
Aku masih di yayasan peduli sesama, masih ingin berlama-lama disini. Lalu agar aku tak merasa bosan akhirnya aku izin ingin melihat anak-anak melukis, karena kebetulan sekali mereka sedang mengasah keterampilan melukis.
Ini yang aku suka dari yayasan peduli sesama, memberikan keterampilan pada semua penghuni yayasan, terutama anak-anak. Alasannya, supaya saat mereka ingin mandiri dan punya kehidupan baru, mereka sudah di bekali keterampilan untuk menghasilkan uang sendiri.
Dret... dret...
handphone disaku celanaku bergetar, Tertulis nama Bunda di sana. Aku pun pergi ke belakang meninggalkan anak-anak, untuk mengangkat telpon dari Bunda.
"Hallo, Assalamu'alaikum Bun,"
"Wa'alaikum salam, sayang. Kamu dimana?
" Zain lagi ada urusan Bun, ada apa memangnya Bun?"
"Gak ada apa-apa, cuma mau ngingetin kamu, nanti malam jangan pulang telat, mau ada Om Irwan sama putrinya kesini."
"Om Irwan mana Bun? Zain gak kenal."
"Masa anak Bunda lupa, itu lo yang rumahnya di Cibubur. Dulu waktu kamu kecil sering di ajak ke sana sama papa."
"Oh iya, Zain ingat, ya udah nanti Zain usahain gak pulang telat."
"Jangan di usahain dong, tapi harus."
"Iya, terserah Bunda. Zain tutup telponnya Assalamu'alaikum Bunda."
"Wa'alaikum salam."
Sambungan telepon terputus, Aku hanya bisa menghela nafas. Ini sudah undangan makan malam yang kesekian. Bunda sepertinya punya hobi baru sekarang, mengundang semua rekan bisnis papa, lalu memperkenalkan aku dengan anak gadis mereka.
Sebenarnya, aku gak suka kalau harus di jodoh-jodohin seperti ini. Bukan pula gak ada yang mau, bahkan terlalu banyak yang mau, membuat aku selalu merasa tak nyaman.
Bukan tidak bersyukur pula, diberi kelebihan wajah tampan di atas rata-rata ini, hanya saja aku terlalu risih. Aku belum menemukan wanita yang benar-benar membuat hati, serta jantungku berdesir.
Setelah mengangkat telpon dari Bunda, aku hendak kembali melihat anak anak, namun baru juga depan pintu handphone ku bergetar lagi, dan kali ini telpon dari Radit.
Aku pun kembali ke halaman belakang untuk mengangkat telpon dari Radit. Panggilan Radit memaksaku untuk meninggalkan tempat ini, padahal aku masih ingin bersama mereka.
Tanpa berpamitan pada pengurus yayasan, aku segera pergi. Saat aku hendak menuju mobil, di samping mobil ku terparkir motor Scoop* mirip punya gadis yang ku temui di jalan.
Tapi, aku menepis praduga itu. Sebab banyak motor sama, bahkan dengan warna yang sama persis. Ini kali ke dua dalam sehari aku menjumpai motor yang sama, persis seperti milik wanita itu.
Tanpa berpikir lagi, aku langsung masuk mobil dan melajukan nya ke arah rumah Radit. Di sana sudah ada Kevin, teman kami yang baru pulang dari Ausie, katanya ingin ngumpul bareng setelah sekitar dua tahun tak bertemu.
__ADS_1
Hari pun masih sore, jadi aku pikir tidak ada salahnya menemui teman dulu.
Sampai di rumah Radit, aku di suguhi pemandangan yang membuat mataku jadi kotor. Aku sadar Radit sama Kevin memanglah seorang player, wajar jika hari-hari mereka di kelilingi wanita-wanita penghibur.
"Kebiasaan kalian masih sama ternyata," cibirku ketika baru masuk, lalu bersalaman dengan Kevin, "Apa kabar bro."
"Seperti yang pak ustadz lihat, aku baik sangat baik."
"Tumben pak ustadz gak ngucap salam." ledek Radit saat baru saja aku duduk.
Tersenyum hambar, "Mau ucap salam, gak jadi, setelah lihat pemandangan yang mengotori mata."
"Sialan, emangnya kita kotoran apa," protes Kevin.
Seperti itulah saat kami bertemu, saling melempar ledekan dan aku tak pernah mempermasalahkan hobi mereka yang seorang player, asalkan ada batas kewajaran, no ****.
Beruntungnya mereka selalu mendengarkan perkataan ku, bagi mereka aku adalah penasihat nya, ustadz abal-abal mereka. Pantang bagi mereka jika tidak mengindahkan perkataan ku.
Waktu isya sudah datang, aku teringat akan perintah Bunda, agar aku tidak telat pulang. Aku pun meminta izin pulang pada Radit dan Kevin, namun sebelum pulang aku mengajak mereka salat terlebih dahulu termasuk para wanita-wanita yang berpakaian kurang bahan itu.
Aku menatap adem ke arah Radit dan Kevin, saat mereka memakai sarung dan peci, cakep.
"Jangan liat-liat Zain, aku tahu di dalam hati lu pasti lagi ngeledek kita berdua kan?" sahut Radit saat Zain menatap ke arah mereka.
"Siapa bilang? malahan adem liat kalian berpenampilan seperti ini. Kesan player nya hilang, serius." sambil memeragakan jari seperti huruf V
Aku tergelak, dan menggelengkan Kepala. "Udah, kita mulai salatnya, ikamah Dit."
"Kok gue, tuh si Kevin aja." protes Radit.
"Lu yang disuruh, Bambang."
"Ck," Radit berdecak, tapi tetap melakukan ikamah sesuai yang aku suruh
"Jangan protes,, keren, kok." godaku pada Radit.
**************
Selesai salat Isya berjamaah, dan aku hendak membereskan bekas salat handphone ku bergetar. Nama Bunda tertera di sana, aku melihat jam baru juga 19.30 wib, belum kemalaman pikirku. Tapi, Bunda udah gak sabaran, udah menghubungi ku lagi.
Akhirnya aku pun menggeser ikon warna hijau, "Hello, Assalamualaikum, Bun, ada ap..."
"Cepat kerumah sakit Ze, Papa serangan jantung." Sahut Bunda di balik telpon dan terisak.
__ADS_1
"Rumah sakit mana? Ze ke sana?"
"Rumah sakit Medical, cepet kesini Ze."
"Bunda jangan nangis, Ze kesana sekarang."
Tanpa mengucap salam, aku langsung mematikan telpon dan segera mungkin sampai di rumah sakit.
"Ada apa Zain, kenapa kamu terlihat gusar seperti itu." Tanya Kevin, sambil membereskan bekas salatnya.
"Papa masuk rumah sakit, dan aku harus segera kesana, Bunda sendiri."
Aku langsung berlari, tanpa berpamitan pada Radit mau pun Kevin,
"Hei tunggu! gue ikut!"
"Aku buru-buru, datang saja ke rumah sakit medical." ucapku sambil berlalu.
Sampai di luar, aku ingat, kesini naik mobil, sudah pasti memerlukan waktu lama kalau naik mobil. Kemudian aku teringat akan motor sport milik Radit. Aku pun kembali masuk ke Rumah Radit, bermaksud ingin meminjam motor miliknya.
"Kenapa balik lagi?" tanya Radit
"Aku pinjem motor milik mu yah, biar cepat sampai kalau naik itu."
"Iya bentar gue ambil dulu, kamu jangan panik kaya gitu Ze."
"Cepat Dit,"
Setelah kunci motor sport di tangannya, ia bergegas pergi, dan melaju cepat ke rumah sakit.
Di tengah perjalan, aku malah terkena insiden. Aku menabrak motor seseorang, hingga sangat pemilik jatuh dan tertimpa badan motor. Aku jelas tambah panik, aku langsung turun dan menghampiri pemilik motor.
Dan lagi aku terkejut, saat panik begini aku masih saja ingat dengan motor itu, pemilik motor di pinggir jalan yang terus saja memperhatikanku. Dan aku melihat kembali motor itu, yang baru saja aku tabrak
"Ya Allah," pekik wanita itu, dan berhasil membuat ku tersadar.
Aku ingin membantunya, tapi ia tolak. Alasannya takut bersentuhan. Dan sontak perkataan gadis itu membuat aku berpikir, kalau ia pasti gadis yang berbeda dengan wanita-wanita yang mendekatiku.
Tak terasa hatiku berdesir saat ia mengangkat wajahnya dan aku dengan jelas Melihatnya, bidadari, batinku saat itu. Aku menggelengkan kepala, karena sudah lancang mengagumi seorang gadis, yang tidak halal untukku.
Aku meminta maaf lagi, dan menawarkan untuk di antara ke rumah sakit atau di antar pulang. Tapi, dia menolak, ia malah menyuruhku untuk pergi duluan.
Aku enggan pergi, walau bagaimana pun aku harus bertanggung jawab. Tapi, gadis itu malah kekeh memaksa aku untuk jalan lebih dulu, ia bilang kesehatan papa lebih utama.
__ADS_1
Dengan terpaksa dan berdosa aku meninggalkan dia. Tapi dalam hati aku berjanji akan bertanggung jawab, jika Tuhan mentakdirkan aku bertemu lagi dengannya.
Zain pov off