Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Teror Keanu


__ADS_3

Suasana yang serius seketika mendadak menjadi cair, sebab Abi tiba-tiba saja tertawa begitu keras. Aku dan Aa tentu saja heran, Abi yang tadinya berbicara serius masalah perjodohan dan kini, tertawa entah apa yang membuat Abi seperti itu.


Aku dan Aa saling tatap berharap menemukan jawaban alasan Abi tiba-tiba saja tertawa. Secara bersamaan aku dan Aa menatap Uma berharap Uma bisa memberikan jawaban, ada apa ini?


Tapi, Uma juga sama malah ketawa-ketawa kecil. Hingga akhirnya suara aa menyadarkan ku jika kami sedang dikerjain.


"Abi sama Uma lagi nge-prank, ya?" tuduh Aa


Lalu abi menghentikan tawanya dan langsung menatap aa.


"Prank? Apa itu? Jangan pakai bahasa alay, A, Abi mana ngerti!"


"Masa Abi enggak tahu? Prank bukan bahasa alay, Bi. Itu istilah kekinian."


"Abi beneran gak tahu. Uma tahu enggak prank apa?"


"Taulah, Bi."


"Masa, sih!"


"Tuh, Bi, Uma aja tahu masa Abi enggak. Ke mana aja selama ini, Bi."


Aa semakin memojokkan Abi, Aku hanya bisa tertawa dalam hati melihat kebingungan di wajah Abi.


"Sudahlah, Abi yakin hal yang gak penting!"


"Yey, siapa bilang? Ini penting, Bi. Iyakan Uma, Dik?"


Aku dan Uma mengangguk seraya mengulum senyum.


"Apa, sih! jangan ngerjain Abi, deh. ini enggak lucu!"


"Ini lucu, Bi. Tuh lihat Uma sama Ais saja menahan tawa." Aa nunjuk ke arahku sama Uma.


"Yey siapa yang ketawa, gak kok," ujarku seraya bersikap biasa saja menyembunyikan rasa ingin ketawa.


"Uma, ada apa, sih," tanya Abi pada Uma.


"Kok, ke Uma. Ke anak-anak, Bi. Uma gak tahu apa-apa."


"Ceritanya enggak ada yang mau ngasih tahu apa itu prank?"


"Enggak ada," ucapku, Aa dan Uma bersamaan.

__ADS_1


Abi terlihat semakin kebingungan, ia garuk-garuk kepala.


"Kompak banget! Jahat, nih sama Abi."


"Udah, ah, Ray mau bobo. Besok ada jadwal operasi. Selamat malam semua."


"Ais juga, ya, besok ada kuliah pagi."


"Uma juga, Bi. Mau bobo udah malam."


Secara bersamaan aku, Uma dan Aa beranjak meninggalkan Abi yang masih kebingungan dengan kata prang. Tanpa Abi ketahui kami bertiga tertawa cekikikan, rasanya seru aja ngerjain Abi.


"Hei! Kalian mau ninggalin Abi! Kasih tahu dulu prank itu apa?"


"Buat besok aja, Bi. Pr buat Abi," seloroh A Rey membuat aku tak bisa menahan tawa lagi.


Maafin kita, ya, Bi. Dan entah kenapa Abi jadi terlihat lucu, bukannya Abi jago bahasa Inggris? Entahlah, mungkin Abi belum siap kena guyonan A Rey, jadinya beliau bingung sendiri.


***


Keesokan harinya, di meja makan.


"Gara-gara kalian, Abi semalam terlihat seperti orang bodoh!" ucap Abi tiba-tiba setelah menyelesaikan sarapan.


Seketika aku langsung mengulum senyum, apalagi Aa ia bukan senyum tapi tertawa terbahak-bahak.


"Kalian benar-benar enggak ada akhlak. Uma juga ikut-ikutan. Abi kena lelucon kalian. Semalam Abi mikirin apa itu Prank ternyata eh ternyata, Abi kena prank kalian."


"Abi kan yang duluan prank, bilang mau jodohin Rey sama Ais, itu jauh enggak lucu, Bi."


"Kan maksud Abi biar kalian enggak ribut terus."


"Udah... udah, ya. Masih pagi, sekarang segera berangkat kerja dan kuliah nanti pada telat."


"Anak-anak yang mulai, Uma."


"Kok kita, sih, Bi. Abi kan yang duluan, iyakan A."


"Iya."


"Hmm, yaudah lanjut saja. Uma mau beres-beres."


"Eh, kami berangkat." ucapku, Abi dan Aa serempak.

__ADS_1


Pokoknya ampun kalau Uma udah mulai kesal gitu, hukumannya ngeri.


Uma menatap kami penuh intimidasi. Lalu tersenyum.


"Kalian ini Abi dan anak sama saja, sukanya bercanda. Uma suka, seperti ada hiburan tersendiri saat kalian bercanda, tapi bercanda kalian diwaktu yang tidak tepat. Padahal kalian punya kewajiban masing-masing. Abi sama Aa harus ke rumah sakit yang katanya mau ada operasi. Ais mau kuliah yang katanya ada kelas pagi. Kalau terus seperti tadi kapan kalian sampai di tempat tujuan, yang ada nanti telat."


"Maaf."


"Hayo, Uma antar kalian sampai depan."


Kami ikut perintah Uma. Begitu juga Abi, bukan berarti Abi takut pada Uma, hanya saja diamnya Abi karena ia memang merasa salah.


Uma pun mengantar kepergian kami. Aku berangkat naik motor sedangkan Abi dan Aa berangkat naik mobil bersamaan.


***


Di Kampus.


Cukup lima belas menit perjalanan dari rumah ke kampus. Kalau naik mobil aku enggak yakin akan sampai dalam waktu lima belas menit. mungkin setengah jam.


Aku iringi langkah kaki menuju kelas dengan bersenandung sholawat. Sholawat yang menurutku lantunan indah kedua setelah ayat-ayat suci dalam Al Quran. Adem dan membuat hati tenang.


"Pulang dari kampus aku akan ke rumahmu!"


Suara bariton itu mengagetkanku hingga sholawat yang sedari tadi aku lantunkan terhenti. Aku kenal pemilik suara ini, dan entah kenapa aku serasa diteror olehnya. Setiap hari pasti ada saja dia, padahal dia mahasiswa akhir yang harusnya meski jarang ke kampus tidak masalah sebab tinggal menunggu skripsi.


"Tidak perlu! Lagian untuk apa kamu ke rumah?" ucapku tanpa melihat ke arah orang itu--Keanu.


"Aku akan tetap ke rumahmu, meski kamu tidak setuju."


"Kalau akhirnya seperti itu kenapa memberi tahuku?"


"Supaya kamu bersiap-siap. Bersiap menyambut calon suamimu!"


Astagfirullah, kenapa dia begitu percaya diri sekali? Orang ini benar-benar membuat sisi lain dari Ais keluar. Masa bodo!


"Apa kamu lupa, jika aku sudah memiliki calon suami? Pak zain, dia calon suamiku."


'Astagfirullah, maaf Ais berbohong, ya Allah'


"Sayangnya aku enggak percaya."


"Terserah! Maaf sepertinya aku harus segera pergi, aku harus segera masuk kelas!"

__ADS_1


Tanpa menunggu perkataan Keanu aku langsung pergi. Aku kadang bingung kenapa aku begitu kekeh menolak Keanu? Padahal sudah jelas ia serius, kalau enggak serius enggak mungkin kan sampai seperti ini. Tapi, hatiku, sepertinya sudah ada yang mengisi dan dia adalah dosenku sendiri.


'Astagfirullah'


__ADS_2