pikilan Umma. Nanti jangan lupa minta maaf sama tante ya umma"
Aku begitu terharu, bidadari kecilku berbicara seperti itu.
"Umma gak apa Ila, ya udah Umma mau minta maaf dulu yah sama tante Riska "
" ia "
********
Adzan magrib telah berkumandang, Cafe sementara tutup karena semua penghuni Cafe aku suruh shalat berjamaah . Selagi ada mas Irman yang selalu siap jadi imam Shalat.
Mas Irman suka bilang " jadi imam shalat saja mas siap , apa lagi jadi imam kamu yang siap banget " . Sungguh entah sejak kapan mas Irman jadi suka ngegoda gitu. Apa ia berubah selama empat tahun belakang ini? dari Irman yang sedikit bicara dan gak pernah berkata romantis kini menjelma jadi pria yang banyak bicara , romantis pula.
Usai sholat mas Irman menghampiriku yang di sedang ngajarin Shafira ngaji.
__ADS_1
Aku mendongakkan kepala , " Mas udah mau pulang yah? tanyaku
"Ia,tapi sebelum pulang mas mau mendengar sesuatu dari kamu yang"
" Dengerin apa?"
" Tadi, alasan kamu bentak Riska. Mas kaget lihat kamu seperti itu yang , mas kurang suka ", jujur mas Irman padaku.
" Duduklah dulu mas , aku lanjut ngajarin ngaji Shafira ",
Setelah selesai aku pun duduk dan mulai bercerita pada Mas Irman.
" Tadi kenapa aku bentak Riska karena aku takut mas , kotak yang di bawa Riska itu berisi ancaman. Aku suruh Riska membuangnya tapi Riska malah bilang ini buat kakak karena tertera namaku, akhirnya sesuatu yang tidak di inginkan pun terjadi "
Mas Irman bangkit dari duduk nya,
" Mau kemana mas? tanyaku.
Menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapi ku " Mas ingin tahu isi kotak itu " lalu mas Irman kembali menjalankan langkah kakinya.
" Riska. ..Riska " teriak mas Irman.
Yang di panggil pun keluar ,
"Kamu buang kotak tadi kemana? "
" Di belakang kak,"
Tanpa berpikir lagi mas Irman mengambil kotak yang tadi dibuang oleh Riska. Aku pun mengikuti langkah kaki mas Irman.
Kotak tadi terlihat di tumpukan sampah -sampah , mas Irman mengambilnya dan saat itu juga ia langsung membuka isi dari kotak itu.
Ternyata benar saja isinya sama seperti paket yang tadi siang dikirim kesini. Ancaman bertuliskan "KAU HARUS MATI" dan sebuah boneka berlumuran darah.
Tentunya aku takut kembali, tanganku gemeteran hebat . Bahkan kini kakiku seperti tak bisa menopang lagi tubuhku .
Siapa sebenarnya orang itu, apa alasan di balik teror -teror nya ini.
Mas Irman terlihat geram dan melempar kotak itu.
" Yang , di luar Cafe ada cctv gak?" tanya mas Irman
" Gak ada mas"
" Besok mas akan pasang cctv, kita cari siapa orang yang kurang kerjaan ngirim 'ngirim hal gini"
" Terima kasih mas , kamu begitu perhatian padaku"
Mas Irman menatap ku saat pandangan ku bertemu aku langsung menunduk.
" Ini janji mas dari dulu , akan selalu menjaga dan melindungi mu. Sekarang perlindungan jadi bertambah untuk Shafira juga. Mas gak mau hal-hal buruk terjadi padamu dan juga Shafira, kalau sampai terjadi.... Mas akan menyalahkan diri mas sendiri karena gak becus menjaga dan melindungi kalian"
Tak ada kata-kata lagi yang bisa aku ucapkan. Aku bersyukur memilikimu Mas , meski dulu kita sempat tak bersatu bahkan aku sempat dimiliki orang lain. Mungkin srperti ini cara Alloh menyatukan kita , harus melewati berbagai rintangan . Bahkan saat kita sekarang bersama pun rintangan hubungan kita ada .Semoga saja hubungan kita ini bisa sampai tua menua bersama, sampai waktu kontrak hidup kita berakhir. Setelah kau gak akan ada lagi yang ketiga, keempat cukup , cukup kamu mas .
Meski bukan yang pertama di hidupku , tapi aku harap kaulah yang terakhir dan untuk selamanya.
\I Love you Mas Irman\\*
__ADS_1