
Untuk mengalihkan perhatian Johan aku terpaksa mencari alasan untuk menghindari pertanyaan Jo, Aku belum siap untuk memberitahu kebenarannya mengenai Bapak dan juga Ibu. Melihat kondisi jo yang baru tersadar dari koma membuatku berfikir dua kali untuk memberitahu segalanya.
" Jo , Maafin kakak belum saat nya kamu tahu, kakak akan cari waktu yang tepat untuk memberitahu segalanya" batinku sambil berjalan keluar dari ruangan Johan.
Saat aku keluar tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku , aku tolehkan kepala ku kesumber suara.
Irman, ia dialah orang yang memanggil namaku. Entahlah lagi-lagi perasaan kacau di hatiku datang lagi setiap kali berhadapan dengannya.
Irman berjalan menghampiriku , sementara detak jantungku malah semakin kacau aku berusaha untuk bersikap tenang.
" Aisyah bisakah kita bicara sebentar saja? tanya Irman padaku.
"Apa lagi yang ingin kau bicarakan padaku? jika itu menyangkut kesehatan adikku maka Bicaralah , tapi jika menyangkut yang lainnya lebih baik kamu tak usah bicara. "
" Sebentar saja, aku mohon" ucap Irman memohon dan mengatupkan tangannya di atas dadanya.
" Baiklah," dengan sedikit terpaksa aku meng iyakan ajakan Irman untuk berbicara denganku.
Di taman rumah sakit aku dan Irman kini berada duduk dengan memberi jarak yang sangat jauh, bahkan duduk dengan saling membelakangi.
" Cepatlah jika kau mau membicarakan sesuatu denganku, aku tak mau terlalu lama dengan situasi seperti ini"
" Aisyah. .." sedikit menjenda bicaranya
" Apa?? tanyaku
" Apa kau bahagia ?"
" Pertanyaan konyol macam apa itu? apa harus aku jawab ?
" Jawablah, aku mohon! !!
Dengan sedikit kesal akhirnya aku jawab saja pertanyaannya yang menurutku sangat konyol. " Tentu saja aku bahagia, jika aku tak bahagia dengan pernikahanku tak mungkin aku hamil anak Abang "
" Syukurlah jika kamu bahagia, setidaknya aku bisa sedikit tenang jika meninggalkan mu"
" Apa maksudmu? mau pergi kemana kamu? selidik ku
" Aku akan pergi ke Jakarta, lagian Pak Radit sudah kembli dari tugasnya berarti tugasku menjadi guru pengganti juga sudah selesai, terus aku di rumah sakit ini juga sementara sudah saatnya aku mengurus rumah sakit orang tuaku Di Jakarta
Kamu baik-baik ya disini"
" Kau tak usah mengkhawatirkan diriku disini ada suamiku yang akan menjagaku, terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku"
" Aisyah asal kamu tau meski Aku pergi dari mu tapi hatiku tidak, hatiku akan tetap milikmu dan akan selalu ada kamu di hatiku"
" Cukup Irman! !! aku wanita yang sudah bersuami aku harap kau bisa membuka hatimu untuk wanita lain jangan mengharapkan sesuatu yag tak mungkin akan kau dapat. Jangan hancurkan masa depanmu Irman, oh ya apa kah sudah ? kalau sudah dan tak ada lagi yng ingin di bicarakan aku akan pergi " Lalu aku pun Bangkit dan hendak pergi namun terhenti ketika Irman mengucapkan sesuatu yang membuat hatiku dilema dan kacau.
" Aisyah kau harus ingat meski aku pergi , tapi hatiku tidak aku akan selalu menunggumu "
Aneh, sungguh kau pria Aneh Irman meski berulang kali aku katakan untuk berhenti mengharapkan diriku tapi kau tetap kekeh dengan pendirianmu. Entah harus bagaimana lagi aku harus membujuknya aku tak mau jika hidupnya Hanya untuk menungguku yang sampai kapanpun tak bisa ia miliki.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Irman pov on.
Sejak kejadian delapan tahu lalu aku terus mencarinya Aku ingin menjelaskan padanya bahwa bukan aku yang ada pada malam itu yang hampir merenggut kehormatannya.
Aku hampir putus asa berbagai cara aku lakukan untuk mencari keberadaannya namun usaha ku tampaknya sia-sia saja.
Setelah aku merasa harapanku tak akn terwujud akhirnya aku putuskan untuk pergi dari sini dari kota ini mengubur semua kenangan bersama dirinya untuk selama-lamanya.
Secara kebetulan juga pemanku Om Radit ditugaskan di luar kota hingga akhirnya ia memintaku untuk menjadi dosen pengganti dirinya, meski sempat menolak karena aku sama sekali tak tertarik menjadi dosen tapi hanya ingin fokus menjadi dokter saja.
Tapi entah kenapa permintaan om Radit sampai terbawa mimpi dan di dalam mimpiku bertemu dengan dia wanita yang aku cari salama ini.
" Aisyah !!!! teriak ku dan terbangun dari tidurku.
" Astagfirullah, kenapa dirimu selalu saja hadir di mimpiku, apa aku harus menerima tawaran om Radit mungkin saja ini pertanda bahwa aku benar-benar akan menemukan dirimu jika aku pergi kesana?
Akhirnya aku meng dealkan permintaan om Radit, dan segera berangkat ke Bandung.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah sebagai dosen pengganti. Aku masuk ke kelas yang memang jadwalnya untukku .Saat pertama kali masuk aku ucapkan salam namun tak ada jawaban dari mereka lalu aku menggebrak meja sebagai tanda kekesalan atas perbuatan mereka yang tak membalas ucapan salamku.
Aku meluapkan kekesalan ku dengan memarahi mereka saat aku menoleh kesebelas kanan dan deg..... jantungku berasa terhenti seketika dia ..dia orang yang aku cari selama delapan tahun ini sekarang ada di depan mataku . Senang itulah perasaanku saat pertama kali meihatnya tapi wanita itu sorot matanya menunjukan bahwa ia sedang ketakutan dan aku yakin ia takut karena mengingat peristiwa itu. Tiba-tiba dia pingsan membuat diriku khawatir maka dengn segera aku memangku dirinya , meski sempat ditarik oleh tiga orang mahasiswi yang aku yakini sahabat dia, mereka bilang
" jangan pegang dia biar kami yang bawa ia "
"Ini darurat, ayo cepat tunjukan di mana ruang kesehatan " ucapku kepada tiga mahasiswa itu
" Baiklah ikuti kami pak"
.
.
.
.
.
Saat ada kesempatan akhirnya aku jelaskan semua tentang kejadian delapan tahun lalu. Aku bersyukur ia percaya dan kesalahan pahaman ini pun sudah tak ada lagi dan tentunya hatiku merasa lega.
Kesempatan ku untuk mendapatkannya pun semakin besar janjiku untuk selalu bersamanya akan aku wujudkan.
Saat harapanku sedang tinggi -tingginya kini harus terjatuh kedasar jurang yang paling dalam ketika aku tahu ia sudah menikah , sungguh aku tak rela terlebih orang yang menjadi suaminya kenapa harus dia orang yang sangat membenci diriku orang yang selalu merebut semua yang aku miliki. Aku takut ia menikahinya karena ia sudah tahu kalau wanita itu orang yag aku cari orang yng aku cintai.
.
.
. .
Hari ini entah kenapa perasaanku tak enak , seperti akan terjadi sesuatu pada seseorang . pikirkan buruk ku buyar ketika aku melihat kecelakaan sebagai seorang dokter tentunya jiwa kemanusiaan juga terpanggil dan segera mungkin melakukan pertolongan pertama. Mataku terbuka dengan sempurna ketika aku melihat di hadapanku tiga diantara empat korban kecelakaan itu orang yang aku kenal , ia mereka adalah orang tua Aisyah dan adik laki-laki nya. Tanpa menunggu lama aku Langsung membawa mereka kerumah sakit .
Dua puluh menit kemudian kami sampai segera dan sungguh kebetulan sekali rumah sakit terdekat dari tempat kecelakaan adalah tempat aku bekerja. Saat aku membersihkan darah dari yang ada di kepala Ibunya Aisyah ia tersadar matanya memfokuskan padaku .
"Irman, apakah ini kau nak? tanya Ibu Aisyah padaku
Aku hanya menjawab dengn anggukan kepala saja,
" Nak tolong jaga anak Ibu , ibu titip Aisyah jika seandainya Ibu tiada" ucap Ibu Aisyah
" Aisyah sudah menikah bu, tentunya ada orang yang menjaganya dan Irman mohon Ibu jangan berkata seperti itu, ibu pasti sembuh Bapak juga Johan pasti baik-baik saja " ucapku sembari tetap fokus membersihkan darah yang ada di kepala Ibunya Aisyah.
__ADS_1
" Tak tahu kenapa ibu tak percaya pada suami Aisyah, tapi dengan mu Ibu percaya "
" Sudah bu , jangan terlalu banyak bicara "
" Berjanjilah "
" Berjanji untuk apa?
" Melindungi Aisyah "
Lagi-lagi aku hanya menjawab dengan anggukan kepala, Setelah berbicara panjang lebar denganku keadaan ibu tiba-tiba kritis ia tak sadar kan diri. Begitu juga dengan keadaan Bapak dan Johan sama-sama kritis.
.
.
.
.
.
.
Aku menelpon Aisyah menggunakan handphone Ibu dan memberi tahu Aisyah bahwa Ibu Bapak dan Johan mengalami kecelakaan .
Aku lihat dia wanita yng aku cintai histeris, aku merasa tak tega hatiku ikut sakit ingin rasanya memeluk wanita ku tapi apalah daya aku tak bisa aku bukanlah siapa -siapa nya.
Saat aku menghampiri dia tiba-tiba saja dia memelukku, ia menangis di pelukan ku hati ini begitu senang tapi aku mencoba untuk bersikap biasa -biasa saja.
.
.
.
Mungkin karena lelah Aisyah ambruk ia pingsan dan aku begitu terkejut saat aku memeriksanya menduga bahwa ia tengah hamil. Semua keraguan di hatiku kini sirna sudah setelah aku mengetahui ia sedang mengandung dan sudah di pastikan dia pasti bahagia dan rumah tangganya baik-baik saja.
Pergi mungkin aku harus pergi , aku rasa Rudi menjaganya dengan baik meski Ibu menitipkan Aisyah padaku .
Hari itu keadaan Ibu dan Bapak Aisyah tiba-tiba drop aku menyuruh perawat untuk menghubungi Aisyah tapi apa jawabnya ia bilang nnti saya kesana , , Berjam-jam menunggu Aisyah namun tak kunjung datang hingga akhirnya Ibu dan Bapak meninggal tepat di hadapanku .
Mereka sejak dulu sudah aku anggap orang tuaku begitu menyesakkan di hati , saat mereka harus berpulang kehadiran ilahi.
Pihak rumah sakit sekali lagi menghubungi Aisyah belum pihak rumah sakit menyelesaikan bicaranya sambungan sudah terputus dan aku yakin ia pasti sedang menuju kemari .
Beberapa menit kemudian Aisyah sampai lagi-lagi ia histeris hatiku kembali sakit apalagi ketika Rudi memeluknya membuat diriku berandai -andai ...andai aku yang memeluknya memberi sandaran memberi ketenangan untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung. ..