Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
124


__ADS_3

Aku tertawa saat Uma selesai menyampaikan apa yang ingin beliau sampaikan. Bercanda Uma sungguh lucu aku sampai tidak percaya dengan candaan Uma.


Rombongan Pak Zain masuk jurang? lalu orang yang tadi sedang berpegangan tangan mengucapkan ijab kabul siapa? kalau bukan Pak Zain?


"Uma, bercanda Uma lucu. Tapi kenapa Uma bercandanya serem gitu. kan kata Uma perkataan adalah doa lalu tadi...,"


"Uma serius, Ais. Calon suamimu masuk jurang dan sampai sekarang masih belum tahu nasibnya seperti apa," sela Uma seraya terisak.


Aku diam, aku tahu Uma tidak akan berbohong dan tidak akan bercanda seseram seperti tadi. Lalu pria itu siapa? Orang yang duduk di hadapan Abi seraya mengeluarkan dan saling berjabat tangan?


"Pria itu... pria yang mengucapkan ijab kabul siapa? Jika Pak Zain memang terkena musibah lalu pria itu... siapa yang jadi suami Ais, Uma?" ucapku dengan perasaan yang mulai takut. Takut jika pria yang menikahiku adalah pria yang salah.


Uma tertunduk dengan air mata yang tidak pernah berhenti mengalir. Sepertinya ada keraguan yang muncul di hati Uma untuk mengatakannya.


"Dia... Keanu."


"Apa?!"


Aku syok, rasanya kakiku begitu lemas. Tidak ada tenaga untuk menginjak kaki ke lantai. Aku menutup mulutku aku mulai mencerna baik - baik perkataan Uma.


Keanu? jadi orang yang menikahiku adalah Keanu? Pria yang selalu mencari masalah denganku, pria yang tidak aku harapkan sama sekali. Lalu Pak Zain, apakah benar dia kecelakaan? Ini mimpikan? Ini cuma khayalan sajakan? ini tidak benar! Ini sebuah konspirasi!


"Uma jangan bercanda!"


"Demi Allah, Uma gak bercanda ini kenyataan. Jika calon suamimu kecelakaan dan masuk jurang sedangkan orang yang sekarang menjadi suamimu adalah Keanu."


Ya Allah, astaghfirullah, permainan takdir macam apa ini? Berniat menikah dengan Pak Zain aku justru malah menikah dengan Keanu. Keanu memang baik meskipun sering membuat masalah denganku. Namun aku sama sekali tidak menaruh hati padanya. tidak sama sekali. Lalu sekarang? Allah malah menyatukan aku dengan dirinya. Tanpa di sangka dengan jalan seperti ini.

__ADS_1


"Aku mau menemui Pak Zain, Uma. Aku ingin tahu keadaannya," ucapku dengan air mata yang memenuhi mataku.


Uma menahan langkah kakiku. Uma tidak mengizinkan aku untuk pergi.


"Jangan ke mana -mana. Tetap di sini. Kakakmu sudah ke lokasi kecelakaan. Dia akan memberikan kabar," terang Uma ia berusaha menenangkanku.


"Aku ingin bertemu dengannya. Dia pasti kecewa jika tahu aku malah menikah dengan orang lain bukan dengan dirinya. Kenapa kalian malah menikah kan aku dengan pria lain, Uma. Bagaimana jika Pak Zain masih hidup?"


"Mobilnya meledak."


Astaghfirullah...


Sungguh kali ini aku tidak bisa menahan lagi rasa sedihku. Aku... aku tidak sanggup menerima kenyataan ini. Ini terlalu cepat dan aku belum siap.


Perlahan indera penglihatan ku mulai kabur. bahkan tubuhku saja tidak mampu menahan bobot tubuhku. Lalu di detik berikutnya aku merasa pusing dan perlahan gelap.


Mataku mulai mengerjap secara perlahan karena rasa silau efek dari cahaya lampu. Setelah mataku terbuka dengan sempurna kuedarkan ke setiap sudut ruangan. Ternyata aku ada di dalam kamarku.


Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka, ketika aku melihat ke arah pintu betapa terkejutnya melihat sosok yang aku ingat sebagai suami.


Aku yang tadinya tidur terlentang secepat kilat langsung terduduk hingga membuat aku mengaduh kesakitan. Kepalaku masih pusing.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Keanu dan dia hendak mendekat tapi aku cegah.


"Jangan mendekat! Aku melarang kamu mendekat!" ucapku seraya meletakkan tangan di depan tanda dia jangan mendekat.


Keanu langsung saja terdiam di tempat.

__ADS_1


"Kamu pasti senang kan? Ini yang kamu mau kan? Ah, jangan - jangan kamulah yang menciptakan konspirasi ini, iya, kan? Ayo ngaku!"


Sungguh aku hilang kendali. Kenapa aku malah menyalahkan Keanu, kenapa juga aku harus menuduhnya yang tidak - tidak? Ya Allah, ampuni aku. Aku sebenarnya belum bisa menerima ini semua.


"Kenapa Kamu malah menikahiku? Padahal Pak Zain saja tidak ada yang tahu masih hidup atau tidak. Jika ia masih hidup... dia pasti akan kecewa karena aku malah menikah denganmu," aku berkata tanpa sedikitpun menatap ke arah Keanu. Aku lebih memilih menatap ke sembarang arah.


"Silakan jika kamu mau membenciku. Tapi percayalah aku melakukan ini demi kebaikan bersama," terang Keanu dan aku tidak suka dengan alasannya.


"Kebaikan bersama? Apa kamu tidak salah bicara? Apa kamu gak keliru? Ini hanyalah untuk kebaikan kamu saja," sinisku.


"Aku tidak tega melihat Abi, Uma serta kakak -kakakmu begitu khawatir karena Zain tidak kunjung tiba. para tamu sudah berdesas,-desus karena calon pengantin pria tidak kunjung datang. Di hubungi tidak ada yang aktif seorang pun. Mereka seperti menghilang--,"


"Dan kamu maju menjadi seorang Hero? Kamu menawarkan diri kamu sendiri untuk menikahiku menggantikan calon suamiku yang tidak kunjungn datang, apa begitu?"


Netraku melihat ke arah Keanu. Dia menggeleng cepat. " Bukan! Bukan aku yang memintanya meskipun aku memang ingin menikahi dirimu. Namun, Abi mu sendiri, ia meminta aku untuk menggantikan Zain yang tidak juga datang."


"Kenapa kamu tidak menolak?!"


"Karena aku yakin ini adalah cara Allah menyatukan diriku dengan dirimu. Meski aku tahu mungkin saja pernikahan ini ada di atas penderitaan dan kesedihan seseorang."


Egois! ..


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menerima pernikahan ini? Karena bagaimanapun juga orang itu adalah suamiku. Dia melakukan ijab kabul di hadapan Abi.


Di tengah kemelut itu tiba-tiba aku baru menyadari sesuatu. Seingat ku, aku memakai baju kebaya. Lalu kenapa sekarang aku memakai baju tidur dan kerudung biasa?


Aku langsung mengarahkan tatapanku pada Keanu dan dia paham akan tatapan mataku. "Aku yang sudah mengganti bajumu."

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2