
Selepas kepergian Aa, aku pun berputar badan menuju kelas dengan berbagai pertanyaan di dalam benakku. Merasa aneh pada sikap Abi dan juga Aa. Tatapan serta sikap mereka padaku menunjukkan seolah-olah jika aku dan mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Langkahku terasa hampa. Bahkan aku sama sekali tidak memperhatikan jalan. Hingga tepukan seseorang menyadarkan ku. Aku menoleh ke arah tepukan. Ternyata Reni.
"Ternyata kau?" ucapku singkat.
"Memang kamu kira siapa?"
Aku menoleh ke arah Reni. "Kirain cowok ganteng," seloroh ku bercanda.
"Kau ini. Aku lagi enggak salah dengar atau bermimpi kan? Tumben-tumbenan bibir kamu bilang cowok ganteng."
"Emang enggak boleh?"
"Boleh, sih! Tapi aneh aja."
Aku pun terkekeh dan menggelengkan kepala. "Sekali-kali enggak apa-apa lah. Asal jangan di masukin ke hati, nanti jatuhnya zina."
"Hmm. Ais, mau tanya dong. Boleh?"
"Tanya apa? Kok terdengar serius gini?"
"Ini memang serius. Seserius aku pada pria tampan. Sayangnya enggak pernah dilirik."
"Itu mukanya biasa saja, kenapa harus cemberut gitu, sih? Jelek tahu!"
"Kamu enggak tahu, sih gimana rasanya di posisiku. Mengagumi seorang pria tapi tak pernah dianggap. Sakit, Ais, sakit."
Aku hanya bisa tersenyum saat mendengar ocehan Reni. Sungguh hari ini aku sedang berada di mode tak semangat. Dan sepertinya Reni menyadari itu, hingga jiwa kepo Reni mulai muncul.
"Kamu kenapa, sih, Ais. Enggak biasanya gak semangat kaya gitu? Biasanya wajah cantik kamu itu selalu terlihat berseri-seri, lah, hari ini mana wajah berserimu? Kenapa malah ada wajah tak bersemangat gitu?"
Aku menghela napas. Sepertinya aku harus cerita sama Reni. Biar nanti saat aku mau menemui Pak Zain sama Keanu bisa ditemaninya.
"Nanti di kelas aku cerita, sekarang enggak enak kalau sambil berjalan kaya gini."
"Cerita apa, sih? Serius amat kayanya."
"Nanti juga kamu tahu."
"Ish, kau ini. bikin aku penasaran aja!"
"Ah, iya, tadi kamu bilang mau tanya, tanya apa?"
__ADS_1
"Enggak jadi, deh, nanti aja di kelas. Enggak enak sambil jalan kaya gini."
"Kau meledekku, ya? Kenapa kata-katamu mengikutiku?"
"Bukan meledek, tapi, perkataanmu memang ada benarnya. Lebih enak nanti di kelas cerita panjang lebarnya."
"Iya, iya, terserah kamu, Ren. Yang penting kamu senang."
Perjalanan menuju kelas entah kenapa terasa begitu lambat. Apa jalan kami yang seperti siput? Atau memang jarak dari tempat parkir ke kelas jauh? Tapi perasaan jarak tempat parkir ke kelas tidak terlalu jauh hingga aku dan Reni menyadari sesuatu.
"Hah, Fakultas Bisnis?" ucapku dan Reni bersamaan secara tidak sengaja membaca tulisan Fakultas Bisnis.
Aku dan Reni saling pandang, mencari jawaban atas apa yang terjadi. Kenapa kita bisa salah jalan dan berakhir di Fakultas Bisnis? Pantas saja perjalanan ke kelas terasa lama, orang nyasar!
"Ren, kenapa jadi ke sini?" tanyaku bingung.
"Lah, aku juga enggak tahu. Perasaan tadi enggak salah jalan, deh?" jawab Reni dan ia pun tak kalah bingung.
"Sepertinya pikiran kita lagi enggak sinkron," selorohku.
"Sepertinya."
Akhirnya aku dan Reni harus putar arah lagi. Harus secepat mungkin meninggalkan Fakultas Bisnis. Namun langkahku dan Reni berhenti tatkala mendengar seseorang memanggil namaku.
Aku dan Reni bergeming dan secara bersamaan membalikkan tubuh ke sumber suara. Sementara Reni tiba-tiba menyikutku dengan memasang wajah sedang mengagumi sosok yang tengah berjalan ke arah kami. Senyum-senyum sendiri.
"Kau mencariku?" tanya Keanu begitu Pede.
"A-aku menca-rimu? Enggak, kok," jawabku cepat meski sedikit gugup.
"Lalu kenapa kau ada di sini?"
"Aku sama Reni jalannya ngelamun, jadi salah jalan," ucapku sedikit malu. Karena bisa-bisanya aku salah jalan.
"Oh. Ais apa kau sudah membaca serta memikirkannya baik-baik?"
Aku mengerutkan kening. Enggak mengerti dengan arah pembicaraan Keanu. membaca? Memikirkannya? Maksudnya?
"Cv ta'aruf," ujar Keanu yang mengerti akan raut wajah kebingunganku.
"Oh, itu...."
Apa sekarang waktu yang tepat untuk berbicara dengan Keanu? Memberikan pengertian siapa pun nanti yang aku pilih di antara mereka jangan ada yang berkecil hati. Namun saat melihat jam sudah tak ada waktu lagi untuk berbica dengan Keanu.
__ADS_1
"Nanti kita ketemu di tempat parkir. Di sana kan ada gazebo...."
Perkataanku disela Keanu.
"Kenapa harus di sana? Enggak ada tempat lain yang tidak terjangkau oleh orang banyak?" protes Keanu.
"Baik kita ketemu di perpus usai waktu kelasku habis," ucapku begitu spontans sebab entah kenapa tiba-tiba ruangan perpus terlintas di kepalaku.
"Itu lebih baik."
"Kalau gitu aku pamit, sebentar lagi aku ada kelas."
"Baiklah."
Aku secepatnya meninggalkan Fakultas Bisnis serta meninggalkan Keanu sendiri. Tak lupa aku menyeret Reni. Entah kenapa Reni selalu terdiam membisu saat berhadapan dengan Keanu. Aneh. Lalu saat aku tanya apa saja yang ia dengar dari pembicaraan kami, Reni malah menjawab tidak tahu. Hah, sepertinya dunia Reni teralihkan saat melihat ketampanan Keanu, eh ups.
***
Jam pelajaran pertama ini diisi oleh Pak Zain. Aku sama sekali tidak fokus. Aku memikirkan cara bagaimana berbicara dengan Pak Zain, intinya bagaimana cara meminta pada Pak Zain untuk berbicara dan memberikan pengertian mengenai keputusan yang nanti akan aku ambil.
Kalau sama Keanu entah kenapa enggak pernah sungkan. Yang ada aku pengennya ceplas-ceplos sama dia, tapi aku pikir dua kali aku wanita muslimah tentunya harus menjaga lisan enggak boleh sampai melukai hati. Sedangkan kalau sama Pak Zain rasanya itu malu, suka grogi enggak jelas. Tapi bagaimanapun juga aku harus tetap berbicara pada pak Zain maupun Keanu sebelum proses istikharah ku dimulai.
Lalu terlintas untuk berbicara enam mata langsung. Aku, Pak Zain, Keanu dan Reni jadi penengah cukup mendengar dan menemaniku agar tidak ada fitnah. Harusnya, sih, lebih utama Aa yang jadi penengah. Atau Aa aku suruh ke sini? Bukannya tadi dia meminta menghubunginya saat mau pulang? Ya, sepertinya itu lebih baik.
Saking keenakan bermonolog sendiri dalam hati sampai-sampai aku tak sadar bahkan keceplosan berbicara saat seseorang menggebrak mejaku.
Brak ...
"Nanti aku tunggu kamu di perpustakaan!"
Semua tertawa, Astagfirullah, bisa-bisanya aku bertingkah memalukan. Aku hanya bisa menutup mulut seraya mengedarkan pandangan ke arah orang-orang yang menertawakan diriku. Dan terakhir pada orang yang ada di hadapanku--Pak Zain.
"Kenapa melamun?" tanyanya padaku.
"Dan untuk semua stop! Jangan ada yang tertawa lagi. Ini bukan siaran stand up," lanjutnya lagi.
"Aku... aku...." bibirku teras kelu.
"Jangan banyak melamun! Itu enggak baik."
"Maaf Pak," ucapku begitu lesu. Sejurus kemudian saat ia akan berbalik aku memberanikan diri berkata tentunya dengan suara pelan tapi dapat di dengar olehnya.
"Setelah kuliah aku tunggu di perpus."
__ADS_1