
Tiga hari selepas malam itu. Malam di mana aku menentukan pilihan hati. Pilihan yang akan menentukan takdir hidupku selanjutnya. Jalan hidup dalam membina rumah tangga hingga sampai ke jannah-Nya.
Kehidupan berumahtangga yang sakinah, mawaadah dan warrahmah merupakan mimpi semua orang. Namun ada kalanya sebuah rumah tangga akan Allah SWT uji sesuai kadar kemampuan pasangan tersebut. Berumahtangga pun bukan hanya sekadar mengikat dua anak manusia asing yang haram disentuh menjadi halal disentuh.
Namun menyatukan perbedaan pemikiran menjadi satu, saling menyempurnakan pasangan serta saling melengkapi satu sama lain. Dan aku harap aku bisa melakukan itu semua. Hingga bisa menciptakan rumah tangga impian, yang di dalamnya begitu banyak rahmat dan pertolongan Allah.
Di ruang tamu begitu ramai oleh orang-orang. Malam ini semua keluarga besar Pak Zain hadir. Mereka akan menentukan tanggal pernikahan kami. Rasanya itu seperti mimpi saja. Aku enggak percaya di usia hampir 20 tahun ini aku akan melepas masa sendiriku. Serta akan menyandang predikat istri.
Istri dari seorang pemuda bernama Muhammad Zain Firmansyah. Seorang dosen serta seorang arsitek terkenal yang kemampuannya tak bisa diragukan lagi. Pemuda yang menjadi rebutan para gadis, sebab selain Allah memberikan kelebihan berupa paras yang tampan. Ia pun sangat ramah, murah senyum dan pemuda soleh. Sepertinya aku beruntung bisa dipersunting oleh Pak Zain.
Di tengah semraut pikiran-pikiran ku terdengar suara pintu terbuka. Aku menoleh ke arah pintu. Aku melihat Abi berdiri di ambang pintu. Aku sunggingkan senyum di bibirku, aku beranjak lalu menghampiri Abi dan memeluknya.
Akhir-akhir ini Abi dan Aa terlihat berbeda. Aku selalu merasa jika perhatian mereka terlalu berlebihan. Aku tahu bagaimana perasaan Abi dan Aa, perhatian mereka itu terlihat seperti seorang Abi yang tak ingin kehilangan anaknya. Atau seorang Aa yang tidak ingin kehilangan seorang adik.
Aku hanya menikah. Bukan pergi untuk selamanya. Seperti kata Aa tempo hari, aku bukanlah tanggung jawab mereka lagi. Itu tak salah malah benar adanya. Namun, bukan berarti ikatan darah di antara kami harus terputus juga. Tidak! Sampai kapanpun aku masih anak Abi dan Uma serta adik dari kakak-kakakku. Aku mengurai pelukan lalu menatap wajah Abi yang begitu menenangkan.
"Mereka udah pulang, Bi?" tanyaku saat Abi tak kunjung berbicara.
"Iya, baru saja mereka pergi."
__ADS_1
Perkataan Abi terdengar memilukan. Sejurus kemudian, Abi menuntunku hingga aku dan Abi duduk di sofa kamarku. Lagi-lagi Abi hanya diam. Ia lebih memilih menatapku dan terus mengelus kepalaku.
"Abi kenapa? Coba cerita ke Ais?"
Abi menggeleng. Ia masih sibuk menatap dan mengelus kepalaku.
"Abi," panggilku dengan nada memohon. Berharap Abi tidak bersikap seperti ini.
Abi terlihat menghela napas berat. Dari matanya aku lihat mulai mengembun. Apakah Abi menangis? Terkaku dalam hati.
"Satu minggu lagi kamu akan menikah."
Hanya kata itu yang aku dengar dari mulut Abi. Secepat itukah? Satu minggu? Kini Abi kembali memelukku. Aku memang sengaja tidak ikut bergabung dalam pertemuan keluarga itu. Bahkan Pak Zain pun tidak ikut. Alasannya, ini acara orang tua mempelai jadi hanya mereka saja yang berkumpul dan menyusun rencana pernikahan kami. Tidak ada acara lamaran ataupun tunangan tapi langsung saja pada acara inti.
"Abi jangan kaya gini, ih." Aku menjauhkan tubuh Abi.
"Abi terlihat lebay, ya?" tanyanya dengan tawa dipaksakan.
Aku hanya bisa menatap haru pada Abi. Aku jadi ingat sesuatu, ingatan beberapa tahun ke belakang. Di saat kakak-kakak perempuan ku menikah, Abi pun bersikap seperti ini. Sekarang... aku sendiri yang mengalami dan merasakan.
__ADS_1
"Abi enggak lebay, kok. Wajar malahan. Aku tahu Abi itu sangat menyayangi Ais. Maka dari itu Abi beratkan melepaskan Ais dan menyerahkan Ais pada pria lain yang nanti akan Ais panggil suami?"
"Inilah ketakutan seorang Abi saat melepas anak perempuannya. Abi selalu takut kasih sayang suamimu tidak sebesar kasih sayang Abi, cintanya tidak sebesar cinta Abi serta perhatiannya tidak sebesar perhatian Abi."
"Abi enggak usah risau. Dan percayalah posisi Abi sampai kapanpun tidak akan pernah tergantikan. Abi adalah pria pertama yang Ais cintai. Pria pertama yang mengisi hati Ais serta pria pertama yang selalu Ais rindukan."
Abi benar-benar menangis! Tangisan haru seorang Abi. Melihat Abi seperti ini membuat rasa cinta, bakti dan sayangku semakin meningkat. Tak ada sosok Abi selain Abiku. Beliau sangat demokratis pada anak-anaknya. Tak pernah memaksakan kehendak serta bukanlah seorang Abi yang diktator.
Dikala kami salah Abi selalu meluruskan dengan hati dan pikiran dingin. Hingga bukan amarah yang keluar melainkan sebuah ucapan tegas nan berwibawa. Sehingga kami selalu patuh pada beliau.
Ayah mengusap ujung matanya yang berair. "Sudah malam sebaiknya kamu tidur. Masalah pernikahan biar Abi, Uma dan kakak-kakakmu yang atur."
Aku hanya mengangguk saja, lalu Abi bangkit dan memberikan kecupan selamat tidur.
"Selamat tidur sayang."
"Selamat tidur juga, Bi."
Abi berlalu meninggalkan kamarku. Hingga tubuh Abi hilang di balik pintu kamar. Sepertinya setelah nanti aku menikah, aku akan merindukan mereka, merindukan suasana rumah, merindukan kamar ini dan masih banyak hal kecil lainnya yang akan aku rindukan.
__ADS_1
"Astagfirullah, kenapa aku terlalu berpikir kejauhan? Meski nanti aku akan dibawa suamiku, aku kan masih tetap bisa ke sini. Ya, meskipun jarang."
Aku bergumam sendiri, setelah itu aku bersiap untuk tidur sebab besok aku harus kuliah.