
Waktu bergulir dengan begitu cepat, tak terasa masa untuk melepas kesendirianku sudah di depan mata.
Ya, hari ini adalah masa di mana aku akan berubah status dari sendiri menjadi istri orang. Dari tanggung jawab Abi berganti menjadi tanggung jawab suamiku. Hah, rasanya ini terlalu cepat.
Saat ini Aku sedang di dalam kamar tengah menikmati sentuhan - sentuhan ajaib dari para mekap artis profesional. Padahal sebelumnya aku tidak pernah berdandan semewah ini. Paling hanya sapuan pelembab dan olesan lipblam di bibir.
Dua jam berlalu namun belum juga ada tanda-tanda aku dipanggil. Aku sudah mulai merasa bosan dan risi dengan kebaya yang aku kenakan ini. Terasa kaku dan geli karena terkena payet -payet di sekujur baju kebaya.
Sepi..., ya, aku hanya mendengarkan kesepian. Tidak terdengar suara mikrofon, tidak terdengar suara lagu salawat berkumandang. Ini sukses membuat aku bertanya - tanya. Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.
Karena penasaran aku pun beranjak hendak melihat keluar, ingin tahu apakah acaranya sudah selesai atau memang belum.
Aku memutar gagang pintu berbarengan juga dengan tim Mekap yang barus saja kembali setelah tadi aku perintahkan untuk mencari informasi. Informasi keadaan di aula pernikahan diriku.
Sedikit memicingkan mata, saat aku melihat air muka tim Mekap berubah menjadi pucat, di dahinya juga terlihat bulir -bulir keringat. Seperti sehabis lari maraton.
"Ada apa? Semua baik - baik saja, 'kan?" tanyaku kepada tim Mekap yang berjumlah tiga orang itu.
Mereka terlihat saling lempar pandangan. Sepertinya mereka sedang berdiskusi siapa di antara mereka yang akan membuka suara.
"Ada apa? Coba katakan?" tanyaku lagi saat tidak mendapatkan satu jawaban dari ketiga Mekap artis itu.
Aku tahu mereka sedang ada dalam mode takut, khawatir dan terlihat serba salah. Tentunya ini membuat aku semakin penasaran saja.
"Baiklah, jika kalian tidak ingin memberi tahuku biarkan aku sendiri yang mencari tahu."
"Jangan Nona!" ketiganya kompak menahan langkahku.
__ADS_1
"Kalau begitu ceritalah! Kenapa aku menunggu selama dua jam namun tidak kunjung dipersilakan turun. Apa memang seperti ini acaranya? Aku dilarang menemui suamiku? Lalu untuk apa aku berdandan seperti ini? Hah, astaghfirullah," Aku hanya bisa beristigfar. Ingin marah? Tapi ini bukanlah sifat ku. Alhasil aku hanya bisa terus beristighfar dalam hati.
"Anu, tadi... tadi... rombongan pengantin pria belum datang," ucap salah satu tim Mekap dengan terbata-bata.
Aku kaget. Belum datang? Kenapa? Kok bisa? Segelintir pernyataan terus mengusik kalbu.
"Kenapa bisa? Lalu sekarang, mereka sudah datang 'kan?"
Mereka menggeleng ragu.
Apakah perasaan tak tenang tadi karena hal ini? Apakah ini yang membuat sedari tadi hatiku gelisah? Ya Allah... Astaghfirullah.
Pikiranku jadi menerawang ke satu hari sebelum pernikahan. Calon suamiku Pak Zain tiba -tiba mengirim chat. Padahal selama masa ta'aruf belum pernah sekalipun ia menghubungiku kecuali lewat adiknya --Reni.
Pak Zain:
Me :
"Wa'alaikum salam, Pak. Udah, kok. Alhamdulillah."
Pak Zain :
"Alhamdulillah. Oh, ya, maaf mungkin kamu bertanya -, tanya tumben aku menghubungimu. Entahlah, aku sendiri pun tidak tahu alasannya. Hanya ingin saja, lagi, ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan sama Kamu, Aisyila Renata Sanjaya."
Jantungku berdegup kencang, saat untuk pertama kalinya Pak Zain memanggil namaku dengan lengkap. Ah, rasanya itu... kenapa harus sesenang ini? Padahal hanya menyebutkan nama saja.
Beruntung ini komunikasi lewat handphone, jadinya ia tidak akan melihat bagaimana ekspresi wajah memerahku ini. Secepatnya aku membalas chat dari pak Zain. Aku juga penasaran hal apa yang ingin ia bicarakan. Aku penasaran.
__ADS_1
me :
"Ada hal apakah hingga Pak Zain menghubungiku?"
Pesan terkirim dan langsung bertanda biru. Itu artinya Pak Zain sedari tadi memang menuggu balasan pesanku.
Pak Zain :
"Apa pun yang terjadi kamu jangan bersedih. Aku tau kamu adalah wanita kuat."
Ting...
Notip pesanku berbunyi. Sungguh aku tidak mengerti apa perkataan Pak Zain.
Me :
"Maksudnya pak Zain apa?"
Pak Zain :
"Kita tidak akan tahu nasib kita kedepannya seperti apa. Tapi aku harap nasib baiklah yang akan selalu ada di sekitar kita. Maaf, aku mendadak melamarmu dan terima kasih sudah memilihku. Sejak awal aku sudah yakin jika kamu adalah wanita baik, wanita yang akan melahirkan keturunan -keturunan yang Soleh dan Solehah. Tunggu aku, besok kita akan dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan. Dan semoga Kamu jodoh pertama dan terakhirku."
Lamunanku tersadar saat tim Mekap menepuk pundak ku. Ya Allah, firasat apakah ini? Astaghfirullah, astaghfirullah.
"Nona kenapa melamun?" tanya salah satu dari ketiga tim Mekap.
Aku menggeleng pelan. Aku memilih duduk kembali dan menghilangkan pikiran - pikiran buruk. Bismillah, insyaallah semua akan baik-baik saja.
__ADS_1