Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Panggil Ayah.


__ADS_3

Sesuai janjiku pada anak-anak, hari ini setelah pulang sekolah akan menjenguk Ayah mereka. Mungkin orang berpikirnya aku wanita bod*h yang mau saja memaafkan mantan suaminya yang jelas -jelas sudah menyakitiku, justru aku merasa bahagia telah mengambil keputusan untuk memaafkan Abang dan menerima anaknya dengan Lisa. Kenapa begitu? sebab aku sadar diri aku juga manusia biasa , yang tak luput dari kesalahan dan dosa. Kita bukan para Nabi atau malaikat yang tak berbuat dosa jadi punya hak apa aku, jika sampai aku tak memaafkan mantan suamiku itu.


Aku juga berpikir , Rabb Ku saja maha pengampun, maha memaafkan masa kita umatnya enggan menjadi orang pemaaf juga. Apa lagi kondisi Abang sekarang yang sedang sakit, tentunya ia butuh suport agar ia kuat dan merasa ada yang mempedulikan nya. Tak peduli orang ingin menilai aku seperti apa, karena pada dasarnya yang namanya orang lain paling bisa mengomentari hidup yang lainnya tanpa melihat atau bercermin pada dirinya sendiri. Sudah benarkah ia? terbebas dari dosa kah ia? tak pernah melakukan kesalahankah ia? . pertanyaan itu harusnya ia renungkan sebelum meng judge orang lain .


Tak terasa aku dan anak-anak telah sampai di rumah sakit. Aku langsung saja melangkahkan kaki ke ruangan vvip dimana Abang di rawat . Disana Ada mantan ibu mertua dengan Sharon, Ibu nampak senang saat aku dan anak-anak datang.


"Assalamu'alikum " ku mengucapkan salam


"Wa'alaikum salam, eh cucu - cucu Oma juga ikut " ucap Ibu lalu memelukku dan mencium Gemes anak-anak.


" Bagaimana keadaan Abang, bu ? apa ada kemajuan?" tanyaku pada Ibu sambil menjatuhkan tubuhku di atas sofa .


Ibu menggelengkan kepalanya" Masih gini -gini saja Ais , Ibu merasa Rudi gak punya semangat untuk sembuh. padahal ibu selalu menyemangatinya " Ibu nampak kecewa.


" Nanti biar Aisyah yang bicara sama Abang, " mencoba menguatkan ibu


" Baiklah, di mulai dari ibu . Ibu gak boleh nangis, Ibu harus kuat , agar Rudi tahu kalau kami begitu menginginkan ia sembuh dan agar ia tak merasa di kasihani. Kau tahu Aisyah setiap ibu memagis karena melihat kondisinya, ia pasti suka bilang jangan menangis bu, Rudi memang nampak menyedihkan tapi Rudi gak mau dikasihani seperti ini. Rudi iklas dengan keadaan Rudi. Mendengar itu Hati Ibu malah semakin sesak. Merasa bersalah selama ini tak ada di sampingnya sampai ia harus berjuang sendiri." Ibu menangis dengan terisak-isak.


Aku hanya bisa menguatkan Ibu , tak ada mau ini terjadi tapi yang namanya takdir tak bisa untuk di hindari. Ini sudah kehendak yang kuasa.


" Ibu pulang saja, biar Aisyah dan anak-anak disini. Nanti Aisyah di sini samapi sore, nunggu mas Irman pulang. Nanti sore Ibu bisa kembali lagi kesini. "


" Ibu disini saja Aisyah " tolak ibu


" Pulanglah dulu Bu, Ibu juga harus istirahat. kalau ibu ikut sakit juga gimana? nanti yang ada malah jadi beban pikiran Abang, dan Abang akan merasa dirinya penyebab ibu sakit, karena telah menjaga Abang terus "


Ibu nampak berpikir, mencerna semua perkataanku. Apa yang aku katakan pasti akan terjadi, jika ibu sampai sakit . Aku yakin Abang malah akan menyalahkan dirinya dan membuat semangatnya semakin menurun.


" Terima kasih Aisyah, kau benar. Ibu akan pulang dulu nanti Ibu kemari lagi. Disini biar Sharon bersamamu"


" Tak usah bu, Ibu sama Sharon pulanglah"


" Sharon disini saja mba, biar sekalian jagain keponakan Sharon " usah Sharon.

__ADS_1


" Mba bisa mengatasi mereka, ( sambil melirik ke arah anak-anak yang sedang bermain puzle ), mereka anak-anak penurut. "


":Kalau itu keinginan Mba , Sharon sama ibu pulang dulu, maaf merepotkan "


" Lilahi ta'ala mba membantu, gak perlu sungkan"


Akhirnya Ibu dan Sharon pulang, sementara aku disini menjaga Abang yang kini sedang tertidur begitu lelap.


*******


Aku terbangun dari tidurku saat seseorang menarik tanganku, aku pun membuka mataku. Baru tersadar kalau aku ternyata ketiduran. Aku melirik kearah tanganku yang sedang di tarik, ternyata itu Shafira.


" Kenapa sayang, " tanyaku lalu memangku Shafira untuk duduk di sofa .


" Om nya bangun Umma, ayah Shakila dan Alsya "


Aku arahkan mataku menuju ranjang dimana Abang berbaring, sementara ku arahan pula mataku kesudut yang lain mencari keberadaan Shakira juga Arsya. Dan ternyata mereka tertidur di atas karpet bulu .


" Ila tidul Umma, tapi kebangun kalena mendengal om nya memanggil umma"


" Panggil Ayah , jangan Om!


" Baik Umma"


Aku pun mengelus kepalanya dan mengecup puncuk kepala Shafira.


Lalu aku pun berjalan ke arah ranjang Abang. Ternyata benar Abang sudah bangun , ia berusaha bangun ingin bersandar pada sandaran ranjang. Inginnya membantu tapi, kami bukan muhrim haram untuk saling berpegangan .Seolah-olah mengerti ,Abang pun tersenyum dan berkata " Tidak apa-apa, aku bisa sendiri."


Kini Shafira nampak diam, mungkin ia merasa asing dengan Abang. Apalagi tadi aku bilang, panggil Ayah ,jangan Om. Aku menuntun Shafira untuk mendekat ke Abang. Aku suruh ia mencium tangan Abang. Dan berusaha menjelaskan pada Shafira siapa orang yang ada dihadapinya saat ini.


" Shafira sayang, ini Ayah Shafira, namanya Ayah Rudi. Beliau juga Ayah Shakira sama Arsya. Jadi mulai sekarang panggil Ayah , jangan Om "


Shafira nampak bingung, aku mengerti apa lagi diusianya masih kecil, tentunya ia tak mengerti apa-apa.

__ADS_1


Abang, membelai wajah Shafira, mengelus kepalanya yang terhalang hijab dan berusaha menciumnya.


" Sini peluk Ayah, " Abang merentangkan tangannya dan Shafira langsung menurut.


" Ayah!!" panggil Shafira disela pelukannya dengan Abang.


Manis sekali, Akhirnya Shafira sekarang bisa merasakan pelukan ayah kandungnya sendiri. Maafkan Umma sayang, kemarin-kemarin Umma berbohong terus. Sungguh tak ada niat untuk membohongi mu. tapi Umma sendiri juga bingung harus menceritakannya bagaimnan. Umma sendiri saja saat itu belum yakin bisa kembali bertemu dengn Ayahmu serta adik -adik mu.


Shafira termasuk anak yang cepat akrab, hingga membuat ia langsung akrab dengan Ayahnya. Mereka nampak bahagia . apalagi Abang meski wajahnya terlihat pucat tapi saat ia tertawa begitu lepas karena mendengar celotehan Shafira, terlihat seperti tak ada beban berat .


Kerasnya tertawa antara Ayah dan Anak yang baru di pertemukan ini membuat Shakira juga Arsya terbangun. Dan mereka langsung berlari kearah kami.


" Kok gak bangunin kita" ucap Arsya sambil mengucek matanya


" Sini semua naik ke ranjang Ayah, kita bermain bersama"


Tanpa aba -Aba lagi Shakira dan Arsya langsung naik ke atas ranjang dan langsung menghambur dengan Shafira dan ayahnya.


Aku berharap kehadiran anak-anak bisa menjadikan semangat untuk Abang, agar cepet pulih, tak ada penyakit tanpa Obat. Alloh menciptakan sebuah penyakit sudah tentu ada obatnya pula, termasuk suasana hati sangat mempengaruhi imunisasi seseorang.


********


Ibu sudah kembali ke rumah sakit , kali ini ibu bersama ayah . Ini tandanya aku harus segera pulang , karena Mas Irman sudah menunggu dari tadi . Anak-anak masih betah mungkin mereka kangen sama Ayahnya, tak aku pungkiri ikatan batin antara Ayah dan Anak itu kuat. Tapi saat mas Irman bilang kalau kamar mereka sudah siap dan siap untuk di tempati.


Benar saja mereka langsung ingin pulang , alasan mereka begitu antusias sebab awal -awal mas Irman menjanjikan membuat kamar sesuai keinginan mereka, Shafira dan Shakira mempunyai selera sama mereka ingin kamar yang banyak koleksi prinsess elsa sedangkan Arsya menginginkan Kamar di penuhi gambar spiderman.


Urusan membujuk Anak-anak memang mas Irman jagonya. Kami berpamitan pada Ibu, ayah dan Abang. Namun sebelum benar-benar pulang aku berkata pada Abang.


" Kau senang kan tadi sama anak-anak? jika Kamu ingin seperti itu terus Semangat lah untuk sembuh, pergilah berobat ke Singapore. Disana ada dokter kenalan Mas Irman "


Setelah berkata seperti itu , tanpa menunggu jawaban Abang aku langsung pergi . Sengaja aku langsung pergi agar Abang berpikir dengan apa yang aku ucapkan.


tbc....

__ADS_1


__ADS_2