Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Tentang Lisa


__ADS_3

"Ada apa? menggenggam tangan Lisa.


" Cari Aisyah mas, Aku mohon. ..


Aku menatap nanar wajah Lisa, ada permohonan disana. Apa yang harus aku lakukan ? aku malu dan memang sudah berniat tak ingin menampakkan lagi wajahku dihadapan Aisyah. Terlalu banyak aku menaruh luka dihati Aisyah, Mungkin saja ia pun benci kepadaku.


" Mas, Lisa mohon " Lisa memohon dengan menangis.


" Mas bisa merawat anak-anak selama kamu di rawat, ada babysitter juga oh yah ada orang tua mu juga , jadi kam,,, " perkataanku disekat oleh Lisa.


" Gak mas, Lisa udah gak kuat.Lisa mau anak-anak dapat kasih sayang seorang ibu, jika nanti lisa tiada, Lisa mohon untuk kali ini jangan egois mas. Pentingkan juga anak-anak "


" Mas gak mau denger lagi kamu berkata seperti itu! , kamu pasti segera pulih biar kita rawat mereka sama-sama "


Aku begitu kesal dengan permintaan Lisa, ia terus saja berkata yang tidak -tidak masalah umur bukankah Tuhan yang telah menentukan? tapi Lisa malah mendahului ketentuan Tuhan.


Aku pun pergi dari ruangnya Lisa, tak peduli lisa terus saja memanggilku dan terus memohon. Yang ada di dalam pikiranku Saat itu membiarkan Lisa sendiri dan merasa tenang mungkin dia belum sadar sepenuhnya hingga ia berkata seperti itu.


Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Aku menyuruh mertuaku membawa pulang anak-anak sementara aku disini menjaga Lisa. Merasa sudah terlalu lama meninggalkan Lisa di ruangan rawat nya, akhirnya aku memutuskan untuk kembali. Aku membuka handle pintu terlihat Lisa yang tengah tertidur, ku dudukan badanku di kursi samping Lisa, Ku usap kepalanya


" Kamu pasti sembuh Lisa, maaf aku tadi sedikit membemtakmu. Jujur saja aku tak bisa mengikuti permintaanmu yang itu, aku malu jika harus bertemu kembali dengan Aisyah. Tapi jika Kamu meminta sesuatu srlain itu aku pasti akan kabulkan. Aku harap kamu mengerti" gumamku sambil terus mengusap kepalanya.


Ku merenggangkan otot-otot tubuhku, setelah seharian kerja aku langsung kerumah sakit. Rasa lelah yang menghampiriku memaksaku untuk memejamkan mata dan merebahkan tubuhku di atas sofa.


Ku berusaha untuk memejamkan mata,entah kenapa begitu sulit untuk aku terlelap. Permintaan Lisa ternyata malah menjadikan beban tersendiri buatku. Haruskan aku mencari Aisyah? ah sungguh tak perlu kamu pasti sembuh dan mari kita rawat anak-anak bersama.


Saat fokus pikirku sedang menerawang jauh, menimbang -nimbang permintaan Lisa, tiba-tiba saja Lisa memanggil -manggil namaku. Kub terperanjat dan langsung menoleh ke arah Lisa, aku bangun dari rebahkan ku dan berjalan menghampiri Lisa.


" Ada apa sayang? kamu mau apa? minum? makan? Atau mau ke toilet? sini biar mas bantu."


" Lisa gak mau itu semua mas, Lisa hanya mau Aisyah " terisak


" Sayang, kenapa itu lagi yang di bahas? Mas udah bilang gak yah nggak , mengerti lah"


" Lisa gak mau ngerti mas,Pokoknya mas harus cari Aisyah. Lisa ingin minta maaf dan menitipkan anak-anak " ucap Lisa lemah disela isakannya .


Aku benar-benar frustasi , apa iya aku harus setuju dengan permintaan Lisa? Atau aku iya kan saja , masalah mencari Enggak nya itu belakangan yang penting Lisa berhenti merengek untuk mencari Aisyah, pikirku.


" Ok ok, mas akan cari Aisyah,Demi kamu" ucapku bohong, karena sebenarnya tak ada sedikitpun niat untuk mencari Aisyah. .


" Mas jangan bohong yah, ( tersenyum senang ).kalaupun Lisa tak sempat bertemu Aisyah tolong mas bilangin permintaan Lisa yah dan jangan lupa titip anak-anak pada Aisyah. "


" Itu gak perlu sayang , mas juga bisa menjaga dan merawat mereka" Kilah ku.


Maafkan aku Lisa , aku harus berbohong padamu, karena sampai kapan pun aku tak akan mencari Aisyah,aku tak ingin hadir kembali di kehidupannya lagi .


" Tenang rasanya mas , jadi Lisa bisa pergi dengan tenang " lirihnya begitu lemah.

__ADS_1


" Sudahlah jangan terlalu banyak pikiran dan jangan berbicara ngawur lagi , kamu pasti sembuh , istirahatlah " titahku


" Baik mas, lagian rasanya Lisa begitu lelah, ingin tidur lama"


Ku membantu Lisa memposisikan tidurnya senyaman mungkin, alat-alat kemarin yang di pasang di tubuh Lisa sudah di lepas hanya tinggal selang infus saja. Ku tarik selimut hingga batas perutnya dan ku elus -elus puncuk kepalanya.


" Tidur yang nyenyak yah, besok mas akan bawa anak-anak kesini "


"Hmm. ..


*******


Cahaya matahari yang masuk dari balik celah jendela membuat mataku terasa silau hingga membuatku terbangun dari tidur. Ku renggangkan otot-otot badanku ,yang terasa pegal karena semalaman tidur di atas sofa . Kulihat jam pada dinding rumah sakit tepat pukul 06.00 pagi, sungguh tidur yang nyenyak meski diatas sofa sampai adzan subuh pun Tak terdengar.


Setelah kurasa agak enakan dan tak terasa pegal, aku berjalan ke toilet untuk mencuci muka.Namun sebelum niatku terlaksana aku sebentar menghampiri Lisa yang masih tertidur . Tidurnya begitu pulas, terlihat damai dan seperti tersenyum. Aku pun terkekeh sendiri baru kali ini aku bexnar-benar memperhatikan Lisa saat ia tidur, sungguh lucu.


Setelah selesai dengan urusanku yaitu membersihkan diri,aku pergi keluar dulu untuk mencari sarapan mumpung Lisa masih tertidur. Tak lupa aku juga melakukan sambungan video ke babysitter anak-anak ingin mengetahui keadaan mereka. Dan ternyata mereka masih terlelap tidur di temani oleh Oma nya. Rasanya tenang jika sudah melihat dan mendengar kabar anak-anak.


Pulang sarapan aku bergegas keruangan Lisa,takutnya ia sudah terbangun dan aku tidak ada di sampingnya.


Cklek. .


Ku membuka pintu perlahan takut menggangu tidur Lisa. Namun ternyata Lisa sudah terbangun dan ia menoleh kearahku.


Tersenyum " Habis dari mana mas?" tanya Lisa padaku.


" Gak juga mas, Lisa terbangun saat ada perawat mengntarkan sarapan buat lisa" .


Benar saja di atas nakas sudah tersedia sarapan untuk Lisa. Aku pun segera mungkin menyuapi Lisa untuk sarapan.


" Sarapan dulu yah, mas suapin";


Tanpa ada penolakan Lisa pun menurut , Ia makan begitu lahap seperti orang yang baru pertama kali makan nasi. Ku usap sisa makanan yang ada di sudut bibirnya. Cantik, Manis , itulah Lisa apalagi pagi ini entah kenapa ia terlihat bahagia.


" Mas , Boleh Lisa Minta sesuatu? tanya Lisa penuh kehati --hatian


" Aku suamimu, kenapa kamu jadi sungkan seperti ini. Jika ingin sesuatu gak usah minta ijin segala langsung bilang saja. Memang Kamu mau apa dari mas?


" Beliin Lisa kerudung yang mas, Lisa kepengen berkerudung dan tolong beliin Lisa kerudung warna putih"


Mendengar permintaan Lisa, begitu sangat menggetarkan HATIKU. Lisa ingin berjilbab? sungguh membuat aku bahagia.


" Mas nanti akan beliin kamu kerudung, mas seneng Kamu mau berkerudung. "


Lisa tiba terdiam ,pandangan menerawang kosong entah apanya sedang ia pikirkan. Ia menghela nafas lalu melirik kearahku dengn mata yang merah seperti ingin menangis.


" Lisa Takut mas, Lisa mau di akhir hidup Lisa sudah berhijab. Dan mas segera temukan juga Aisyah untk ku, tapi...jika pun gak bisa tetap carikan dia untuk Lisa dan sampaikan maaf Lisa padanya" ujar Lisa dengan terisak.

__ADS_1


" Kamu bicaranya ngaco terus, mas gak suka. Bicaramu tuh mendahului takdir Tuhan . Kamu sepertinya memang sudah gak mau lagi sama mas? gak mau rawat anak-anak ia gitu? makanya Kamu terus ngomong Kaya gitu biar ucapanmu jadi kenyataan . ingat Lisa perkataan itu doa"


" Maafkan Lisa mas, "


" Sudahlah, mas pergi dulu mau beli kerudung. "


Dengan penuh kekesalan aku pergi , membeli kerudung yang Lisa maksud sambil menghindar dari Lisa . Aku merasa ada yang aneh dengn Lisa, apa lagi saat ia terus saja membahas kematian .Aku Jadi takut membayangkannya saja aku tak sanggup. Jodoh, maut dan rizki memang Tuhan yang mengatur sebagai hamba Kita hanya bisa pasrah dan menjalani hidup sesuai skenario Tuhan.


Akhirnya kerudung yang Lisa Minta sudah ada di tangan, segera mungkin aku kembali kerumah sakit. Setiba di sana ternyata anak-anak sudah ada di sana mereka terliht cantik dan tampan. Ku kecup satu-satu anak-anak ku.


" Mas, mana kerudung nya? tanya Lisa


aku pun menyerahkan paperbag berisi kerudung" Ini, biar mas yang pakaikan, "


Ku pasang kan kerudung ke kepala lisa, satu kata ku ucapkan untuknya, cantik. Lisa nampak bahagia matanya berkaca-kaca.


" Kemari kan anak-anak, aku kangen ingin menggendong nya "


Entahlah Hari ini Lisa benar-benar bertingkah gak wajar, bahkan ia ingin menyusui anak-anak sedangkan kata dokter untuk sementara Lisa gak boleh menyusi dulu karena kondisinya belum stabil. Tapi dia kekeh ingin menyusui mereka.


Setelah ia merasa puas , anak-anak kembli di pangku ibu mertua dan babysitter. Sementara Lisa tiba-tiba meminta untuk tidur, ia bilang lelah .


" Mas Lisa lelah , Lisa pengen tidur , tapi tolong usap -usap kepalanya Lisa " .


Aku pun menurut saja , aku usap kepalanya tapi mulutnya tak henti melapalkan sesuatu yang tak bisa aku dengar dan akhirnya ia pun terlelap.


satu jam sudah Lisa tertidur, tapi belum ada tanda-tanda untuk ia bangun . Aku pun terpaksa membangunnya karena sudah waktunya ia makan dan meminum obatnya. Aku elus pipinya untuk membangunkannya tapi tak ada respon. Kemudian aku goyang -goyangkan pundaknya mash saja gak ada respon. Aku panik aku terus saja menepuk-nepuk pipinya , pipinya dingin, tangannya ku pegang juga dingin . Sesuatu terlintas di benakku;, gak mungkin ia meninggal itulah yang ada di pikiranku.


secepat mungkin aku tekan tombol emergency untuk memanggil dokter. Saat dokter datang aku menyuruhnya untuk memeriksa Lisa karena ia dia terus.


" Dokter, tolong lihat istri saya, kenapa ia diam saja , saya bangunkan tapi dia tak bangun -bangun" ucapku panik


" Sebentar biar saya periksa"


Dokter terlihat sedang mengecek denyut nadi, pernapasan dan jantungnya , tapi dokter malah menggelengkan kepalanya.


Tidak, aku tak mau mendengarnya, mendengar sesuatu yang tak ingin aku dengar.


" Maaf, nyonya Lisa sudah meninggal. "


Deg..


Akhirnya kata kramat itu terdengar juga oleh ku . Aku menangis Aku tak peduli meski aku lelaki harus menangis di hadapan orang. Kenapa kamu ninggalin mas, Aku benar-benar tak bisa menerima semua ini...


flasback off


tbc....

__ADS_1


__ADS_2