
Gebrak. ..Mas Irman menggebrak meja.
" Aku ingat sekarang! ! siapa dan dimana mas melihatnya "
" Dimana ? ucapku dan Jo berbarengan.
" Yank, kamu masih ingat sama Rani ? " tanya mas Irman pada ku.
Sejenak aku mengingat-ngingat seperti tak asing dengan nama Rani.
Dan aku ingat, Rani adalah orang yang aku temui di rumah ibu mas Irman, wanita yang akan di jodohkan pada Mas Irman.
" Ia mas aku ingat, dia orang yang aku temui ketika kerumah Ibu mu kan? , terus yang jadi pertanyaan Aisyah, hubungannya apa dia sama gelang itu? "
Dengan penuh antusias mas Irman menjawab " Tentu ada hubungannya Yank, karena dia pemilik gelang itu" jelas mas Irman.
"Apa?"
Antara percaya dan tak percaya saat mas Irman berkata seperti itu . Karena aku baru saja mengenalnya begitupun sebaliknya. Kalau pun iya dia yang menerorku, apa tujuannya? apa motifnya? . bertemu pun hanya sekali waktu itu saja.
" Tapi mas , kami kan baru kenal . jadi gak masuk akal saja kalau dia tiba-tiba berbuat seperti itu padaku"
" Maka dari itu kita harus selidiki, tujuannya apa dan apa untungnya bagi dia"
" Terus caranya gimana mas,?
" Kita temui dia "
" Jangan kak, " tolak Jo
"kita belum punya bukti kuat kalau wanita yang bernama Rani itu pelakunya, bagaimana kalau kita keliru? terus dia malah nuntun kita atas pencemaran nama baik"
Tak ada jawaban dari mas Irman, mungkin mas Irman sedang menimbang -nimbang apa yang Jo katakan barusan. Dan menurutku apa kata Johan benar kita belum punya banyak bukti, ini hanya baru praduga saja.
" Jo, apa kamu punya ide " celetuk mas Irman pada Jo.
" Mungkin lebih baik kita tanggap basah saja wanita itu?, untuk saat ini wanita itu sedang bersembunyi dulu, Aku yakin nanti saat waktu yang tepat dia akan muncul lagi, lebih parah lagi mungkin saja dia sedang merencanakan sesuatu saat ini?"
" Jo, lagi -lagi kamu berkata seperti itu" keluh ku.
" Ini hanya dugaan Jo saja , kak"
" Bagaimana ini mas,? ucapku pada Mas Irman.
__ADS_1
" Kalau apa yang Jo bilang itu benar gimana? "
" Jangan takut , ada aku " ucap Jo dan mas Irman berbarengan.
Sedang mereka hanya saling pandang saja, dengan pandang seperti saling mengejek .
Aku beruntung mempunyai dua pria yang paling aku sayang, tentunya aku juga bersyukur di sayang dan di perhatikan mereka.
Pria satu calon imam ku dan satunya lagi adikku tersayang, Saudara ku satu-satunya yang aku miliki.
Aku berdoa semoga Alloh swt selalu memberi kebahagian bagi kalian.
*******
Tepat pukul 22.00 Cafe tutup, Jo sudah pulang duluan karena sekalian mengantar Riska pulang , Shafira anakku dia nginap di rumah Ibu , Mas Irman juga bilang ada urusan dulu nanti dia kembali lagi untuk menjemputku pulang. Tapi orang yang aku maksud belum juga datang.
Aku sudah gelisah menunggu mas Irman datang, di hubungi nomornya gak aktif tak biasanya seperti itu.
Ku lirik jam sudah menunjukan 22.30 itu berarti aku sudah menunggu mas Irman selama setengah jam.
Akhirnya aku putuskan untuk pulang sendiri saja, sebelumnya aku kirim pesan pada Mas Irman meski aku tahu nomornya gak aktif , tapi sapa tahu saja aktif dan membaca pesan dariku.
Aku mengetik pesan sambil berjalan tujuanku adalah halte bus, meski jalanan sudah agak sepi tapi semoga saja masih ada bus yang lewat.
Aku berusaha menghindari cahaya itu
, namun ada yang aneh cahaya mobil itu seperti mengikuti ku dan semakin mendekat ke arahku.
Benar saja setelah semakin dekat entah kenapa kaki ini tak bisa berlari aku merasa diam di tempat dan aku pun menutup mata dan berteriak saat mobil itu semakin mendekat ingin menabrak ku.
" Aaaaaaaaaaaaa. .tidak"
Seperdetik kemudian aku merasa ada yang menarik tanganku ke pinggiran jalan , hingga aku terjerembab dan kesakitan. .
"aww sakit" pekik ku.
selang beberapa detik terdengar suara mobil yang menabrak sesuatu , sontak membuatku kaget dan melihat kearah mobil itu.
" Yang kamu gak kenapa -kenapa? ada yang sakit tidak? maaf mas terlalu kencang menarik tanganmu? "
Ya, orang yang menarik tanganku ternyata mas Irman, Alhamdulillah ya Alloh lewat mas Irman aku bisa selamat.
" Mas Irman " ucapku lirih dan menahan air mata.
__ADS_1
" Sudah tak apa-apa, sekarang ada mas " ucap mas Irman menenangkan ku.
Jujur aku masih syok dengan kejadian tadi, apa jadinya kalau tak ada mas Irman. Mungkin saja saat ini aku sedang berbaring di rumah sakit.
Mas Irman terus saja menenangkan diriku dan meminta maaf atas keterlambatannya menjemputku. Aku bilang tak apa.
" Maaf yang mas telat jemput, tadi ban mobil Mas pecah jadi harus memperbaikinya dulu. Mau menghubungi kamu handphone Mas lowbet."
" Ia mas tak apa-apa, inikan diluar kemauan kita, oh ya mas kita harus menolong orang itu " menunjuk ke arah mobil yang menabrak pembatas jalan yang hampir menabrak ku .
Karena saat ini benar-benar jalanan sepi jadinya tak banyak orang yang menolong orang yang ada di dalam mobil itu.
Mas Irman menelpon ambulans dan polisi untuk segera datang ke TKP.
" Mas kenapa lapor polisi? "
" Mas merasa orang yang ada di mobil itu memang sengaja ingin mencelakai mu yang"
Aku diam, apa yang mas Irman bilang memang aku benarkan . karena aku sendiri pun merasa mobil itu ingin menabrak ku.
Saat polisi datang aku dan mas Irman pun menghampiri dan bersama-sama melihat siapa orang di balik mobil itu.
Kita pasti sudah tahu, jika di in*****ia ini jika ada kecelakaan sebelum ada polisi datang korban suka di biarkan , gak ada yang berani bertindak jauh.
Orang yang ada di mobil itu pun mulai di keluarkan agak lama karena posisi kakinya terjepit, tak lupa di cek terlebih dahulu pernafasan dan nadinya. Ternyata dia hanya pingsan saja, lukanya pun sepertinya tidak terlalu parah.
Betapa terkejutnya aku juga mas Irman saat secara sempurna melihat orang yang baru saja di keluarkan dari mobil .Orang itu aku kenal begitu juga mas Irman.
Mas Irman berjalan mendekati dan mengecek lenganya. Benar saja gelang yang sama seperti di rekaman cctv ada melingkar di tangan itu. Mas Irman melirik padaku
" Dugaan mas benarkan yang?" tanyanya mas Irman kemudian berjalan mendekatiku .
Aku yang di tanya hanya diam merasa tak percaya , apa sebenarnya yang dia inginkan dariku? apa untungnya juga bagi dia? kenapa dia ingin membunuhku? pertanyaan-pertanyaan itu sangat menggangu pikiranku ingin rasanya aku bertanya langsung pada wanita itu , tapi dia pingsan ini bukan saat yang tepat.
Sementara mas Irman meminta pada polisi untuk menindak lanjuti kasus ini, mas Irman bilang kalau orang itu sengaja ingin menabrakku dan mas Irman juga bilang bahwa orang ini sudah meneror diriku .
Tentunya polisi tak akan langsung percaya jika tak ada bukti, satu-satunya cara melihat rekaman cctv yang ada di TKP dan menunggu dia sadar serta mengakui semua kesalahannya.
Rani, apa salah dan dosaku padamu hingga kau berbuat seperti itu kepadaku. menerorku dengan ancaman -ancaman konyol dan sekarang kau membuktikan ancaman mu itu, ingin membunuhku , ingin kematianku.
Tapi sayangnya kamu bukan Tuhan Ran, hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Aku selamat karena memang takdir kematianku bukan sekarang dan bukan mati di tanganmu.
Kau menginginkan kematianku, tapi sekarang lihatlah justru kamu yang celaka. Senjata makan tuan, mungkin pribahasa itu cocok untuk menggambarkan keadaanmu sekarang.
__ADS_1
tbc.