
Hari kedua ospek masih terasa biasa biasa saja, emang asalnya aku yang sulit bergaul teman untuk ngobrol pun aku belum punya. Suatu pencapaian yang buruk bukan. Entah lah jika di pikirkan antara aku juga kakak -kakak ku hanya aku saja yang terlihat jauh berbeda.
Kalau kata Uma sih aku mirip banget beliau, sulit untuk beradaptasi, sulit menempatkan diri. Uma juga bilang ia hanya punya teman sedikit itu pun sekarang lost kontak.
Mungkin seperti ini yah nasib orang yang sedikit bicara. Jujur saja niat mau mulai ngajak ngobrol itu ada, tapi entah kenapa harus mikir-mikir dulu. Mau ngomong apa yah, terus kalau udah ngomong ini harus gimana lagi yah. Seolah-olah apa yang mau aku omongin itu harus terkonsep dulu.
Tapi, kalau ada yang mulai ngajak bicara duluan aku pasti jawab, dan jawabnya pun seadanya. Aku jadi cerewet hanya dengan orang-orang yang dekat denganku, berasa gak canggung aja.
Jam istirahat di mulai, aku pergi ke kantin kampus hanya seorang diri. Memesan makanan favoritku, mie ayam dan segelas teh manis seger. Sambil menikmati makananku, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku. Seorang gadis cantik berjilbab merah, tersenyum padaku dan langsung menjulurkan tangannya.
"Aku Reni," ucapnya tiba-tiba
Sedangkan aku hanya bisa melongo tanpa membalas uluran tangannya. Mungkin merasa di abaikan ia pun meraih tanganku dan memaksakan untuk bersalaman.
"Nama kamu siapa?" tanya nya setelah melepas salaman.
"Aisyila, panggil Ais saja." jawabku
"Oke,"
Setelah itu kami saling diam, menikmati makanan masing-masing. Setelah makanan dan minuman aku habis, dan melihat jam waktu istirahat masih lama, akhirnya aku putuskan untuk ke perpustakaan saja memanfaatkan waktu istirahat yang tersisa.
"Kamu mau kemana?" tanya orang yang baru saja berkenalan.
"Mau ke perpus, mau ikut?" tanyaku padanya.
"Emang boleh?" tanya baliknya.
"Why not,"
Ia tersenyum lalu berdiri dari duduknya, "ok aku ikut."
__ADS_1
Reni, yah orang yang baru saja mengajak kenalan tadi menurut ku, orangnya baik banyak bicara, dan aku suka. Teman yang seperti ini yang aku suka sebab aku yang sedikit bicara bisa teratasi oleh nya yang memang banyak bicara. Aku hanya bisa mengiyah kan saja, atau sesekali aku tersenyum saat perkataannya ada yang lucu.
Karena baru saja kenal, jadi aku masih merasa canggung. Tapi aku yakin sebentar lagi aku pasti bisa akrab sama dia, dan seperti nya bisa jadi partner di kampus ini.
***********
Saat masih di kampus aku mendapat telpon dari Uma, kalau beliau sama Abi juga A Rey akan pergi menghadiri pesta pernikahan anak temannya Abi. Uma sebenarnya mengajak aku untuk ikut, tapi aku menolak alasannya aku gak suka hadir ke tempat rame seperti itu.
Karena tahu di rumah gak ada siapa-siapa akhirnya aku putuskan untuk pergi ke yayasan peduli sesama, untuk melihat perkembangan anak-anak asuh ku dan juga untuk memantau kesehatan para orang tua yang dulu hidup di jalanan.
Ada kepuasan tersendiri saat menolong orang, dari dulu Uma selalu mengajarkan tentang keharusan kita menolong orang-orang lemah, anak yatim piatu, para duafa. Yah seperti mereka contohnya. Ini juga yang selalu Rosulullah lakukan semasa hidupnya. Jadi kita sebagai umat nabi Muhammad harus bisa mengikuti jejak beliau, sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Beliau.
Sampai di yayasan peduli sesama, aku langsung masuk dulu ke ruangan dimana biasanya para anggota berkumpul. Sekedar untuk menyapa dan menanyakan kabar para anggota.
"Assalamu'alaikum," ucapku mengucap salam.
"Wa'alaikum salam,"
"Ia gak apa-apa, kami ngerti kok." Ucap Hasan wakil ketua yayasan peduli sesama.
"Ais, sekarang kita punya donatur baru." ucap Hasan senang
"Oh ya, Aku senang dengarnya. Semoga saja kebaikan mereka Allah SWT balas berlipat-lipat."
"Orangnya masih ada di sini kok, mau ketemu?"
"Boleh, aku ingin mengucapkan langsung rasa Terima kasih."
"Dia lagi melihat anak-anak melukis, ayo aku antar." ucap Hasan sambil berjalan mendahului ku.
"Hasan," panggil ku
__ADS_1
Hasan langsung membalikkan tubuhnya "apa,"
"Kamu gak perlu mengantarku, aku sendiri saja
kaya mau kemana aja pake di anter segala." protes ku.
"Ah iya," hasan nampak kikuk sendiri.
Begitu pun aku, sebenarnya ada perasaan gak nyaman saat bersama Hasan. Apa lagi setelah kejadian itu, dimana Hasan secara terang-terangan mengutarakan rasa ketertarikannya padaku. Tapi apa dayaku, Hasan mau jadiin aku pacarnya sih bukan istrinya. Dalam kamus hidupku tak ada yang namanya pacaran, aku mau kaya uma pacarannya setelah nikah.
Kalau saja Hasan bilang mau jadiin aku istrinya mungkin aku gak akan berpikir-pikir lagi untuk menerimanya. Sudah pasti aku Terima kalau ada yang mau berniat baik ngajak nikah. Meski aku tahu tak ada rasa cinta, seiring berjalannya waktu pasti yang namanya cinta akan tumbuh.
Sesuai arahan Hasan kalau donatur baru ada di ruang keterampilan, aku pun berjalan ke arah sana. Setiba di sana tak ada siapapun selain anak-anak. Mungkin ia sudah pulang pikir ku, akhirnya aku menyapa anak-anak saja yang sedang khusu dengan kegiatan mereka.
"Assalamu'alaikum, selamat sore anak-anak bunda." ucapku lalu merentangkan tangan tanda agar anak-anak memelukku.
.
"Wa'alaikum salam bunda." jawab mereka dan benar saja mereka langsung menghentikan aktifitas nya dan berhamburan memelukku.
Disini mereka memanggilku bunda, entah kenapa aku paling senang di panggil seperti itu. Udah kebelet ingin nikah mungkin, tapi calonnya belum ada hilal nya, mungkin masih di sembunyiin dulu sama sang pemilik _Nya.
Saat di rasa orang yang ingin aku temui gak ada, aku pun berniat untuk kembali namun langkah kaki ku terhenti tatkala aku samar-samar mendengar suara pria di balik pintu keluar. Aku berpikir seperti pernah mendengar suara ini? tapi dimana dan kapan? . Aku benar-benar gak ingat pernah mendengar suara ini.
Setelah mengingat-ingat akhirnya aku ingat, ini itu suaranya pak dosen. Ia aku gak salah lagi, berasa senang akhirnya bisa bertemu sama pak dosen yang pernah menyelamatkan aku dari hukuman senior, dan sekarang ia jadi donatur disini.
Aku pun berniat menemuinya, saat aku akan menyapa, orang itu malah berjalan ke arah luar, lagi -lagi aku hanya melihat punggungnya saja. dan Kali ini ia tidak berpeci, mungkin waktu itu kebetulan ia mau atau sudah mengerjakan sholat duha jadinya berpeci . Sepertinya itu telpon penting, gak etis juga kan kalau aku harus menyela pembicaraan, dan sepertinya ia sangat sibuk.
Aku urungkan niat untuk menemuinya, masih ada hari- hari yang lain. Apa lagi ia kini menjadi donatur disini, akhirnya aku pun kembali ke ruangan untuk berkumpul dan membahas agenda-agenda yang belum terealisasi kan.
TBC.
__ADS_1