Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
Berdebar


__ADS_3

Belum pernah aku merasakan momen se menegangkan ini. Aku seperti sedang berada di satu ruangan kecil, yang di kelilingi banyak orang dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Kebayangkan bagaimana posisi aku sekarang? ada Abi, Uma sama Aa Rey, terlebih tatapan Abi yang amat mematikan membuat nyaliku ciut. Gak berani menatap Abi, padahal aku gak melakukan kesalahan besar, hanya telat pulang dari aturan yang seharusnya.


Habisnya mau gimana lagi, kalau seandainya tadi di jalan menuju pulang aku gak terkena Acident, kemungkinan besar aku bisa pulang tepat waktu. Tapi kalau aku bilang habis di tabrak orang, yakin 100 persen izin membawa motor akan langsung Abi tarik.


"Habis dari mana? kenapa pulang telat? kenapa Uma nelpon adek gak di angkat-angkat?" Ucap Abi penuh intimidasi.


Sambil tertunduk aku menjawab, "Ais habis dari yayasan, asik bermain sama anak-anak jadi lupa waktu, seriusan Bi. Ais gak bohong."


"Kalau berbicara angkat kepalanya, jangan nunduk kaya gitu." titah Abi.


Jujur, aku gak mau menatap Abi. Mendengar suaranya saja sudah sehoror gini. Gimana kalau aku harus menatap Abi, No, Big no.


"Adek," panggil Abi dengan penuh penekanan.


Dengan terpaksa dan rasa takut, aku pun mengangkat kepala ku, menatap langsung wajah Abi. Dan tiba-tiba sesuatu terjadi yang membuat aku membuka mulut karena tercengang akan sikap Abi.


Cup..


Satu kecupan Abi di keningku, lalu membawa tubuh ku kedalam dekapannya. Sekali lagi aku hanya tercengang, merasa gak percaya dengan semua ini. Yang ada di pikiranku, kalau malam ini aku akan habis di marahin Abi, nyatanya? justru kebalikan dari apa yang aku pikirkan.


"Abi khawatir dek, jangan mengulangi lagi yah?" ucap Abi sambil terus memelukku dan mengusap lembut kepalaku.


"Maafin Adek Bi, janji gak akan ngulangin lagi."


Lalu Abi melepaskan pelukannya dan melihat ke arah kakiku.


"Mana yang sakit? coba Abi lihat," ucap Abi sambil sedikit menyingkap kan gamis ku.


Aku langsung menatap ke arah A Rey, bukannya ia berjanji akan merahasiakannya. Tapi sekarang? Abi sama Uma tahu. Sedangkan A Rey, malah cuek Bebek gitu, nyebelin kan punya Aa kaya gitu. Aku tarik lagi deh perkataan kalau A Rey baik hatinya, nyebelin iya.


"Gak Abi, udah gak sakit kok." kilahku padahal masih sakit sedikit.


Abi menatap ku, "Jangan belajar berbohong, selama ini Abi atau pun Uma gak pernah ngajarin berbohong. Ini kaki memar begini, lihat Mi, si adek bilang ini gak sakit." Abi memperlihatkan kakiku yang memar ke Arah Uma.


Uma hanya terlihat menarik nafas dalam, "Adek-adek, Uma kompres ya pakai air es." Uma lalu berdiri ingin mengambil air es. namun aku tahan.


"Uma gak usah, kakinya udah A Rey obati kok, serius. Tanya Aa deh." aku menunjuk ke arah Aa.


"Bener A udah Aa obatin kaki Adek?" tanya Uma.


"Iya Uma udah, Rey kan Aa yang paling perhatian."


Rasanya ingin muntah mendengar perkataan Aa, nyebelin mah ia a.


"Makanya hati-hati dek kalau bawa motor, nan--" perkataan Uma aku tangkis aku tak mau dengar kata selanjutnya, aku takut mendengar kata 'gak boleh bawa motor lagi, no'


"Abi, Uma adek mohon izinin terus adek bawa motor yah, Ade janji akan lebih hati-hati lagi." aku memohon sambil menatap ke Abi dan Uma.


Nyebelin nya Aa malah ngomporin Uma sama Abi.

__ADS_1


"Jangan kasih izin lagi, sita saja motornya."


"Jangan!"


"Sita,"


"Jangan Aa ih."


"Stopp!!" Abi menengahi.


"Kok jadi berantem gitu, Aa gak boleh gitu dan buat Ade Abi sama Uma gak akan melarang Ade bawa motor, dengan catatan, jangan telat pulang lagi sama hati-hati kalau bawa motor."


"Kalau ancident ini terulang kembali, maka siap-siap Abi atau Uma akan ambil motor nya." sambung Uma.


"Siap, Abi, Uma. Ini yang pertama dan terakhir, janji." ucapku sambil memeragakan tangan berbentuk huruf V


**********


Zain pov


Pagi itu aku berniat untuk pergi ke kampus tempat dimana aku mengajar, dengan mengendarai mobil pajero, biasanya aku berangkat ke kampus mengendarai motor,entah kenapa hari ini begitu enggan untuk mengemudikan motor.


Di tengah perjalanan aku melihat sepasang manula yang sepertinya ingin menyebrang. Berhubung mereka gak nyebrang di zebra cross membuat mereka kesulitan untuk menyebrang.


Aku pun menghentikan laju mobil ku dan menepikan nya. Ku mendekati mereka dan bertanya hendak mau kemana gerangan sepasang manula ini.


"Assalamu'alaikum kek, nek." aku mengucapkan salam


"Kakek sama Nenek mau kemana? biar saya antar," usul ku.


"Kami habis jalan-jalan, dan sekarang mau pulang."


"Berdua saja? anak atau cucu Kakek sama Nenek mana?"


"Kami hidup berdua, anak dan cucu kami jauh." ucap sang Nenek nampak sendu.


"Lalu yang merawat Kakek sama Nenek siapa?"


"Ada bibi di rumah, dia yang selalu memenuhi kebutuhan kami."


"Ya udah aku antar yah, rumah nya dimana?"


Sang Kakek menyebutkan alamat rumah nya , dan tidak terlalu jauh dari tempat awal kami bertemu. Dengan jalan kaki saja bisa cepat nyampe.


Saat aku dan sepasang manula ingin menyebrang, aku merasa ada yang sedang memperhatikanku, benar saja dugaan ku. Ada seorang gadis di atas motor Scoop* yang terus saja memperhatikanku, bersyukur aku pakai masker jadi ia tak melihat wajahku.


Begitu pun gadis itu, helm menghalangi wajahnya hingga aku tak bisa melihat wajahnya. Jika aku tahu wajahnya mungkin aku akan kasih dia tanda, bahwa ini gadis terus saja memperhatikanku dan jika bertemu kembali akan aku tanyain apa alasannya.


Dugaan ku semakin yakin, saat aku dan sepasang manula itu sudah melintas dan aga cukup jauh dari posisi gadis itu, gadis itu pun pergi. Aneh, pikirku.


****

__ADS_1


Sampai di kampus aku memparkirkan mobil, sebelum keluar mobil aku memakai peci terlebih dahulu, niatnya akan melakukan shalat dhuha yang rutin aku kerjakan tiap pukul delapan.


Setelah itu aku membuka pintu mobil dan menekan tombol kunci otomatis. Tujuan pertamaku adalah mushola kampus tapi, Langkahku terhenti ketika aku melihat satu buah motor Scoop* yang sangat mirip milik gadis tadi.


Tapi aku berpikir kembali orang yang mempunyai motor seperti ini pasti banyak, warnanya juga pasti banyak yang sama.


Akhirnya aku lanjutkan langkahku yang sempat terhenti gara-gara melihat motor yang sama persis milik gadis di jalan tadi.


Ada mungkin sekitar jarak 100 meter, aku mendengar orang yang sedang memarahi. Aku yakin itu pasti ulah Mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengospek.


Aku hanya menggelengkan kepala, tanda tak setuju jika harus sekeras itu. Itu bukan sesuatu yang mendidik.


"Rika, ingat yah Bapak gak suka ada hukuman terlalu keras." ucapku pada salah satu anak didik ku.


Bukannya menjawab, ia malah terdiam sambil melihat ke arahku. Sudah tak aneh lagi, para mahasiswi pasti selalu seperti itu ketika melihat ku. Padahal aku merasa tak ada yang istimewa pada diriku.


Aku pun memanggilnya kembali dengan suara yang sedikit meninggi.


"Rika! kamu dengarkan Bapak bicara."


"Eh ia pak," ia nampak gelagapan.


Selesai memberi tahu mereka untuk tak terlupa keras menghukum, aku pun pamit dan melanjutkan niat awal untuk shalat dhuha.


*********


Kepedulianku pada orang yang kurang mampu, sudah tertanam sejak aku masih duduk di bangku SMP. Selain didikan orang tua ini juga murni dari lubuk hatiku.


Di gugel map aku mencoba memcari satu yayasan yang menaungi anak-anak atau orang -orang kurang beruntung lainnya.


Banyak pilihan, tapi pilihanku jatuh pada yayasan peduli sesama. Selain jaraknya dekat dari rumah dan melihat dari bio yayasan ini membuat aku tertarik untuk menjadi donatur tetap mereka.


Siang ini aku berniat mengunjungi yayasan itu, lebih cepat lebih baik pikirku. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana. Karena yayasan ini benar-benar ada di tengah-tengah dekat dari rumahku juga dekat dari kampus.


Dari kampus ke sana cukup dua puluh menit perjalanan. Sebelum berkunjung aku menelpon terlebih dahulu pihak yayasan peduli sesama, setelah pihak yayasan memberi kode aku pun segera berangkat.


Sampai di sana aku di sambut oleh sekelompok anak muda mungkin usia mereka antara 20 tahun lebih, gak menyangka ternyata para pengurusnya masih muda-muda. Itu bukti di jaman sekarang masih ada pemuda pemudi yang masih punya rasa sosial yang tinggi.


"Selamat siang Pak Zain."


"Jangan panggil saya pak, saya tidak tua-tua amat." ucapku di selingi kekehan kecil.


"Maaf, kalau gitu kami panggil mas Zain." usul seorang pria yang katanya wakil ketua pengurus yayasan ini.


"Itu lebih baik."


Lalu aku bersama seorang pria bernama Hasan berkeliling Yayasan, ia menceritakan dari awal sampai akhir proses pendirian yayasan ini. Satu fakta yang membuat aku terkejut, pencetus pembangunan yayasan ini adalah seorang gadis belia berusia lima belas tahun. Dan jika yayasan ini sudah berdiri sejak tiga tahun berarti gadis itu sekarang delapan belas tahun.


Ini membuat aku penasaran dengan sosok pendiri yayasan ini


tbc

__ADS_1


__ADS_2