
Akhirnya, aku diizinkan kembali untuk membawa motor sendiri. Bayangkan satu minggu gak bawa motor serasa satu tahun. Sampai di Kampus aku parkir kan si gemoy scoopy ku. Motor kesayangan yang selalu menemaniku ke mana pun. Saat gadis sebayaku lagi asik-asik pacaran, aku cukup berduaan sama kesayangan gemoy sudah lebih dari cukup.
Habis mau gimana lagi. Belum ada yang ngajakin nikah sih. Dari pada aku harus berpacaran dan berpeluang pada Zina lebih baik aku sendiri.
Cukup lima belas menit aku sudah sampai di kampus. Coba bayangkan, jika ke kampus naik mobil? satu jam mungkin baru nyampe.
Dengan langkah bahagia, aku melangkahkan kaki menuju kelas. tiba-tiba seseorang memanggilku, aku pun menoleh ternyata itu Reni.
"Ais, tunggu!" teriaknya padaku.
Aku pun diam seraya menunggu Reni yang berlari ke arahku.
"Kau jalannya cepat sekali. Aku enggak bisa susul kamu," ucap Reni dengan napas yang terengah-engah.
"Aku enggak tahu kamu ada di belakangku, kalau tahu aku udah tunggu kamu."
"Ke kantin dulu, yuk! lapar belum sarapan." Reni memegang perutnya yang terasa lapar.
"Aku udah sarapan, Ren."
"Ya udah, temenin aku aja. masa sendiri."
Aku tipe orang enggak tegaan. Mendengar Reni belum sarapan dan meminta aku menemaninya membuat hati kecil aku tergerak. enggak ada salahnya juga menemaninya sekalian aku mau pesan minuman hangat saja.
Reni begitu senang saat aku menyetujui untuk menemaninya. Dia langsung merangkul tanganku dan menyeretnya menuju kantin. Dengan posisi dia di depan dan aku di belakang. Saking terburu-buru, karena di kejar waktu yang beberapa menit lagi akan masuk kelas. Aku secara tidak sengaja menabrakkan seseorang, dia enggak kenapa-kenapa tapi aku yang hampir tersungkur. Untungnya tanganku di pegang Reni jadi acara jatuh tidak terjadi.
Dengan perasaan bersalah, aku langsung meminta maaf. Aku enggak sempat melihat wajahnya sebab aku keburu ditarik kembali oleh Reni. Enggak enak hati banget, aku main tabrak lalu langsung pergi serasa jadi tersangka korban tabrak lari.
__ADS_1
"Ren, kamu main tarik aku aja. Aku enggak enak sama orang tadi," keluhku pada Reni saat kami sudah agak jauh.
"Sorry, habisnya aku lapar. Nanti aku enggak bisa konsentrasi belajar."
Aku hanya bisa menghela napas panjang, mendengar penuturan dari Reni.
Di kantin, Reni langsung memesan makanan sedangkan aku nitip minuman hangat saja. Sepuluh menit kemudian Reni sampai, dengan membawa nampan berisi sepiring nasi goreng, satu teh manis dingin dan segelas jeruk peras hangat pesanan ku.
Aku menikmati jeruk peras hangat yang baru saja aku pesan. Seraya melihat Reni yang begitu lahap memakan nasi gorengnya membuat aku jadi kenyang sendiri. Makanya begitu lahap serta mulutnya begitu penuh makanan.
"Ren, makannya pelan-pelan dong. Berapa hari enggak makan, sih," selorohku sengaja mengejek Reni.
"Ini itu lagi mood cepat, mepet di kejar waktu masuk kelas," jawabnya setelah berhasil menelan nasi yang Reni kunyah.
"Kenapa enggak sarapan di rumah? 'Kan jadinya enggak buru-buru seperti ini. Jelek tahu, masa anak gadis makannya kaya kesurupan gitu."
"Mana aku tahu film seperti itu. Abi larang aku serta kakak-kakak ku nonton film seperti itu."
"Kuno. Masa anak zaman sekarang enggak suka nonton drakor. Ketinggalan Zaman."
"Abi sama Uma enggak mungkin melarang jika seandainya ada manfaatnya."
Reni enggak menimpali perkataan ku lagi, ia terlalu sibuk dengan nasi goreng di hadapannya yang kemungkinan beberapa suap lagi akan habis. Saat suapan terakhir akan masuk mulut Reni, tiba-tiba saja ada orang yang melemparkan tumpukan buku serta lembaran kertas di atas mejaku dan Reni.
Semua orang yang di kantin menengok ke arah mejaku. Mereka saling berbisik manja.
Sementara Reni kaget dan sendok yang berisi nasi goreng itu tumpah.Lalu aku hanya bisa beristighfar dan langsung mendongakkan kepalaku. Jika Reni, saat ini sedang dalam keadaan mood marah. Sementara aku berada pada mood bingung penuh tanda tanya.
__ADS_1
Berdiri sesosok pria berkaos putih di depan meja. Aku tidak mengenalnya, tapi ia sudah berbuat tidak sopan. Reni yang marah langsung menggebrak meja, siap untuk memaki-maki pria itu tapi urung di lakukan.
Reni malah terdiam, seraya matanya tidak henti menatap ke arah pria itu dengan mata yang berbinar. Ya Allah, aku sudah tahu jika Reni bertingkah seperti itu. Punya teman kok seperti ini, matanya peka jika lihat pria oke.
"Ini ada apa, ya. Kenapa bukunya di lempar? Itu enggak baik, lho. Harusnya itu...." perkataan ku tertahan saat pria itu menyelanya.
"Tidak perlu banyak basa-basi! Aku ke sini ingin meminta pertanggung jawabanmu!"
"Tanggung jawab?" tanya balik ku.
"Tanggung jawab untuk apa?" sambung ku sebab aku merasa tidak melakukan kesalahan atau pun berurusan dengan pria itu.
"Kau tadi yang menabrak ku 'kan? Dan ini hasilnya." nunjuk ke arah tumpukan buku dan lembaran kertas di atas meja.
Mataku langsung mengarah ke meja. Aku masih belum paham maksud pria yang ada di depan ku ini. Sementara Reni masih bergeming dengan ke terpanaannya terhadap pria jangkung ini.
"Maksudnya apa?"
"Cara pikir kamu itu telat! maksud aku kau harus menyusun skripsi ku yang sudah aku susun rapi, dan kamu malah membuat berantakan," terangnya.
Ya, jujur aku mengaku salah. Apa lagi tadi aku enggak minta maaf secara benar sebab Reni menarik tanganku dan pergi begitu saja. Lembaran mentahan Skripsi yang sepertinya akan ia kasih ke dosen pembimbing kini enggak tersusun rapi.
"Maaf, aku memang salah dan aku akan bertanggungjawab," sesal ku.
"Bagus! Aku tunggu sampai jam istirahat, di sini!"
pria itu langsung pergi, aku hanya bisa menatap nanar padanya lalu berganti menatap tumpukan buku dan kertas yang ternyata berisi skripsinya.
__ADS_1