Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Menentukan Pilihan


__ADS_3

Aku termenung di atas sajadah dengan masih memakai mukena. Sungguh, kenapa harus mimpi itu lagi? Jika pun dia orang yang harus aku pilih, kenapa harus seaneh dan seseram itu? Entahlah, hanya Allah SWT saja yang tahu. Yang jelas saat ini aku tahu siapa pria yang harus aku pilih.


Hatiku mantap untuk memilihnya, tak ada keraguan sedikit pun. Pria itu pilihan dari Allah SWT dan aku yakin dia memang jodoh terbaikku yang sudah Allah kirim, untuk melengkapi separuh agamaku, untuk membimbingku sampai ke jannah-Nya serta pria yang akan menemaniku dalam meniti ibadah yang paling lama ini. Pernikahan.


Setelah sarapan aku berniat akan memberi tahu, Abi, Uma dan Aa perihal niatku ini. Aku rasa sudah tidak ada yang harus ditunda lagi. Bukankah menyegerakan hal yang baik itu dianjurkan? Maka dari itu, inilah waktunya untuk aku memilih satu di antara mereka berdua.


***


Aku merasa ragu. Rasanya, bibir ini kelu untuk mengatakan pada mereka. Bahkan saking memikirkan bagaimana aku memulai berbicara pada keluargaku, sarapan pun terasa hambar dan tak berselera.


Sepertinya Uma mulai menyadari tingkah anehku. Beliau; Uma yang peka, beliau selalu bisa membaca keadaan. Bukan hanya padaku saja. Melainkan pada semua anggota keluarga, jika ada yang berusaha menyembunyikan sesuatu, sudah dipastikan Uma akan tahu.


"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa makannya seperti tak berselera? Masakan Uma enggak enak, ya?"


Aku langsung menatap ke arah Uma. Aku enggak mau Uma salah paham.


"Enak, kok, Uma. Kapan, sih, Uma masak gak enak? Masakan Uma selalu enak."


"Lalu kenapa makannya gak berselera gitu?"


Mungkin, ini waktunya aku berbicara. Aku tatap satu persatu orang yang aku sayang. Abi; yang masih sibuk mengunyah ; Aa yang sama sibuk mengunyah dan Uma yang tengah menatapku.


"Ais sudah punya jawaban. Dan Ais ingin mereka menemui Abi, Uma dan Aa. Ais akan memilih satu di antara mereka langsung dihadapan kalian," ucapku dengan tertunduk dan tanpa memberikan sedikit jeda dalam setiap kalimatnya.


Seperdetik kemudian, aku malah mendengar suara batuk Abi dan Aa. Sepertinya mereka tersedak karena terkejut atas penuturanku.


"Kau sudah yakin, Nak?" tanya Uma.

__ADS_1


"Iya, hampir setiap hari aku bermimpi yang sama. Dan selalu saja dia yang hadir di mimpiku."


Entah kenapa aku merasa mereka tidak senang? Apalagi melihat wajah Abi dan Aa murung begitu.


"Nanti malam panggil mereka ke sini," ujar Abi lalu langsung beranjak dan meninggalkan meja makan.


Aku merasa heran terhadap respons Abi. Apa keputusan ku ini salah? Apa aku terlalu terburu-buru? Kenapa Abi seperti tidak bahagia dengan keputusanku?


Sungguh pertanyaan itu menggangu pikiranku, sebab aku sendiri tidak tahu jawabannya.


"Jangan pikirkan respons Abi, ya. Suruhlah mereka kemari. Uma tinggal dulu, Uma mau menemui Abi."


Aku hanya mengangguk kecil.


Sejurus kemudian, aku menatap Aa yang kembali sibuk mengunyah. Tak berbeda dengan Abi, Aa pun sepertinya tidak senang.


Aku mencoba untuk bertanya pada Aa. Siapa tahu aku dapat jawaban darinya.


Seketika itu, Aa langsung mengakhiri sarapannya. Lalu mengajakku berangkat ke kampus sekarang tanpa menjawab pertanyaan dariku.


"Ayo, Dek, kita berangkat. Aa nanti ada operasi. Jarak kampus ke rumah sakit lumayan jauh dan Aa tidak mau telat."


Aku menghela napas berat. Oke, jika memang tidak ada yang mau jujur padaku. Anggap saja mereka setuju tapi karena syok jadinya respons mereka seperti ini.


Aku mengikuti langkah Aa. Seperti biasa Aa memasangkan helm ke kepalaku, lalu memasangkan jaket ke tubuhku. Aku seperti anak kecil yang belum bisa apa-apa saja.


Tapi, aku sangat menikmati perhatian kecil dari Aa. Setelah dipikir kapan lagi bisa seperti ini, jika seandainya tahun ini aku menikah dan semua tanggung jawab beralih pada suamiku. Hal kecil seperti ini tidak mungkin bisa terjadi.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, aku dan Aa sampai. Sebelum Aa pergi aku ingin memastikan sesuatu dulu.


"Apakah Aa enggak senang Ais mengambil keputusan sekarang? Kalau iya, Ais akan batalkan, Ais...."


"Jangan Dek!" Aa menyela perkataanku.


"Kalau jangan, kenapa Abi dan Aa terlihat tak senang? Ais merasa tak enak hati."


Aa tersenyum lalu mengelus kepalaku yang tertutup jilbab hijau tosca. "Aa senang, hanya saja Aa enggak nyangka aja adik Aa yang masih kecil dan imut ini akan berstatus istri orang lain dan...."


Aa menjeda perkataannya.


"Dan apa, A?"


"Akan meninggalkan Aa, Abi dan Uma. Aa belum siap, Dek. Aa belum puas jagain kamu, belum puas candain kamu dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang tidak ingin berakhir secepat ini."


Aku terharu, mataku terasa perih ingin sekali menangis. Namun aku tahan. Aku masih punya rasa malu, menangis di tempat umum bukan ide yang bagus. Aku menyentuh tangan Aa lalu memegangnya dengan sangat erat, erat sekali.


"Ais hanya menikah A. Lagian setelah Ais menikah kita masih bisa seperti ini. Emang ada larangannya, A. Wanita yang sudah menikah enggak boleh akrab, bercanda dan apa pun itu dengan keluarganya? Enggak ada kan, A."


"Memang tidak ada. Hanya saja kamu sudah bukan jadi tanggung jawab kami lagi. Kami enggak ada hak atas kamu lagi."


"Lalu masalahnya di mana, A? Meski aku bukan tanggung jawab kalian lagi, tapi aku masih adik kamu A, masih jadi anak Abi dan Uma."


"Kamu enggak akan mengerti, Dek. Sudahlah, sekarang kamu ke kelas. Masalah dua pria itu biar Aa urus, kebetulan Aa punya nomor mereka."


Tanpa banyak kata Aa langsung melajukan motor si gemoy. Aku tahu Abi dan Aa menyayangiku, dan sekarang aku paham bagaimana perasaan Abi dan Aa. Sikap mereka bukan karena tak senang dengan keputusanku. Hanya saja mereka belum siap jika aku harus dimiliki pria lain selain mereka.

__ADS_1


__ADS_2