Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Maafkan Aku, Suamiku


__ADS_3

Saat ini aku berada di kantor Keanu lebih tepatnya kantor milik ayah mertuaku. Rasanya aku ingin secepatnya bertemu dengan Keanu--suamiku. Suami yang sudah menikahiku satu bulan lalu namun tidak pernah sedikitpun pun menganggapnya suami.


Bahkan kami tidur terpisah selama satu bulan itu juga aku belum pernah dicampuri bahkan sekadar melayaninya pun tidak pernah.


Berulang kali Umma dan Abi mengingatkanku. Terlepas bagaimana cara kami menikah sekalipun terpaksa aku tetap harus patuh padanya. Namun hati tidak bisa mau menerima juga.


Rasanya... aku seperti dipermainkan takdir atau mungkin aku yang tidak bisa menerima takdir.


"Aku mau bertemu suamiku," ucapku pada resepsionis.


Karena ini kali pertama aku ke kantor ayah mertua dan tidak tahu di mana ruangan suamiku, jadinya aku datangi resepsionis dan mengatakan tujuanku.


Mereka tahu aku istri dari atasnya. Hal ini membuat resepsionis itu langsung mengantarku ke lantai sepuluh di mana suamiku berada.


Aku tak hentinya meremas tanganku. Entah kenapa perjalanan menuju ruangan suamiku begitu teramat lama. Seperti berjarak berkilo-kilo meter.


Ting...


Lift berbunyi itu tandanya telah sampai di lantai sepuluh. Resepsionis itu masih menuntunku menuju ruangan suamiku. Di lantai sepuluh ini hanya ada dua ruangan saja, pertama ruangan CEO dan ruangan aula itu yang aku lihat.


Dari kejauhan aku melihat seorang wanita berpakaian mini berdiri di depan meja kerjanya. Mungkin dia sekertaris suamiku begitu yang terlintas di benakku.


"Nyonya," ucap sekertaris itu begitu ramah.


Aku tidak menyangka mereka mengenaliku padahal ini kali pertama aku ke sini.


Setelah sampai resepsionis itu pun pamit undur diri. Sementara saat ini aku sedang berhadapan dengan sekretaris suamiku yang penampilannya sangat minim itu.


"Suamiku ada?" tanyaku dengan memberikan senyum ramahku.


"Ada, Nyonya. Sebentar biar saya antar."


"Tidak usah! Biar aku masuk sendiri," tolakku yang memang tidak ingin merepotkan.


Setelah itu aku pun berdiri di depan pintu ruangan suamiku. Ada perasaan ragu namun aku ingin secepatnya bertemu meskipun aku tahu bisa saja nanti bicaranya setelah suamiku pulang.

__ADS_1


Namun aku sudah tidak sabar ingin secepatnya bertemu dan meminta maaf pada dia--suamiku.


Tanganku sudah terangkat hendak meraih hendel pintu. Tidak bergerak hanya sekadar memegang saja. Lalu dengan mengucapkan bismillah serta memejamkan mata aku pun menggerakkan ke bawah hendel pintu hingga akhirnya pintu itu terbuka.


Bisa kulihat suamiku sedang sibuk di depan komputer, tanpa sedikitpun menyadari kehadiranku. Mataku berkaca-kaca sungguh hati ini terasa teriris melihatnya. Betapa berdosanya aku tak acuhkan suamiku. Padahal dari dulu dia selalu menolongku bahkan di saat satu ginjalku harus diangkat dan digantikan dengan ginjal miliknya. Namun ia tetap berbuat baik padaku.


Sekarang aku ingat akan perkataan suamiku, dia bilang begitu mengenalku sudah lama. Sedangkan aku merasa tidak mengenalnya. Sungguh kenapa aku bisa lupa. Padahal dulu aku dan suamiku sering bermain bersama karena kedua orang tua kami memang berteman.


Dia adalah anak remaja yang menggendongku saat aku terjatuh dan aku tidak bisa berjalan. Dia juga pria yang mendonorkan satu ginjalnya untukku saat aku masih berada di bangku Aliyah.


Rasanya malu... aku seperti orang yang tidak tahu balas budi aku seperti seorang yang tak tahu diri.


Mungkin saatnya aku memulai lembaran baru. Melupakan rasa cintaku untuk Pak Zain dan melimpahkan semua cintaku untuk suamiku--Keanu.


Ini adalah takdir Allah SWT dan aku yakin apa pun yang telah Allah gariskan itulah yang terbaik untukku.


Jika pun nanti keberadaan Pak Zain ditemukan dan ia dalam keadaan hidup maka aku akan memintanya untuk mengikhlaskan apa pun yang telah terjadi. Aku yakin Pak Zain akan memahami hal seperti itu.


Kalau pun ternyata ia sudah meninggal. Aku doakan semoga Allah mengampuni segala dosanya dan semoga meninggal dalam keadaan Husnul khatimah.


Tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari depan komputer suamiku bertanya dan ia menganggap aku mungkin sekretarisnya yang berbaju minim itu.


Aku diam dengan air mata yang sedari tadi mulai luruh. Menangisi kebodohan diriku sendiri.


"Tia ada ...."


Suamiku menggantungkan perkataannya tatkala ia melihat aku berdiri di ruangannya bukan sekertaris yang ia sebut Tia.


Seketika itu suamiku langsung terkejut dan berdiri berjalan ke arahku.


"Ais? Kamu di sini? Ada apa?" tanya suamiku namun aku masih diam membisu.


Saat suamiku semakin mendekat tanpa ragu lagi aku langsung menghambur ke dalam pelukan suamiku.


Aku terisak sejadi-jadinya. Aku yakin ini pasti membuat suamiku bertanya-tanya kenapa dengan diriku ini. Tiba-tiba datang dan menangis di pelukannya.

__ADS_1


"Ais, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Jangan membuat aku khawatir seperti ini," ucap suamiku yang aku yakini tengah khawatir.


"Maafkan aku, Suamiku. Maaf," ucapku dengan begitu tulus bahkan saking tulusnya aku tidak bisa menghentikan tangisanku ini.


Dengan dipaksa suamiku menjauhkan tubuhku dari pelukannya. Lalu menangkup kedua pipiku.


"Maaf untuk apa, hm? Kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun."


Aku menggeleng cepat. "Tidak! Aku salah, aku sudah melakukan kesalahan," raungku di sela tangisanku.


Perlahan tangan suamiku terangkat lalu ia menyeka setiap tetesan air mataku yang luruh. Sungguh bukannya ingin berhenti namun justru serasa ingin menangis sejadi-jadinya.


Kenapa aku begitu bodoh? Tak pedulikan suamiku sendiri yang begitu tulus mencintaiku. Aku sadar ternyata... dicintai jauh lebih membuat aku dihargai daripada mencintai namun Allah SWT tidak meridhoi.


Aku bahagia dicintai suamiku sampai seperti ini tanpa sedikit pun mengurangi rasa cintanya pada sang pencipta. Cintanya padaku begitu pas. Tidak berlebihan tidak pula kurang.


Sungguh takdir Allah SWT begitu sangat indah. Andai Allah SWT tidak menyadarkanku sedini mungkin, tentunya aku akan kehilangan pria sebaik suamiku.


"Maafkan aku, Suamiku."


Lagi-lagi kata maaf itu terucap di bibirku. Aku merasa terlalu banyak dosa yang telah aku perbuat pada suamiku.


"Berhentilah menangis! Hatiku tidak kuat jika melihat kamu seperti ini," ungkap suamiku seraya kembali mengeratkan pelukannya.


Aku menjauhkan tubuhku lalu mendongak. "Maukah kamu memaafkan segala kesalahanku padamu. Kesalahan karena sudah tidak menghargai kamu sebagai suamiku."


"Ini bukan kesalahanmu. Tapi... inilah takdir. Mungkin dengan jalan inilah Allah SWT menyatukan kita. Dan sungguh aku tidak pernah sekali pun menyalahkan kamu atau siapa pun itu. Tidak!"


"Terima kasih. Aku janji mulai sekarang, detik ini juga aku akan menjadi istri yang baik dan aku pastikan kamu tidak akan pernah menyesal memiliki istri sepertiku, meskipun aku istri yang jauh dari kata sempurna jauh dari kata Solehah."


Aku melihatnya. Ya, aku melihat senyum merekah di bibir suamiku. lalu ia kembali menangkup kedua pipiku dan di detik berikutnya ia mendaratkan kecupan lama di keningku.


Rasanya begitu hangat sampai ke hati. Sampai akhirnya aku merasakan sesuatu yang basah jatuh di keningku. Ya, suamiku menangis.


.

__ADS_1


__ADS_2