
Pov Irman on
Hari ini aku akan pergi ke salah satu sekolah anak usia dini yang berada di sekitar rumahku, dan tujuanku adalah TK pelita yang merupakan sekolah terbanyak anak-anak bersekolah disana.
Sudah menjadi kebiasaan ku setiap enam bulan sekali aku selalu mengunjungi sekolah TK dengan maksud ingin melihat perkembangan anak-anak dan ingin lebih dekat dengan mereka agar aku tahu bagaimana menyikapi yang namanya anak-anak di bawah enam tahun.
Tentunya karena aku seorang dokter spesialis anak , bukan hanya sekedar mengobati penyakit mereka tapi aku juga ingin lebih mengerti mereka.
Sebab banyak anak-anak di usia mereka yang banyak perlakuan kasar dari orang tua , babysitter bahkan dari orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Aku langkahkan kakiku ke TK Pelita disana nampak ramai , dan seperti nya sedang mengadakan sebuah acara.
Hatiku begitu senang melihat keakraban orang tua dan anak mereka terlihat begitu bahagia, namun mataku melihat satu pemandangan yang membuat diriku ingin sekali menghampirinya.
Seorang anak perempuan berjilbab ia sedang duduk seorang diri, sambil pandangan matanya melihat kesana kemari seperti sedang menunggu seseorang.
Aku coba menghampirinya dan mengakrabkan diri padanya.
" Gadis cantik , ko sendiri" tanyaku sambil duduk disebelahnya
Tak ada jawaban dari mulut anak perempuan itu yang ada hanya anggukan dan senyuman.
" Kenapa diam ? jangan takut ! om gak jahat kok" ucapku mencoba meyakinknnya.
Anak perempuan itu tertunduk seperti enggan untuk menjawab.
" Yaudah kita kenalan dulu yuk? biar nanti akrab , maukan?
Sambil tersenyum dan mengangguk " Namaku Shafila, om panggil aku Ila saja sama kaya Umma dan ayah om"
Sedikit heran dengan perkataan anak perempuan ini Ayah om , maksudnya apa?
" Oh namanya Ila, kalau gitu Ila panggil om dokter saja ya"
" Om seorang doktel ??Umma Ila juga seolang doktel lo"
"Oh yah.... jadi umma Ila sama kaya om dong yah!!
" Iya
Raut wajah Ila masih sama seperti tadi , cemas seperti mengharapkan kedatangan seseorang.
" Ila sayang kenapa sendirian, dimana orang tua Ila? apa mereka belum datang?
__ADS_1
" Umma udah datang ko, tinggal Ayah Om saja yang belum datang makanya Umma cemas telus minta izin ke Ila untuk keluar sebentar buat nelpon Ayah Om"
" Oh begitu,, oh ya kenapa Ila panggil Ayahnya dengn sebutan Ayah Om??
" Kan kata Umma yang namanya Ayah itu olang yang suka anak kecil;,suka belmain belsama ,sama Kaya Om Jo dia juga suka sama Ila "
Ini jelas pasti Ila korban perceraian orang tuanya hingga ia tak mengenal sosok Ayah , serta ibunya memaksa untuk berbohong . Tapi tunggu kenapa semakin aku perhatikan matanya begitu mirip dengan dia, apa aku sudah gila? Ya Rabb kenapa aku harus terjebak di dalam percintaan seperti ini semakin ingin melupakan malah semakin besar rasa rindu ku padanya . Aku yakin dia pasti sudah bahagia sedangkan diriku masih saja setia menunggunya , biarkan takdir yang akan menjawab .
"Om doktel kenapa melamun?
" Eh...gak kok. Mata Ila indah , mengingatkan om pada orang yang om cinta , eh kenapa om malah curhat sama Ila yah , aku terkekeh begitu juga Ila ia tersenyum lagi-lagi senyumnya begitu mirip dia. Ila sayang kebetulan om juga suka sama anak kecil bagaimana kalau Ila Panggil om Ayah ?"
Ila nampak berfikir " ok ILA panggil Ayah doktel saja yah" begitu sumringah.
" ok !! nah sekarang Ayah dokter mau pergi dulu insyaallah besok Ayah Dokter kesini lagi "
"Ia , Ayah hati-hati " salim lalu mencium pipi.
Serasa di cium anak sendiri, seperti inikah rasanya hmmm tapi kapan bisa terwujud orang yang aku cintai orang yang ingin aku nikahi saja sudah jadi milik orang lain.
Jam sudah menunjukan pukul 13.00 aku bergegas pergi ke rumah sakit miliku, tak lupa aku menghubungi sekretaris ku untuk segera menyiapkan semua apa saja yang akan dibahas dalam pertemuan rutin kali ini.
pertemuan ku dengan Ila seolah-olah menjadi mood boster , entah ada angin dari mana suasana Hati ini begitu sangat baik. Pada diri Ila aku menemukan sosok Aisyah Husnah mata dan senyumannya begitu mirip.
Mungkin di dunia ini hanya aku sajalah pria yang rela menunggu seorang wanita yang sudah bersuami, bahkan ocehan ibu pun tak aku hiraukan yang selalu saja memintaku untuk segera menikah. Tapi keyakinanku tetap aku pegang teguh bahwa takdir akan mempertemukan dan menyatukan ku dengan dia di Waktu yang pas, mungkin secara tidak langsung aku mendoakan dia berpisah dengan suaminya, huh sungguh egois.
Persiapan pertemuan kali ini sudah beres, dan akan membahas kinerja para pegawai mulai dari para dokter dan staf -staf lainnya.
Saat acara baru berlangsung selama lima menit, tiba-tiba ketukan pintu memaksaku untuk menghentikan pembicaraan ku.
Nampak seorang dokter wanita berhijab masuk , dengan kepala tertunduk dan meminta maaf atas keterlambatannya.
Aku lihat dia, apa benar apa yang aku lihat orang yang sedang menundukn kepala itu seorang Aisyah Husnah wanita yang sangat aku cintai??. wahai takdir kau mempertemukan lagi dengan dia .
Dengan dinginnya aku pun menyuruhnya duduk, berpura-pura bersikap biasa saja.
Mataku tak bisa berpaling untuk tak memandangi nya tapi orang yang aku pandang malah terus menunduk, dia belum menyadari keberadaanku. padahal aku begitu rindu padanya selama empat tahun tak jumpa.
Lagi-lagi aku berpura-pura sok dingin , aku menegur nya karena arah matanya terus saja mengarah kebawah, saat teguran dariku iapun mulai mengangkat kepalanya dan apa yang terjadi? ia begitu terkejut tak bisa di jelaskan mimik wajahnya itu.
Aku memberikan senyuman padanya dan tanpa aku kira ia pun membalas senyuman dariku, Wahai takdir semoga kali ini kau membawa takdir yang baik.
pov Irman off.
__ADS_1
Usai sudah pertemuan rutin ini, dan tujuan pertamaku adalah mencari Risya aku ingin meminta penjelasan padanya kenapa tak memberi tahu perihal Irman orang yaang memiliki rumah sakit ini.
"Risya " panggilku pada Risya
" Apa Mami, "
"kenapa kamu gak bilang kalau Irman pemilik rumah sakit ini?"
"Mami aku juga ga tahu, baru tadi aku tahu. bukan Mami saja yang kaget Risya juga kaget setengah mati "
Perasaan apa ini Rabb , kenapa hatiku Sesenang ini. Aku harap masih ada kesempatan diriku untuk bersamanya aku ingin menagih janjinya empat tahun yang lalu semoga takdir tak lagi sedang mempermainkannya kisah cintaku lagi cukup dulu aku di bod*hi pria breng*ek itu.
Langkahku semakin menjauh dari ruang meeting tadi, Waktu pun sudah menunjukan sore teringat akan anakku ia pasti sedang menunggu ku.
saat tubuhku baru akan masuk mobil , tiba-tiba terdengar panggilan seseorang memanggil namaku. Aku pun membalikkan tubuhku dan melihat pria yang aku cintai mendekat, jantungku kini semakin tak beraturan .
" Aisyah " panggil Irman dari kejauhan dan berlari mendekati ku.
Aku terdiam nunggu ia datang di hadapanku.
" Apa kabar? lama tak jumpa?
Dengan tertunduk dan rasa malu aku mejawab " Alhamdulillah, kabar baik. Bagaimana denganmu? "
" Alhamdulillah, jauh. lebih baik setelah bertemu denganmu lagi"
Ucap Irman benar-benar membuat terasa terbang,
" Punya waktu luang ?
"Maaf aku harus segera pulang, anakku menunggu di rumah "
" Ah iya aku sampi lupa menanyakan kabar Anak dan juga suami mu apa mereka juga baik-baik saja?"
" Eh an--anu , ba--baik " Mendengar kata suami membuatku gugup, ada perasaan malu sebenar nya kalau dia tahu bahwa aku hanyalah seorang janda.
" Kenapa bicara seperti itu? Santai saja "
" Maaf , aku harus segera pulang "
Belum siap bertemu, dan belum siap mendapatkan pertanyaan lebih lagi apa lagi menyangkut masalah suami aku lebih baik segera pergi saja.
Maaf Irman, tapi aku berharap takdir mempertemukan lagi kita sekarang , akan ada sesuatu yag indah di balik ini semua ..semoga ...
__ADS_1