
Aku kembali mendongak saat tetesan air mata suamiku semakin deras menimpa keningku. Aku menatap lekat manik mata suamiku yang sudah penuh dengan air mata.
Perlahan aku mulai mengarahkan tanganku untuk menyeka air matanya. Sama seperti tadi saat ia menyeka air mataku.
"Kenapa menangis, Suamiku?" ucapku lirih seraya tidak hentinya mengusap kedua pipi suamiku secara bergantian.
"Apakah aku sedang tidak bermimpi?"
Mendengar pertanyaan itu aku pun mencubit pipi suamiku dan ia langsung mengaduh kesakitan.
"Bagaimana? Sakit tidak?"
"Iya, ternyata ini bukan mimpi. Ini nyata dan aku begitu bahagia."
Bukan hanya kamu, Suamiku. Aku pun teramat bahagia. Aku bahkan tidak menyangka akan menjadi istrimu bermimpi pun tidak pernah sama sekali.
Aku juga sadar sekuat apa pun keinginan kita jika Allah tidak keridhai maka semua tidak akan pernah terjadi.
Cinta? Ia akan mengalir dan tumbuh dengan seiringnya waktu. Dan aku yakin tidak ada alasan untuk aku tidak mencintainya. Mungkin sekarang belum tapi aku yakin aku pasti akan jatuh cinta padanya--suamiku.
"Apakah kau serius mau menerima Pernikahan ini?" tanya suamiku.
"Apakah wajahku terlihat seperti seorang pembohong?"
Kini aku balik bertanya pada suamiku. Dengan cepat suamiku menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak. Aku... hanya tidak percaya. Dan aku sangat bahagia, akhirnya Allah mengabulkan doaku. Inilah yang aku tunggu dari dulu, kamu mau menerimaku atas kesadaran kamu sendiri. Bukan karena sebuah keterpaksaan."
"Maaf ... aku telat menyadarinya," sesalku. Lalu aku beranikan diri menggenggam tangan suamiku.
"Mari kita mulai dari awal, memulai hidup baru. Kita berbenah hubungan kita. Kamu mau kan suamiku?"
"Tidak ada alasan untuk aku menolak. Tentunya aku akan menyambut keinginanmu dengan tangan terbuka. Karena kamu adalah hidupku, tujuanku dan sumber kebahagiaanku. Mungkin dulu aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan jika aku mencintaimu. Terlalu pengecut memang. Namun aku selalu yakin jika kamu adalah jodohku. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Allah SWT berkehendak kita bersama."
Sungguh aku tidak bisa berkata-kata lagi. Selain ucap syukur karena dicintai pria setulus suamiku. Sejurus kemudian suamiku tiba-tiba membawa tubuhku kembali pada pelukannya. Memelukku dengan begitu erat seolah-olah pelukan itu mengisyaratkan jika dirinya tidak akan pernah melepaskan barang sedikit pun.
"Apa kamu tahu istriku. Ada sesuatu hal yang ingin aku ungkapkan kepadamu."Masih dalam posisi berpelukan aku pun menimpali perkataannya seraya menengadahkan wajahku hingga saling bersitatap.
"Ini adalah rahasia yang tidak ada seorang pun yang tahu kecuali aku, Allah dan Malaikat pencatat amal," ucap suamiku lagi
Nada bicara suamiku berubah serius dan ini sukses membuat aku merasa penasaran. Rahasia apa sebenarnya yang suamiku sembunyikan?
"Apa itu? Kenapa aku merasa hidupmu penuh dengan misteri? Apakah kau memang begitu suka dengan teka-teki?"
Dia terkekeh. Dan aku menyadari satu hal lagi. Dia teramat menawan saat ia tersenyum seperti itu.
"Aku seperti ini demi kamu."
__ADS_1
"Hah? Demi aku?" tanyaku keheranan.
"Iya. Ini semua demi kamu, demi menjaga hatiku juga agar hanya ada kamu saja di hatiku."
Sungguh mendengar kata-kata manis itu membuat pipiku seketika terasa panas. Aku bersemu malu. Dan kini aku pun menenggelamkan wajahku di dada bidang suamiku. Aku malu.
Di detik berikutnya suamiku memegang kedua pundak ku dan menjauh pelukannya hingga terurai.
"Kamu mau tahu tidak, apa rahasia yang aku maksud?"
Aku mengangguk pelan. "Tentu saja aku ingin tahu, Suamiku."
"Semenjak aku lulus dari Madrasah Aliyah dan tidak lagi satu yayasan denganmu diam-diam aku selalu mengikutimu. Kau tahu sejak dulu aku sudah cinta mati sama kamu. Hanya aku tidak memiliki keberanian untuk mendekatimu. Hingga kejadian itu di saat tak sengaja kita saling bertabrakan. Namun yang sebenarnya terjadi aku memang sengaja menabrakkan tubuhku supaya kita saling bertabrakan. Dan itu memberi aku jalan agar bisa bersama kamu dan mengutarakan semua yang memang aku inginkan. Menikahimu."
"Apa? jadi kamu sengaja? Wah, wah, aku gak salah dengarkan? Bahkan sejak dulu kamu memang sudah mencintaiku? Sejak kapan?"
"Sejak aku menggendong seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang menangis karena terjatuh. Sejak saat itu aku sudah menyukaimu."
"Hah? Benarkah?"
"Tentu saja benar. Ayo! Aku akan ceritakan."
Lalu suamiku menuntun aku untuk duduk di sofa. Kami baru sadar jika sedari tadi kami terus berdiri. Dengan penuh antusias suamiku menceritakan kenang di masa lalu.
Kenangan yang sampai saat ini masih membekas di hati dan ingatannya. Sementara aku? Melupakan bahkan merasa tidak pernah mengalaminya.
Mungkin karena dirinya yang tidak tahu bagaimana harus berinteraksi, membuat dirinya menjadi pribadi yang dingin dan menyebalkan.
Rasanya itu lega. Kini dengan kesadaran sendiri aku menerima pernikahan ini. Aku akan memulai kehidupan baru dan tentunya akan menjalankan semua kewajiban ku yang selama ini tidak pernah aku berikan padanya.
Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan pria sebaiknya. Jika mungkin aku akan mengikatnya dengan kuat agar tidak mudah terlepas. Apalagi terombang-ambing seperti perahu atau layangan yang diterpa angin.
Dia pria yang awalnya tidak aku suka karena kearogannya, kini malah menjadi suamiku. Jika boleh jujur pernikahan ini memang seperti sebuah pernikahan pengganti. Karena pria yang akan menikahiku mengalami kecelakaan yang mana sampai detik ini belum diketahui nasibnya.
Namun, dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Saat ada seorang yang secara sukarela mendonorkan satu ginjalnya untuk menyambung hidupku. Detik itu aku bertekad. Jika ia wanita maka aku akan menjadikannya saudaraku. Namun jika dia seorang pria lajang aku akan menjadikannya suamiku dan jika ia pria beristri maka aku akan menjadikan dia kakak laki-lakiku.
Terdengar konyol memang. Namun itulah janjiku, janji seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah. Dan aku tidak menyangka dari sebuah janji itu justru mengantarkan aku kepada dia--suamiku.
"Kita rayakan kebersamaan ini. Bagaimana?"
"Mau, mau." Dengan cepat aku mengangguk.
"Aku sudah susun rencana ini jauh-jauh hari. Dan aku harap kamu menyukainya."
Suamiku malah bersikap so misterius. Membuat aku kembali merasa penasaran.
__ADS_1
"Apa, sih? Kenapa kamu jadi so misterius gini?" tanya ku seraya terkekeh.
"Aku kan sudah pernah bilang. Kamu itu hidupku, tujuanku dan sumber kebahagiaanku. Oleh karena itu aku sudah menyiapkan segala sesuatu untuk membuat kamu senang. Meskipun waktu seperti ini tidak akan ada, waktu di mana kamu secara sadar menerimaku. Aku akan tetap mewujudkannya."
"Suamiku...,"
"Istriku...,"
Kami hanya bisa saling berpegangan tangan seraya terus memanggil kata suamiku dan istriku. Jangan lupakan kedua mataku dan suamiku sama-sama mengembun. Sekali saja berkedip cairan bening itu akan luruh.
"Aku mau merayakan kebahagiaan ini di Maldiv. Sekaligus kita melakukan honeymoon."
"Apa?! Honeymoon?" Aku terkejut mendengar satu kata itu. Sungguh terdengar menggelikan.
"Iya. Mau kan? Rasanya aku ingin segera memilikimu seutuhnya. Aku takut kamu pergi lagi."
"Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap di sini bersamamu."
"Jadi... bagaimana dengan tawaran tadi."
"Tawaran apa?"
"Kita honeymoon."
Aku berpikir sejenak. Mencoba untuk memilih antara bilang ya atau tidak. Belum juga aku memilih suamiku kepalang mengambil keputusan secara sepihak.
" Deal! Diamnya kamu menandakan jika kamu setuju. Sekarang aku akan hubungi Tia untuk mengatur keberangkatan kita."
Hah? Apa-apaan suamiku ini. kenapa dia mengambil keputusan secara sepihak?
"Ih, aku belum ambil keputusan."
"Sudah terlambat karena Tia sudah menyiapkan semuanya."
Sumpah demi apa? Benarkah lelaki di hadapanku ini suamiku? Kini dia sudah benar-benar menjelma menjadi lelaki yang berbeda. Namun aku menyukainya.
Aku hanya bisa melongo pasrah. Hingga di detik berikutnya. Suamiku membuyarkan rasa tanya-tanyaku.
"Jangan banyak pikir. Sekarang lebih baik kita makan siang. Aku sudah sangat lapar."
Kembali tanganku ditarik. Lalu digenggam nya dengan sangat erat. Meskipun kesal karena memutuskan secara sepihak namun ini sukses membuat aku bahagia.
Aku dan suamiku pun berjalan beriringan dengan tak hentinya melukiskan senyum hingga membuat siapapun yang melihatnya akan mendapatkan gelombang kebahagiaan.
Ini seperti mimpi, aku harap kebahagiaan ini tidak akan cepat berakhir. Semoga aku dan suamiku bisa melalui kehidupan ini bersama-sama. Dan Allah senantiasa melimpahkan kebahagiaan pada keluarga kecilku ini.
__ADS_1
Mataku, aku arahkan ke tangan yang sedari tadi digenggam olehnya. Melihat dan merasakan digenggam dengan erat membuat aku tersenyum bahagia. Semoga genggaman tangannya tidak akan pernah melonggar dan semoga genggaman tangannya ini bisa menuntunku menuju surga-Nya. Aamiin.
Selesai....