Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Teror


__ADS_3

Hubungnku dengan mas Irman serta ibunya semakin dekat , bahkan kini Ibu mas Irman jadi lebih sering mengunjungi Shafira meski aku tahu Shafira bukan cucu kandung nya.


Persiapan pernikahan ku kini sudah 50 persen semua mas Irman yang mengaturnya sedangkn Aku tak tahu menahu, katanya sih ingin buat kejutan . ok fiks aku tunggu kejutannya.


Hari ini Cafe nampak begitu ramai beruntung Shafira ibu ajak jalan - jalan jdi gak ada lagi si cantik yang selalu ngelarang aku tiap melayani pembeli saat ramai seperti ini, alasannya sih hanya satu Shafira bilang Umma gak boleh capek biar Ila yang kerja , alhasil bukannya membantu tapi malah menambah kerjaan pegawai lain hmm Shafira -Shafira


Aku paling gak bisa marah-marah ke Shafira ngebentak pun aku gak pernah, jadi apa pun yang Shafira lakukan aku tak pernah melarang atau pun marah selagi itu tidak membahayakannya.


Terdengar suara handphone ku berbunyi, tertera nama Mas Irman disana aku langsung saja menggeser ikon yang berwarna hijau itu.


" Hallo, Assalamu'alikum mas"


" Wa'alaikum salam, sayang nanti kalau ada kurir ngirim paket atas nama kamu ambil yah itu hadiah dari mas"


" Wah ..perasaan Aisyah lagi gak ulang tahun deh mas kok tumben kirim hadiah segala"


" HEhe lagi mau aja sayang, emangnya harus nunggu dulu kamu ulang tahun gitu"


" Yah gak juga sih mas, yaudah sebelumnya Aisyah mau bilang terima kasih yah. "


" Ia sama-sama, semoga kamu suka yah hadiah dari mas "


" Ia ia, yaudah Aisyah tutup dulu yah soalnya lagi banyak pelanggan "


" Ia .. assalamualaikum sayang "


"Waalaikumsalam mas"


Satu kata ku ucap untuk mas Irman Romantis, sungguh mas Irman kini jadi pria romantis padahal yang aku tahu mas Irman itu orang yang tak bisa nunjukin rasa romantisnya jadi bawaannya itu serius terus , datar gak ada ekspresinya sama sekali.


*


*


*


*


*


Tak terasa waktu sudah jam makan siang , waktunya untuk istirahat . Saking sibuk melayani pelanggan aku hampir lupa kalau Shafira belum juga pulang , tapi, biarlah mungkin Shafira lagi seneng -senengnya punya Oma baru.


Ku rebahkan tubuh ini setelah melaksanakan sembahyang, untuk mengusir sedikit rasa lelah yang aku rasa. Namun baru juga kepalaku akan ku letakkan pada bantal kesayanganku panggilan jo membuat niat ku urungkan.


" Ish... jo ..selalu saja seperti itu"


agar jo tak berteriak-teriak lagi akhirnya aku pun berjalan menghampirinya sambil menutup telingaku yang begitu terasa sakit mendengar teriakan jo.


" Jo! ada apa sih? bisa gak kebiasaan teriak - teriaknya di hilangin, kakak aneh deh kamu tuh cowo tapi saat kau berteriak seperti seorang gadis kecil saja"


" Ish kakak ini, suara jo seperti ini kan takdir jadi jangan Salahin jo dong " Bela jo


" Nah itu kamu nyadar dirikan? mangkanya kalau teriak itu suaranya kondisikan kakak pasti dengar , kalau gak agak di kecilin suaranya jangan terlalu di full, gak malu apa kau pada riska kalau dia ilfill gimana? tahu rasa kamu!


"Kak kalau suaranya kecil bukan teriak namanya, tapi berbisik , lagian Riska my hubby juga gak akan ilfill benarkan sayang ? cintanya abang kan cinta mati sama Abang yah?" sambil melirik ke arah riska yang sibuk di depan mesin kasir, namun yang di

__ADS_1


lirik malah acuh dan sibuk sendiri.


"Sayang..sayang kok diem sih , bela aku dong " rengek jo


Riska sejenak menghentikan aktivitasnya dan membuang nafas kasar


"Hmmm gimana mau nyebelain, giliran aku tanya kapan halalin neng langsung diem, sekalipun ngejawab malah ngebahas yang lain ,uhh sebel gak sih kak punya cowok kaya gitu ?"


" Tuh jo dengerin , kakak gak ngikut -ngikut yah selesaiin masalah kalian berdua ya"


Jo malah terlihat cengengesan mendengar rajuaan dari Riska.


" Sabar sayang kalau sudah waktunya kita pasti nikah, percaya deh sama kakang jo"


Merasa jengah dengan obrolan Jo akhirnya aku pun meninggalkan sepasang kekasih itu yang sedang mempertahankan ego mereka masing-masing.


Namun baru juga selangkah aku berjalan jo sudah berteriak lagi memanggil namaku.


" Kak Aisyah. ...kak mau kemana sih ? tunggu sebentar napa"


" Kamunya kelamaan sih, ada apa memang nya, cepet yah 5 menit saja" ancam ku.


" Ia ia lima menit doang , nih jo cuma mau ngasih ini "


menyerahkan sebuah kotak padaku.


" Apa ini jo?" tanyaku pada jo.


" Jo juga gak tahu, jo kira kakak belanja online "


Saat mengingat -ingat aku jadi teringat dengan perkataan mas Irman yang katanya akan mengirim sesuatu padaku, sambil tersenyum aku raih paket yang ada di tangan jo dan langsung berjalan meninggalkan Jo .


" woii kak..... kak" teriak Johan padaku.


." Dasar bucin, Jo malu yah punya kakak jadi bucin kaya gitu " masih dengan berteriak.


Biarlah , terserah apa kata Johan yang penting hari ini aku sangat senang.


Aku begitu penasaran dengan kado yang di kirim mas Irman, akhirnya tanpa ragu lagi aku langsung membuka isi kotak itu.


Namun ada keanehan dari kotak itu , setiap aku buka isinya ada lagi kotak begitu seterusnya sampai 3 kali ,


ok, tanpa menaruh curiga sedikit pun aku berpikir positip , mas Irman niat bener bikin kejutannya begitulah isi pikiranku Saat ini.


Saat kotak terakhir aku buka dan


" aaaaaaaa"


Aku berteriak sekencang mungkin mengekspresikan bentuk keterkejutan ku dengan apa yang aku lihat .


Bagaikan di tembak mati saat itu juga melihat apa isi kotak terakhir itu , ancaman ..yah kotak itu bertuliskan ancaman dan sebuah boneka yang penuh dengan darah.


Teriakan ku membuat panik seisi Cafe, mungkin mereka sedang bertanya-tanya ada apa? apa yang terjadi?


Ku panggil Jo, ku suruh ia membuang kotak itu yang aku yakini bukan dari mas Irman pasti dari orang iseng belaka.

__ADS_1


"Jo.... jo... cepet kemari jo..."


Dengan berlari Jo menghampiriku dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


" Ada apa kak, kenapa kakak berteriak seperti itu"


" Jo ..buang kotak itu Jo...." menunjuk ke arah kotak yang sudah tergeletak di lantai.


" Kenapa memangnya kak dengan kotak itu?


" Sudahlah jangan banyak bicara Jo , pokoknya buang "


Saat Jo mengambil kotak itu surat ancaman serta boneka yang berlumuran darah Itu terjatuh, terlihat sekali kemarahan di wajah Jo.


" Jo , cepat buang! !! bentak ku


" Ia kak Jo akan membuangnya "


Aku masih scok dengan kejadian barusan , siapa orang yang begitu iseng kirim -kirim hal konyol seperti itu dan apa maksud semua ini, seumur -umur baru sekarang ada orang Yang iseng kirim -kirim seperti itu.


" Kak minumlah , biar kakak tenang " Riska memberiku segelas air aku mengambilnya dan menghabiskannya.


" Tenang yang kak, itu pasti kerjaan orang yang gak punya kerjaan " ucap Riska menenangkan ku.


"Ia kakak juga tak terlalu memikirkannya " elakku padahal yang sebenarnya begitu mengganggu pikiranku.


" Kembalilah bekerja, kakak gak apa-apa kok" biar nanti Johan saja yang menemani kakak.


"Baiklah kak, Riska kembali kedepan lagi yah " izin Riska.


Aku hanya menganggukan kepala saja memberi isarat tanda meng iyakan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


**Hai hai mohon maaf yah baru bisa up date kembali, dua minggu kebelakang saya di sibuk kan dengan persiapan adik menikah jadi Author gak punya waktu buat up.


mohon maaf juga kalau ceritanya nanggung, gak nyambung atau apalah karena jujur Author belum ada mood untuk up , tapi berhubung sudah ada peringatan dari nt harus segera up yaudah up aja meski ceritanya amburadul gini**


__ADS_2