
Saat ini aku sedang duduk di bangku tempat parkir, tak hentinya aku melihat ke jam tangan yang terpasang di tangan kananku. Sudah satu jam lebih aku menunggu jemputan, tapi orang yang mau menjemput ku belum juga terlihat.
Sudah hal biasa, Aa memang suka telat jemput. Jadi ingat waktu SMP dulu, saat itu aku belum bisa pakai motor dan setiap hari aku di jemput Aa Rey. Kalian tahu? setiap hari aku harus nunggu Aa selama sejam, kesal gak sih?
Maka dari itu, aku bertekad ingin belajar mengendarai motor. Awalnya di larang keras oleh Abi maupun Uma, katanya masih di bawah umur, bahaya. Tapi, aku nekad, tanpa sepengetahuan Abi sama Uma aku belajar mengendarai motor sama Bi Narti, asisten rumah tangga di rumah Abi, yang kebetulan bisa mengendarai motor.
Sampai akhirnya aku bisa, walau pun nekat dan melanggar perintah Abi dan Uma. Habis mau bagaiman lagi, dari pada aku harus nunggu berjam-jam jemputan, atau aku harus naik mobil dan fobia ku kambuh, jelas, no, big no.
Tapi, tetap aku berani bawa motor sendiri, saat aku masuk SMA.
Aku perhatikan sekeliling kampus, sepertinya satu persatu mulai meninggalkan kampus. Aku hanya bisa menopang dagu, menjadikan helm sebagai sandarannya.
"Aa," teriakku tapi sedikit di tahan suaranya agar tak terlalu terdengar orang lain.
Mau menghubungi Aa, handphone Ku low bet. Mau pinjam? mau pinjam sama siapa, gak ada orang, aku terus saja menggerutu. Hingga secara tiba-tiba, suara seseorang membuat aku kaget, bahkan aku terperanjat dan hampir terjatuh.
"Ya Allah biha," pekik ku seketika saat seseorang, secara tiba-tiba bertanya tentang kakiku.
"Bagaimana kakimu sekarang? maaf." ucapnya lagi, sambil berdiri di belakang ku.
Lalu aku membalikkan tubuhku, melihat pemilik suara itu. Pria jangkung, berjaket kulit levis dan berkaca mata hitam. Itu adalah pak dosen. Aku sama sekali tidak mengerti dengan pertanyaan pak dosen.
"Maksud bapak apa? kakiku?", aku melihat ke arah kaki ku dan tak ada yang aneh, " kakiku gak kenapa-kenapa ko, dan tadi bapak bilang maaf, maaf untuk apa yah?"
Pak dosen lalu duduk, satu bangku denganku refleks aku menjauhkan posisi duduk ku. Pak dosen melihat kearah ku dan tak sengaja aku melihat senyuman menawan pak dosen, yang membuat aku terus mengucap istighfar "Astagfirullah, astagfirullah." batinku sambil mengelus dada.
Pak dosen terdengar menarik nafas berat. "Yang menabrak motor kamu itu saya, sampai kakimu memar, maaf." lirihnya.
Aku mencerna baik-baik perkataan pak dosen, menabrak, memar? aku terus mengulang kata-kata itu. Jujur saja dekat dengan pria yang bukan muhrim,. membuat otakku lambat bekerja. Lalu aku pun teringat, kalau seminggu yang lalu aku kena musibah, yang mengakibatkan kaki memar dan di hukum selama seminggu gak boleh bawa motor.
"Jadi orang yang menabrakkan Aku itu bapak? orang yang naik motor sport hitam, pakai helm hitam juga." tanyaku memastikan.
"Iya, itu saya. Maaf sudah meninggalkan kamu juga, sendirian." ucapnya lirih.
"Tidak masalah pak, lagian aku sendiri yang menyuruh bapak pergi." aku menjeda perkataan ku, lalu bertanya kembali saat aku ingat sesuatu, "Papa nya gimana kabarnya? udah sehat?"
"Alhamdulillah, Papa sudah sehat."
Seketika hening, tak ada yang berkata sepatah pun.
"Aku... kamu." ucapku dan pak dosen barengan.
situasi seperti itu malah membuat aku salah tingkah.
"Eh, silahkan, bapak duluan."
"Gak, kamu saja yang duluan."
"Bapak saja."
" Kamu,"
Suasana hening kembali, setelah drama saling lempar siapa yang berbicara terlebih dahulu. Fiks, karena Pak Dosen nyuruh aku duluan, yo wes.
__ADS_1
"Pak... kamu,"
Lagi-lagi berbicara barengan, aneh, tadi pak dosen nyuruh aku duluan, eh malah pak dosen ikut-ikutan.
"Tuh kan, udah bapak saja yang duluan bicara, serius."
"Kamu saja,"
"Pak... "
"Hmm, baiklah bapak duluan. Saya cuma mau bilang maaf lagi, saya masih merasa bersalah sama kamu. Saat saya meninggalkan kamu, saya janji pada diri saya kalau sampai ketemu lagi, saya akan menebus kesalahan saya itu. Dan saya bersyukur sekaligus gak percaya ternyata kamu kuliah di sini."
"Aku kan udah bilang, bukan salah bapak sepenuhnya. Disini aku juga salah, karena udah berhenti di sembarang tempat. Jadi...
Suara seseorang terdengar tiba-tiba, hingga aku pun tidak melanjutkan perkataan ku.
"Kalian sedang apa." suara tegas terdengar menyeramkan,
"Aa sudah datang," ucapku lalu bangun dari posisi duduk.
Aa terus berjalan mendekatiku dan juga pak dosen. Sungguh aku kaget bukan main saat mendengar suara Aa dan anehnya aku sama sekali tidak mendengar suara motor sport milik Aa.
"Sedang apa kalian hah? duduk berduaan."
"Aa, Adek gak ngapa-ngapain kok, ayo pulang." ucapku sambil menarik tangan aa, tapi yang di tarik sama sekali tak bergerak.
"Kamu jangan macam-macam sama adik saya!" ancam Aa
Aku merasa malu, Aa marah pada orang yang gak tepat, orang aku sama pak dosen cuma ngobrol,
"Adek, diam! Kamu masih polos, kamu belum ngerti apa-apa. Dia itu lagi modusin kamu,"
"Aa ih." aku menarik baju Aa supaya Aa mau pergi, tapi, ah Aa, malu-maluin sampai ubun-ubun,
"Maaf, sepertinya anda sudah salah paham, bi.... " perkataan pak dosen Aa tangkis.
"Gak pakai maaf-maaf segala. Kamu lagi modusin adik saya? terus nanti kamu apa-apain adek saya, ia gitu? ngaku!"
Hmmp, aku hanya bisa menghela nafas, menepuk jidat sendiri. Aa kalau protektif gak lihat situasi dan kondisi.
"Aa udah ayo pulang, lagian gimana pak dosen mau ngaku, orang ia tak ngapa-ngapain adek."
"Sebentar.. sebentar, tadi adek bilang apa?"
"Yang mana?"
"Barusan bilang apa?"
"Aa udah, ayo pulang."
"Setelah itu,"
"Pak dosen.. "
__ADS_1
"Stop" Aa menstop perkataan ku.
Aa lalu menatap ke arah pak dosen, dari raut wajah Aa aku merasa Aa sudah sadar akan ke salah pahamnya.
Lalu dengan so gak salah, Aa berkata.
"Anda Dosennya Ais?" tanya aa memastikan.
"Iya, saya dosennya."
"oh, dik ayo pulang."
Hah, apa-apaan coba, udah Aa salah paham, nuduh seenaknya, tanpa minta maaf, tiba-tiba ngajak aku pulang? Ya Allah biha....
Kumat nih gengsinya Aa, gitu deh kalau ia punya salah, suka pura-pura gak salah, terus pergi. Bukannya minta maaf, malah main kabur.
Dengan sangat-sangat malu, aku pun meminta maaf pada pak dosen atas nama Aa. Atas tuduhan Aa yang tak berdasar. Sedangkan Aa, ia sudah stand by di atas motor sportnya, nyebelin tingkat angkut.
"Pak, maafin Aa saya, Aa emang suka kaya gitu."
"Tidak apa-apa. Itu wajar, tandanya kakak kamu sayang sama kamu." pak dosen sedikit menjeda perkataannya, "Nah terus, yang tadi gimana? tanya pak dosen
" Apanya yang gimana pak," ucapku bingung.
"Saya di maafin gak? terus untuk menebus kesalahan saya, saya haru gimana?"
Aku terkekeh mendengar perkataan Pak dosen, aku kira apa.
"Udah di maafin pak, dan gak ada yang perlu bapak tebus."
"Adek cepat, panas nih." Aa mulai kesal dan berteriak.
"Bentar A." jawabku dengan sedikit berteriak juga.
"Saya pamit pak, Assalamu'alaikum."
"Eh tunggu!" pak dosen menghentikan langkahku dan aku pun berbalik kembalieliaht ke arah pak dosen.
"Ada apa pak?"
"Eh.. anu... anu.." pak dosen seperti sedang gugup.
Aku hanya mendongakkan Kepala dengan maksud meminta penerima penjelasan pak dosen.
"Nama saya Za... "
"Sudah tahu pak, nama bapak Muhammad Zain Firmansyah kan," ucapku bangga,
"panggil Zain, jangan pak dosen."
"Oke, pak Zain, Assalamu'alaikum."
"wa'alaikum salam."
__ADS_1
Aku pun segera berlari ke arah Aa, yang sepertinya sudah mulai cemberut, mukanya di tekuk. Ingin rasanya menggoda Aa, yang udah salah paham, ngegas pula sama Pak dosen, ups, maksudnya pak Zain.
................