
"Temani aku malam ini!"
"Apa?!"
Aku terkejut saat mendengar satu kalimat yang keluar dari mulut pria itu. Temani dirinya malam ini? maksudnya apa? Temani dia dalam hal apa? itu sekelibat pertanyaan dalam pikiranku.
"Tunggu! Maksudnya gimana, ya. Aku enggak paham."
Tapi, Reni dengan santai mengatakan iya pada pria itu. Aku memegang tangan Reni seraya membisikkan sesuatu.
"Ren, kenapa kamu asal bilang iya. Tanya dulu maksud temani itu apa?"
"Percaya sama aku, aku yakin yang dia maksud menemaninya makan atau enggak minta ditemani jalan," balas Reni dengan berbisik disertai kekehan.
Setelah saling berbisik dengan Reni, lalu aku menatap ke arah pria itu. Aku hanya bisa beristighfar saat matanya yang tajam setajam mata elang menatapku.
"Bagaimana, mau?" tanya pria yang bernama Keanu itu.
"Mau apanya?" tanya balik ku dengan sedikit sewot.
"Udah Ais, iya in aja. Ayo lah," bisik Reni begitu memelas.
Ya Allah, aku benar-benar ada di posisi serba salah. Menolak itu artinya Reni akan kecewa, tapi aku lebih baik membuat Reni kecewa dari pada setuju permintaan pria itu. Jika pun setuju aku sendiri enggak tahu maksud dari kata temani dirinya.
"Begini saja, jelasin maksud temani yang kamu katakan. Kita saja belum kenal, dan... " Aku sedikit menjeda perkataan ku lalu menatap Reni yang terlihat tengah memasang wajah minta dikasihani.
"Dan... apa?" tanya nya begitu datar.
"Di sini aku yang salah sebab sudah tidak sengaja menabrak mu. Lalu tadi kamu suruh bertanggungjawab untuk menyusun kembali skripsi kamu yang berantakan dan aku sudah melakukannya. Lalu kenapa kamu meminta yang lain, maaf aku keberatan," tolak ku.
Sudah pasti aku menolak karena aku belum pernah keluar malam sama pria meski aku yakin Reni akan ikut. Namun ini enggak benar.
"Kamu terlalu so jual mahal. Wanita lain saja ngantri ingin aku ajak jalan, kamu? menolak!" sinis pria itu.
"Kalau begitu silakan Anda ajak wanita lain saja. Asal jangan aku maupun teman aku. Ini ambil punya mu aku harus pergi, masih banyak urusan," ucapku seraya kembali menyerahkan buku milik pria itu.
"Kalau kamu enggak mau ambil aku letakkan saja, di sini." Aku meletakkan buku miliknya di atas meja kantin lalu bergegas pergi dan secepatnya membawa Reni pergi.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja tanganku di cekal keras. Tentu aku langsung menoleh ke arahnya dan segera menepis tangan pria itu.
__ADS_1
"Lepas!"
Aku berusaha untuk melepaskan tangannya. Sungguh aku tidak suka seperti ini, hanya Abi, Abang-abang ku yang berhak menyentuh. Sedangkan pria yang ada di hadapanku ia tidak punya hak, ia bukan mahram ku.
"Tidak akan aku lepas, sebelum kamu setuju dengan permintaan ku!"
"Aku enggak mau!"
Mataku mulai berkaca-kaca, aku tidak rido ia memegang tanganku. Dia bukan mahram ataupun suamiku. Mungkin bagi orang ini hal sepele, tapi, tidak dengan ku. Ini masalah prinsip hidup dan prinsip ku tidak mungkin aku ingkari sendiri.
Reni berusaha untuk membujuk pria itu agar melepaskan tangannya dari tanganku. Tapi yang ada dia malah semakin keras memegangnya tentu aku meringis kesakitan.
"Tolong, lepas! ini enggak benar kita bukan mahram. Kita berdosa seperti ini."
Semua yang di kantin menatap ke arah kami. Anehnya tak ada yang menolong, mereka hanya diam menonton. Hingga suara seseorang yang sangat aku kenal menggema di udara.
"Lepaskan tanganmu dari tangannya!"
Aku bahkan mungkin semua orang menatap ke arah suara. Aku melihatnya untuk kesekian kalinya dia menolong ku. Sepertinya Allah swt memberikan aku Malaikat pelindung dalam wujud manusia.
"Ini di kampus tolong jaga sopan santun. Jangan memaksa kehendak jika memang ia tidak mau."
Pria itu sedang besitatap dengan Pak Zain. Pria itu menatap marah sedang Pak Zain hanya menatap biasa namun terlihat tegas.
"Urusan Bapak sama saya apa? ini urusan saya dengan wanita ini." Dia menunjuk ke arahku dengan gerakan kepala.
Aku sudah tidak sanggup berada diposisi seperti ini, rasanya aku ingin nangis sejadi-jadinya. prinsip hidupku harus direnggut oleh pria yang sama sekali tidak aku kenal.
"Tolong lepaskan tanganmu dari tangannya!"
"Kalau saya tidak mau?"
"Kamu harus mau, apa yang kamu perbuat itu salah."
"Ck, salahnya di mana? Apakah menyentuh seperti ini sebuah kesalahan?"
"Iya, ini semua salah!" Akhirnya aku pun bersuara. Aku ingin segera lepas dari jeratan tangan pria ini.
"Kau bukan mahram ku, haram bagi kita untuk seperti ini," lanjut ku dengan tegas.
__ADS_1
"Oh, begitu. Kalau begitu mari kita menikah! kita halalkan agar saya bisa bebas menyentuhmu!"
"Apa?!" ucapku, Pak Zain dan Reni bersamaan.
Sepertinya pria itu memiliki hobi ekstrim. Selalu bertindak tiba-tiba tanpa berpikir terlebih dahulu. Bagaimana bisa, dengan mudahnya pria itu berkata ingin menikahi ku? Kenal saja tidak, bahkan bertemu pun baru hari ini. Apa pria ini pikirannya sedang tidak sinkron? Sehingga mulutnya begitu asal berkata.
"Bagaimana? Kamu mau 'kan menikah dengan saya?" tanya Pria itu yang pasti aku akan menolaknya.
"Tidak bisa!" suara Pak Zain memecahkan rasa keterkejutan ku terhadap permintaan pria tadi.
Sontak aku, Reni dan tentu pria itu menoleh ke arah Psk Zain.
"Kamu tidak bisa menikahinya, sebab...."
Pak Zain menggantungkan perkataannya, sepertinya aku melihat raut keraguan. Entah apa yang sebenarnya ingin ia katakan.
"Sebab apa?" tanya pria itu.
"Sebab, wanita yang ada di dekat mu itu...."
Lagi, Pak Zain hanya menggantungkan perkataannya. Aku bisa lihat jelas ada keraguan di wajah Pak Zain.
"Pak kalau bicara jangan di gantungin gitu," ucap tiba-tiba Reni.
"Jangan buat orang penasaran."
Di Situasi seperti ini Reni sempat-sempatnya untuk bercanda. Bercandanya tentu di waktu yang salah.
"Maksud saya, jika wanita yang ada do dekat kamu sudah memiliki calon suami."
What? apa aku enggak salah dengar? Ilham dari mana tiba-tiba Pak Zain berkata seperti itu. Jika seperti ini aku yakin masalahnya akan panjang dan aku harap Pak Zain tidak mengikut sertakan aku dalam kebohongannya.
"Enggak masalah jika dia sudah punya calon suami, ingat! baru calon."
Aku semakin enggak suka ada di posisi ini, akhirnya sekuat tenaga aku terus saja memberontak agar tanganku bisa terbebas dari cengkeramannya.
Setelah berhasil lepas, aku langsung berlari. Tujuanku adalah toilet. Aku ingin berwudu berharap dosa-dosa yang tadi anggota badanku
lakukan bisa terkikis, seiring dengan aliran air wudu yang mengalir.
__ADS_1
Sekali lagi, mungkin aku terkesan berlebihan. Tapi inilah prinsip hidupku. Tak ingin disentuh oleh lawan jenis kecuali oleh yang memang berhak atas diriku. Prinsip hidupku yang lainnya pun ada yaitu tidak akan pernah pacaran, aku ingin seperti Uma pacaran setelah menikah. Tentunya terdengar lebih luar biasa.