Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Ketabrak


__ADS_3

Tak terasa kini matahari mulai bersembunyi dan berganti dengan sinar bulan. Suka lupa waktu kalau aku sudah ada di sini. Bagiku tempat ini merupakan rumah kedua ku, disini aku bisa bermain dengan anak-anak, ketawa bareng. Bercengkrama bareng para jompo pun menyenangkan, aku jadi merasa punya oma sama opa lagi.


Tega sekali jika ada orang yang membuang mereka, seharusnya di masa tua mereka ada yang melayaninya, menjaganya dan menjamin hidup mereka, bukan malah sebaliknya. Aku pernah mendengar pepatah, satu ibu sanggup merawat 10 orang anak, tapi 10 orang anak belum tentu bisa merawat 1 ibu. Yang ada mereka malah saling melempar tanggung jawab berpikir akan di repotkan oleh para orang tua yang sudah Sepuh. Maka pilihan mereka tinggal dua, mengirim ke panti jompo atau membuang mereka, miris.


Dreet... dreet....


ponselku bergetar, ternyata uma menelpon.


"Hallo, Assalamu'alaikum uma."


"Wa'alaikum salam, kamu masih dimana sayang. Udah malam cepat pulang."


"Ais di tempat biasa uma, jangan khawatir, bentar lagi pulang."


"Jangan khawatir gimana, kamu tuh anak gadis gak baik pulang terlalu malam."


"Iya Uma sayang, Ais pulang,"


"Hati-hati di jalan, jangan nyebut bawa motornya, Assalamu'alaikum."


"Ais gak akan ngebut uma, wa'alaikum salam."


Telpon dari uma pun terputus, dengan berat hati aku pun harus pamit. Lagian sudah malam, sudah waktunya istirahat.


"Anak-anak bunda pulang yah, kalau ada waktu bunda mampir kesini lagi."


"Bunda gak pernah nginep disini, sekali-kali nginep disini yah." ucap salah satu anak asuh ku.


"Anak gadis kaya bunda gak boleh sembarangan nginep, gak baik." ucapku memberikan pengertian pada mereka.


"Udah yah, lebih baik kalian tidur. Jangan lupa sholat dulu yah."


Setelah berpamitan pada anak-anak, giliran aku pamitan pada teman-teman. Berbeda dengan aku, mereka biasa di sini sampai malam bahkan ada yang suka nginep pula.


"Aku pamit yah, Uma aku sudah nelpon." ucapku sambil mengambil tas yang tergeletak di lantai.


"Baru juga jam 7,masih sore Ais."


"Kalau aku pulang lebih dari jam 8 bisa di gantung," ucapku bercanda.


"Ya udah hati-hati aja yah."


"Ia, aku pamit ya teman-teman, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam."


Aku pun berjalan ke arah luar, dekat pintu aku berpasan dengan Hasan.


"Kamu mau pulang Ais? tanya Hasan padaku.


" Ia aku duluan yah,"

__ADS_1


"Aku antar yah,"


"Gak usah, aku bawa motor kok. Lagian aku gak mau merepotkan kamu. Lebih parah lagi kalau Abi atau A Rey tahu aku di antar pulang sama cowo, krek ( memeragakan memotong leher)," ucapku di akhiri dengan sebuah senyuman.


Mengerti dengan yang aku maksud, Hasan pun membiarkan aku pergi. Tapi apa yang aku bilang sama Hasan benar adanya, Abi sama Si Aa benar-benar over protektif padaku dan aku yakin nanti setiba di rumah aku akan di ceramahi mereka berdua, bersiaplah.


********


Suasana malam di Ibu kota, tak jauh berbeda dengan suasana di pagi atau siang hari. Kendaraan masih memadati jalan raya, dan aktifitas masyarakat masih ramai.


Di tengah perjalanan tiba-tiba aku merasa ponselku bergetar, aku pun menghentikan laju motorku, dan aku mengambil handphone yang ada di dalam tas. Ternyata Uma menelpon, baru aku akan mendeal tombol hijau dari arah belakang ada yang menabrak motorku, hingga handphone yang aku pegang terlempar dan aku terjatuh dari atas motor, karena tak bisa menahan keseimbangan motor.


"Ya Alloh," pelik ku kaget.


Beruntung posisi motorku sedang berhenti dan orang yang menabrak ku tak terlalu kencang. Tapi yang namanya jatuh tetap sakit, apa lagi kaki aku yang tertindih badan motor.


"Mba saya minta maaf, saya tidak sengaja." ucap seseorang yang menabrak motor ku.


Dengan sedikit tertatih aku berusaha untuk mengangkat badan motor yang mendidih kakiku.


"Biar saya bantu," ucap orang itu namun dengan halus aku menolaknya. Aku takut saja tak sengaja bersentuhan kulit.


"Gak usah mas, gak apa-apa. Aku bisa sendiri," ucapku tanpa melihat langsung pada orang itu.


Mungkin merasa bersalah, hingga dia tak hentinya meminta maaf, memang aku juga yang salah, biasanya kalau menghentikan laju motor selalu menepi dulu, tapi... mungkin karena takdir aku lupa untuk menepi terlebih dahulu.


"Gak apa-apa mas, jangan meminta maaf terus. Disini aku juga salah sudah ceroboh berhenti dimana saja." ucapku masih enggan melihat ke arah orang yang menabrak motorku.


"Kita ke rumah sakit, aku takut mba kenapa-kenapa." suaranya mulai panik.


"Serius mas aku gak Apa-apa," ucapku sambil menatap ke arah orang itu.


"Aku antar kamu pulang, aku sungguh minta maaf. Tadi aku terlalu panik saat mendapat telpon kalau Papa saya masuk rumah sakit, sakit terburu-buru saya gak bisa rem langsung, saat lihat motor mba. Jadinya ke tabrak motor saya." jelas pria itu, pantas saja saking paniknya helmnya saja lupa ia lepas, pikirku.


Aku yang merasa bersalah pula, karena sudah berhenti dimana saja meminta maaf padanya. Aku paham, siapa yang gak akan panik ketika kita mendengar orang terkasih kita masuk rumah sakit. Dan gara-gara aku juga kepanikan pria ini pasti semakin bertambah.


"Maafin aku juga mas, mas Silakan pergi duluan. saya beneran gak apa-apa, orang tua anda lebih penting dari pada saya. Bahkan gara-gara saya mungkin mas malah semakin panik."


"Mba gak salah, saya yang salah karena kurang hati-hati."


"Udah, kalau gitu mas salah, saya juga salah. Jadi mas saya maafin, mas juga maafin atas kecerobohan saya. Dan sekarang lebih baik mas segera ke rumah sakit temui papa nya. Masalah saya, tenang saja saya gak apa-apa, serius." ucapku mencoba meyakinkannya.


"Kalau gitu, sekali lagi saya minta maaf. Saya harap kita bisa bertemu lagi dan saya akan menebus atas kesalahan saya."


Aku hanya terkekeh mendengarnya, "hehe, Mas lucu yah, ia semoga saja kita bertemu lagi" ucapku lalu segera menyuruhnya pergi.


Setelah pria itu pergi, aku pun teringat akan panggilan telepon dari Uma. Tanpa memperdulikan rasa sakit di kaki, aku pun kembali memajukan motor ku menuju rumah. Dan lagi ini mah alamat di ceramahi oleh semua penghuni rumah.


*********


Akhirnya sampai juga di rumah dengan selamat. Saat aku membuka helm betapa terkejutnya di depan pintu sudah ada Uma, Abi dan A Rey. Aku yakin mereka akan menceramahi ku. Terlihat wajah-wajah garang di sana, yang siap menghakimi habis-habisan.

__ADS_1


"Kenapa baru pulang?" tanya Abi penuh intimidasi.


Rasanya sulit sekali untuk menelan saliva ku saja.


"A--nu bi." jawabku terbata-bata.


"Anu apa?


Aku pun melirik ke arah Uma, meminta bantuan agar tak kena sembur Abi. feeling seorang Uma selalu tahu saja, kalau aku benar-benar sedang meminta pembelaan dari Uma.


" Abi, biarkan Ais masuk dulu, kasian baru juga datang." bela Uma.


Tanpa sepatah katapun Abi langsung masuk, itu tandanya aku selamat tapi, untuk beberapa menit ke depan. Setelah itu entahlah.


"Kamu itu dari mana sih dek? bikin orang khawatir saja." kini giliran Anas Rey yang nanya.


"Maaf A, nanti bantuin adek yah. Biar gak kena marah Abi."


"Aa gak janji dek, kaya gak tahu Abi aja kaya gimana."


Mungkin merasa ada yang aneh dengan cara berjalan ku membuat A Rey menghentikan langkahnya dan memfokuskan matanya ke arah kaki ku.


"Kaki adek kenapa?" ucap Aa penuh selidik.


"A adek mohon jangan bilang sama Abi atau Uma, please A." aku mohon pada A Rey, aku yakin kalau mereka tahu pasti surat izin bawa motor akan mereka tarik kembali.


"Jangan bilang adek jatuh dari motor."


"Bukan jatuh A, tapi motor Ais ke tabrak motor lain" jelasku pada Aa.


"Apa?? "


"ssssttt ( membungkam mulut Aa Rey) jangan teriak A. Kalau Uma sama Abi dengar gimana?"


"Percuma dek, mereka juga bakalan tahu. apa lagi liat jalan kamu pincang kaya gitu. Kenapa bisa gitu sih? biasanya juga suka aman-aman saja kalau bawa motor."


"Takdir Aa, Ais juga gak tahu akan kejadian kaya gini. Ais takut a, Abi sama Uma pasti larang Ais bawa motor lagi,"


"Itu sudah jadi risiko kamu dek, Aa gak bisa bantu. Sekarang ayo ke kamar kamu, biar Aa gendong." Aa Rey jongkong di hadapanku.


"Nanti Abi sama Uma liat gimana, terus nanya gimana?"


"Mereka masuk kamar dek, Nanti kalau udah ngasih kamu waktu baru mereka keluar, buat interogasi kamu. Udah ah, cepat naik biar Aa gendong, nanti Aa obatin kaki nya."


"Makasih yah A, walau pun nyebelin ternyata Aa perhatian juga sama Ais."


"Hmmm"....


Akhirnya aku pun naik ke atas punggung Aa, ternyata se nyebelin-nyebelin nya Aa masih ada rasa sayang pada adiknya.


tbc

__ADS_1


__ADS_2