Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

Hampir saja aku terlambat pulang. Meski telah sedetikpun Abi bakalan telepon dan ngomel-ngomel enggak jelas. Setelah sampai di rumah omelan nya akan berlanjut. Kalau sudah seperti itu enggak akan ada yang bisa nolong termasuk umma.


Lalu, Aa Rey yang akan terus ngomporin Abi biar aku dapat hukuman. Kadang aku suka berharap kapan Aa melakukan kesalahan, rasanya aku mau nuntut balik.


"Assalamu'alaikum." Aku masuk seraya mengucapkan salam.


"Walaikumsalam," balas kompak Abi, Uma sama Aa Rey.


Jam segini, keluarga ku memang punya kebiasaan ngumpul sembari menunggu waktu salat Maghrib tiba. Biasanya saat ngumpul seperti itu berbagai macam akan di bahas. Mulai masalah pekerjaan, pendidikan aku dan Aa. Dengan seperti ini maka setiap keluarga akan saling terbuka dan setiap anggota keluarga akan tahu masing-masing jika salah satu anggota keluarga ada masalah.


"Tuh, Bi, lihat anak gadis baru pulang," ucap Aa Rey.


Benar 'kan dugaan ku. Aa selalu saja seperti itu. Tukang ngomporin.


Sampai di depan mereka aku salimin satu-satu, kecuali Aa sengaja aku lewat. Aku langsung duduk aja di samping umma.


"Aa mulai, deh. Lagian Ais udah izin sama Umma sama Abi juga, wew."


Umma sama Abi hanya tersenyum dan menggelengkan kepala tiap kali aku dan Aa saling beradu mulut. Bagi mereka melihat dan mendengar kami seperti ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Umma maupun Abi.


"Sudah-sudah, kok, jadi berantem gitu," lerai Umma.


"Biarkan saja, Umma. Kalau mereka enggak kaya gitu rumah sepi."


"Lha, kok, Abi ngomong kaya gitu. Suka banget lihat anak-anaknya berantem. Mereka bukan anak kecil lagi, Bi."


"Nah, masalahnya itu. Karena enggak ada anak kecil, jadi biarkan mereka seperti itu biar rame ini rumah," seloroh Abi dengan gelak tawa.


Mendengar perkataan Abi yang terakhir membuat aku dan Aa menghentikan beradu mulut, lalu langsung menatap ke arah Abi yang tengah tertawa itu.


"Jadi, maksudnya Abi kami anak kecil?" tanyaku berbarengan dengan Aa Rey.


Seketika Abi menghentikan tawanya, dan berbalik menatap ke arah ku dan Aa.


"Umma, enggak ikut-ikut."


"Eh, Ais. Sebaiknya kamu segera mandi dan berganti pakaian, sepertinya beberapa menit lagi akan azan magrib," alibi Abi menghindar dari tatapan aku dan juga Aa.


Nah, gitu deh Abi, bercandanya sebelas dua belas sama kaya Aa Rey. Masa iya, aku di samain anak kecil. Ah, Abi, orang aku mau dua puluh tahun gini. Aku enggak terima aja kalau di samain seperti anak kecil, dong. Aa tiba-tiba memberikan kode, dan aku paham akan kode Aa. Akhirnya aku beranjak dan berpura-pura hendak ke kamar, ketika berada di belakang Abi Aku langsung memberi kode pada Aa yang duduk saling berhadapan dengan Abi.

__ADS_1


Lalu aku serta aa langsung menyerbu Abi dengan gelitikan maut.


Di sini kelemahan Abi, enggak kuat geli. Abi mengadu meminta ampun agar berhenti menggelitikinya. Sementara Umma hanya diam dan menertawakan keusilan aku dengan Aa serta menertawakan Abi yang terus berteriak minta ampun.


Kasian juga, sih. Akhirnya acara menggelitik Abi pun berakhir dengan Abi yang kalah tentunya.


"Abi, kalau Rey panggil Abi aki-aki mau enggak?" tanya Aa Rey pada Abi yang saat ini tengah terlihat ngos-ngosan.


Aku sama Aa jahat banget, ya. Abi sendiri dikerjain kaya gitu, maaf Abi.


"Emang Abi terlihat seperti Aki-aki? Enak aja orang Abi masih muda gini," protes Abi sebab enggak mau dibilang aki-aki.


"Tuh, Abi juga enggak mau 'kan? Rey juga enggak mau di samain kaya anak kecil. Kalau Ais, sih, enggak apa-apa dia 'kan masih bocah," celetuk Aa Rey dan aku enggak terima.


"Aa, ih, enak saja. Ais udah mau 20 tahun, ya."


"Sekali bocah tetap bocah."


"Aku udah dewasa, A."


"Bocah."


"Nah, anak kecil kaya gini, nih. Persis kaya kalian," ucap Umma seraya nunjuk-nunjuk ke arah ku dan Aa. Terus kalau umma udah angkat bicara kelar semua, enggak ada yang berani berkutik lagi.


"Aki-aki juga kaya gini, nih. Di gelitikin seperti itu saja udah ngos-ngosan gitu, staminanya berkurang," ucap kembali Umma seraya nunjuk-nunjuk ke arah Abi.


Tawa Abi seketika hilang, setelah terkena skak dari Umma. Aku dan Aa berusaha untuk menahan tawa dengan menutup mulut dengan telapak tangan.


***


Drama tadi sore berakhir setelah terdengar kumandang azan. Semua yang berkumpul di ruang keluar bubar jalan dan berganti siap-siap untuk mengerjakan salat Maghrib berjamaah.


Saat ini setelah acara makan malam, seperti biasa kami kumpul kembali sampai jam sembilan. Pada waktu ini biasanya kami akan duduk secara terpisah. Kaum pria dengan kaum pria dan kaum wanita dengan wanita.


Seperti sekarang aku tengah rebahan di pangkuan Umma. Menjadikan paha Umma sebagai bantalan kepalaku. Posisi ini merupakan posisi ternyaman bagiku, tak jarang aku bisa sampai tertidur di pangkuan Umma.


Entah ada angin dari mana, tiba-tiba saja aku ingin banget curhat masalah yang terjadi di kampung. Mumpung Abi sama Aa duduknya agak jauhan dan enggak akan mendengar curhatan aku.


"Umma," panggil ku pada Umma yang saat ini tengah membaca majalah muslimah.

__ADS_1


"Hem," jawab singkat Umma.


"Boleh curhat, Enggak?"


Mendengar kata curhat Umma langsung melepas kacamata bacanya lalu meletakkan di atas meja bersama dengan majalah yang Umma baca.


"Kelihatanya serius? Apa, sok bilang ke Umma."


Tanpa mengubah posisi, aku memulai untuk menceritakan apa yang terjadi di kampus.


"Umma, menurut Umma apa yang akan Umma lakukan, jika seandainya ada yang ngajak Umma nikah?" tanyaku pada Umma.


"Umma akan langsung menerimanya, itu tandanya pria itu sungguh-sungguh," tutur Umma seraya mengelus kepalaku.


"Tapi, kalau orang yang ngajak kita nikah, enggak kita kenal atau istilahnya baru kenal hari itu apa kita juga harus menerimanya?"


"Tergantung."


"Maksudnya apa? Tergantung gimana, Umma?" tanya Ais semakin penasaran.


"Kita lihat dulu bagaimana pria itu. Bukan dilihat dari segi kekayaan ataupun Kerupawanan, tapi lihat dari segi agama dan ketulusannya. Jika memang baik, tidak ada alasan untuk menolak niat baiknya."


"Tapi 'kan Umma ketemu juga baru hari ini, masa iya langsung ajak nikah. Bagaimana jika salah pilih."


"Makanya ada istilah ta'aruf," jelas Umma


"Tunggu, deh, ini Ais lagi ceritain kisah siapa? atau hanya sekadar bertanya saja?" lanjut Umma yang sepertinya mulai curiga dengan pertanyaan ku.


Aku pun menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya, ingin mengumpulkan tenaga untuk menceritakan semua pada Umma.


"Ada yang ngajak Ais menikah, tapi Ais enggak kenal dia umma," keluh ku jujur pada Umma.


"Wah, Umma enggak nyangka, lho, hihihi," Umma malah terkekeh.


"Ih, Umma lagi mode serius, nih."


Umma menuntunku untuk bangun, lalu aku dan umma saling berhadapan. Tangan Umma menangkup kedua pipiku.


"Jika dia serius pasti akan datang ke rumah dan meminta izin menikahi mu, jika itu hanya candaan dia tidak akan pernah meminta izin, maka biarkanlah."

__ADS_1


"Semoga itu hanya candaan pria tak beradab itu, semoga kata-katanya hanya mengandung candaan bukan keseriusan."


Dan semoga saja seperti itu....


__ADS_2