
Hari ini aku tak bisa konsentrasi untuk belajar. Sepertinya perkataan Keanu sukses membuat aku tak fokus. Sebenarnya, apa yang aku inginkan? Mencari suami yang seperti apa? Bukannya aku ingin seperti Uma? Menikah dengan pria yang secara langsung meminta kita pada orang tua kita, meminta diri kita menjadi pelengkap hidupnya? Untuk menyempurnakan sebagian agamanya.
Semua itu ada pada Keanu. Ia memaksa untuk bertemu orang tuaku, memaksa ingin menikah denganku. Walau aku tahu awal pertemuan dengan dirinya sangat tidak berkesan. Bahkan penilaian awal tentangnya sombong dan menyebalkan. Padahal aku enggak boleh seperti itu, aku belum kenal sepenuhnya, aku baru melihat dia dari covernya saja tidak dengan hatinya.
Bagaimana jika yang aku pikirkan salah? Mungkin malah sebaliknya. Lalu harus seperti apa aku menanggapi? Sedangkan hati ini sangat berharap pada pak dosen. Namun, orang yang aku harapkan malah terlihat biasa saja, seperti tak ada rasa ketertarikan. Entahlah.
"Kau ada masalah, Ais?" Reni membuyarkan angan ku.
Aku terperanjat, lalu menatap ke arah Reni. "Masalah? Enggak kok. Kenapa memangnya?" tanya balik ku.
"Kau sedari tadi melamun terus, bahkan sampai jam pelajaran pertama usai kau masih asyik dengan lamunanmu."
Aku menegakkan tubuhku lalu menatap ke depan. Selama itu kah aku melamun? sampai-sampai aku tak ingat jika sudah memasuki jam pelajaran kedua. Astagfirullah, maaf. Perasaan hati ini telah melalaikan ku.
"Aku enggak apa-apa. Hanya sedang ada pada mode gak fokus," ucapku seraya kembali menyangga dagu.
"Tumben, biasanya juga enggak pernah kaya gini? Ada apa, sih?"
Aku menghela napas berat. "Mungkin karena dia, jadinya aku seperti ini?"
"Dia siapa?"
"Kau pasti tahu."
"Pria tampan kah?"
"Iya, pria tampan mu. Tadi, saat aku hendak ke sini ia kembali mencegat ku. Ia bilang pulang kuliah mau ke rumah."
"What?! Sepertinya pria tampanku benar-benar serius sama kamu, deh. Kalau kaya gini harapanku pupus dong." Sedih Reni.
"Aku enggak tahu, Ren. Hati ini seperti ingin terus menolak dia. Meskipun aku bisa melihat wajah keseriusan pada dirinya."
__ADS_1
"Sudahlah, Ais. Sekang fokus dulu ikut kelas. Nanti kita bahas lagi masalah percintaan kamu."
Benar kata Reni. Aku harus fokus belajar dulu. Lagian enggak baik juga membawa masalah perasaan saat sedang belajar, nanti akan ada waktunya untuk itu. Lebih baik mengutamakan dulu yang lebih penting daripada terus terbawa perasaan yang berakhir pada sesuatu yang berdosa.
***
Jam istirahat sudah tiba, aku dan Reni segera mungkin pergi ke kantin. Bukan aku, sih, lebih tepatnya Reni yang begitu terburu-buru menarik ku untuk segera ke sana. Alasannya hanya satu bukan lapar ingin makan melainkan untuk tempat ngobrol yang paling nyaman.
"Sekarang ceritakan, kenapa lagi dengan pria tampanku, dia mengganggu mu lagi?" tanya Reni begitu tergesa-gesa.
"Baru juga sampai dan ada mungkin satu menit kita duduk. Ambil napas dulu, Ren atau pesen minuman dulu gitu."
"Ish, kau ini. Oke ... oke, tunggu aku akan pesan dulu."
lima menit kemudian.
"Nih."
"Sekarang ceritalah."
"Kamu mau tahu yang mana?"
"Semua Ais, tanpa terkecuali."
Lalu aku pun menceritakan kembali dari awal. Bagaimana hariku berubah jadi tak bersemangat semenjak bertemu dengan Keanu. Aku seperti di teror, dihantui oleh Keanu. Kadang aku berpikir, segigih itukah perjuangannya untuk mendapatkan aku? Bahkan berulang kali aku bilang enggak ia tetap saja bersikukuh untuk menikahi ku. Dan anehnya lagi perjuangan Keanu selalu tak tampak oleh mataku. Ini mata dan hati seolah-olah buta dan tertutup rapat untuk dirinya.
"Sekarang aku tanya. Maunya hati kamu gimana?" Reni tiba-tiba bertanya seperti itu saat aku sudah menjelaskan semua cerita yang ku anggap begitu panjang.
Aku terdiam tatakala mendapat pertanyaan seperti itu. Aku juga tidak tahu bagaimana maunya hati ini, sebab aku pun masih ragu akan perasaanku ini. Mungkin untuk saat ini aku hanya bisa pasrah menyerahkan semua urusanku pada Sang Maha pembolak-balik hati.
Tak ada yang tahu nanti ke ke depannya akan seperti apa, ikuti saja alur yang telah digariskan oleh Sang Maha pembuat skenario.
__ADS_1
"Apa Ais kenapa enggak jawab?"
"Aku sendiri tidak tahu harus jawab apa. Selain tawakal."
"Kalau seandainya orang yang memintamu untuk menjadi istri bukan Keanu bagaimana? Mau kamu terima?"
"Enggak tahu juga. Mungkin aku butuh istikharah."
"Nah, itu lebih baik."
***
Seperti biasa waktu sore saatnya untuk pulang. Niat mau ke yayasan tiba-tiba saja aku cancel. Enggak tahu kenapa aku merasakan akan ada sesuatu hal yang terjadi dan aku tak tahu itu apa. Di sepanjang perjalanan pulang pun entah kenapa serasa lambat, lama dan membosankan. Entah hanya perasaanku saja, sebab aku sampai ke rumah tepat lima belas menit. Enggak lebih kurang juga enggak.
Aku menajamkan penglihatan ku. Saat kedua mataku melihat dua kendaraan yang sangat aku hafal siapa pemiliknya. Namun, aku tepis. Enggak mungkin kan itu punya mereka? Yang punya mobil dan motor seperti itu kan banyak, bukan hanya satu atau dua saja. Langkahku semakin dekat, dekat dengan dua kendaraan yang aku kira aku kenali, aku melihatnya dengan seksama memutari satu-satu mulai dari motor dan terakhir mobil.
"Ini bukan punya mereka. Kalau pun iya mau apa mereka? Dan kenapa bisa bersamaan ke sini? Dan...."
Aku tak mau berspekulasi. Lebih baik aku buktikan dengan segera masuk ke rumah.
Aneh! Perasaanku, jantungku, tiba-tiba saja berdegup dua kali lebih cepat. Bahkan serasa akan copot dari tempatnya. Lalu aku berusaha untuk menenangkan diri, menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja mendera.
Aku menarik napas lewat hidung dan membuangnya lewat mulut. Aku terus melakukan hal itu sampai benar-benar tenang.
"Ais tenang!"
Semakin dekat ke ambang pintu, semakin terdengar dengan jelas suara Abi yang tengah berbicara dengan seseorang yang aku sendiri tak tahu siapa.
"Jadi, maksud dan tujuan kalian ke sini untuk melamar anak saya?"
Deg...
__ADS_1
"Melamar?"