
Aku berasa mimpi saat aku membuka dan membaca dua map yang bertuliskan CV ta'aruf itu. Ada satu nama yang membuatku masih saja tak percaya. Muhammad Zain Firmansyah, yah, satu diantara dua cv ta'aruf itu dari Pak Zain.
Jadi, dua pria yang tadi sore itu sebenarnya Pak Zain dan Keanu? Begitu pikirku. Dan anehnya, kenapa mereka harus datang diwaktu yang sama? Terlebih Pak Zain, sungguh melihat ada I'tikad baik dari Pak Zain membuat aku senang. Pasalnya, apa yang aku inginkan kini langsung menghadap Abi. Tidak seperti Keanu yang terus berkoar-koar akan menemui Abi.
Dua map CV ta'aruf dari Pak Zain dan Keanu sudah di tangan. Aku harus tetap berbuat adil, jangan karena hati ini lebih condong ke Pak Zain CV dari Keanu tak aku indahkan. Jadi, kedua CV ini aku baca dan pelajari.
Satu hal yang membuat aku kaget tak percaya. Keanu orang yang aku klaim pria aneh, pria pemaksa ternyata seorang Hafiz Quran meski tidak sampai tiga puluh juz. Dia sama sekali tidak terlihat sebagai lulusan hafiz. Dari penampilan bahkan cara bicaranya pun jauh di luar ekspektasi.
Lalu bagaimana dengan Pak Zain? Dia tak kalah luar biasa, dia juga seorang Hafiz Quran tiga puluh juz. Lulusan pesantren serta lulusan teknik sipil terbaik.
Aku yakin Allah SWT telah menyiapkan jodoh yang terbaik untukku. Mungkin salah satunya mereka, Pak Zain dan Keanu. Meski hati menginginkan Pak Zain ketimbang Keanu tetap saja aku harus adil dan harus melibatkan Allah SWT dalam hal ini. Memilih di antara yang terbaik yang Allah SWT siapkan untukku.
Ada fakta mengejutkan setelah aku membaca CV Keanu, aku jadi lebih tahu sisi lain dari dirinya. Mungkin dari luar benar dia terlihat menyebalkan, dingin, kaku dan pemaksa tentunya. Tapi, dia sebenarnya tipe pria penyayang, periang dan baik. Aku bisa menyimpulkan hal tersebut dari beberapa lampiran di CV jika dirinya menjadi relawan di komunitas cancer anak di Indonesia. Tentu saja untuk menjadi relawan di sana kita dituntut untuk aktif, berbaur dengan anak-anak yang membutuhkan dukungan moriil. Dan harus bisa membuat mereka tertawa bahagia.
Mungkin apa yang Abi bilang ada baiknya. Aku harus beristikharoh meminta petunjuk manakah di antara dua pria yang luar biasa ini yang harus aku pilih. Namun, aku pun harus berbicara terlebih dahulu pada mereka. Memberikan pengertian siapa pun nantinya yang tidak terpilih harus berlapang hati. Sebab aku akan melibatkan Allah SWT dalam hal ini.
Menikah adalah ibadah terlama dalam hidup. Dan aku ingin dalam ibadah terlama ini tidak salah pilih meski aku tahu dan sadar diri, jika diri ini masih jauh dari kata wanita saleha.
\*\*\*
Keesokan paginya di meja makan.
"Bagaimana, Nak, sudah kamu pelajari isi map yang Abi berikan tadi malam?" tanya Abi sesaat acara sarapan selesai.
Aku menarik napas terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Abi.
Dengan tersenyum ke arah Abi aku mantap menjawab. "Sudah, Bi. Ais sudah mempelajarinya."
"Menurut Ais gimana?" tanya kembali Abi.
"Gimana apanya, Bi?"
"Mereka gimana menurut Ais? Bukannya Ais sudah saling mengenal, terlebih sama Keanu. Dulu saat kamu masih kecil sering bersama dia. Dan Abi tidak menyangka perkataan dirinya yang akan menikahi kamu dia wujudkan."
Aku tidak mengerti dengan perkataan Abi. Aku merasa baru kenal Keanu dan Abi bilang aku sering bermain bersamanya. Aku tidak ingat.
"Bi, Anak Pak Firman juga terlihat begitu baik. Kalem," ujar Uma yang tiba-tiba saja berkicau.
"Iya, Uma. Mereka memang sama-sama pria baik dan luar biasa. Abi tidak akan khawatir pada siapapun nanti Ais memantapkan pilihannya. Mereka layak untuk putri bungsu kita," Abi berkata dengan menatap ke arahku.
__ADS_1
Aku semakin dibuat bingung. Kenapa Abi sama Uma terlihat sudah mengenal Pak Zain dan Keanu? Sementara aku? Belum ada tiga bulan kenal mereka. Aneh.
"Kenapa putri kecil Abi diam saja? Bagaimana menurut pendapat Ais tentang calon bakal suamimu?"
"Mereka baik, Bi. Dan Ais harus beristikharah."
"Ingat sayang, Uma sama Abi tidak akan memaksa. Pilihan ada di tangan Ais," Uma menimpali seraya membelai kepalaku, sebab posisi dudukku dengan Uma bersebelahan.
Aku mengangguk kecil dibumbui dengan senyum manis di bibirku.
Seperti biasa selesai sarapan aku pamit pergi ke kampus. Menciumi tangan Abi dan Uma dan mengucapkan salam. Saat aku hendak menaiki motor dan menyalahkan tiba-tiba A Rey mencabut kunci motorku. Aku tak terima ini masih pagi tapi Aa sudah memulai perang.
"A kembalikan kunci motor Ais," bujuk ku seraya mengulurkan tangan ke arah Aa.
Aa malah diam, Aa menatapku dengan tatapan seolah-olah aku dan Aa tidak akan bertemu lagi.
"A kamu kenapa?"
"Untuk saat ini biar Aa yang antar jemput kamu," kicau Aa dan sukses membuatku melongo.
"Hah, Ais enggak salah dengarkan, A?" Aku beranjak dari motor lalu menarik tangan Aa supaya dia berjongkok.
"Memang siapa yang bilang Aa sakit?"
"Enggak ada, cuma Ais heran aja. enggak biasanya Aa nawarin Ais antar jemput ke kampus. Ais kira Aa sakit atau kesambet gitu." selorohku dan malah dapat jitakkan di kening.
pletuk...
"Aw, A sakit!" Aku mengusap kening bekas di jitak.
"Aa baik salah. Apalagi jika aa kejam sama kamu, Dik."
"Udahlah, Ayo naik motor Aa," lanjut Aa
"Pakai motor Ais saja, A. lebih mudah."
Tanpa ada penolakan Aa langsung saja duduk di motorku. Aneh, ini aneh. Bukannya biasanya Aa suka menolak jika naik si gemoy? Lalu ini? Aku enggak paham!
"Kok, diam, Dik. Ayo!"
__ADS_1
"Eh, iya." Meski masih bingung dengan perubahan aa. Aku langsung duduk saja di jok belakang seraya memegangi pinggang A Rey.
Dalam perjalanan menuju kampus tak ada aksi ngebut. Bukankah biasanya Aa suka ngebut saat membonceng ku? Kenapa sekarang tidak?
Benar-benar hari aneh, atau mungkin sekarang hari perdamaian gitu?
Saking penasaran aku mencubit pinggang Aa. Aa memekik.
"Aw, Dik sakit!" keluh Aa.
"Aa kenapa, sih, kok aneh."
"Aneh gimana, sih, Dik? Perasaan kamu saja kali."
"Sikap Aa ke Ais berlebihan terlalu formal A. Enggak seru, ah."
Aku sama Aa bisanya memang suka perang karena Aa yang suka menyalahkan api peperangan. Khusus hari ini tidak!
Aa kembali terdiam sampai akhirnya sampai di kampus.
"Nanti hubungi Aa kalau mau pulang, ya," pesan Aa setelah berhasil menghentikan motor dan aku beranjak dari motor.
"Nanti Ais ganggu Aa lagi."
"Enggak, buat kamu Aa enggak akan merasa terganggu."
Tuhkan benar! Fiks ini ada yang aneh dari Aa. Sejak kapan Aa begitu sukarela bilang engga akan merasa terganggu?
Aku hanya bisa diam saja, mungkin nanti setelah di rumah aku akan paksa Aa jujur padaku. Ini ada apa sebenarnya?
Saat aku terdiam menatap Aa dengan sejuta kebingungan. Aa tiba-tiba mengelus kepalaku.
Aku bergeming.
"Aa enggak nyangka, Adik aa akan segera menikah."
Sejurus kemudian aa pergi. Dan aku menatap kepergian Aa.
"Aa."
__ADS_1