
Saat mereka sedang bersitegang, aku jadikan kesempatan untuk melarikan diri. lagian, mereka itu apa-apaan, sih. memang mereka kira aku mainan yang siapa saja bisa memiliki atau siapa saja bisa saling rebut. Lalu siapa yang menang aku akan jadi milik mereka?.
Aku manusia, lho, punya hati, punya sanubari, punya perasaan. Aku memang ingin menikah tanpa proses pacaran, cukup nanti setelah nikah baru bisa pacaran. Namun masalahnya, orang yang baru aku kenal sehari bahkan aku lupa siapa namanya, ngajak nikah udah kaya ngajak orang main. Ini benar-benar anti mainstream.
Bukannya senang, yang ada aku takut. Jangan-jangan kejiwaannya terganggu, gara-gara pernah batal nikah, eh, tiap ketemu perempuan langsung ngajak menikah. Astagfirullah, tuh kan, aku malah jadi suudzon gini.
Sementara, lupakan masalah dua pria tadi. Lebih baik aku fokus pada tujuan awal mengunjungi anak-anak dan para manula di yayasan. Aku harap setelah bersama mereka, kejadian tadi di kampus terlupakan atau bahkan tak diingatkan sama sekali.
Melihat Indoapril aku belokkan si gemoy ke sana. Seperti rencana awal ingin membeli makanan dan perlengkapan mereka. Rasanya, ada kepuasan tersendiri setiap kali membuat mereka bahagia, tertawa dan ceria.
***
Sampai di yayasan, aku disambut hangat oleh anak-anak. Mereka saling berdesakan hanya ingin jadi orang yang pertama bersalaman dengan ku. Sampai-sampai barang bawaan terpaksa aku simpan sembarang sebab anak-anak sudah menarik ku masuk.
Padahal betapa lucu mereka, tapi, kenapa orang tua mereka tega membuang mereka? Jika mereka memang tidak menginginkan mereka setidaknya jangan sembarangan membuang mereka. Titipkan secara baik-baik atau bisa adopsi kan mereka pada orang yang memang menginginkan anak.
Begitu pula para manula, mereka dibuang, ditinggalkan di jalanan. Mereka itu sebenarnya punya otak, punya hati tidak? Mereka enggak sadar, jika mereka pun nantinya akan tua renta. Coba jika mereka sudah tua renta siapa yang akan mengurusnya kalau bukan anak-anak mereka. Tapi, mereka malah membuang orang tuanya, ingat! Karma masih berlaku.
"Bunda, kami rindu. Kenapa enggak ke sini-sini," ucap salah satu anak-anak yang aku tahu bernama Fatih.
Aku tersenyum ke arah mereka, malaikat-malaikat kecilku penyejuk hati dan semoga kelak jadi Qurrotu 'Uyyun. Aku membelai satu-satu mereka, dan memberikan senyum termanis ku.
__ADS_1
"Bunda sibuk. 'Kan di sini masih banyak kakak-kakak lain," jawabku seraya menunjuk mereka yang tengah sibuk di depan komputer.
"Kami 'kan maunya Bunda," timpal seorang anak perempuan bertubuh gimpal.
"Enggak boleh gitu, Bunda sama Kakak-kakak di sini semua sama, sama-sama sayang kalian, sama-sama ingin memberikan yang terbaik untuk kalian. Agar jika nanti kalian besar bisa jaga diri, bisa mandiri, lalu cari kerja dan raih kesuksesan kalian. Setelah sukses jangan lupakan kami."
"Aku enggak akan pernah lupain Bunda. Ini janji Amar, Bunda. Saat Amar dewasa nanti dan sukses Bunda adalah orang pertama yang akan Amar cari," ucap Amar anak yang paling besar di antara anak-anak di yayasan.
Aku begitu terharu, anak berusia 10 tahun begitu yakin dengan ucapannya. Aku rasa Amar telah dewasa di usianya yang belum sepatutnya seperti itu. Aku sayang kalian, kalian sudah aku anggap seperti anakku sendiri meski bukan terlahir dari rahimku.
Aku menyeka air mata yang menetes karena merasa terharu. Sejurus kemudian Hasan datang dengan berteriak dan menenteng dua keresek besar.
"Siapa yang mau ini? Datanglah kemari." Hasan mengangkat tinggi dua keresek warna putih itu.
"Jangan rebutan, ya, semuanya kebagian, kok," seru ku agar mereka enggak saling berebut.
Tuh, bahagia itu sederhana 'kan? Melihat mereka senang saja aku sebahagia ini. Kita perlu ingat kebahagiaan itu harus diciptakan bukan dicari sebab kebahagiaan itu sesuatu yang harus digapai bukan ditunggu.
***
Selesai bermain dengan anak-anak serta saling sharing dengan para jompo atau manula, aku pergi ke taman belakang. Taman yang sengaja aku buat untuk memperasri lingkungan dan setidaknya membuat anak-anak dan manula pada sehat karena ada pasokan oksigen dari tumbuhan yang di tanam di taman belakang.
__ADS_1
Hari sudah semakin senja, saat aku merasa cukup untuk hari ini aku berniat untuk pulang sebelum azan magrib. Karena seperti itulah perjanjian antara aku, abi dan umma. Enggak boleh ada di luar melebihi waktu magrib. Well, aku sama sekali tidak mempermasalahkan karena aku tahu orang tua lebih tahu dari pada kita. Mana yang baik dan mana yang harus dijauhi.
Baru saja aku beranjak, panggilan seseorang yang tak lain ialah Hasan memaksa ku untuk menoleh ke arah Hasan. Sekilas tentang Hasan,
Hasan itu pria baik ia seorang yatim-piatu itu sebabnya ia mengabdikan hidupnya di yayasan ini. Aku sendiri kenal Hasan saat usiaku 15 tahun, saat itu aku tengah mengikuti perlombaan hafidz dan Hasan salah satu peserta.
Hasan orang nya humble, jadi aku yang sedikit bicara bisa terbawakan jadi banyak bicara saat bersama Hasan. Singkat cerita aku akrab dan meminta dia untuk membantuku mendirikan yayasan yang sekarang ini berdiri, Alhamdulillah dia mau. Hasan pun setelah keluar dari pesantren ikut bersamaku.
"Ada apa, Hasan?" tanyaku saat aku sudah membalikkan tubuh menjadi berhadapan dengan Hasan.
Hasan terlihat salah tingkah, dan aku enggak tahu dia mau apa.
"Mau pulang?" tanyanya dan aku rasa bukan itu yang sebenarnya ingin Hasan katakan.
"Iya, udah mau magrib. Aku titip mereka, ya," ucapku sebelum pergi.
"Kau enggak usah Khawatir."
"Kalau begitu aku pulang, ya, Assalamu'alaikum," pamit ku seraya mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam."
__ADS_1
Aku pun pergi dan tak lupa pamit pada anak-anak dan para manula. Untuk hari ini, Alhamdulillah. Aku bersyukur masih bisa diberi bernapas dan diberi nikmat yang bernama kebahagiaan. Jika dihitung memang benar, nikmat dari Allah SWT itu sangat banyak bahkan saking banyaknya tidak akan mampu untuk kita hitung. Intinya, sekecil dan sebesar apapun rezeki atau nikmat, kita patut mensyukurinya.