
" Aisyah. ...
Panggil seorang yang sangat aku kenal suaranya, aku menoleh ke arahnya .Aku tersenyum dan menghampirinya.
" Kamu sudah bangun, Bang?"
Abang hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Sungguh aku tak tega melihat kondisi Abang yang begitu menyedihkan. Namun aku berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedihku.
" Kau masih memanggilku Abang? kenapa? "
" Kamu kan lebih tua dariku, jadi gak ada salahnya kan aku memanggil mu seperti itu? "
" Terserah kamu jika memang panggilan itu tak membuatmu risih, dan tak mengingatkanmu pada kekejamanku padamu"
" Jangan bicara seperti itu, itu masa lalu , jadi jangan di ingat lagi. Kau tau menurut Imam Ghazali masa lalu adalah sesuatu yang amat jauh .Karena kita tidak akan pernah bisa kembali lagi pada masa lalu. Meskipun kita berusaha ingin kembali, tapi tetap tidak akan pernah bisa. Begitupun kita , kita gak usah mengingatnya apalagi kalau punya pikiran mengandai -andai waktu bisa diulang putar kembali."
" Terima kasih kau sudah mau memaafkan aku"
" Jujur saja awalnya aku berniat untuk tak memaafkan dirimu, tapi aku sadar siapa diriku ini. Aku hanya seorang hamba Yang tak punya hak untuk membenci apa lagi menyimpan dendam terhadap sesama hamba.Aku malu pada Rabb ku, Rabb ku saja memaafkan semua kesalahan hambanya sebesar apapun kesalahan kita."
" Terima kasih bnyak Aisyah kau memang mempunyai hatiƬ begitu mulia . Aku benar-benar lelaki Bodoh yang begitu tega nya menyia- nyiakan wanita sebaik dirimu. Aisyah sebenarnya aku juga ingin menyampaikan permintaan maaf dari Lisa untukmu Sebelum ia meninggal "
" Aku juga sudah memaafkan almarhumah, semoga ia di tempatnya di sisi Alloh swt serta di ampuni segala kesalahannya, dan tolong bisakah kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?."
flsah back on
Hari itu merupakan hari yang sangat sulit dan menyakitkan bagiku, dimana istriku ia terus saja merancau kesakitan di atas ranjang rumah sakit . Aku berusaha untuk menguatkan dirinya .
" Mas sakit,, " Rintihan Lisa dengn meremas tanganku.
" Sabar sayang, kau pasti kuat ,kau pasti bisa" ucapku menguatkan Lisa.
Meski sebenarnya aku pun begitu khawatir dan takut. Apalagi ketika ku mendengar sesuatu yang mengusik hatiku, di sela-sela rasa kesakitannya sempat -sempetnya ia mengatakan sesuatu yang sama sekali tak ingin aku dengar .
" Mas jika aku meninggal, tolong jaga anak-anak. Cari Aisyah dan sampai permintaan Maaf ku untuknya",?
"Jangan berkata seperti itu, kau dan anak kita akan selamat, "
" Tapi mas, Lisa udah gk kuat"
Aku sungguh tak tega melihat Lisa kesakitan seperti itu. Kehamilan Lisa memang bermasalah sejak usia kandungnya 7 bulan.Tapi ia berusaha untuk mempertahankan anak yng ada di dalam rahimnya.
Aku berteriak memanggil dokter, agar segera menindak Lisa saat itu dan jalan cesar yang Kami ambil untuk menyelamatkan keduanya. Dann apa yang terjadi coba? Lisa dengan entengnya bilang ingin melahirkan normal dan menerima segala resiko yang akan terjadi. Tentu saja aku menolak ide gila Lisa.
" Lisa apa maksudmu!!, bentakku.
" sudah dokter jangan dengarkan istri saya, segera bawa saja ia untuk segera di cesar " titah ku pada dokter yang menangani Lisa.
__ADS_1
Lagi -lagi ia kekeh ingin melahirkan normal, bahkan ia sampai memohon -mohon yang membuatku tak berdaya. Dia bilang melahirkan normal itu benar-benar seperti menjadi seorang ibu yang seutuhnya, berbeda dengan cesar . padahal kedua -duanya sama saja , sama-sama mempertaruhkan nyawa.
Dengan terpaksa aku pun setuju dan berharap Istri dan anakku bisa selamat.Tak menunggu begitu lama akhirnya aku mendengar tangisan bayi yang membuat aku terharu dan menangis, menangis kebahagian.
Lalu aku Jadi teringat pada Aisyah, dia pasti menginginkan aku ada di sampingnya, aku juga sebenarnya mau , bahkan perasaanku tak jauh berbeda dengan kelahiran anak kedua oh tidak , maksudku kelahiran anak ke tiga ku, bahagia. Tapi ego ku terlalu tinggi, aku takut malah mengagalkan rencana untuk menceraikannya. Meski sebenarnya tak ingin menceraikannya namun lagi-lagi rasa dendam dan rasa puas yang aku rasa lebih kuat dan mengalahkan segalanya.
Kini suster telah membwa anakku ,si jagoanku , dari awal memang sudah tahu kalau anakku dan Lisa berjenis kelamin laki-laki. Aku mengazani anakku dan melafalkn doa -doa .
Setelah selesai aku kembali keluar, terlihat dokter dan suster begitu panik. Aku bertanya -tanya ada apa ? Apa yang terjadi?
" Suster ..apa yang terjadi ? kenapa kalian keluar masuk keruangan istri saya? tanyaku begitu penasaran,
" Maaf pak, istri anda mengalami pendarahan hebat dan sekarang ia kritis " jelas suster itu.
Betapa terkejutnya aku , mendengar kenyataan ini. Tubuhku begitu lemas seperti tak memiliki tulang. Tubuhku ku sandarkan pada dinding rumah sakit meratapi nasib hidupku yang seperti ini.
"Tuhan hukuman apa lagi ini, kenapa hidupku selalu di penuhi kemalangan. Apa ini karma untukku? atas apa yang telah aku perbuat. Arghhh" berteriak sambil memjambak rambut dan menangis.
Aku merasa hidupku benar-benar telah hancur, kemalangan demi kemalangan terus saja berdatangan. Dan kini aku harus menelan pil pahit ketika dokter bilang Lisa koma. Aku teringat pada anak-anak ku Shakira dan jagoan kecilku yang belum sempat aku beri nama. Jika aku lemah seperti ini siapa yang akan merawat mereka.
Satu bulan sudah Lisa belum juga bangun dari tidur panjangnya. Aku sudah frustasi sudah hilang harapanku. Setiap hari aku menemani Lisa dan tak ada yang bergantian menjaga Lisa. Tak ada yang tahu Lisa seperti ini sekalipun itu keluarganya , bahkan untuk sementara waktu pun Aku menyewa perawat untuk merawat kedua anakku yang memang jarak di antara mereka hanya terpaut 2 bulan.
Dengan tekad yang sudah bulat akhirnya aku putuskan untuk menghubungi kedua orang tua Lisa yang ada di Amerika. Meski Lisa Dari kejauhan sudah mewanti Wantiku agar tak menghubungi orang tuanya jika terjadi sesuatu padanya, Dan alasannya hanya satu karena kedua orangtuanya itu hanyalah orang tua angkat Lisa.
Kedua orang tua Lisa meninggal , ketiak Lisa masih bayi dan Lisa merasa di bohongi oleh orang tuanya yang sekarang ,karena tak jujur padanya.
Satu minggu kemudian ada tanda-tanda dari Lisa kalau ia akan bangun. Saat aku membawa kedua anakku dan aku bisikan pada telinga Lisa.
" Lisa sayang bangunlah! ! lihatlah anak-anak mu, mereka membutuhkan ibunya. Tolong bukalah matamu jangan terus tidur, apa kamu tak lelah hah tidur terus seharian di atas ranjang ? tak ingin kah kau bermain dengan anak-anak kita?. cepat bangunlah kami membutuhkanmu dan kami amat rindu padamu. "
Lalu aku taruh kedua anakku di dekat lengan Lisa , sebalah kiri Shakira dan sebelah kanan jagoanku yang telah ku beri nama Arsya . Tak lama dari kedua mata Lisa menetes air mata , tapi matanya masih saja terpejam. Saking senang aku menekan tombol mereh yang ada di atas ranjang . Dokter dan perawat pun datang dan memeriksa keadaan Lisa. Sementara untuk kedua anakku di pangkua oleh Oma dan opanya dari Amerika.
" Dokter, bagaimana hasilnya? tadi istri saya menangis dok, "
Dokter begitu khusu memeriksa Lisa.
"Syukurlah, keadaanya ada sedikit perkembangan, sepertinya alam bawah sadarnya mulai merespon setiap ucapan yang kita ucapkan, sebaiknya terus saja beri pasien motivasi agar ia mau segera bangun."
" Baik dok....
Semenjak hari itu aku setiap hari setelah bekerja, tepatnya saat sore hari selalu membawa anak anak , memberi dorongan pada Lisa agar segera bangun. Qodratullh usahaku tak sia-sia kini Lisa suda bisa merespon jari tangannya mulai gerak - gerak dan perlahan ia membuka matanya. Aku sungguh senang , tak bisa rasanya aku mengungkapkan seperti apa rasa senangku saat itu.
Ku peluk Lisa, Ku menangis dipelukannya.
" Kau bangun sayang ? syukur lah mas senang, " Sambil menangis.
" Anakku mana mas? aku ingin melihatnya ?" ucapnya lemah
__ADS_1
" Sebentar mas akan membawa anak kita"
Aku segera keluar dan menghampiri mertuaku yang sedang menjaga kedua anakku.
" Ibu, Ayah , Lisa sudah sadar! " ucapku pada mertuaku dan mereka tampak senang,
Segera mungkin kami menemui Lisa , Pertama aku menyuruh ibu dan ayah mertua terlebih dahulu untuk menemui Lisa. Setidaknya aku harap hubungan mereka kembali membaik.
" Lisa anakku, maaf kan ibu dan ayah sayang" menghambur memeluk Lisa.
" Ibu dan ayah ada disini ? sejak kapan ? tanya Lisa.
" Kami disini sudah hampir dua minggu sayang, Sayang maukah kamu memaafkan kami ?
Lisa nampak begitu sedih,
" Lisa yang harusnya minta maaf , bukan kalian. Harusnya aku bersyukur memilikimu orang tua angkat sebaik kalian. maafkan aku ibu, ayah ." Ucap Lisa
" Kamu tak salah sayang, tak ada yang perlu kami maafkan.Disini kamilah yang bersalah. " Saling berpelukan lagi .
" Tidak bu, yah . Lisa yang salah , sebelum Lisa pergi Lisa mau mahon ampun pada Ibu dan ayah" ucapnya begitu lemah.
" Jangan bicara seperti itu Lisa, kau akan pulih kembali dan kau lihat ( menunjuk ke arah Shakira dan Arsya yang di pangku oleh Rudi dan ayah lisa) , mereka membutuhkan mu"
" Mas, mana anakku? bawalah kemari aku ingin melihatnya"
Aku pun berjalan mendekatinya dengan memangku Arsya, lalu aku serahkan pada Lisa untuk di pangkunya.
" Kamu memberi nama siapa anak kita, ? " mengelus pipi Arsya
" Arsya, Arsya putra Prasetio "
"Bagus mas, Lisa suka namanya. Mas Shakira tolong bawa kesini, Lisa kangen sama dia juga, Lisa ingin memangku dan menciumnya. "
Ku Berikan Shakira pada Lisa, benar saja ia langsung memangku kedua anaknya , ia ciumi mereka. Dan entah kenapa aku merasakan sesuatu yang akan terjadi. Perasaanku begitu tak tenang, resah.
" Kemari kan mereka, kamu baru saja siuman, istirahatlah nanti kita bermain lagi dengan kedua anak kita." ucapku sambil mengambil alih anak-anak.
" Ibu, Ayah bisakah kalian keluar sebentar aku ingin berbicara dengan suamiku hanya berdua saja",
" Tentu, ayah dan Ibu akan keluar. Dan biarkan cucu cucu ku , Ibu ambil .Kalian Bicaralah "
Setelah mertuaku keluar , Aku pun duduk di kursi dekat ranjang Lisa.
"Ada apa ? menggenggam tangan Lisa.
" Cari Aisyah mas, Aku mohon. ...
__ADS_1
tbc....