
Kampus
Sudah kesekian kalinya aku terus menatap ke arah jam. Sudah hampir setengah jam setelah aku menghubungi Aa, tapi ia belum juga terlihat. Setelah aku pikir, mungkin akan lebih baik jika keluarga sendiri yang akan menjadi perantara pertemuan antara aku, Pak Zain dan Keanu. Sementara di dalam perpustakaan sudah ada Pak Zain ndan Keanu yang tengah duduk saling berhadapan.
Kegusaran Ku akhirnya mereda, saat mataku ini melihat Aa yang datang seraya berlari kecil. Ia masih menggunakan jas dokter kebanggaannya. Dan tidak biasanya Aa enggak pakai masker. Aku tebak ia pasti buru-buru datang ke sini. Untungnya di Kampus sudah lenggang oleh mahasiswi jadinya Aa akan aman. Tidak akan diganggu perempuan-perempuan yang terhipnotis oleh ketampanan Aa. Aa, sih, terlalu tampan. Ups, kok, kaya judul film. Hihi.
"Osh... osh... ma-maaf, Dek Aa telat," sesal Aa dan aku merasa kasian.
Aku menyerahkan air yang beberapa menit yang lalu aku beli di kantin.
"Minum dulu, A. Jangan sambil berdiri A."
"Aa lupa."
Aa lalu berjongkok untuk minum. Setelah setengah botol habis Aa langsung berdiri kembali dan membuang botol kosongnya.
"Maafin Aa, ya. Sepertinya Aa telat?"
"Enggak, kok, A. Harusnya Ais yang minta maaf karena sudah merepotkan Aa. Aa pasti lagi banyak kerjaan di rumah sakit. Ais malah minta Aa ke sini."
Aku benar-benar menyesal. Tapi mau bagaimana lagi. Aa Wali penggantian Abi, jadi aku meminta bantuan untuk bicara pada pak Zain dan Keanu.
"Jangan minta maaf, Dik. Lagian tadi Aa juga kan bilang, kalau mau pulang suruh hubungi Aa. Ya, anggap aja sekarang kamu hubungi Aa untuk jemput kamu."
"Ah, Kenapa Aa jadi baik gini, sih." Aku memeluk Aa dengan erat.
"Memang Aa enggak baik, gitu?"
"Biasanya enggak kaya gini, biasanya Aa suka sewot kalau Ais minta tolong ke Aa."
"Jangan samain yang dulu, sekarang Aa akan selalu ada buat Ais."
Saat aku hendak mengurai pelukan Aa tak sengaja mataku melihat noda lipstik di baju Aa. Aku langsung saja menatap wajah Aa, tentunya dengan tatapan penuh interogasi.
"Kamu kenapa? Kok lihatin Aa segitunya? Aa tampan, ya? Dari dulu kamu kan tahu kalau Aa tampan," canda Aa dan fiks Aa kepedean abis.
"Jujur A!"
"Jujur apa, sih. Aa enggak ngerti!"
"Aa paling anti di pegang perempuan, kecuali dipegang aku, umma, kak Ira, kak Ila sama kak Rein. Sekarang perempuan mana yang kakak izinin sentuh Aa?"
"Kamu ngaco, Dik. Mana ada, kalau pun ada nanti istri Aa."
"Terus ini apa? Bekas bibir siapa? Masih mau ngelak? Ais bilangin,lo, ke Abi dan Uma. Sekarang Aa udah main perempuan."
"Aa enggak tahu, Dik. Aa aja baru tahu ada bekas begini di baju Aa."
__ADS_1
"Sudahlah, kenapa jadi bahas Aa? Bukannya Aa ke sini buat bantuin kamu?" lanjut Aa lagi.
"Ah, iya. Kalau gitu nanti di rumah lanjut bahas noda lipstik di baju Aa. Sekarang Ais dulu yang Aa bantuin."
"Jadi gimana? Aa harus ngomong apa ke mereka berdua?"
"Gini A. Cara penyampaiannya sesuai cara Aa. Hanya di sini Ais hanya ingin Aa mengatakan pada mereka. Apa pun nanti keputusan Ais mereka harus berlapang dada. Sebab Ais dalam memilih perihal jodoh langsung melibatkan Allah."
"Udah itu aja?"
"Udah, A. Segitu doang."
"Baik, sekarang mereka di mana?"
"Mereka di dalam, A." Aku menunjuk ke arah perpustakaan.
Aa pun masuk ke perpustakaan. Sementara aku hanya duduk di luar. Menunggu mereka dengan gelisah.
***
"A kata mereka gimana?" ucapku penasaran saat Aa keluar tapi langsung menarikku.
Aa tak menjawab, ia malah terus berjalan dengan tangan yang tak terlepas memegangiku.
"A, jangan buat Ais penasaran!"
"Apa harus Aa jawab di sini? Di tempat umum?"
Aku menggeleng.
"Jadi, sekarang diam, ya. Kita pulang biar nanti Aa ceritakan di rumah."
"Iya," jawabku pasrah.
Aku dan Aa pun berjalan kembali menuju parkiran. Entah kenapa aku semakin merasa jika sikap Aa semakin aneh saja. Sebenarnya apa saja yang mereka bertiga bicarakan selain perkataan tadi yang aku sampaikan ke Aa? Penasaran!
Sampai di parkiran, Aa tiba-tiba memasangkan helm. Sudah seperti orang yang lagi kasmaran saja karena baru jadiaan jadinya perhatian banget. Kenapa aku jadi merasa jika Aa begitu protektif?
"Aa sehat kan?" Aku menempelkan punggung tangan ke kening Aa.
"Kenapa, sih, Dek. Perasaan kamu nanya terus Aa sehat apa enggak."
"Aneh aja, A. Aa jadi super perhatian gini ke Ais."
"Emang ada undang-undang yang melarang Aa-nya perhatian sama adik sendiri?"
"Bukan gitu, A."
__ADS_1
"Terus?"
Aku diam, jadi bingung sendiri mau ngomong apa.
"Cepat naik! Udah sore."
"Iya, iya."
Setelah dipikir enggak ada salahnya juga Aa perhatian gini. Setidaknya hari-hari ku tidak selalu dipenuhi pertengkaran yang absurd sama Aa. Kadang... enggak ada angin, enggak ada hujan, kami tiba-tiba marahan. Lalu saling mengadu pada Uma dan Abi. Hah, sudah enggak ingat umur saja. Kalau sekarang aku bukan anak belia yang baru balasan tahun. Melainkan sudah hampir dewasa, hampir, ya.
Sampai di rumah aku langsung membanjiri Aa dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi terus berputar di kepala. Mereka bicara apa? Membahas apa? Bagaimana respons keduanya? Apa mereka setuju? Apa mungkin sebaliknya? Sungguh aku benar-benar penasaran.
"A, jadi gimana?"
Aa terus saja berjalan dan aku pun terus mengikuti Aa.
"A, kalau Aa enggak mau cerita, Ais bilangin ke Uma sama Abi tentang noda lipstik di baju...."
Perkataanku tertahan, sebab Aa keburu membekam mulutku dengan telapak tangannya.
"Mmmm....."
"Diam, Dek. Jangan terlalu keras. Kamu salah paham Aa enggak main perempuan."
Aku menarik tangan Aa sekuatnya, hingga terlepas.
"A, kamu tega. Masa Ais mulutnya di bekam, sih."
"Kamunya kekencengan ngomongnya. Kalau Uma sama Abi dengar gimana?"
"Kenapa Aa jadi takut? Padahal biasa aja kalau memang enggak berbuat, mah."
"Hayo, berarti benar, ya. Siapa A perempuan yang mau sama Aa? Pria dingin kaya kutub utara sama selatan," lanjutku lagi.
"Mulut Ais jaga, ya, jangan asal bicara kalau enggak tahu sebab-musababnya."
"Ceritain dulu yang tadi."
"Nanti Aa cerita. Sekarang Aa mau mandi, mau salat. Kamu juga sana!"
"Ish, Aa. Tapi benar, ya nanti ceritain?"
"Iya."
Aa mendorong tubuhku hingga keluar dari kamar Aa. Setelah itu Aa langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Ya Allah, A. Sampai di kunci segala," keluhku lalu berlalu menuju kamarku.
__ADS_1