Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Skenario Tuhan


__ADS_3

Setelah drama ketabrak orang hingga kaki mungilku memar, tiga hari aku nggak masuk kuliah. Efek insiden itu, aku di hukum Abi. Hukumannya, aku tidak boleh bawa motor selama seminggu.


Oke, aku menyetujui hukuman Abi. Itu hukuman ringan, asalkan jangan sampai nggak boleh bawa motor se la ma nya. Dan dengan terpaksa aku harus mau di antar Aa Rey, perasaanku selalu tidak enak kalau kemana-mana bareng Aa.


Gak enaknya itu, dimana ada Aa pasti banyak wanita yang tersihir oleh pesona Aa. Yang akhirnya aku harus desak-desakan bareng mereka, wanita-wanita bar-bar. Harga diri mereka pada lari kemana? bahkan marwah atau kehormatan mereka pun sepertinya sudah hilang, habis tak tersisa.


Aku hanya diam, saat Aa keluar dari garasi dengan membawa motor sport nya. Aa benar-benar gak peka sama adiknya.


"Kenapa diam? naik!" perintah Aa Rey.


Tapi aku hanya diam, aku menatap nanar, seolah-olah berkata, 'yang benar saja harus naik motor kaya gitu.'


"Mau di antar Aa gak?, kalau gak mau, Aaaq langsung pergi ke rumah sakit." Aa Rey mulai menyalakan motornya, lalu aku memegang tangan Aa.


"Tunggu A!, Aa tega gak mau nganterin adek!".


" Ya udah, ayo naik!"


"Aa lihat deh penampilan Adek?"


Aa Rey, lalu memandangiku dari atas sampai bawah.


"Gak ada yang aneh, biasa saja, ayo!"


"Aa gak peka ih," aku mulai kesal.


"Gak peka gimana sih dek, ini aa udah berbaik hati mau nganter kamu."


"Motor nya ganti, pakai motor adek."


"Gak mau dek! masa aa pakai motor Scoop* pink. Hilang dong pesona aa."


Aku terus saja merengek, agar aa mau mengganti motor sportnya dengan motor Scoop* milikku. Tapi, sepertinya sia-sia, Aa tetep dengan pilihannya. Sampai perdebatan kami terdengar oleh Abi dan Uma.


"Masih pagi udah ribut saja! ada apa sih?" Uma datang bersama Abi dan berjalan menghampiri kami.


"Itu Aa, Adek gak mau pakai motor itu." nunjuk ke arah motor yang di tumpangi Aa. "Maunya pakai motor Adek saja."


"Memangnya kenapa dengan motor aa?" tanya Uma.


"Gak kenapa-kenapa sih uma, cuma gak nyaman saja naik motor punya aa." keluh ku dan berharap uma setuju denganku.


Namun senyumku tiba-tiba jadi redup, kala Abi malah menyuruhku naik mobil bareng Abi. Dan sudah pasti aku menolak keras, dari pada naik mobil lebih baik naik motor bareng aa saja. Aku aneh yah, di saat orang suka naik mobil, tapi tidak dengan ku. Aku punya fobia naik mobil, dulu saat kecil aku terkunci di dalam mobil sendiri.


Udah panas, pengap aku saat itu benar-benar pasrah saja. Hingga dengan terpaksa kaca mobil punya Abi di pecahkan dan aku bisa keluar. Tapi, dampaknya aku jadi fobia naik mobil, rasa takut, gemeteran dan keringat dingin aku rasakan saat tubuhku masuk mobil.


Aneh? tapi itu benar adanya dan aku contohnya. Kalian tahu? keluarga tak ada yang tahu aku fobia naik mobil, terlalu malu untuk bilangnya. Aku berhasil merahasiakan fobia ku ini selama sebelas tahun. Dan aku berusaha untuk mengatasinya sendiri, jadi jangan heran kalau aku begitu sangat ketakutan,kalau aku tak di beri izin mengendarai motor Scoop* kesayangan.


Sambil cemberut aku pun naik motor aa, mula- mula bonceng cewek tapi gak nyaman akhirnya turun kembali lalu bonceng cowok, masih juga gak nyaman dan aku turun kembali.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih dek, turun naik motor, mau kuliah gak?" tanya aa dengan suara yang sedikit jengkel.


"Abi kan udah bilang, ayo naik mobil bareng Abi."


"Gak mau Bi, Adek sama Aa saja." Dengan terpaksa aku naik kembali ke atas motor Aa dengan posisi bonceng cowok.


*********


Sampai di kampus aku tak hentinya menggerutu, kenapa coba? Kalian tahu, Aa malah main kejar-kejaran dengan mobil Paje*o. Mungkin mereka kira, jalanan punya mereka saja.


"Adek gak suka yah Aa kaya tadi lagi." keluhku sesaat setelah aku turun dari motor Aa.


"Kenapa? takut?" ledek Aa.


"Jelas A, Adek takut, apa lagi kelakuan kalian membahayakan pengguna jalan lain."


"Tapi kan enggak? nih buktinya sampai dengan selamat." kilah Aa lalu hendak membuka helm dan aku cegah.


"Stop A, jangan di buka helmnya, bahaya!"


"Siapa juga yang mau buka helm, ini aa mau benerin." ucap Aa dan ternyata memang benar Aa langsung membenarkan helmnya.


"Kirain A, Adek gak mau orang-orang lihat Aa, ribet jadinya. Udah ah, Aa cepat pergi sebelum ada yang liat, dan ini helmnya Adek bawa buat nanti pulang."


"Iya, Aa pergi yah." Aa tiba -tiba mengulurkan tangannya dan aku hanya mengerutkan kening.


"cih" aku hanya berdecak dan salim pada Aa. walau bagaimana Lum, orang yang ada di hadapan ku ini, orang nyebelin ini tetap Aa ku, dan aku harus menghormatinya.


"Nah gitu dong, anak baik." Aa mengelus kepada ku.


Setelah itu, Aa pergi meninggalkan kampus, saat Aa tak nampak lagi aku pun masuk menuju kelasku.


Sebelum benar-benar masuk kelas, aku terdiam, bingung gak tahu aku masuk kelas apa. Karenakan selama tiga hari tidak masuk, di tambah hari libur dan ospek berakhir, jadi tidak tahu pembagian kelasnya.


Aku hanya melangkahkan kakiku ke fakultas Arsitek, berharap bertemu seseorang yang bisa menunjukan letak kelasku. Meski itu hal gak mungkin, berhubung belum ada yang aku kenal selain Reni, kenalan waktu di kantin.


Dan sepertinya keberuntungan sedang memihak padaku, Aku melihat Reni, lalu aku memanggilnya dan berlari ke arahnya.


"Reni, tunggu!" yang di panggil berhenti dan tersenyum ke arahku.


"Ais" Reni melambaikan tangan.


"Kamu kemana, tiga hari gak masuk?" tanya Reni sambil berjalan.


"Aku kena musibah, kaki aku memar ketimpa badan motor."


Reni begitu terkejut."Serius? aku gak tahu, tapi gak apa-apa kan,"


"Alhamdulillah enggak kenapa-kenapa, ini buktinya aku udah masuk dan berjalan normal."

__ADS_1


"Kenapa bisa kaya gitu sih?" tanyanya


"Panjang ceritanya, oh ya aku lupa, kamu tahu aku masuk kelas mana gak?"


Reni berhenti tepat di depan pintu kelas, "ini kelas kita." ucapnya senang.


"Kita sekelas?


" Iya, ayo masuk, kamu duduk dekat aku yah."


Reni menarik tanganku, Aku senang bisa langsung akrab seperti ini, biasanya aku perlu waktu lama untuk bisa seakrab ini. Mungkin karena Reni yang cerewet dan humble hingga aku merasa nyaman.


Baru juga aku duduk, tiba-tiba terdengar suara barito yang menggelegar di kelas. Dan aku seperti mengenali pemiliknya. Namun, sebelum aku melihat pemilik suara itu, aku merasa heran semua seakan terpana, terkhusus para mahasiswi. Termasuk Reni yang sama sekali tak berkedip.


Bahkan aku memanggil namanya pun ia tak merespon.


"Assalamu'alaikum, pagi semua," ucap pemilik suara barito itu.


"Wa'alaikum salam, pagi juga Pak," ucap semuanya termasuk aku. Kemudian aku fokuskan pandangan ku ke depan. Di sana berdiri seorang dosen, yang bertubuh jangkung dan terlihat atletis membelakangi kami.


Dosen itu berbicara sambil membelakangi kami, karena sepertinya ia sedang menulis sesuatu di white board. Tapi aku kenal suara ini, yah ini suara pak dosen yang menyelamatkan aku saat di hukum, serta orang yang sama juga, yang ada di yayasan peduli sesama.


Sepertinya ini memang skenario Tuhan, selalu gagal bertemu tapi sekarang kami di pertemukan dalam satu ruangan yang sama.


Di white board ia menuliskan namanya, dan namanya adalah Muhammad Zain Firmansyah.


Sesaat kemudian pak dosen itu membalikkan badan nya, dan untuk pertama kalinya aku melihat dia, pak dosen. Satu kata buat pak dosen, sempurna.


"Astagfirullah." gumam ku dalam hati.


Aku menggelengkan kepala, mencoba untuk menetralisir pikiran kotor ku.


"Ais, gak boleh kaya gini, ini dosa. Pak dosen itu gak halal untuk kamu pikirkan, fokus Ais.. fokus," batinku mencoba untuk menepis pikiran seperti itu.


Jujur saja semua orang pasti akan merasa kagum ketika melihat kesempurnaan ciptaan Alloh SWT. Termasuk aku, tapi tetap ada batasan kewajaran dalam mengagumi.


.......


.,........................


Assalamu'alaikum, maaf sekarang jarang up.... soalnya author lagi di sibukkan dengan rutinitas kehidupan nyata. Rasanya sulit membagi waktu antara realita sama dunia halu. Tetap setia sama Author yah, dukungan kalian sangat berarti. Jika ingin lebih dekat sama Author silahkan kunjungi akun sosial author


fb. teh Lina


ig :tehlina94


Terima kasih


. 😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2