
Saat ini aku berada di kamar A Rey. Berhubung malam ini Abi sama Uma sedang pergi, jadi ada kesempatan untukku berbicara empat mata sama A Rey. Sampai malam tiba Aa benar-benar bungkam meski aku terus saja merajuk meminta penjelasan. Penjelasan pertemuan antara Aa dengan Pak Zain dan Keanu.
"A, Ais tarik kembali, deh yang bilang jika A Rey baik," gerutuku seraya merebahkan tubuhku di atas ranjang milik A Rey.
A Rey bungkam. Dia malah fokus di depan laptop. Entah apa yang sedang ia kerjakan.
"A, jawab, dong."
"Kamu cerewet, Dek."
"Aku enggak akan secerewet ini jika Aa mau cerita."
Aa terlihat menghela napas. Sejurus kemudian ia mematikan laptop dan menutupnya. Lalu berjalan ke arah sofa.
"Bangun dulu, Dek. Tuh, seprainya kan jadi kusut. Sini pindah! Duduk samping Aa." Aa menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Aku pun beranjak dan duduk di samping Aa.
"Kamu memang mau tau tentang apa?"
"Semua, A. Saat Aa ketemu sama.Pak Zain dan Keanu. Ais pengen tahu respons mereka seperti apa?"
"Mereka setuju. Mereka tidak akan mempermasalahkan siapa pun nanti yang akan kamu pilih. Mereka pemuda baik," terang A Rey.
Mendengar kata baik aku langsung sewot sebab yang baik hanyalah Pak Zain. Andai saja Aa tahu jika Keanu sudah berani Pegang-pegang, aku yakin kata baik tidak akan terucap dari mulut Aa. Tapi, sayangnya aku bukan pengadu. Bahkan saat aku bilang akan melaporkan Aa ke Uma dan Abi perihal noda lipstik di bajunya, hanyalah sebuah gertakan semata. Bukan sungguhan akan mengadu.
"A yang baik itu hanya Pak Zain. Tidak berlaku untuk Keanu."
"Lo, kok, Ais ngomong kaya gitu? Tahu dari mana jika Keanu bukanlah pria baik?"
"Feeling Ais aja, A."
__ADS_1
"Enggak boleh kaya gitu. Jangan menilai seseorang hanya dari covernya saja. Kadang apa yang kita nilai baik belum tentu baik. Bisa jadi malah kebalikannya."
Apa yang aa katakan memang benar. Padahal aku sudah baca CV Keanu dan dia memang pria baik. Tapi, lagi-lagi hati enggak terima saja jika Keanu di sandingkan dengan Pak Zain yang menurutku pria perfect.
"Iya, A, maaf."
"Kenapa minta maaf ke Aa?"
"Terus?"
"Minta maaf ke Keanu, sebab kamu udah berprasangka buruk terhadap Keanu."
"Enggak berani, A. Malu."
"Sejak kapan Ais jadi gadis yang malu meminta maaf? Ais adik Aa enggak kaya gitu, dia pemberani apalagi masalah meminta maaf."
"Ini beda, A. Ais kalau dekat dia bawaannya kesal terus."
"Hati-hati, Dek. Masih ingat dengan kata-kata hikmah ini enggak? Cintailah sesuatu sewajarnya sebab suatu saat kamu pasti akan benci. Bencilah sesuatu sewajarnya sebab suatu saat mungkin kamu akan cinta."
"Iya, Ais ingat."
"Nah, sekarang kamu kaya gitu ke Keanu. Siapa tahu Keanu jodoh kamu."
"Aa ihh."
"Kenapa? Ah, Aa tau jangan-jangan Ais udah menaruh hati ke Zain, ya. Ayo ngaku? Jadinya enggak mau jika didoain berjodoh sama Keanu."
"Enggak gitu, A."
"Ingat, Dek. Siapa pun nanti jodohmu terimalah ia. Jangan sampai, misalnya, nih, Ais pilih si A, ketika istikharah Allah malah memperlihatkan si B. Maka, terimalah. Allah tahu mana yang berbaik untuk Ais."
__ADS_1
Aku merasa terharu. Aa mirip sekali Abi kalau kaya gini. Bijak. Aku jadi merasa sedang dinasihati Abi.
"A, terima kasih nasihatnya." Aku memeluk Aa.
"Gimana Aa udah kaya Abi belum?"
"Masih jauhlah, A. Tapi lumayan, sih. Dari angka satu sampai sepuluh kemiripan Aa ada di nomor lima."
"Kamu paling bisa, Dek." Aa mencubit pipiku.
"A, sakit." Aku mengusap pipi bekas dicubit A Rey.
"Kamu gemesin , Dek. Kenapa Aa baru nyadar sekarang, ya. Perasaan kemarin-kemarin ngeselin minta ampun."
"Aa...."
***
Aku terbangun tepat pukul dua dini hari. Aku tekadkan akan memulai untuk beristikhoroh mulai hari ini. Aku tidak mau dibilang perempuan PHP (pemberian harapan palsu). Menurutku lebih cepat lebih baik. Karena aku juga ingat betul saat Uma bercerita tentang kisah cinta Uma dulu sebelum bersama Abi.
Kisah Uma bersama Ayah Rudi--Ayah dari Kak Ila, Kak Ira dan Kak Arsya-- menerima pinangan Ayah Rudi setelah satu bulan beristikhatoh. Uma sering bilang takdir orang berbeda, mungkin dulu jodoh Uma sama Ayah Rudi memang hanya sampai di sana. Enggak bisa lanjut sampai ke Jannah-Nya. Namun, di balik itu semua ada hikmah tersendiri. Yaitu lahirnya aku, A Rey dan Kak Rein. Andai Allah tidak mentakdirkan Uma sama Abi bersatu mungkin aku dan kakak-kakakku tidak akan pernah ada. Intinya Allah selalu tahu mana yang terbaik untuk setiap umat-Nya.
Melakukan istikharah enggak langsung hari itu langsung Allah kasih jawaban. Bisa saja beberapa hari, beberapa minggu atau sampai berbulan-bulan. Dan Allah swt pun akan menjawab setiap istikharah umat-Nya dengan berbagai macam cara.
Aku langkahkan kakiku menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu. Saat air wudu sudah membasahi wajah rasanya itu adem, tenteram dan segar. Setelah itu, aku gelarkan sajadah memakai mukena dan memulai salat dengan khusu.
Aku sangat menikmati setiap gerakan salat. Dari satu gerakan ke gerakan lagi. Apalagi saat sedang sujud, aku merasa jadi manusia yang rendah dihadapan Allah Swt. Manusia yang bergelimang noda dan dosa.
Dalam sujud terakhirku, aku panjatkan doa. Bukankah disujud terakhir kita disunahkan untuk melamakan sujud? Sebab di waktu itu mustajabnya doa.
'Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahhim. Aku datang padamu dengan penuh keikhlasan. Hamba sadar diri, hamba hanyalah seorang manusia yang berlumuran dosa. Manusia yang kadang lalai akan kewajiban. Tapi, di malam yang syahdu nan sunyi ini aku memohon. Tunjukanlah mana yang terbaik diantara yang terbaik. Tunjukkan siapa di antara Pak Zain dan Keanu yang harus aku pilih. Sesungguhnya engkau Mahatahu dan Engkau sebaik-baiknya tempat untuk meminta pertolongan. Aamiin.'
__ADS_1