
Sang mentari kini sedang berada di peradunnya, sinarnya begitu menghangatkan, cerah dan begitu gagah. Sama halnya dengan suasana hatiku saat ini hangat ,cerah dan menyenangkan. Hari ini adalah hari yang paling aku tunggu -tunggu, dimana ketika Alloh sudah berkehendak menyatukan dan mempertemukan lagi dengan anak-anak ku malaikat kecil penyejuk hati.
Berasa mimpi, tapi ini sungguh nyata aku bisa berada di momen seperti ini, menjadi istri dari Irman Sanjaya dan tentunya menjadi Umma nya dari ketiga anakku.
" Selamat pagi anak-anak Umma, gimana tidurnya semalam? nyenyak? ucapku sambil mengatur makanan di meja untuk sarapan.
" Selamat pagi juga Umma, Tidur kami nyenyak Umma" ucap ketiga anakku kompak.
" Kemari sayang -sayangnya Umma, duduk, kita sarapan bareng yah" ucapku sambil menggeser kursi untuk mereka duduk.
Aku menata makanan satu-satu di piring yang ada di hadapan anak -anak ku. Ini sarapan kesukaan Shafira, aku harap Shakira dan Arsya juga suka.
" Umma kok tahu makanan kesukaan Shakira sama Arsya ?" tanya Shakira dengn wajah berbinar.
" Nasi goreng memang kesukaan Umma dan Umma yakin anak-anak Umma juga pasti bakalan suka. Shafira juga suka, iyakan sayang? tanyaku pada Shafira.
" Iya Umma, Nasi goleng Umma sanggatt enak, Kalian pasti suka" jelas Shafira pada kedua adiknya.
" Ayah juga sering bilang kalau Umma suka nasi Goreng dan nasi goreng Umma paling enak, makanya aku suka meminta bibi buatin nasi goreng buat ira dan Arsya.
Aku tak percaya ternyats Abang sedikit-sedikit memperkenalkan diriku pada anak-anak . aku kira Abang akan menjelek -jelekan diriku pada anak-anak, agar mereka membenciku. Berdosa sekali aku padamu Bang, ingin rasanya aku mendengar dan tahu cerita tentang kehidupan mereka . Mungkin sekarang bukan waktu Yang tepat, tapi jika ada waktu aku ingin banyak tahu hal tentang Mereka, Shakira juga Arsya.
Saat ku sibuk dengan pemikiran -pemikiranku, Suara seseorang berhasil membuatku tersadar . Ya, dialah suamiku , dengan senyuman yang tak pudar di wajahnya ia berjalan menghampiri . Aku pun tersenyum membalasnya.
" Wah, tega nih ninggalin Ayah sarapan , " rengek mas Irman pura -pura bersedih.
" Gak kok Ayah, kami balu mau salapan ,sini duduk deket Ila, "
"Iya Om,kami belum memakan sarapan nya kok" celetuk si bungsu Arsya.
Mas Irman duduk di sebelah Ila dan aku menuangkan nasi goreng kedalam piring milik mas Irman.
" Tunggu. ..tunggu. .. Ayah gak salah denger nih? kok Arsya panggil Ayah om sih, (pura-pura cemberut ). Dengerin Ayah yah, Arsya sama Shakira panggil Ayah, jangan panggil om karena sekarang aku adalah ayah kalian , paham?"
" Tapi Ayah kami hanya satu , dia adalah ayah Rudi, iya kan kak " ucap Arsya bertanya pada Shakira dan di benarkan oleh Shakira.
Aku dan mas Irman saling tatap, bingung sendiri bagaimnan menjelaskan pada Shakira juga Arsya. Mereka belum mengerti, meski harus dijelaskan beberapa kali pun. Akhirnya aku pun punya ide semoga mereka suka .
" Arsya sayang, apa yang kamu bilang itu benar, ayah Arsya sama Shakira memang satu , Ayah Rudi. kalau begitu Arsya sama Shakira panggil om Irman abi saja gimana? , Shafira juga panggil Abi ke ayah .Mau?
Mereka nampak berpikir, sebenarnya sama saja artinya ayah tapi biar terdengar berbeda saja.
" Ila mau"
" Kalau kalian gimana? tanyaku pada Arsya dan Shakira.
" Abi.." panggil mereka bersamaan .
" Goods, kids "
Setelah perbincangan sesaat itu akhirnya anak-anak setuju memmnggil mas irman Abi, ada umma ada Abi, Romantis kan? hihi
sarapan pun dimulai dengan berdoa di pimpin Mas Irman . tak adayang berkata sepatah kata pun saat sarapan , kami khusu memakan makanan yang ada di hadapan kami.
*********
Berhubung ini hari weekand, anak-anak gak sekolah begitu juga mas Irman ia tak pergi ke rumah sakit. Hari weekand ini kami habiskan bersama di rumah bercanda dan bermain. Inilah yang aku suka dari Mas Irman ia begitu cepat akrab dengan anak-anak dan anak-anak pun sangat menyukai mas Irman.
__ADS_1
Terlihat di wajah mereka,sebuah kebahagiaan yang amat besar tertawa mereka begitu lepas, terbahak-bahak sampai berair mata. pemandangan ini begitu sejuk dimata dan di hati.
Aku teringat sesuatu , tadi malam aku meminta izin pada Mas Irman untuk menemui Abang, mungkin lebih cepat bertemu akan lebih baik .
" Mas" panggilku dan seketika menghentikan aktivitas tertawa mereka.
Mas Irman bangun dari tidurnya dan seperti meminta ijin pada anak-anak untuk menghampiriku.
Mas Irman duduk di sebelah ku.
" Ada apa Yank? tanya mas Irman.
" Kapan kita kerumah sakit? Aisyah pikir lebih cepat bertemu itu lebih baik"
Mas Irman melihat jam yag melingkar di tangannya.
" Nanti siang yah, mas masih ingin bermain sama anak-anak " ucapnya sambil memperhatikan anak-anak dan tersenyum.
" Terima kasih yah mas, udah mau menerima anak-anak Aisyah " ucapku serius.
" Sudah menjadi kewajiban mas Yank, anak-anak mu juga anak-anak mas . Lagian mas memang suka anak kecil, mereka itu lucu, menggemaskan dan lihatlah mereka begitu polos kan? gak ada beban hidup yang mereka pikul",
..." Kamu benar mas" ucapku lalu Aku menyenderkan kepala di bahu Mas Irman, dan memeluk erat tangan mas Irman. Kini posisi ini paling aku suka , nyaman rasanya . .....
******
Setelah melakukan shalat Dzuhur bersama lalu makan siang, aku menyuruh ketiga anakku untuk tidur siang, sebab nanti Aku akan pergi kerumah sakit menemui Abang. Dengan mereka tak ikut itu akan lebih baik, lagian anak-anak di bawah 12 tahun di larang masuk atau berkunjung kerumah sakit.
Shafira dan Arsya mereka telah terlelap tidur, tapi tidak dengan Shakira, ia malah mengguling-gulingkan badannya saja. Entah kenapa aku melihat ia seperti ada raut kesedihan. Apa mungkin ia tak suka tinggal di sini? begitulah pikirku.
" Ira gak ngantuk Umma, " Shakira bangun dan duduk dari posisi tidurnya.
Aku hanya bisa tersenyum melihatnya, ia amat mirip denganku dulu sangat tertutup dan sedikit bicara jika tidak di tanya. .
" Apa ada sesuatu yang membuat Ira resah? tanyaku
Ia menatap ke arahku, aku melihat matanya yang seperti sedang menahan air mata. Aku memangku nya dan mendudukkannya dipahaku. Aku peluk iya dengan erat. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang mengenai tanganku, basah? Ternyata Shakira menangis, aku begitu khawatir melihat Shakira yang tiba-tiba saja menangis.
" Ira sayang kamu kenapa, jangan nangis, " mengusap air mata yang ada di pipinya.
" hiks...ira bahagia Umma, akhirnya ira bisa melihat Umma langsung. Ira kangen Umma, setiap ira bertanya pada ayah , ia pasti suka bilang ' mama sedang ada keperluan jadi belum bisa pulang dan menemui kita, Ira sabar saja yah' . Sekarang ira tanya, Umma gak akan pergi lagikan? gak akan ninggalin ira sama Arsya lagi?
mendengar keluhan dari Shakira membuat hatiku sesak,asal kamu tahu sayang Umma juga merindukan mu empat tahun Umma mencari mu sayang, batinku dalam hati.
" Ira hanya bisa melihat Umma dari foto saja, bahkan ira berpikir Umma gak sayang ira sama Arsya. sampai -sampai ira juga Arsya gak Umma ajak, hanya Saudari kembar ira saja yang Umma bawa hik" ucapnya di sela-sela tangisannya yang sesegun .
" Ira suka iri sama temen - teman ira di sekolah, mereka di antar dan di temani mamanya, sedangkan aku sama Arsya hanya di antar pengasuh kami saja, apa lagi saat ayah sakit ira benar-benar merasa sedih"
Ya Alloh, sakit rasanya, anak usia empat tahun tapi dia berbicara dan mengeluarkan semua keluh kesahnya seperti bukan seorang anak yang berusia empat tahun. Abang terima kasih sudah mendidik anak-anak dengan baik, cara pikir mereka sungguh seperti bukan anak seusiannya mereka sekarang. terima kasih juga sudah memperkenalkan aku pada anak-anak meski hanya dalam sebuah foto.
Aku memeluk Shakira dengan terus menangis " Jangan berkata seperti itu sayang, Umma sayang sama kalian , ayah kalian benar, Umma memang ada sesuatu keperluan hingga Umma meninggalkan kalian begitu lama. Umma janji , Umma gak akan meninggalkan kalian lagi .Umma akan bersama kalian terus "
" Umma janji yah, jangan tinggalin kami lagi"
" Umma janji,"
******
__ADS_1
Rencana awalku dengan mas Irman, gak akan membawa anak -anak ke rumah sakit untuk menemui Abang. Tapi Shakira ingin ikut dan malah membangunkan adik dan kakak nya. Dengan terpaksa kami membawa mereka, dan aku pun lupa kalau rumah sakit tempat Abang di rawat itu milik suamiku, jadinya ada sedikit kebebasan untuk membawa anak -anak yang usianya di bawah 12 tahun.
Jika dipikirkan ini mungkin waktu yang pas untuku memperkenlkan Shafira kepada ayah kandungnya, orang yang ia sering tanyakan, hingga membuat diriku berbohong kalau setiap pria yang menyukai anak kecil itulah yang namanya Ayah .
Sampai di rumah sakit , kami langsung menuju ke ruangan dimana Abang di rawat .Sedangkan mas Irman ia izin untuk melakuan operasi mendadak, padahal ia sedang libur. tapi yang namanya dokter ia harus siap siaga disaat ada yang membutuhkan.
" Nany , ku panggil pengasuh ketiga anakku.
" ia nyonya. tolong kamu jaga anak-anak yah, mereka jangan dulu masuk takut Abang sedang istirahat dan terganggu. "
" Baik nyonya! "
" Sayang , kalian sama bibi dulu yah, nanti kalu di izinin masuk kalian Umma panggil ",
"Baik Umma " jawab mereka serempak .
ku buka handle pintu dan Di ruangan Abang ada ibu ,ayah dan Sharon. Tak lupa aku mengalaminya dan menanyakan kabar mereka.
" Assalamu'alikum " .
" Waalaikumsalam "
"Aisyah " panggil seseorang yang tak lain mantan ibu mertuaku.
" Ibu" ...aku memeluknya
" Ibu, Aisyah kangen, gimana kabar ibu dan ayah, sehat?
" Kami sehat sayang, " ucap kedua mantan mertua ku.
Aku melihat kearah Sharon, ia tertunduk dan aku pun menyapa "Sharon!! gimana kabarmu , sehat?"
Merasa namanya di panggil Sharon mengangkat kepalanya, dengan gugup ia menjawab.
" Se--sehat , kamu?
"Alhamdulillah aku juga sehat"
" Dimana cucu -cucu ibu?
" Mereka di luar bersama pengasuhnya, kalau dibawa masuk takut menggangu istirahat Abang "
Ku lihat Abang dari deket, ia nampak berbeda dengan Abang yang ku kenal empat tahun lalu. Abang yang sekarang terlihat lemah, pucat, kurus begitu sangat mengkhawatirkan. Aku tak menyangka takdir Abang akan seperti ini. Tiba-tiba ibu memelukku ia menangis sesegun ,
" Maafkan dosa kami Aisyah, maafkan Rudi juga hiks." tersungkur dan memegang kakiku.
Aku pandangi wajah ibu yang berlinang air mata dan menuntun ibu agar bangun .
" Jangan seperti ini bu, dan tak perlu meminta maaf , karena tak ada yang salah. Semua yang terjadi ini sebuah takdir dari Alloh swt. "
" Tapi...
Memegang erat telapak tangan ibu" Cukup bu, ( menghapus sisa air mata di pipi ibu) air mata ibu terlalu berharga, jangan menangis dan jangan meminta maaf pada Aisyah karena kalian tak salah , ini memang sudah menjadi takdir hidup Aisyah ",
"Aisyah. ....
tbc.
__ADS_1