Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Kehilangan


__ADS_3

Kini semua orang bergembira dengan kabar kehamilanku, tapi aku bingung sendiri entah aku harus bahagia atau tidak . bukan tak bersyukur atas rizki yng alloh berikan karena telah mempercai ku dan juga Abang seorang anak tapi dengan melihat situasi seperti ini dmna semua anggota keluargaku sedang terbaring lemah di rumah sakit membuat hilang rasa bahagia ku.


Aku pegang dan aku elus perut ku yang masih rata, berbicara sendiri dengan calon anakku yang mungkin masih sebesar biji kacang.


" Baby Bunda maafin Bunda yah , suasana hati Bunda sedang tidak baik . Bunda senang kok kamu hadir di rahim Bunda baik-baik ya di dalam sana. " kataku sambil mengelus perutku.


Semenjak kecelakaan yang menimpa keluargaku selama itu pula aku tak pernah pulang. Aku hanya ingin Berdekatan terus dengan Bapak, ibu dan juga Adik laki-laki ku. Berat rasanya harus meninggalkan mereka , melihat keadaan ku seperti itu membuat Abang serta mertuaku khawatir akan kondisi kesehatan ku terlebih kawan au sedang mengandung keturunan keluarga mereka . Abang maupun mertuaku memaksaku untuk pulang terlebih dahulu untuk mengistirahatkan tubuhku. Aku hargai perhatian mereka tapi sekali lagi aku bilang aku ingin tetap di sini , hingga membuat Abang terlihat begitu kesal.


" Adek bisa gak untuk tidak egois, tolong perhatiakn juga calon baby kita, Adek harusnya banyak istirahat jangan stres itu bisa mempengaruhi kondisi baby kita " Kesal Abang dengan suara meninggi.


" Adek bukannya egois bang, Adek juga memikirkan calon baby kita . Tapi Abang tahu sendiri keluarga Adek sekarng sedang sakit , Kalau bukan adek siapa lagi yang menjaga mereka. Tolong bang untuk fahami Adek. "


" Bagaimana mana Abang bisa memahami kamu sedangkn kamu sendiri saja tidak memahami keadaan kamu sendiri, ingat masih Ada calon baby kita dalam rahim mu , untuk masalah yang menjaga keluargamu kita bisa menyuruh suster untuk ekstra menjaga mereka dan memberitahu kita setiap waktunya keadaan mereka"


" Tapi. ...


" Abang tak suka istri pembangkang Aisyah "


deg. .


Aku tertegun untuk pertama kalinya Abang memanggil namaku, dan untuk pertama kalinya juga Abang membentak ku.


Sebegitu marahkah Abang kepadaku? Tuhan maafkan aku karena telah membangkang pada suamiku.


" Aisyah, mau mendengarkan Abang atau mau tetap dengan keputusanmu terus di sini,


Pilihan yang begitu sulit, tapi aku tetap harus menuruti perkataan Abang aku tak mau jadi istri durhaka. Ibu, Bapak Adek cepatlah sembuh Agar Aisyah tak terus berada di posisi membingungkan ini.


" Maafin Adek. ... Adek ikut Abang saja untuk pulang " jawabku dengn menundukan kepala.


Terdengar juga Abang membuang nafas kasar


" akhh. .. " Abang berteriak dan memjambak rambutnya.


"Maafin Abang juga dek , Abang hanya tak mau Adek dan calon baby kita kenapa -kenapa. " lalu Abang menarik tanganku dan memelukku sangat erat menandakan seolah-olah tak mau kehilangan.


,


,


,


,


.


.


Tepat jam 10 pagi aku mendapatkan telpon dari rumah sakit memberi tahu kabar bahwa keadaan Ayah dan Ibu drop , aku khawatir takut mereka kenapa - kenapa, Akhirnya aku berusaha menghubungi Abang untuk meminta izin pergi menemui Bapak dan ibu. Tapi beberapa kali aku hubungi tak kunjung Abang angkat. Hatiku semakin tak karuan memikirkan Bapak dan juga Ibu lalu aku harus bagaimana ?aku belum dapat izin Abang untuk keluar aku takut berdosa pergi tanpa izin suami meski orang tuaku sendiri yang akan aku kunjungi. Mungkin hanya doa yang bisa aku lakukan semoga saja keadaan mereka membaik.


Kini pikiranku kacau hal-hal yang buruk memenuhi pikiranku , aku tak hentinya terus menghubungi Abang tapi tetap sama Abang tak juga mengangkat telpon dariku.


Ku genggam handphone ku lalu aku remas sekencang mungkin , untuk menghlilangkan kecemasan aku mondar mandir bagaikan setrikaan memikirkan keadaan orang tuaku.

__ADS_1


Setelah setengah jam menunggu akhirnya Abang menghubungi balik, segera mungkin aku menggeser tombol hijau.


" Hallo, Assalamu'alikum Bang " Aisyah


" waalaikumsalam , Adek maafin Abang yah tadi tidak mengangkat telpon adek. " Rudi


" Ia Bang tak apa-apa yang penting sekarang Abang telpon balik Adek, oh ya Bang Bolehkan adek pergi ke rumah sakit tadi ada telpon di sana katanya Ibu sama Bapak drop , Adek takut terjadi sesuatu sama mereka " Aisyah


" Yaudah tungguin Abang yah sekarng Abang pulang dan kita sama-sama pergi ke rumah sakit" Rudi


" Ia Abang, Adek tunggu dan cepatlah Adek begitu khawatir " Aisyah


" Secepatnya Abang kesana, tapi tolong adek jangan stres inget calon baby kita " Rudi


" Adek tahu" Aisyah


" Yaudah, assalamu'alikum " Rudi


" Wa'alaikum salam "


Sambungan telpon pun terputus , untuk yang pertama kalinya aku merasa Abang begitu egois Abang tega kepada keluargaku, padahal aku juga bisa menjaga calon baby ku sebisa mungkin untuk tak stres dan banyak pikiran. Tapi dengn Abang melarang ku untuk menjaga keluargaku di rumah sakit malah membuat aku terus kepikiran mereka.


Apalah daya aku hanyalah seorang wanita biasa yang mencari ridha seorang suami, biarlah aku turuti semua mau suamiku toh mungkin ini juga demi kebaikan aku dan juga calon baby . Aku paham akan itu jika seandainya posisinya sedang tidak hamil aku yakin Abang tak akan melarang ku.


Sedikit kisah pada jaman dulu hidup sepasang suami isrti , saat itu suaminya berpamitan untuk pergi berniaga ke negara orang lalu sang suami berpesan untuk tidak kemana-mana sebelum suaminya pulang dan di iya kan oleh sang istri.


Suatu hari datang seorang wanita kerumah sang istri memberi kabar Bahwa sang ibu sedang sakit, sang istri itu kaget dan bersedih tentunya atas berita itu. Lalu sang Istri berkata nanti saya kesana setelah kepulangan suamiku.


Sampai akhirnya ibu sang isrti menghembuskan nafas ia belum pernah mengunjunginya sehingga membuat semua orang yang tahu membicarakannya yang tidak-tidak.


Tapi ketahuilah beruntung Ibu sang wanita itu karna sang anak telah begitu patuh pada sang suami hingga Alloh membalas kepatuhannya itu dengan menghapus dosa-dosa ibu sang isrti yang meninggal itu, Subhanallh.


.


.


.


Setengah jam kemudian aku dan Abang telah sampai di rumah sakit tujuanku satu ingin bertemu mereka, Aku sedikit berlari laku Abang secepatnya menyusul dan memaksaku berhenti,


" Stop dek, inget kamu lagi hamil jangan lari - lari seperti itu lagi "


" Maafkan Adek Bang, saking khawatir nya ingin segera melihat mereka "


" Ia Abang faham tapi tolong sekarng adek lagi hamil jangan lari begitu "


Aku menurut saja apa yang Abang bilang meski sebenarnya hatiku begitu tak karuan memikirkan keadaan mereka.


Sesampainya di ruangan dimna keluargaku di rawat, aku terkejut ketika di ruangan itu Hanya ada adikku saja lalu dimna Bapak sama Ibu?


" Abang mana Bapak sama Ibu, kenapa mereka tak ada"


Aku mulai terisak, dimna kah mereka perasaan - perasaan buruk pun hadir mungkin terjadi sesuatu keadaan mereka, sejenak aku melupakan perkataan Abang yang melarangmu untuk tidak berlari tapi saat itu pikiranku benar-benar sedang kacau hingga mengacuhkan perkataan Abang, bahkan Abang teriak memanggilku pun telingaku seolah-olah tuli.

__ADS_1


Dengan nafas yang tersenggal -sengal tak sengaja aku menabrak Irman, aku langsung saja menghujani nya dengan pertanyaan yang mengarah pada Ibu dan bapak.


" Irman dimana bapak, dan ibu ku? mengapa mereka tak ada di ruangannya? apa mereka baik-baik saja?


Tak ada jawaban yang ada hanyalah tatapan yang begitu mematikan seakan-akan ia akan memangsanya hidup -hidup.


" Terlambat! ! " ucap Irman


" Maksudnya apa" tanyaku


" Beberapa kali pihak rumah sakit menelpon mu, memintamu datang kemari, tapi apa kau baru menunjukkan batang hidung mu sekarang"


" Maaf tadi Suamiku tak ada dan sebelum pergi ia berpesan untuk aku tak pergi kemana -mana lalu aku menghubungi Abang tapi baru setengah jam kemudian suamiku menelpon ulang " jelasku


Lalu seketika itu pandang Irman bertuju pada Abang, seperti mengisyaratkan bahwa Abang telah melakukan kesalahan besar.


" Kenapa bapak Irman terhormat memandangku seperti itu? apa aku punya salah padamu? ujar Abang


" Bukan kepada ku" jawab Irman


" Lalu? ...berbicaralah yang jelas jangan bertele -tele "


" Jika kau tak melarang Aisyah untuk tidak kemana-mana pasti hal ini tak akan terjadi "


" Irman maksud mu apa? Bicaralah dengan jelas ada apa sebenrnya6" ucapku


" Maaf Aisyah Bapak dan Ibu mu telah di panggil oleh sang kholiq'


jder. .....


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, ketika aku dengar bahwa Bapak sama Ibu telah tiada , Air mataku tak terasa berjatuhan aku menangis sejadi jadinya aku begitu histeris dan melupakan. sejenak calon baby ku.


aku berlari keruangan jenazah aku padangi satu satu wajah Bapak dan ibu, begitu nyesel di Ulu hati seperti inikah rasanya kehilangan orang yang kita cintai orang yang sangat kita sayangi mereka pergi mereka tak bisa bersamaku lagi.


" hiks...hiks ..Bapak ,Bu bangun ini Aisyah sudah di sini sekarng jangan bercanda bu , Pak cepatlah bangun . Lihatlah Aisyah sedang hamil sebentar lagi Bapak sama ibu punya cucu nanti ada yag pangil kakek dan nenek, hiks...hiks. .bangunlah apa kalian tak mau melihat cucu kalian terlahir? Bapak Ibu. .hiks...hiks


" Abang tolong bantu adek bujuk Bapak sama Ibu untuk bangun "


" Adek sayang kamu jangan seperti ini , Bapak sama Ibu sudah meninggal " ucap Abang dan memelukku


" Tidak Abang mereka masih hidup hiks..hiks... Irman yang tak becus merawat mereka "


" Adek sadarlah jangan seperti ini ikhlas kan kepergian Bapak dan Ibu , tak ada yang bersalah dalam hal ini semua sudah takdir dari alloh" Bentak Abang.


" Tidak. ..tidak. .....


Dan brugh aku tak ingat apa-apa lagi......


....


....


Mari kita saling mendukung jika suka silahkan like dan baca jika tidak suka jangan di hujat cukup di lirik saja. ....

__ADS_1


__ADS_2