
Tok...tok...
"Ais, kau baik-baik saja 'kan?"
Terdengar suara Reni yang mengetuk pintu toilet dan memanggilku, mungkin dia cemas. Sebab aku begitu lama di dalam toilet. Setelah berwudu aku segera keluar, aku enggak enak jika harus berlama-lama di dalam toilet sedangkan di luar ada Reni yang menungguku.
Clek...
Suara pintu terbuka.
"Are you oke?" tanya Reni saat aku sudah keluar toilet. Dengan keadaan kerudung dan bajuku basah.
Aku mengangguk dan berkata. "Aku baik-baik saja," balasku meski sebenarnya dalam hatiku merasa sedih atas kejadian tadi.
"Lalu kenapa baju dan kerudung mu basah?"
"Aku habis ambil air wudu, pas aku lihat masih ada waktu untuk salat duha," kilahku dan memang benar adanya hari ini aku belum mengerjakan salat duha yang tidak pernah aku tinggal.
Aku dan Reni pun berjalan meninggalkan toilet. Reni merangkul ku, lalu menceritakan apa yang terjadi antara Pak Dosen Zain dan pria yang tak tahu adab itu.
"Apa? A-apa aku tidak salah dengar, Pak Zain berkata seperti itu?" Aku begitu syok saat Reni menceritakan semua, sesuatu di luar dugaan.
"Aku serius, Ais. Kenapa respons kamu seperti itu, seolah- olah jika aku sedang berbual."
"Aku percaya, tapi yang membuat aku tidak percaya masa iya Pak Zain berkata seperti itu."
"Itu tandanya lelaki gentleman, aku dukung pokoknya."
"Dukung apa, sih. Pak Zain itu hanya ingin melindungi bukan sungguh-sungguh, mungkin."
__ADS_1
"Kalau itu serius gimana?"
"Ma-mana mungkin, Ren," tiba-tiba saja bicaraku jadi tergagap-gagap.
"Tuh, jadi salting 'kan?"
Wajahku bersemu merah, kalau boleh jujur dari hati aku yang paling dalam. Mendengar ucapan Pak Zain yang mengklaim jika aku calon istrinya membuat aku bahagia. Aku tidak tahu perasaan apa ini, yang jelas selama hidup hampir 20 tahun aku baru pertama kali merasakan ini.
***
Bubar kuliah aku berniat untuk pergi mengunjungi anak-anak di yayasan. Sudah lama aku enggak nengok mereka. Sebelum ke sana seperti biasa aku akan membeli berbagai macam makanan untuk anak-anak serta para manula. Tidak lupa keperluan sehari-hari untuk mereka pun aku penuhi.
Aku berpisah dengan Reni, Reni pergi ke tempat parkir mobil yang lumayan jauh. Dia sengaja mengasingkan mobilnya sebab mobilnya baru, ia takut lecet hingga memutuskan untuk memarkir kan mobilnya di ujung parkiran.
Baru saja aku ingin menaiki si gemoy, motor kesayanganku. Tiba-tiba saja tarikan seseorang memaksa aku mengurungkan niatku. Saat aku menoleh betapa terkejutnya siapa sosok yang berani menyentuh ku dan menarik tanganku.
"Eh, aku mau dibawa ke mana," ucapku sedikit berteriak.
"Lepas, jangan kaya gini," sekali lagi aku memberontak dan berusaha untuk menepis tangan pria tak beradab ini.
Sudah dua kali dia menyentuhku, ini masalah besar bagiku. Bagaimana bisa seseorang yang bukan Mahram harus saling berpegangan tangan.
"Aku mohon jangan seperti ini, lepaskan tanganmu dari tanganku," aku mulai mengembun sepertinya kedua mataku akan menjatuhkan cairan bening.
Pria tak beradab itu pun berhenti, tapi tangannya tak mau ia lepaskan.
"Jika aku tidak ingin melepaskan tanganmu, bagaimana?" tanya pria itu seraya membalikkan tubuhnya hingga saling berhadapan dengan ku.
Pria itu malah menatapku dan mengencangkan pegangannya. Aku langsung tertunduk saat mata tajamnya itu seolah-olah menerobos masuk. Aku benci ada diposisi seperti ini, harga diriku sebagai seorang muslimah seperti sedang direndahkan. Pria ini seperti sedang menantang, bahwa dirinya bisa menyentuh siapa saja sesuai yang ia kehendaki.
__ADS_1
"Bagaimana caranya agar kau mau aku sentuh? Menikah? Ayo kita menikah sekarang!" ucap pria itu dan sukses membuat aku syok.
"Apa kamu tidak bisa berpikir jernih? Kau meminta anak gadis orang menikah, seperti sedang meminta barang pada orang tuamu."
"Lantas, aku harus seperti apa? Coba katakan?"
Aku benar-benar enggak habis pikir, maunya pria ini itu apa? Dia enggak sedang nge-prank 'kan? Dia sedang dalam keadaan sehat akal 'kan?
Bertemu hari ini dan hari ini pula ia langsung meminta aku untuk menikah dengannya. Apa menurutnya menikah itu lelucon?
"Aku benar-benar gagal paham sama kamu. Aku enggak kenal kamu, ketemu juga baru kali ini dan kau meminta sesuatu yang membuat aku gak habis pikir."
Saat pria itu lengan aku langsung menarik tanganku dari pegangannya. Dia tersentak dan hampir menyentuhku lagi, tapi aku berhasil menghindar.
"Jangan menyentuh ku lagi, aku gak akan lari, sebelum masalah aku dan kamu selesai."
"Jadi, bagaimana?" tanya pria itu.
Aku bingung dan kurasa masalah ini enggak akan selesai hari ini. Pria ini sepertinya harus dibawa ke sekiater, mungkin dia punya masalah kejiwaan.
"Kau tidak mendengarkan peringatan saya!" ucap menggelegar seseorang dari arah belakang tubuhku.
Sesosok pria rupawan bertubuh tegap muncul dan hadir di tengah-tengah aku dan pria yang tidak beradab ini.
"Bukan kah sudah saya peringatkan jika wanita ini sudah memiliki calon suami."
"Dan bukankah saya sudah katakan, masih ada kesempatan untuk bisa mendapatkan wanita ini sebelum ia sah menjadi istri orang."
Tatapan kedua pria ini begitu tajam. Aku seperti sedang bermimpi ada dua orang yang sedang bersitegang dan masing-masing mengklaim diriku sebagai miliknya. Ini sebenarnya ada apa? aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.
__ADS_1
Jika ini mimpi, tolong segera bangunkan aku. Jika ini nyata, tolong cepat berakhirlah. Aku sudah tak nyaman berada di posisi ini.