Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Sampai di Ciamis


__ADS_3

Kini aku dan keluarga tengah di perjalanan menuju ciamis, posisi kami masih berada di Bandung kemungkinan sampai ke kampung halamanku tiga sampai dua jam lagi. Maklum aku di ciamis bukan tinggal di kota, tapi tepatnya di daerah yang sering kami sebut diskotik alias di sisi kota sedikit. Dalam artian tempat tinggal ku gak kampung_kampung amat sebab jika ingin ke pusat kota ciamis hanya memerlukan waktu satu jam bahkan bisa kurang dari sejam.


Anak-anak begitu kegirangan, sama sekali tak ada rasa lelah. Mereka bernyanyi juga bercanda dengan calon Bibi mereka, Riska. Berbeda dengan Jo, dari awal berangkat sampai sekarang wajahnya terus di tekuk. Gak biasanya ia begitu, biasanya juga jo paling seneng jailin keponakannya.


Terlintas di pikiranku, kejadian tadi malam apa karena itu? Jo ngambek padaku? Ya Rabb ternyata adik ku ini sedang meraju padaku. Jadi ingat kejadian semalam aku berdebat dengan Jo hanya gara-gara aku tak mau di panggil kakak, tapi maunya di panggil teteh sampai akhir nya adzan Subuh berkumandang. Dan acara tidur Jo terganggu, sebab dari dulu ibu sama Bapak pernah berpesan jangan tidur lagi kalau habis subuh, dan kebiasaan itu terbawa sampai sekarang.


flashback on


Setelah mendapat izin dari mas Irman, aku jadi teringat Jo. Aku akan ajak Jo juga Riska ke ciamis. Aku lihat jam sudah menunjukan jam 3 pagi, aku pikir gak ada salahnya jam segini telpon Jo. Akhirnya aku pun mendeal nomor Jo, namun tak kunjung juga di angkat. Sampai pangilan ke lima kalinya baru Jo angkat.


📞" Hallo" suara Jo di balik telpon


📞"Assalamu'alaikum, kebiasaan yah tiap kali ngangkat telpon ucap dulu salam kenapa, " protes ku pada Jo


📞" Wa'laikum sallam, ia maaf kakak. Ada apa sih orang lagi tidur di ganggu, gak ada kerjaan apa" protes Jo


📞 " Jo, panggil teteh jangan Kakak. Udah teteh bilangin juga"


📞 " sama saja kak makna nya juga"


📞" gak mau pokoknya Teteh mau di panggil Teteh bukan kakak"


📞" Kakak ini kenapa sih, perasaan dari dulu Jo panggil kakak. Gak pernah di protes deh, lah sekarang kekeh banget pengen di sebut Teteh. Apa bedanya coba? , udah ah sekarang langsung ke tujuan kakak jam segini hubungi Jo apa? Jo masih ngantukk Kak, "


📞" Pokoknya mau di panggil Teteh, kalau gak fasilitas yang teteh kasih, tak ambil lagi, mau?


📞"ish kebiasaan kumat, dikit -dikit ngancem, yaudah teteh, ada apa sok gera ngomong. Kalau pembicaraan teteh gak berfaedah Jo tutup sekarang juga"


📞" Nah kan adem dengernya juga kalau di panggil teteh, maklum Jo teteh kan lagi hamil, mungkin bawaan Bayi teteh"


📞"Alasan saja " ketus Jo


"Jadi, ada keperluan apa sampai menggangu acara tidur Jo"


📞 " Ya Robb, teteh sampai lupa. Kamu sih Jo malah ngajak teteh debat dulu, jadi kan malah lupa tujuan teteh menghubungi mu"

__ADS_1


📞" Lagu lama teh, dari dulu kalau sama Jo emang kaya gitu kan? mau ngomong apa, yang di omongin apa, " keluh Jo.


📞" hehe, tahu saja kamu, Nanti pagi jam tujuh kamu sama Riska ke sini yah, kita ke ciamis. Gak usah bawa barang banyak, cuma dua hari kok. Gak boleh nolak pokoknya kamu juga Riska harus ikut "


📞" kenapa mendadak teh, di cafe lagi banyak kerjaan. Gak mungkin Jo tinggal,


📞" Jo, kapan lagi kita ke ciamis, sudah lama juga gak ziarah ke makan Ibu sama Bapak. Cafe biar Hadi saja yang Handel"


📞" Baiklah, Udah yah Jo mau tidur lagi, masih ngantuk"


Tak lama terdengar suara azan subuh berkumandang..


📞" Tetehh...... teriak Jo dibalik telpon. Kan udah subuh saja, acara tidur Jo ke ganggu, mana Jo baru tidur sejam "


Tanpa merasa bersalah aku malah tertawa dan langsung menutup telpon.


flashback of


Dari tadi Jo menguap terus, hanya berdiam diri sambil matanya terpejam.


" Jo, kamu ngambek sama teteh? maafin teteh Jo"


Sambil memeluk, sambil tak hentinya meminta maaf. Jo emang gitu ambekan, sensian kaya cewe.


" Maafin teteh Jo, masa gitu saja ngambek, nih yah teteh saja belum tidur sama sekali lo, saking senengnya mau ke ciamis "


Jo membuka matanya, membuang nafas kasar lalu tersenyum padaku. "Teteh paling bisa merayu Jo, Jo paling gak bisa ngambek lama sama teteh" lalu Jo memeluk balik padaku.


" " Teteh siapa dulu atuh," jawabku. " Sekarang kamu tidur beneran saja Jo, jangan khawatir kan ada supir profesional. Iya kan pak supir?


tanpa menoleh supir mas irman mengiyakan


" iya Nyonya "


Sementara itu suami tercintaku sedang asik dengan dunia mimpinya, di samping tempat duduk pak supir.

__ADS_1


****************


Waktu dzuhur akhirnya sampai juga ke Ciamis, kampung halamanku. Tempat penuh kenangan, kenangan bersama ibu sama Bapak, juga kenangan masa kecil bareng orang yang kini telah menjadi suamiku sekaligus Abii nya anak-anakku.


Rumah peninggalan orang tua sengaja gak aku jual, alasannya satu terlalu banyak kenangan di rumah ini. Aku juga Jo enggan untuk menghilangkan kenangan indah bersama kedua orang tuaku. Sementara itu kebun serta sawah milik ibu sama bapak sempat kami jual, untuk modal usaha selepas pergi dari kehidupan Abang. Tapi Alhamdulillah, atas berkat Allah SWT semuanya aku beli kembali setelah usaha ku berhasil tentunya.


Anak-anak begitu kegirangan, maklum mereka hidup di kota sekali pergi ke kampung mereka langsung seneng. Apa lagi ketika mereka melihat empang bertaburan dimana- mana. Kita tahu sendiri di kampung yang namanya empang masih banyak, sebab rata- rata mereka mandi, nyuci di empang.


Tanpa rasa lelah, aku juga Riska menyiapkan untuk makan. Untung nya aku belanja bahan-bahan makanan dulu di Jakarta, jadi sekarang gak kerepotan harus cari bahan makanan.


Sementara itu Suamiku sedang duduk di teras bareng supir dan juga mang Adang, tetangga yang aku percayai untuk merawat rumah, sawah dan kebun peninggalan Ibu sama Bapak. Jadinya rumah ini tetap terawat meski tak di huni.


Kalau Jo? jangan di tanya ia langsung ke kamar dan tidur dengan damai. Anak-anak mereka masih asik bermain di empang belakang rumah. Ceritanya mereka lagi renang, tapi renang di empang yang banyak ikannya. Gaya renang nya juga gaya tutut sama gaya batu, hanya diam di pinggir empang karena takut di gigit ikan jawabannya. Untung nya juga empang itu gak di pake buat mandi, nyuci dan lainnya sebab di rumah ini sudah ada kamar mandi, plus spitank. Jadi pembuangannya gak ke empang.


***********


Malam hari


Hari pertama disini kami sepakat gak kemana-mana, sebab mengistirahatkan dulu tubuh, apa lagi aku yang sedang berbadan dua.


Kalau besok jangan di tanya, kami akan jalan-jalan keliling kampung heheh. Gak juga sih tepatnya setelah ziarah aku berniat mengajak anak-anak ke tempat wisata di sini, kemudian pulang.


Aku sangat merindukan suasana malam seperti ini, terdengar suara air yang mengalir serta suara Jangkrik yang begitu merdu di telingaku. Lalu tak terasa air mataku jatuh, teringat ibu sama Bapak. Di tempat inilah, kursi yang terbuat dari rotan tempat favorit keluarga, disini pula kami saling bercanda, saling bercerita kegiatan yang kami lalui seharian.


Semua tak akan terulang kembali, hanya tinggal kenangan. Entahlah meski hampir 5 tahun mereka berpulang, tapi rasa rindu pada mereka malah semakin besar.


Tak sadar sedari tadi suami tercinta ku duduk di samping ku, aku menoleh lalu suami ku langsung memeluk ku. Aku menangis diperlukan Suamiku. Rasanya nyaman serasa berada di pelukan Ibu sama Bapak.


" Sudah malam yank, tidur yuk. bukannya kemarin malam kamu belum tidur?. Kasian tahu baby twins nya, kamu juga yank butuh tidur cukup" ucap mas Irman lalu mengusap air mataku dengan kedua tangannya.


Aku hanya mengangguk, lalu mas irman menuntunku ke kamar. Bukan ke kamarku dulu ataupun ke kamar Ibu sama Bapak tapi ke kamar milik Jo. Alasannya, jika di kamarku dulu malah akan mengingatkanku pada Abang, setidaknya di kamar itu menjadi saksi untuk pertama kalinya aku bersama seorang pria selain Adik juga Bapak. Dan kenangan itu tak ingin aku ingat lagi, karena ada Mas Irman sekarang.


Jika tidur di kamar Ibu sudah tentu bukan tidur yang ada aku akan menangis sepanjang malam karena ingat kepada beliau terus. Kamar Jo yang kira aman, Di Sana sudah ada Riska yang tertidur. Ya karena di sini hanya ada 3 kamar jadinya aku dan Riska tidur di kamar Jo dulu, Mas Irman dan Jo di kamar aku dulu dan Anak-anak di kamar Ibu sama Bapak.


Setelah aku berbaring di kasur bersebelahan dengan Riska, mas Irman mencium kening ku dan mengucapkan selamat tidur dan pergi ke kamar sebelah.

__ADS_1


Ku pejamkan mata, sadar akan aktivitas besok yang pastinya akan melelahkan.


TBC.


__ADS_2