
Zain pov on
Pagi ini cuacanya begitu cerah, sang mentari begitu gagahnya menyinari alam dunia. Saat ini aku tengah bersiap-siap pergi ke kampus, tempat dimana aku menjadi dosen. Menjadi dosen sebenarnya bukanlah cita-cita ku, sebab apa yang aku cita-cita kan kini sudah aku gapai, Arsitektur. Aku terpaksa menjadi dosen karena suatu insiden.
Malam itu aku habis pulang kerja, memantau pembangunan gedung perkantoran yang sedang aku handle. Rasa lelah, yang telah membuat aku tidak berkonsentrasi dalam mengemudi mobil. Aku mengantuk, bahkan udah kesekian kalinya mobilku hampir keluar jalur.
Aku terus saja mengemudi mobil, pikirku, tinggal beberapa belokkan lagi, aku sampai rumah. Ternyata pikiranku itu malah membawa musibah untukku. Ketika mobil ku belokkan ke kanan, dari arah berlawanan datang sebuah motor secara tiba-tiba. Aku kaget, refleks mobil ku banting setir ke kiri, tapi, gagal. Badan mobilku sudah terlebih dahulu menyenggol pengemudi motor, hingga ia oleng dan menabrak trotoar.
Lalu aku langsung mengerem mobil, hingga terdengar suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal. Aku syok, mata yang tadinya mengantuk seketika jadi hilang. Sebelum keluar mobil, aku mengintip terlebih dahulu dari balik spion mobil. Tak ada pergerakkan, membuat aku kaget, hingga aku langsung membuka seat belt dan berlari ke arah pengemudi motor.
Aku mengecek jantung sampai nadinya, aman, ia masih hidup. Mengetahui pengemudi motor masih hidup, aku langsung menelpon ambulans.
Kini, aku duduk di bangku rumah sakit. Sambil menunggu pihak keluarga datang. Bermodalkan handphone milik korban, dan panggilan terakhir tertera nama istriku, maka tanpa ragu aku langsung mengubungi nomor itu. Setengah jam kemudian, dokter keluar berbarengan dengan kedatangan keluarga korban.
Dokter menjelaskan keadaan korban, syukur tidak ada yang terlalu serius dengan luka korban. Korban hanya mengalami patah kaki dan tangan. Aku masuk keruangan korban yang aku tahu namanya pak Sumarto. pria paruh baya itu sedang tertidur di atas bangsal. Aku mendekati Pak sumarto, dengan maksud ingin meminta maaf dan akan menanggung semua biaya rumah sakit. Dan aku jelaskan semua kejadiannya, hingga aku tak bisa menghindari kecelakaan ini.
Dengan begitu lembut, pak Sumarto beserta istri menolak tawaran saya. Ia bilang bukan sepenuhnya kesalahan saya, dirinya juga salah karena sudah ngebut jalan yang berbelok. Untuk biaya rumah sakit, ia juga berkata tak perlu, karena kami masih mampu membayarnya.
"Maaf nak Zain, bukan maksud Bapak menolak bantuan kamu. Bapak masih mampu untuk bayar biaya rumah sakit, Nak Zain gak usah repot-repot. Tapi, Bapak hanya minta satu permintaan dari nak Zain." ucap pak Sumarto dengan serius.
"Apa itu pak? insya Allah saya akan penuhi."
__ADS_1
Pak Sumarto melirik ke arah sangat istri, mungkin ingin meminta pendapatnya dan di anggukan sangat istri.
"Bapak seorang dosen, dan mendengar penjelasan nak Zain tadi, kalau Nak Zain seorang Arsitektur." Pak sumarto menjeda perkataannya, "Kalau boleh, bersedia kah nak Zain menggantikan Bapak jadi dosen, setidaknya sampai kaki dan tangan patah saya sembuh?"
Aku nampak berpikir, menimbang-nimbang permintaan pak Sumarto. Aku pikir, mungkin ini salah satu cara menebus kesalahan . Menjadi seorang dosen yang sesuai dengan Keahlian ku.
"Baiklah pak, saya bersedia."
"Terima kasih, nanti saya akan menghubungi rektor mengenai penggantian sementara. Dan setelah dapat lampu hijau, saya akan hubungi nak Zain."
Setelah satu bulan aku menjalani profesi baruku, aku merasa nyaman. Meski aku harus membagi waktuku untuk ke kampus dan menghandle proyek yang sedang aku kerjakan.
Dengan semangat, aku melajukan mobil pajero. Membelah keramaian ibu kota di waktu kerja seperti ini, macet. Sudah hal yang tak aneh lagi bukan, bahkan mungkin semua orang tahu ibu kota itu pusatnya kemacetan. Laju mobilku mulai lancar saat membelokkan ke jalan menuju kampus. Karena jalan menuju kampus, bukan jalan padat kendaraan jadi aman-aman saja.
Kecepatan Mobil aku turunkan, saat aku lihat motor sport itu menuju kampus tempat aku ngajar. Jadi, tidak akan terlalu susah untuk menemukan mereka serta menegurnya. Motor sport itu berhenti tepat di depan gerbang kampus. Sedangkan aku menghentikan dulu mobil di pinggir jalan,dengan maksud ingin melihat mereka dari kejauhan. Setelah tahu orang nya,maka aku akan menegur mereka. Dan sepertinya orang yang di bonceng terlihat mengomel sesaat setelah ia turun dari motor sport itu. Mungkin merasa tak Terima di bawa nyebut.
Dari mobil aku perhatian, gadis itu seperti orang yang tak sengaja aku tabrak, dan aku tinggalkan saat ia sedang kesakitan. Sungguh ini bukan sebuah kebetulan, tapi, memang sudah terencana sesuai skenario Tuhan. Kini aku bisa menemukannya dan akan meminta maaf.
Beberapa menit kemudian pengemudi motor itu pergi, itu artinya ia bukan mahasiswa di sini. Mungkin saja, itu pacar wanita itu. Aku tak menyangka gadis yang terlihat baik dan agamis itu, punya pacar bahkan sampai berpelukan saat di bonceng tadi.
"Astagfirullah, ada apa denganku? kenapa aku punya pikiran ke sana? secara tidak langsung aku sudah menilai orang buruk." Aku tak hentinya beristighfar saat pikiranku, memikirkan sesuatu yang tak pantas aku pikirkan dan tak pantas aku ucapkan, menilai buruk seseorang.
__ADS_1
Setelah gadis itu masuk ke arena kampus, baru aku pun melajukan kembali mobil ku menuju parkiran.
Keterkejutan ku belum usai, saat aku masuk kelas. Mataku menangkap satu sosok gadis itu, gadis yang secara tidak sengaja aku tabrak. Aku rasa Tuhan benar-benar ingin mempertemukan aku dengan dirinya terus. Bahkan bukan hanya mungkin, tapi setiap hari akan berjumpa dengannya.
Entah perasaan apa ini, sebelumnya aku belum pernah seperti ini. Kecuali, mengagumi sosok pendiri yayasan peduli sesama yang belum di takdirkan untuk bertemu. Melihat ia satu gedung denganku, membuat perasaanku membuncah, tapi, saat tadi melihat dia dengan pria lain, rasanya tak Terima.
Jam perkuliahan telah usai, aku membereskan meja, yang begitu berantakan oleh lembaran-lembaran kertas quiz para mahasiswa. Setelah beres aku masukan kedalam tas yang biasa aku bawa. Aku berdiri lalu menyambar jaket levis yang tergantung di kursi, serta tak lupa kaca mata hitam ku.
Aku punya kebiasaan pakai jaket mau itu naik mobil atau pun naik motor, jaket tak pernah aku lupakan. Setelah di rasa semua udah beres, aku pun berjalan menuju tempat parkir. Suasana kampus sudah mulai sepi, hanya ada segelintir orang.
Lagi dan lagi mataku menangkap satu sosok gadis yang tadi. Dia sedang duduk sendiri, sambil menopang dagunya. Seperti nya ia sedang menunggu seseorang, mungkin pria tadi. Aku berpikir sejenak, mungkin ini saat yang tepat untuk aku meminta maaf. Tanpa ragu aku pun melangkahkan kaki ke arahnya, meski sedikit grogi.
"Bagaimana kakimu sekarang?, maaf." ucapku dan sepertinya ia kaget. Ia tak menjawab, lalu aku bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama.
Di membalikkan tubuhnya ke hadapan ku, dan aku melihat wajah bingung pada dirinya. Gak mungkin ia lupa kan?
Gadis itu malah bertanya balik dan langsung melihat ke kakinya, ia terus membolak -balikkan kakinya, dan berkata bahwa kakinya gak kenapa-kenapa.
Aku pun duduk di bangku yang sama dengannya, refleks gadis itu malah semakin menjauh, aku melihatnya hanya bisa tersenyum. Lalu aku ceritakan semua, bahwa aku orang yang telah menabraknya. Awalnya ia tidak percaya, tapi lama-lama ia percaya setelah ia bertanya bahwa aku orang yang memakai motor sport hitam dan helm hitam pada malam itu.
Hatiku tersentuh saat ia menanyakan kabar Papa. Orang yang ia gak kenal saja ia bisa se care ini, gimana kalau sudah kenal? Menarik. Dan aku sadar, ini untuk pertama kalinya aku merasa senyaman ini. Dia berbeda, ada sesuatu yang menarik darinya.
__ADS_1
tbc