Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
episode 84


__ADS_3

Tiga bulan sudah Abang di rawat di singapore, selama itu pula anak-anak tak pernah putus kontak dengan sang ayah. Setiap ada kesempatan mereka selalu melakukan video call, bahkan tanpa sepengetahuan Aku juga mas Irman. Kita tahu sendirikan jaman sekarang anak-anak sudah pada pintar main smartphone. Bahkan bisa di bilang kita para orang tua kalah pintar ,di banding mereka dalan main smartphone.


Sepertinya mereka sangat amat kangen pada ayahnya, tiap video call pasti saja mereka menangis, merengek agar sang ayah segera pulang. Aku yang melihatnya ikut sedih , tapi mau bagaimana lagi keadaan Abang yang belum ada perubahan memaksa ia harus lebih lama lagi berobat di sana.


Berjam-jam mereka melakukan panggilan video, Seperti saat ini mereka rela tidur malam demi bisa melihat sang Ayah meski hanya melalui video call saja.


" Ayah kapan pulang? Kami rindu Ayah " rengek Arsya dengan mata yang berkaca-kaca.


" Doain Ayah, semoga Ayah cepat sembuh. Biar bisa pulang " balas Abang di balik layar handphone itu


" Tapi Nanti kalau Ayah pulang, tinggal bareng Kami yah, sama Umma sami Abii juga" ucap Shafira begitu antusias.


Aku hanya bisa diam ,melihat dan mendengarkan saja , permintaan mereka sungguh tak akan pernah bisa terwujud.


" Tak bisa Sayang, Ayah gak bisa tinggal bareng kalian. Rumah Ayah kan di Bandung. Kalian tetap saja di sana bareng Umma sama Abii. Nanti sesekali Ayah jengukin kalian "


Raut wajah ketiga anakku tiba-tiba saja menjadi murung, mungkin mereka sedih karena keinginan mereka agar bisa tinggal bersama tidak bisa terwujud. Mau bagaimana lagi , aku pun tak bisa berbuat apa-apa sebab antara aku juga Abang ada penghalang yang menyebabkan kita tak bisa lagi tinggal bersama.


Apa lagi saat ini aku sudah berstatus istri dari sepupunya sendiri.


Menyadari perubahan ekspresi anak-anak, Abang berusaha untuk menghibur mereka . Dengan mengiming -iming liburan bersama.


" Jangan cemberut gitu dong, Ayah kan jadi sedih lihat anak-anak ayah cemberut begitu. Jelek tahu, tuh bibirnya manyun gitu kaya bebek"


Seketika itu juga gelak ketawa anak-anak pecah, mereka tertawa hanya dengan mendengarkan ocehan ayahnya itu.


":Ayah janji, kalau Ayah sembuh nnti kalian Ayah ajak jalan -jalan , Mau? " tanya Abang pada anak-anak.


Wajah mereka berbinar dan Terlukis senyuman merekah di bibir mereka, " Beneran Yah" tanya mereka kompak.


" Memangnya Ayah kelihatan lagi berbohong gitu? tanya balik Abang.


" Ayah serius, Asal doain ayah biar cepet sembuh "


" Ila selalu mendoakan Ayah tiap habis sholat"


" Arsya juga selalu doain Ayah "


" Shakira juga"


Abang terlihat tersenyum di balik video itu " Goods , itu baru anak-anak Ayah. Tos dulu donk " Abang serta anak-anak mengangkat tangan ,meletakkan tangan depan layar kamera dan melakukan tos jauh.


" Sekarang tidur yah, ini sudah malam. Handphone nya kasih dulu ke umma "

__ADS_1


" Gak Ayah , Kmu masih rindu " rengek mereka


" Besok lagi yh, Ayah juga Mau tidur. Sekarang kalian berbaring , jangan lupa baca Doa supaya gak di ganggu setan dan mimpi indah "


Dengan sedikit drama akhirnya mereka nyerah juga, karen rasa kantuk yang udah menghmpiri mereka. Segera aku ambil handphone yng ada di tangan mereka, panggilan video belum berhenti Abang masih ingin menemani Anak-anak sampai mereka terlelap .


Aku mengarahkan kamera ke wajahku , ingin sedikit menyapa Abng


" Bagaimana sekarng? apa sudah lebih baik? tanyaku


" Seperti inilah , kamu bisa melihat sendirikan keadaanku sekarang. Msih sama ,aku belum merasa ada perubahan yang signifikan " pesimis Abang.


Aku menghela napas, memang saat ini meski aku melihat hanya lewat video tapi aku udah bisa menebak bagaimana keadaannya.


" Bersabarlah bang, aku yakin kamu sembuh. asal Ingat! optimislah untuk sembuh, butuh waktu dalam penyembuhnmu, baru juga tiga bulan menjalani pengobatan ini"


" Tapi aku lelah Aisyah, rasanya aku ingin nyerah saja. Lagian sekarang aku sudah tak memiliki beban pikiran lagi. Anak-anak sudah ada di tangan Yang tepat. " Ucap Abang terisak.


" Sudahlah , bicara dengan Abang mulai ngawur . istirahatlah , aku matiin saja videonya "


tut


Tanpa persetujuan Abang aku langsung saja mematikan sambungan video, aku sudah tak tahan lagi ingin rasanya menangis meraung-raung . Tapi, percuma saja tangisanku tak akn bisa merubah segalanya. Ya Rabb, aku mohon berikanlah kesembuhan pada Abang. Anak-anak masih membutuhkan Ayahnya. Lirih ku.


*******


Pagi ini entah kenapa aku merasa perutku bergejolak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar dan muntah -muntah pun tak bisa tertahan lagi.


Mendengar aku muntah , Mas Irman langsung menghampiriku yang saat ini sedang berada di depan wastafel mengeluarkan semua isi perut.


Dengan penuh perhatian mas Irman memijit tengkuk ku, dan sesekali bertanya dengan keadaanku.


" Kamu kenapa Yank, gak biasanya kaya gini." tanya mas Irman


dengan masih memijit tengkuk ku.


" Gak tahu mas, rasanya perut Aisyah bergejolak ,mual dan akhirnya seperti ini" jawabku lemah.


" Kita periksa yah, nanti kerumah sakit . Mas takut Kamu kenapa -kenapa yank" ucap mas Irman cemas


" Gak usah mas, serius Aisyah gak apa-apa "


Setelah merasa agak enak dan berhenti muntah, aku keluar kamar mandi ,Dengan telaten mas Irman memapahku dan membaringkan ku di tempat tidur. Tak lupa mas Irman mengoleskan minyak kayu putih keseluruhan badanku. Mas Irman terus saja memperhatikan ku dengan tangan tak hentinya memijat kaki tangan dan semuanya hingga membuatku risih.

__ADS_1


" Mas udah , jangan kaya gini ( menepis tangan Mas Irman agar berhenti mengerak -gerakan tangannya) , Aku baik-baik saja.Mungkin Asam lambungku naik, jadinya kaya gini" ucapku menenangkan Mas Irman


" Gak mungkin Yank, ini bukan karena asam lambungku naik. Mas malah curiga kalau kamu sedang hamil "


Aku malah terkekeh mendengar perkataan Mas Irman " Gak mungkin Mas , soalnya kan aku...." Aku menghentikan perkataanku dan mengingat -ingat sesuatu,


Kemudian aku bangun dan berjalan ke arah kamar mandi dan membuka rak yang ada disana . Melihat gelagat aneh ku membuat mas Irman heran, dan mengikutiku .


Saat ku membuka rak itu, aku terkejut karena stok pembalut di sana masih utuh. Aku membalikkan badan menghadap mas Irman. Mas Irman terliht bingung dengan ekspresi wajahku.


" Kamu kenapa Yank? jangan buat mas cemas"


Tanpa Aba -Aba aku langsung menghambur ke pelukan mas Irman, sedang yang di peluk malah diam kebingungan.


" Kenapa sih Yank? kenapa jadi bertingkah aneh gini"


" Mas,,," ucapku dengn posisi masih memeluk mas Irman.


" Ia apa yank"


" Mas....."


Sungguh aku tak bisa berkata-kata lagi saking senengnya. Aku sama sekali gak menyadari padahal aku seorang dokter , meski bukan dokter obygy tapi harusnya aku tahu dengn kondisi tubuhku sendiri.


Pantas saja akhir -Akhir ini , aku merasa malas untuk mengerjakan sesuatu, maunya makan yang seger -seger terus. Ternyata eh ternyata ada kehidupan lain di dalam sini, di rahimku.


" Yank, ( melepaskan pelukan ) kamu kenapa jadi aneh gini sih,kesambet apa?"


" Mas tega yah bilang aku kesambet! , memalingkan wajah


" HEhe maaf ..maaf Yank, mas bercanda tahu. Yaudah terus kamu kenapa kalau gitu"


Aku menatap manik mas Irman yang sedang fokus memperhatikan ku. Aku pegang tangan mas Irman, lalu aku mengarahkan tangan mas Irman ke arah perutku dan meletakkannya disana.


Mas Irman menutup mulutnya, dan mengekspresikan wajah keterkejutan nya. Yang Aku yakini mas Irman tahu maksud dariku.


" Sepertinya Apa yang mas bilang tadi benar deh, soalnya aku baru inget udah satu bulan aku gak datang bulan"


" Yank, aku akan jadi Abii lagi ? terima kasih yank" ucap mas Irman dengan memelukku lagi. Mas Irman nampak excited mendengar kabar ini dan menghujani wajahku dengan ciuman .


" Mas udah ah geli tahu"


" Sekarang kamu siap-siap kita periksa sekarang , lebih baik kita pastiin lagi kebenaran nya"

__ADS_1


" Ia mas kamu benar "


Akhirnya setelah sarapan dan mengntarkan anak-anak sekolah , aku ikut mas Irman ke rumah sakit untuk lebih meyakinkan kebenaran kehamilanku ini. Tapi aku yakin sekali aku sedang hamil , setidaknya aku pernah berpengalaman saat kehamilan pertama. meski dulu gak mual dan muntah seperti kehamilan kedua ini.


__ADS_2