
Keanu Adibrata, itulah nama yang tertulis di salah satu buku miliknya. Ia seorang mahasiswa akhir Fakultas Bisnis.
pria itu pergi begitu saja, ia terlihat angkuh dan aku tidak suka. Beda halnya dengan Reni meski pria yang bernama Keanu itu sudah pergi, tapi matanya enggan berpaling hingga sosok pria itu menghilang.
Aku yang melihat tingkah Reni hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu aku menepuk pundaknya agar dia segera tersadar dari lamunannya.
"Hai." Menepuk pundak Reni.
"Eh kodok loncat," latah Reni seraya tangannya tak henti mengelus dadanya saking terkejut.
Wajarlah jika Reni begitu terkejut, Reni terlalu terbawa suasana terlalu asyik menikmati pemandangan di depan matanya.
"Ais, kau ini apa-apa, sih! Aku kaget, untung aku enggak jantungan kalau punya? Tamat riwayatku," seloroh Reni dan dapat tawaan dariku.
"Hihihi, maaf. Habisnya kamu bengong terus, matamu enggak berkedip-kedip."
"Ais, bagaimana aku enggak berkedip kalau lihat cowok setampan itu. Ah, rasanya ingin terus memandanginya. Ada juga di kampus ini yang ketampanannya sebelas dua belas sama Abang Ze."
"Hah! Abang Ze? Siapa?" tanyaku pada Reni saat ia menyebut nama itu.
"Ah, a-nu maksudku ketampanannya ngalahin Pak Dosen Ze."
Aku mengerutkan kening merasa tidak asing dengan Dosen itu. Maklum aku belum terlalu kenal pada semua Dosen di sini. Kecuali dosen itu, Astagfirullah.
"Mataku selalu jeli Ais tiap lihat pria tampan," lanjut Reni.
Gubrak!!
Rasanya ingin pingsan mendengar perkataan Reni. Sepertinya otaknya memang sudah di penuhi pria-pria rupawan.
"Sudahlah, ayo ke kelas sebentar lagi masuk lho," usul ku seraya membereskan buku-buku milik pria yang bernama Keanu itu.
"Ya ampun! Aku hampir lupa. Ya udah ayo."
Aku dan Reni pun ke kelas, tak lupa meninggalkan selembar uang warna biru untuk membayar makanan.
***
Jam pelajaran sudah di mulai, aku melihat Pak Dosen Zain tengah menerangkan bagaimana cara kita mengakumulasi harga produksi setiap bangunan.
Aku selalu senang lihatnya. Rasanya itu adem dan tentram. Mirip banget Abi, terlihat berwibawa. Ya Allah kenapa lagi coba? kenapa aku terus saja berpikiran seperti ini. Ini enggak boleh ini dosa dan sudah masuk dalam zina.
Reni yang melihatku terus saja menggelengkan kepala, mencolek tanganku. Dengan berbisik Reni bertanya padaku.
"Hai, kenapa?" tanya Reni dengan berbisik.
"Eh, apa?" tanya balik ku
"Kok balik tanya. Kamu yang kenapa?"
__ADS_1
"Aku enggak kenapa-kenapa."
"Kamu pasti lagi mikirin Pak Dosen Ze, ya?"
"Pak Dosen Ze siapa? Perasaan dari kantin kamu bahas Pak Dosen Ze terus. Aku aja enggak tahu orangnya."
"Apa?"
Seluruh orang dalam kelas melihat ke arahku dan Reni. Suara Reni yang keras membuat mereka merasa terganggu. Termasuk Pak Dosen Zain yang langsung menghampiri kami.
"Kalian kalau enggak mau ikut kelas saya, atau kalau kalian enggak mau perhatiin saya. Silakan keluar! Pintu ada di sebelah sana!" Menunjuk ke arah Pintu.
"Maaf, Pak. Kami masih ingin mengikuti kelas Bapak," ucapku seraya menunduk.
Sementara Reni ia sama sekali tidak merasa takut. Ia terlihat tidak acuh sehingga Pak Dosen Zain menggelengkan kepala dan pergi.
"Ren, kenapa kamu enggak sopan?"
"Biarin Ais. Kita 'kan enggak ngelakuin kesalahan besar."
"Tapi...."
"Sudahlah lupakan. Yang perlu kamu tahu Dosen Ze itu Pak Zain."
"Sok tahu!"
"Serius Ais."
Lalu aku kembali fokus, meski rasa kagum kembali hadir.
Jadi, Dosen Ze yang sering aku dengar itu, dia?
batinku.
***
Tidak terasa sudah waktu istirahat saja. Beruntung aku sudah selesai menyusun mentahan skripsi yang hampir selesai itu.
Sesuai instruksi pria itu, aku ditemani Reni menunggunya di kantin. Sudah hampir lima belas menit menunggu pria itu enggak muncul belum juga keliatan batang hidungnya. Udah mulai kesal, aku terus saja melihat ke arah jam tangan yang terpasang di tangan kiri.
Waktu istirahat mana sebentar lagi akan usai. Bahkan perutku pun belum terisi apa pun. Aku kira pria itu akan datang tepat waktu, nyatanya waktu ku terbuang percuma.
"Ren, mau pesan makan atau minum gitu," tanyaku pada Reni yang saat ini matanya entah mengarah ke mana.
"Boleh, samain, ya," jawabnya tanpa sedikit pun menatap ku.
"Kamu lagi nyari siapa, sih. perasaan dari tadi matanya enggak mau diam."
"Pria tadi lah, Ais. Siapa lagi coba."
__ADS_1
"Ya Allah, ngapain di tungguin? Dia 'kan yang butuh. Kalau datang yang syukur enggak juga enggak apa-apa bukan kita ini yang rugi."
Reni lalu menoleh ke arah Ku, dengan menghela napas kecil.
"Aku yang rugi Ais. Jika pria itu enggak datang maka aku rugi, rugi enggak bisa lihat wajah tampannya," seloroh Reni seraya matanya menerawang dan aku yakin ia sedang mengkhayalkannya.
"Hust... kamu ini, apa yang kamu lakukan itu termasuk zina lho."
"Zina?" Reni mengerutkan keningnya.
"Iya Zina. Zina hati namanya."
"Hahah, ngawur kamu Ais. Mana ada." Reni menertawai ku.
"Ada lah. Dengerin Aku, yah. Zina itu banyak ragamnya. Ya, jika pria dan wanita melakukan hubungan sebelum nikah itu sudah jelas dosa besar. Tapi, bukan hanya itu saja. Tangat kita bisa saja berzina jika memegang sesuatu yang dilarang contoh bergandengan tangan antara pria dan wanita yang bukan mahram atau menyentuh sesuatu yang harusnya di sentuh oleh orang yang sah."
"Itu aku tahu."
"Bagus. Telinga bisa juga berzina apabila di dengarkan pada hal-hal yang seharusnya enggak boleh kita dengar. Bibir berzina dengan saling menempel, mata berzina melihat hal-hal kotor yang tidak layak di lihat."
Sejenak aku menghentikan cerita, sebab kerongkongan terasa begitu haus dan aku lupa tidak memesan sesuatu. Akhirnya aku pesan dulu minum dan sedikit camilan.
"Contohnya apa, Ais," tanya Reni yang sepertinya mulai penasaran.
"Bentar! Tunggu dulu minuman, haus."
Tak lama minuman pun datang, dengan mengucapkan bismillah aku meminum teh manis dingin itu.
"Kau mau tahu, Ren? Baiklah akan aku lanjutkan. Contoh zina mata itu nonton film dewasa. Memang terlihat geli, tapi begitu lah adanya. Lalu yang terakhir zina hati, contoh seperti kamu sekarang. Hati jadi senang, bahagia dan sebutan apa pun itu kala kita mengingat lawan jenis yang bukan mahram kita atau bukan orang yang sudah halal buat kita."
"Masa iya, sih," ucap Reni setengah tak percaya.
"Nanti aku kasih bukunya, biar kamu percaya. Intinya itu kita harus punya batasan-batasan, boleh berbaur dengan lawan jenis, asal kita tahu aturan, tahu batas-batasnya."
Saat aku sedang asik-asik menjelaskan, Reni malah menopang dagunya dan berkata yang membuat aku menghela napas.
"Serasa lagi di ceramahin Bu Ustazah," celetuk Reni.
"Reni... Reni."
***
Pria itu enggak datang, Reni kecewa tapi aku malah semakin enggak suka. Enggak suka terhadap orang yang beringkar janji. Padahal dirinya sendiri yang menyuruh aku datang kembali ke kantin dengan susunan skripsi sudah tersusun rapi. Tapi, dirinya sendiri enggak datang, apa lagi tadi menyuruhnya dengan suara membentak.
Baru beberapa langkah, suara seseorang terpaksa membuat aku menghentikan langkahku dan juga Reni. Reni langsung menoleh disusul aku.
Pria yang aku ketahui bernama Keanu kini berdiri tepat di depan aku juga Reni. Dengan ekspresi datar dan penuh keangkuhan.
Tanpa banyak bicara, aku langsung menyerahkan milik pria itu. Anehnya, pria itu diam sama sekali tidak mengambil buku serta skripsinya yang aku serahkan.
__ADS_1
"Temani aku malam ini!"
"Apa?!"