Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Tamu Tak di Undang (2)


__ADS_3

"Jadi, maksud dan tujuan kalian ke sini untuk melamar anak saya?"


Deg...


"Melamar?"


Tiba-tiba pikiranku teringat akan perkataan Keanu. Hingga aku pun berspekulasi jika orang yang sedang bersama Abi ialah Keanu. Ya Allah, seserius itukah dirinya ingin menikahi ku? Sampai-sampai ia bergerak cepat meminta ku langsung pada Abi. Jika seperti ini, tidak ada alasan lagi untuk aku menolak. Ini membuktikan jika dirinya benar-benar serius dan aku hargai niat baiknya itu.


Aku semakin yakin untuk masuk, dengan mengucapkan bismillah dan melukiskan senyum di bibirku aku langkahkan kakiku.


"Assalamu'alaikum," ucap salam ku.


"Wa'alaikumsalam."


Uma menjawab salam ku. Aku terkejut melihat Uma tengah berdiri dekat pintu masuk. Sedangkan Abi dan Aa tengah berbicara serius dengan dua tamu tak diundang itu. Lalu Abi dan Aa tersenyum padaku saat menyadari kedatangaku. Sejurus kemudian aku salim dan berbisik pada Uma.


"Uma mereka siapa? Kok Aa sama Abi terlihat serius seperti itu?" tanyaku pada Uma.


"Itu urusan pria. Sebaiknya Ais ikut Uma saja ke atas, ya. Jangan di sini."


Aku mengikuti perkataan Uma, meski sebenarnya aku penasaran dengan dua tamu itu yang duduknya membelakangi pintu masuk hingga aku tak bisa melihatnya. Meski aku yakin jika dia Keanu.


Uma menarik tanganku, Uma seperti tak memberiku kesempatan untuk melihat ke arah dua tamu itu. Bahkan saat ingin menoleh pun Uma langsung menegurku.


"Uma ini ada apa? Kenapa Ais merasa ada aura keseriusan, sih," tanyaku saat aku dan Uma sudah ada di dalam kamarku.


"Ayo duduk!" Uma meminta ku duduk di atas ranjang ku.


"Ada apa, sih Uma. Ais kok jadi penasaran seperti ini?"


"Nanti juga kamu akan tahu, tunggu dua tamu itu pulang."


"Kenapa enggak sekarang?"


"Karena ini urusan kaum pria. Kita hanya menunggu kepastiannya saja."


"Uma dari tadi bilang kaya gitu terus."


"Terus Uma harus gimana?"


"Atau Begini saja, sekarang lebih baik Ais mandi, terus salat."


"Ais udah salat."


"Ya udah tinggal mandi biar seger, Oke!"

__ADS_1


"Baiklah."


Aku bergegas ke kamar mandi. Daripada aku harus terjebak rasa penasaran lebih baik aku mandi menghilangkan rasa lelah dan penat.


***


Malam hari di ruang keluarga.


Semua berkumpul, termasuk kakak-kakak ku yang jauh semua Abi hubungi. Kami melakukan video zoom. Enggak biasanya. Tapi, aku lebih baik diam meski rasa penasaran dan sejuta pertanyaan kembali terbesit di benakku


Setelah sambungan video tersambung semua, kami saling menegur sapa. Melepas rindu yang sudah tak bisa terbendung lagi. Bahkan saking kangen Uma menangis. Beliau bilang rindu kumpul bareng apalagi rindu cucu-cucunya. Ada Kak Shafira yang di Bogor, Kak Shakila di Surabaya, Kak Rein di Bandung dan Kak Arsya di Singapore.


Jarak kami memang terpisah jauh. Bahkan ada yang sampai melintas negara lain. Namun, kami selalu serasa dekat sebab hati kami saling mengikat. Dalam hati kami selalu tersimpan rapat dan tak lupa saling menyebutkan dalam doa.


Di tengah keseruan saling bercerita dan bercanda. Tiba-tiba Abi menyentuh tanganku dan menbawaku ke tempat yang jauh dari keributan kakak-kakaku meski lewat virtual.


Aku menatap Abi penuh keheranan. Sejurus kemudian Abi memelukku, memelukku sangat erat, iya, erat sekali.


"Abi... Abi kenapa?" tanyaku masih dalam dekapan Abi.


"Biarkan Abi seperti ini dulu. Abi berasa mimpi anak bungsu Abi sudah sebesar ini. Sudah bukan anak kecil lagi yang suka ngompol di celana," seloroh Abi dan sukses membuat ku malu sebab mengingatkan pada masa kecilku yang memalukan itu.


Aku pun mengurai pelukan


"Lah, emang kenapa? Itukan benar," balas Abi dengan kekehan kecil hingga tampak sedikit kerutan di wajahnya.


"Itu Aib, Bi. Dan please jangan ingatkan Ais lagi. Itu masa lalu."


"Iya, itu masa lalu yang tak bisa terulang kembali. Masa kecilmu yang menggemaskan, lucu dan selalu buat Abi sport jantung karena tingkah kamu yang seperti anak laki-laki. Lincah."


Aku menyenderkan kepalaku di bahu Abi. Seraya melingkarkan tanganku di pinggang Abi.


"Maaf, ya, Bi. Saat kecil Ais pasti menyusahkan Abi dan Uma."


Abi mengelus sayang kepalaku lalu mencium keningku sangat lama.


"Abi dan Uma sama sekali tidak merasa di susahkan. Justru Abi dan Uma saat itu sangat senang, seperti punya mainan baru. Di saat kami selalu merasa kesepian sebab kakak-kakakmu semua Abi dan Uma kirim ke pesantren. Lalu kamu hadir di rahim Uma dan itu membuat angin segar dan obat dikala kehampaan dan kegersangan hati. Sampai-sampai Uma enggak kirim kamu ke pesantren. Uma sendiri yang mendidik kamu, mengajarkan kamu banyak hal sampai akhirnya di usia kamu yang ke delapan belas berhasil menyandang gelar Hafizhah Quran."


Itu benar dan aku sangat bersyukur. Uma dan Abi telah memberikan pendidikan yang luar biasa untukku. Hingga, meskipun aku tidak pernah menginjakkan kaki ke penjara suci atau orang bilang pesantren tapi aku bisa mempunyai ilmu layaknya di pesantren.


"Terima kasih Abi. Kalian orang tua idaman, kelak saat Ais sudah berumah tangga ingin seperti Abi dan Uma," ucapku seraya mendongakkan kepala menatap wajah Abi.


"Abi dan Uma juga masih belajar. Masih jauh dari kata sempurna."


Aku menggeleng. "Tidak, Bi. Menurutku Abi dan Uma sosok orang tua idaman dan teladan yang ada di zaman sekarang."

__ADS_1


Abi terkekeh. "Kau ini."


Abi menjauhkan tubuhku, lalu Abi tampak mengambil sesuatu.


"Nak, coba kamu pelajari dan pertimbangkan ini. Lalu beristikharahlah." Abi menyerahkan dua map dengan warna berbeda.


Aku menatap ke arah map setelah aku mengambil dari tangan Abi. "Ini apa, Bi?"


"Bawalah ke kamar dan silakan kau pertimbangkan. Abi tidak akan memaksa."


"Memangnya ini apa?"


"Buka saja nanti saat di kamar. Sekarang Abi ada keperluan dengan kakak-kakak mu dulu."


"Tapi....'


"Ke kamar lah, Nak."


"Baiklah, Bi."


Aku pun berjalan menuju kamar, saat melewati Aa dan Uma mereka masih tampak asyik mengobrol. Sebelum ke kamar aku pun pamit terlebih dahulu.


"Kakak-kakak ku, Ais izin ke kamar, ya. Jangan lupa nanti kalau tidur mimpiin Ais."


Mereka tertawa.


"Iya adikku yang paling bontot, Kakak pasti akan memimpikanmu," ucap A Arsya yang memang tak berbeda jauh kaya A Rey.


"Kak, jangan mau mimpiin Ais. Enggak ada untungnya," celetuk A Rey


"Uma..." rengekku.


"Sudah, kasian adik kalian jangan digodain terus." bela Uma.


"Tuh denger."


"Ais ke kamar, Nak." titah Abi.


Ah, aku hampir melupakan itu.


"Iya, Ais ke kamar sekarang. Untuk semua selamat malam." Aku melambaikan tangan di depan laptop yang berjajar wajah kakak-kakakku.


Sepanjang jalan menuju kamar aku tak hentinya membolak-balik map itu. Hingga aku pun membuka sedikit map dan aku baca tulisan di sana.


"Cv ta'aruf?"

__ADS_1


__ADS_2