
Setelah mendapat teriakan dari Irman akhirnya aku dan ketiga sahabatku tersadar dan sesegera mungkin masuk ke kelas, sebelum duduk aku sempatkan menaruh surat di meja Irman yang telah aku buat semalam aku harap ia membacanya.
Irman berjalan menuju mejanya sebelum ia duduk terlihat matanya memperhatikan surat yang ada di atas meja dan melirik ke arahku sekilas lalu ia menyimpan surat dariku kedalam tas nya.
Aku berharap setelah ia membacanya ia lebih sedikit mengerti dan mau melupakanku . Untuk sekedar menjadi teman mungkin aku akan senang hati menerimanya tapi kalau ia meminta lebih dari itu sudah tentu jawabanku tidak.
Saat ini entah kenapa aku merasa Irman terus saja fokus kepadaku , padahal ia sedang menerangkan materi tapi tatapan matanya seperti mengarah padaku. Tentu saja itu membuat diriku malu maka langsung saja aku menundukan kepala ku untuk menghindari tatapannya yang terlihat penuh dengan beribu pertanyaan.
" Mami , aku merasa Pak Irman sedang memperhatikan dirimu" ucap Sifa dengan berbisik
" Itu hanya perasaan mu saja, Sudahlah kembali fokus dan dengarkan penjelasan Pak Irman saja" elakku. .
" Ih Mami, Sifa serius ih...." Tuh buktinya mami juga nundukin kepala itu tandanya mami juga ngerasa sedang di perhatiakn Pak Irman , ia kan?? ngaku aja Mami "
" Nggak Sifa, ini aku lagi sakit kepala makanya aku nundukin kepala sambil aku pijat pelan " ucapku dan memang benar Saat ini kepalaku sakit efek tidur terlalu malam .
" Mami sakit ?? Kita ke ruangan kesehatan yah? tanya Sifa begitu panik hingga membuat Mery dan juga Risya menoleh ke tempat aku dan Sifa duduk.
" Apa yang terjadi, " ucap Mery.
" Mami sakit, tapi aku suruh istirahat di ruang kesehatan malah gak mau "
" Mami , apa kata Sifa benar sebaiknya mami istirahat saja "
" Itu gak perlu, aku hanya sakit kepala saja respon kalian terlalu berlebihan " ucapku
Aku lupa kalau saat ini masih proses belajar , aku dan sahabatku malah asik memperdebatkan yang gak penting menurutku. Aku yang sakit kepala mereka yang hebohnya , yang ada malah tambah sakit kepala ku. Lalu terdengar suara deheman yang suaranya sangat aku kenal.
" Ekhm ....Apa yang sedang kalian diskusikan? kelihatannya serius sampai -sampai aku yang sedang menyampaikan materi kalian acuhkan" ucap Irman dan berjalan semakin mendekat ke arah mejaku dan meja sahabatku.
"A..anu pak" ucap Risya
" Anu anu apa yang jelas kalau bicara !!! bentak Irman membuat seluruh penghuni kelas terkaget -kaget.
Aku tak terima Irman memperlakukan sahabtku seperti itu apa lagi ia sampai membentaknya.
__ADS_1
" Maaf pak , tadi mereka hanya menghawatirkan ku , jadi salahkan dan bentak saja saya jangan mereka."
" Memangnya kamu kenapa?
" Tadi kepala saya sakit pak , tapi sekarang sudah tidak apa-apa , mereka hanya berlebihan saja "
" Kau , kau dan kau bawa Aisyah ke ruang kesehatan " titah Irman sambil mengarahkan jari telunjuknya pada ketiga sahabatku.
Sontak aku menolak karean aku rasa tak perlu , tapi tatapan Irman menunjukan bahwa ia tak mau di bantah. Akhirnya aku turuti saja apa maunya lagian ini bisa aku jadikan kesempatan untuk menjauh darinya untuk sementara waktu.
--------
Kini aku sendiri di ruangan ini, rasanya nyaman sekali bisa jauh darinya ku ambil kesempatan saja untuk aku tidur agar kepalaku tak sakit lagi. Saat mataku mulai aku pejamkan terdengar seseorang memanggil ku.
" Aisyah Bagaimana keadaanmu sekarang? tanya Irman.
" Stop jangan mendekat. ... sebaiknya kamu pergi dari sini ...ini tak baik jika kita berduaan "
" Aku tahu. .tapi aku mau membicarakan sesuatu denganmu"
" Maukah kau menjadi temanku Aisyah Husnah? tanya Irman yang berhasil membuatku terkejut.
" Apa maksudmu? ??
" Ia jika kau tak mau aku menunggumu dan menyuruhku membuang semua perasaanku maka bolehkan kita berteman seperti dulu?
Kenapa dengan hatiku Robbi, mendengar Irman bicara seperti itu membuat hatiku sakit. Bukanlah ini yang aku mau ? tapi kenapa dengan hatiku ini. Dadaku begitu sesak ingin rasanya aku menangis ,Ya Alloh sebenarnya siapa yang ada di hatiku ini dan siapakah yang sebenarnya hatiku inginkan .
" Aisyah. .Aisyah. .." suara Irman menyadarkan lamunan ku
"Apa? ?
" Bagaimana kau mau kan?? Aku gak mau gara -Gara perasaanku padamu membuat kita berjauhan dan aku tak mau kau menjauhiku Aisyah, jika dengan kita menjadi teman semoga tak ada jarak lagi dan kita bisa bersikap sewajarnya saja bagaimana layaknya seorang teman.
Dengan ragu-ragu dan menahan sesak di hatiku , aku mengiyakan tawaran Irman karena ini memang keinginanku.
__ADS_1
" Baiklah ..aku sangat senang mendengarnya maafin aku, semoga saja dengan kau berkata seperti itu tak ada lagi kecanggunagn diantara kita. Irman aku yakin kamu pasti akan mendapatkan wanita yang baik karena kau juga pria baik, Semoga Alloh segera mempertemukan nya dengan mu."
" Terima kasih atas doanya " ucap Irman dengan nada yang begitu kecewa .
Wahai hati berdamai lah dengan keadaan, sadarlah wahai hati kau telah ada yang memiliki jangan sampai kau menghianati pemilik hati ini. Aku sadar mungkin perasaan tadi yang begitu sesak mendengar perkataan Irman bahwa ia ingin menjadi seorang teman dan berusaha melupakan perasaannya pada diriku , mungkin itu hanyalah bentuk respon keterkejutan ku saja. Aku sadar diri hati ini hanya milik Abang. ..milik Abang seorang
tak akan pernah ada yang bisa menggantinya meskipun itu Irman cinta pertama ku.
Aku yakinkan seyakin yakinnya bahwa perasaanku pada Irman sudah tak ada , perasaan yang sering aku rasakan saat dengan Irman mungkin itu karena aku tau dia mencintaiku hingga membuat diriku jadi salah tingkah dan membuat hatiku kacau.
------
Drt. ..Drt. ....
Handphone ku bergetar terlihat di layar ponsel nama Abang.
" Assalamu'alikum. ..Abang dimana?
" Wa'alaikum salam , Abang sedang di jalan dek, dek maaf yh hari ini Adek pulang sendiri lagi yah abang ada keperluan. Dan nanti malam adek jangan nungguin Abang, tidur saja duluan "
" Ia Abang,, nanti pulangnya jangan malam-malam banget yah Adek kesepian tau."
" Maafin Abang , Abang Janji setelah pekerjaan Abang selesai Abang akan ada terus buat Adek "
" Janji yh.."
" Iya Abang Janji, yaudah Abang tutup dulu telponnya yah. ..Dadah adek. ..
" Dadah Abang. .
tuuuutttt
sambungan telepon terputus. .
Hah, Aku hanya bisa menghela nafas kasar lagi- lagi di tinggal Abang. Pekerjaan apakah yang membuat Abang pulang malam terus dan melupakan diriku. Tapi aku sadar diri aku gak boleh egois mungkin Abang memang lagi banyak pekerjaan ..Terlebih lagi Abang sedang meniti karir sebagai pengacara aku harus mendukungnya dan membuang semua pikiran buruk.
__ADS_1