
Aku langsung menyilangkan kedua tanganku di atas dada. Sungguh aku belum siap, belum siap untuk melangkah lebih jauh lagi.
Seakan-akan mengerti akan kegelisahanku, Keanu berkata dan menjelaskan jika dirinya hanya sekadar mengganti bajuku. Tidak sedikit pun dirinya melihat apa lagi memegang.
"Kau jangan khawatir. Aku menutup mataku saat sedang mengganti bajumu dan lagi aku sama sekali tidak bertindak kurang ajar. Tidak menyentuh apa pun. Sungguh."
Ucapan Keanu begitu serius. Ia sepertinya takut jika aku berpikiran negatif padanya. Meskipun aku tahu Keanu memiliki hak untuk melihat, menyentuh bahkan lebih daripada itu pun tidak masalah. Hanya satu masalahnya aku belum siap. Aku belum bisa menerima pernikahan ini.
Hatiku masih tertuju pada Pak Zain. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Dan... aku tidak tahu kenapa ini harus terjadi. Ini terlalu cepat dan ini bagaikan mimpi buruk saja.
"Apa aku bisa pegang perkataanmu?" tanyaku.
"Tentu."
Apa aku berdosa karena telah berkata seperti ini pada suamiku sendiri? Meskipun dia bukanlah suami yang aku harapkan. Tetap saja statusnya adalah sebagai suamiku.
Ya Allah, aku gamang, dilema dan resah. Aku takut jika aku menerima pernikahan ini justru Pak Zain baik-baik saja. Lalu pernikahan ku dengan dirinya bagaimana? Namun... meskipun keadaan Pak Zain baik-baik saja suatu ketidakmungkinan diriku bisa bersama Pak Zain.
Apakah ini maksud dari mimpiku? Mimpi yang sering hadir saat aku sedang melakukan istikharah? Apakah ini jawabannya? Ya Allah, kenapa harus seperti ini.
Rasanya begitu sakit kehilangan orang yang dicintai. Jika boleh jujur aku memang sudah memiliki perasaan suka pada Pak Zain. Sejak... dia membelaku di hari pertama masuk kampus.
Lalu... tahu dirinya ingin mempersunting diriku tentu saja aku menyambut niat baiknya. Tak disangka ternyata ada juga sesosok pria yang baru aku kenal dengan beraninya dan yakin memiliki niat yang sama. Tentu saja aku tidak ingin salah pilih meskipun hati condong pada Pak Zain, tetap aku harus beristikhoroh.
__ADS_1
Dering handphone milikku menyadarkan aku dari pikiran - pikiran yang terasa semeraut di kepala. Aku segera mengangkat telepon itu yang tak lain dari A Rey.
Sebelum mengangkat telepon dari As, aku mencoba untuk menguatkan hati mungkin saja ia ingin menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan Pak Zain.
"Assalamualaikum, A," sapaku dari balik telepon.
"Wa'alaikum salam. Dek, kamu baik-baik saja kan?"
Aku tahu A Rey begitu khawatir terhadap keadaanku. Dan tentunya keadaanku sedang tidak baik - baik saja.
"Aku mencoba untuk menerima takdirku ini. Meski belum sepenuhnya menerima, tetap kesedihanku tidak akan membuat semua kembali pada semula. Aku...." Aku tidak melanjutkan perkataan ku, aku terlalu tidak sanggup dan aku terlalu lemah untuk menerima ini semua.
Aku terisak, meluapkan segala kesedihan yang aku rasa. Aku merasa ada tangan yang menyentuh bahuku, lalu secara tiba-tiba aku membalikkan tubuhku hingga secara tidak sadar aku melingkarkan sebelah tanganku.
"Ais, kamu masih ingatkan apa yang pernah Ada bilang?" Aa menjeda perkataannya mungkin ia sedang memberikan aku kesempatan untuk menjawab.
Disela isakkan aku mencoba untuk menjawab pernyataan yang dilontarkannya itu. Keningku sedikit mengerut mencoba untuk mengingat sesuatu yang pernah Aa katakan padaku.
"Ais ingat, A," jawabku saat aku teringat kembali akan perkataan A Rey sehari sebelum aku memutuskan untuk memilih salah satu dari pria yang ingin melamarku.
"Ais harus terima, siapa pun yang akan jadi pendamping hidup. Aa tahu pastinya hatimu lebih condong pada Zain. Namun jika memang Zain bukan jodohmu janganlah berkecil hati. Ini yang terbaik untuk semuanya. Mungkin saja jodohmu memang Keanu. Hanya saja Allah SWT punya caranya sendiri untuk mempersatukan kamu dan Keanu."
Aku semakin tidak berdaya, aku tidak bisa untuk tidak menangis. Kalau pun iya... kenapa harus dengan cara seperti ini? Astaghfirullah... sungguh aku tidak tahu hal tersirat apa dari kejadian ini..
__ADS_1
Aku berusaha untuk tidak menangis lagi, lalu sebuah tangan kokoh tiba-tiba saja mendarat di pipiku menyeka dengan penuh kelembutan. Aku mendongak aku baru menyadari jika saat ini aku sedang berada di dalam rengkuhan pria yang kusebut suami.
Menyadari hal itu akun berniat untuk menjauhkan tubuhku. Namun dia malah menarikku kembali ke dalam rengkuhan tubuhnya.
Kenapa rasanya senyaman ini? Aku seperti sedang dipeluk Abi dan seperti sedang dipeluk A Rey juga.
Namun sekuatnya aku mendorong tubuh Keanu hingga menjauh. Lalu aku kembali berbicara di telepon bersama AA.
"A bagaimana keadaan mereka? Apakah benar mobil mereka meledak?" tanyaku dengan sekuat tenaga siap mendengar hal apa pun yang kemungkinan hal terburuk.
Terdengar helaan napas dari ujung telepon sana. Sepertinya A Rey begitu berat untuk mengatakannya. Padahal aku sudah mempersiapkan hati dan diri untuk mendengarkan berita tentang Pak Zain dan keluarganya.
"Hmm, mobil mereka meledak. Namun secara bersamaan pula mobil mereka hanyut ke sungai."
"Astaghfirullah," aku hanya bisa membaca istighfar.
Kenapa begitu malang nasib mereka? Pak Zain, Reni.... mereka... tubuhku rasanya lemas, Aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka ada di posisi seperti ini.
"Ais, harus ikhlas. Pasrah. Ini adalah ketentuan dari-Nya."
Suara A Rey yang menggema dari balik telepon sana. Membuat aku sadar tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Terkadang apa yang kita rencanakan justru Allah SWT selalu punya rencana lain.
Dan...
__ADS_1
Inilah salah satu rencana Allah SWT. Mungkin untuk saat ini aku harus mencoba, ralat, bukan mencoba tapi harus bisa menerima pernikahan ini. Harus.