
Pagi telah tiba, kicauan burung menambah indah suasana pagi ini. Aroma Udara yang begitu menyejukkan serta angin yang sepoi-sepoi bah di pantai 😁.
Pagi ini kami siap-siap untuk ziarah ke makam Ibu sama Bapak. Setelah sarapan dan pamit pada keluarga mang Adang dan menitipkan kembali rumah, kami berangkat ke pemakaman. Pemakamannya gak jauh dari rumah sepuluh menit sudah nyampek hanya dengan jalan kaki dan melewati jalan pintas pastinya.
Sedangkan supir menunggu di sisi jalan raya, karena kebetulan jarak pemakaman ke jalan sangat dekat. Di pusaran Ibu dan Bapak aku panjatkan doa, agar mereka di alam kubur sana mendapatkan tempat yang baik, di jauhkan dari siksa kubur serta di lapangkan dan di beri cahaya.
" Assalamu'alaikum ya ahli kubur, Ibu, Bapak, Aisyah dan Jo datang. Tapi kami gak berdua saja, disini ada suami serta anak-anak Aisyah. Sedangkan Jo ia beserta calon istri nya. Kami rindu Ibu sama Bapak. Maaf baru datang kembali"
Setelah merasa puas, mengobati rasa rinduku pada Ibu dan Bapak. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat wisata yang dekat saja dan sejalur dengan arah pulang ke Jakarta.
Dan tempat wisata yang di tuju adalah, Cire*ng. Di tempat ini menyuguhkan keindahan alam serta air yang mengalir jernih di sungai. Mungkin nampak biasa saja tapi justru menjadi destinasi yang bagus. Setiap orang yang datang pasti tujuannya ingin bermain di sungai ini, airnya seger, jernih tapi ingat ini bukan sungai seperti sungai citarum , ataupun Sungai besar lainnya. Di sini sering juga di sebut cileueur.
Ini arusnya kecil, banyak bebatuannya dan aman untuk berendam bukan berenang yah.
sebenarnya masih banyak lagi tempat wisata di sini, tapi karena dikejar waktu akhirnya tempat ini yang di tuju. Mas Irman khawatir dengan kandunganku, bahkan sampai terpikir olehnya gimana kalau tiba-tiba kontraksi, nanti repot kalau sampai lahiran di sini. Belum ini belum itu semua di absen oleh Mas Irman, mending kalau berfaedah apa yang ia omongin, tapi ini? sungguh unfaedah. Tapi tetap perintah suami itu nomer satu, meski merasa masih betah di sini kalau suami sudah bilang pulang? yaudah ayo pulang.
Puas bermain di sungai cire*ng, akhirnya dengan berat hati harus kembali ke Jakarta, anak-anak sebenarnya masih enggan untuk pulang, tapi seperti biasa jurus andalan Mas Irman ia keluarkan hingga membuat anak-anak jadi setuju pulang. Sampai sekarang aku gak pernah tahu apa yang sebenarnya Mas Irman lakukan atau apa yang ia janjikan pada anak-anak hingga mereka selalu saja nurut .
*********
Serelah shalat Ashar Sekitar Jam 16.00 wib kami kembali ke Jakarta, seperti biasa mobil gaduh oleh ketiga anak anakku, serta Jo yang cerewetnya melebihi cewek,belum lagi nanti ditambah sikembar belum nanti lagi kalau hamil kembali. hehe pikiran udah ngejurus ke hamil lagi, yang dalam perut saja belum keluar.
Berhubung sudah waktu shalat Magrib, mobil berhenti dahulu dan mencari mesjid di dekat jalan untuk kami menunaikan shalat Magrib. Tetap ibadah paling penting, mumpung naik kendaraan pribadi jadi sempetin dulu beribadah.
Tanpa menunggu lama, selesai sholat langsung berangkat lagi karena ngejar waktu. Besok hari senin anak anak akan sekolah.
Semua yang ada di mobil mulai terlelap, kecuali supir dan aku. Mataku ngantuk tapi perutku tiba-tiba merasa kontraksi, aku mulai panik karena ini masih setengah perjalanan menuju Jakarta. Keringat dingin mulai keluar tapi beberapa menit kemudian kontraksi nya hilang. Dan aku yakin ini kontraksi palsu.
Aku mulai memejamkan mata kembali setelah rasa mulas tiba-tiba saja hilang. Dua jam kemudian aku merasakan kontraksi lagi, aku mulai gelisah. mungkin supir melihat gelagat aneh ku dari balik kaca spion.
__ADS_1
" Nyonya baik-baik saja? tanya supir padaku
"Kita dimana? apa masih jauh sampainya?
" Baru Cikarang nyonya " jawab supir itu.
Ada sekitar dua jam lagi nyampe ke Jakarta. lagi -lagi keringat dingin membanjiri badanku. Aku sengaja gak mau bilang mas irman takut ia malah menyalahkan aku gara- gara nekad melakukan perjalanan jauh. Yang akhirnya aku mengalami kontraksi saat masih dalam perjalanan pulang.
Aku berusaha untuk tidak gugup, perlahan aku menarik nafas dan buang. Itu aku lakukan berkali-kali sampai rasa mulas mau melahirkan hilang. Dan ini sudah kontraksi palsu yang kedua kalinya dan jaraknya pun cukup jauh dari kontraksi pertama ke kontraksi kedua.
Beberapa jam kemudian kontraksi nya muncul lagi, dan ini begitu sering. Aku yakin ini saat nya aku akan melahirkan karena jarak kontraksi ke kontraksi berikutnya hanya berjarak lima sampai sepuluh menit.
"pir, dimana kita?
" Udah hampir sampai nyonya...
"Tolong ke rumah sakit mas Irman sekarang" titah ku yang semakin panik saja.
" Mas.. mas bangun.. Aisyah mau melahirkan"
Namun yang di panggil gak bangun -bangun, aku mencoba memanggil mas Irman sekali lagi, dengan suara yang agak keras.
"Mas Bangun! Aisyah mau melahirkan " sentak ku
Hingga membuat semua penghuni mobil yang sedang terlelap ikut bangun. Keadaan di dalam mobil malah semakin gaduh. Belum lagi anak anak yang tiba-tiba menangis melihat aku mengerang kesakitan.
Aku yang panik malah semakin panik mendengar tangisan anak -anak. Kini posisi duduk berganti yang tadinya Mas Irman di depan, kini beralih oleh Jo sambil menenangkan Arsya yang nangis kejer. Mas Irman duduk di sampingku sambil mengelus bok*ng yang terasa panas.
Sementara si kembar Shakira sama Shafira berada di jok belakang bersama Riska, mereka juga gak kalah kejer. Bayangkan begitu ramainya di dalam mobil, yang mana membuat aku malah semakin pusing.
" pir cepetan jalannya, yang tahan yah. Tarik nafas dari hidung lalu buang dari mulut, " intruksi mas Irman.
__ADS_1
Aku terus saja melakukan apa yang di intruksikan mas Irman, agar aku tenang dan gak panik.
Tak hentinya aku melantunkan doa dan sholawat agar proses persalinan ku berjalan lancar. Dan entah kenapa jalan menuju rumah sakit serasa lama, udah dari tadi mas Irman berkata agar laju mobil agak di naikin sedikit. Tapi masih saja belum nyampe -nyampe.
Lima belas menit kemudian
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk, mas Irman yang sigap langsung turun dari mobil dan memanggil beberapa perawat untuk membawa kursi roda. Kenapa kursi roda? karena entah kenapa aku pengennya dibawa naik kursi roda.
Aku di bawa ke ruangan bersalin, Mas Irman mendampingiku. Seperti dulu ingin sekali ada yang mendampingi saat sedang melahirkan. Dan kini kesampaian sudah.
Aku mencoba mengumpulkan tenaga untuk menghejan, ku pegang erat tangan mas Irman. Mas Irman tak hentinya menyemangati ku dan melantunkan doa.
Sungguh kelahiran kedua ini begitu sulit, aku merasa tenagaku habis.
" Ayo nyonya, sebentar lagi, kuat nyonya " ucap dokter intan yang menangani ku.
Tapi apa daya aku benar-benar lemas, mungkin karena habis melakukan perjalanan jauh hingga tenagaku terkuras.
Di tenaga kepanikan mas Irman malah berkata yang enggak -enggak malah membuat suasana semakin panik.
" Dokter intan katanya perkiraan seminggu lagi, kenapa sekarang sudah mau lahiran saja. Belum ada persiapan " keluh mas Irman
lalu di jawab oleh perawat lain.
" maaf tuan, itu hanya perkiraan saja. Bisa lebih cepat bisa juga lebih dari perkiraan "
Mas Irman pun berhenti dari berkata-kata yang unfaedah itu. Dan kembali lagi padaku, entah sudah hejanan keberapa bayi kembar ku belum juga ada yang keluar. Hingga lambat laun pendengaran ku mulai gak jelas, dan penglihatanku mulai kabur.
Lalu aku tak ingat apa-apa lagi.
tbc
__ADS_1