Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Mimpi Aneh


__ADS_3

"Astagfirullah."


Aku terbangun dari tidurku. Entah kenapa beberapa hari ini aku selalu mimpi buruk. Bahkan saat terbangun napasku selalu terengah-engah, keringat membasahi sekujur tubuhku. Sungguh, ini mimpi yang aneh dan entah kenapa aku jadi takut seperti ini.


Kumenoleh ke arah jam yang terletak di nakas samping ranjang. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi kurang sepuluh menit. Maka aku putuskan untuk bangun dan segera menunaikan salat tahajud dan istikharah.


Seminggu lalu, selepas Aa bertemu dengan Pak Zain dan Keanu lalu menyampaikan pada mereka apa yang ingin aku sampaikan. Aku putuskan untuk segera melakukan istikharah. Sampai hari ini belum ada petunjuk apa pun kecuali mimpi itu, kalau pun itu sebuah petunjuk kenapa harus seseram itu? Entahlah aku tak tahu jawabannya.


Untuk saat ini aku akan tetap beristikharah, jika mimpi itu lagi yang hadir berarti aku memang harus memilihnya meski dengan sebuah petunjuk yang tak lazim.


Usai melaksanakan salat tahajud dan istikharah. Aku tidak tidur kembali, rasanya mata ini tidak bisa diajak tidur, rasanya ... mimpi itu takut terulang kembali. Akhirnya, aku memilih untuk membaca Al-Quran sampai waktu subuh tiba.


Selama melakukan istikharah, aku sama sekali jarang bertegur sapa dengan Pak Zain maupun Keanu. Bahkan dengan Keanu sudah satu minggu tak pernah melihatnya. Sepertinya mereka benar-benar memberikan aku ruang dan waktu dalam proses istikharahku. Namun, aku merasa ada yang kurang dalam seminggu ini. Entah apa penyebab, yang pasti saat Pak Zain dan Keanu menjauh sementara seperti ada yang kurang.


Apa aku rindu? Lalu siapa yang aku rindukan? Entahlah! Aku enggak tahu siapa dari kedua pria itu yang aku rindukan. Yang jelas ada yang kurang dan hati ini merasa tak tenang.


Astagfirullah, hmm sejak kapan aku jadi seperti ini? Ini bukan aku, aku tahu batasan seorang muslimah dengan muslim dan saat ini aku sudah berada di luar batas. Merindukan seseorang yang haram aku rindukan. Oh hati, tolonglah jangan seperti ini.


***


Hari ini kampus libur. Untuk mengalihkan perasaan di hati yang tiba-tiba tak bisa dikendalikan, aku memutuskan untuk ke yayasan "Peduli Sesama". Sudah lama aku enggak mengunjungi mereka, mungkin dengan bersama mereka sedikit banyaknya bisa mengalihkan gejolak di hati.


Aku menuruni anak tangga, seraya mata yang sibuk mencari seseorang. Aku tersenyum saat seseorang yang yang aku tampak oleh mata.


"Uma, selamat pagi." Aku menghampiri Uma yang sedang menata makanan di meja makan dan mendaratkan kecupan di pipinya.


"Pagi juga sayang," sahut Uma dan membalas kecupan di pipiku.


"Ais mau ke mana? Kok udah gaya gini?" tanya Uma yang menyadari jika pagi ini aku sudah rapi.


"Ais mau ke yayasan, Uma. Udah lama gak ke sana, kangen mereka," balasku.


"Sarapan dulu, ya. Baru Uma izinin pergi."


Aku enggak bisa nolak, sarapan bersama memang sudah menjadi kegiatan keluarga yang wajib diikuti. Kalau kata Abi, mengawali hari dengan kebersamaan akan membuat hubungan semakin terikat. Dan salah satunya mengawali pagi dengan sarapan bersama merupakan salah satunya. Oke, aku terima pendapat Abi.


"Dek, mau ke yayasan?" tanya Aa tiba-tiba saat aku sedang memanaskan mesin si gemoy.


"Iya, A. Ais kangen anak-anak yayasan. Kenapa? Aa mau ikut?" terkaku seraya menatap Aa.


"Aa antar kamu ke sana. Mumpung Aa free."


"Sepertinya sekarang Ais punya pengawal setia, nih," candaku dan berharap Aa enggak tersinggung.

__ADS_1


"Aa memang punya niat, kawal kamu sampai halal. Sampai di halalin pria yang akan menjadi imammu."


Ah, rasanya nano-nano gini. Aa benar-benar membuat aku terharu. Aku berasa jadi adik paling disayang. Eh, tapi aku memang adik satu-satunya Aa.


Tanpa sadar Aa sudah duduk saja di atas si gemoy. Saking meresapi perhatian Aa, aku malah melamun.


"Ayo, Dik, naik!"


"Eh, iya, bentar Ais pakai helm dulu."


Saat weekend seperti ini jalanan renggang, tidak semacet hari-hari biasa. Perjalanan menuju yayasan pun dilalui dengan mudah tanpa ada hambatan.


Sekitar lima belas menit perjalanan, aku dan Aa sampai di Yayasan. Baru saja si gemoy memasuki pelataran yayasan, mataku sudah dikejutkan oleh dua kendaraan yang aku kenali.


Kendaraan yang sama saat ada tamu ke rumah. Dan aku tahu siapa pemiliknya.


"Dek! Kok bengong? Ayo turun, katanya kangen sama anak-anak."


"Iya A."


"Kamu kenapa, sih, dari rumah bengong kerjaannya. Ada apa? Coba cerita ke Aa."


"Ais enggak kenapa-kenapa, A."


"Duarius, A."


"Kamu ini." Aa tersenyum melihat tingkahku.


Sejurus kemudian, aku dan Aa melangkahkan masuk. Namun, sama-sama aku mendengar gelak tawa anak-anak. Tawa mereka seperti sedang menonton komedi atau mungkin tengah menertawakan kejadian lucu.


"Anak-anak tawanya begitu lepas," ujar Aa dan aku setuju akan hal itu.


"Iya, A. mungkin lagi ada relawan. Sebab biasanya kalau weekend begitu selalu diisi dengan olahraga."


"Aa ke sana, ya. Mau lihat mereka."


Aku mengangguk, sementara aku melangkahkan kaki menuju ruang jajaran pengurus yayasan.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawab serempak mereka.


"Wah, Bundanya anak-anak baru kelihatan, nih. Kemana aja Bunda? Anak-anak terus nanyain sampai bingung harus ngasih alasan apa lagi," ucap Ida seraya berpelukan.

__ADS_1


"Afwan, ya. Aku sepertinya merepotkan kalian," sesalku meminta maaf.


"Bercanda Ais. Kok dianggap serius," timpal Tiara.


Aku memeluk satu-satu para relawan perempuan. Seraya mengucapkan maaf.


"Tapi aku memang salah."


"Sudahlah, baru juga ketemu udah melow gini. Lagian semenjak kamu enggak ke sini, tiap hari selalu ada dua relawan ganteng maksimal datang ke sini. Setidaknya mereka terhibur dan sedikit melupakan kamu. Ah, kok aku jadi kepikiran relawan ganteng itu," Tiara bergumam sendiri.


"Eh, ingat dosa!" Ida menepuk bahu Tiara.


"Kalian sirik aja."


Tingkah mereka selalu saja sukses membuat aku tertawa. Dari lima belas relawan perempuan hanya Ida dan Tiara yang paling cerewet dan jika membahas pria mereka pawangnya.


Gimana jadinya jika mereka tahu aku ke sini bersama Aa? Mungkin mereka akan histeris. Karena kan dua wanita ini fans berat A Rey. Setelah bertegur sapa aku pun izin ke Aula. Tempat di mana penghuni yayasan kumpul. Aku ingin memastikan apa yang aku duga itu benar atau hanyalah kendaraan sama tapi orang yang berbeda.


***


"Apa yang ingin kamu katakan pada mereka?" tanya Aa.


Saat ini aku ada di luar Aula, saat tahu jika yang aku duga itu benar tentu saja aku kaget.


Kenapa mereka berdua selalu ada di tempat yang sama? Seolah-olah mereka tengah janjian.


Pertemuan tak sengaja ini, dijadikan untuk memperjelas proses istikharahku. Sepertinya mereka sudah penasaran dengan keputusan yang akan aku ambil. Namun aku tegaskan pada mereka, jika memang aku sudah menemukan jawabnya akan langsung memanggil mereka. Aku akan memilih satu di antara mereka langsung di hadapan keluarga.


"Bilang saja sama mereka, nanti kalau sudah waktunya mereka akan aku suruh menghadapi keluarga."


"Memang kamu sudah dapat jawabannya?"


"Ais belum yakin, A. Beberapa hari ini Ais memang sering bermimpi, ada salah satu dari mereka hadir di mimpi. Tapi, mimpiku itu aneh."


"Aneh kenapa?"


"Ya gitu, A. Ais enggak bisa jelasin. Sekarang Aa ke sana aja, sampain yang tadi aku bilang."


"Aa penasaran. Siapa yang kamu pilih."


"Kepo."


Aku mendorong tubuh Aa agar segera menyampaikan perkataanku pada mereka. Sekaligus menghindar dari kekepoan A Rey.

__ADS_1


__ADS_2