Lelaki Itu Suamiku

Lelaki Itu Suamiku
123


__ADS_3

Jam terus berputar dengan cepat, tidak terasa sudah tiga jam lebih aku menunggu. Aku sudah tidak sabar lagi, aku ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Nona mau ke mana?" cegat salah satu tim mekap.


Aku menatap ke arah lenganku yang dipegang. "Aku harus cari tahu. Aku gak bisa diam seperti ini tanpa tahu apa yang sebenarnya telah terjadi," ucapku yakin.


Aku tidak mau seperti orang yang bodoh tanpa melakukan apa pun. Menuggu tanpa sebuah kejelasan. Lalu aku pun lanjutkan niatku untuk melihat ke tempat di mana akan berlangsung acara akad--ruang tamu.


Hati yang bergemuruh dengan rasa penasaran seketika terasa reda. Saat dari atas aku bisa melihat seorang pria yang sedang berjabat tangan dengan Abi.


Pria itu membelakangiku. Sedang melangsungkan proses ijab kabul.


Aku sedikit lega. kecemasanku ternyata tidak terbukti, aku tahu alasannya kenapa di ruang tamu sana terdengar sepi seperti sedang tidak berlangsung acara akad pernikahan. Alasannya karena tidak memakai mikrofon hingga suaranya hanya terdengar di sekitar sana saja.


Tapi... tunggu! Ada yang aneh, kenapa aku melihat wajah -wajah penuh kesedihan. Air muka mereka terlihat seperti mereka sedang berduka. Lagi, aku mengedarkan pandangan ke setiap sudut tidak ada sosok temanku--Reni. Apa, iya, dia berniat untuk tidak hadir di acara bahagiaku?


Tidak sengaja pandangan mataku dan Abi bertemu. Aku tersenyum karena saat ini aku memang sedang berbahagia. Dinikahi dosen sendiri tanpa proses pacaran, hanya sebatas ta'aruf saja. Inilah cita -citaku dari dulu.


Harusnya Abi terlihat senang kan? Tapi... tatapan Abi terlihat sendu seperti itu. Sungguh aku tidak suka dengan teka-teki. Aku tidak suka jika harus mengumpulkan kepingan -kepingan keganjalan ini.


Abi menatap Uma, lalu Abi terlihat memberikan isyarat pada Uma. Dan detik itu juga Uma langsung berjalan sepertinya hendak menyusulku.


"Uma," ucapku saat Uma sudah berdiri di depanku. Aku juga langsung memeluknya. Pelukan kebahagiaan.


Aku tersentak saat pelukan Uma berubah menjadi semakin erat. Dan... tunggu! Uma menangis? Ah, iya, mungkin Uma menangis karena saking terharu dan bahagia. Aku pun kini ikut memperberat pelukan Uma.

__ADS_1


Dalam benakku mengira, datangnya Uma menghampiriku karena ingin mengajak dan menuntunku ke bawah. Seperti yang pernah aku saksikan. Setelah proses ijab kabul maka mempelai wanita akan dipersilakan duduk di samping pengantin pria. Lalu kenapa diriku tidak? Kenapa Uma malah membawa aku kembali masuk kamar?


Waktu itu kepalaku sudah mulai sakit. Aku mulai merasakan keganjalan yang semakin jelas.


"Kenapa Uma malah membawaku ke kamar lagi? Acara ijab kan udah selesai, harusnya saat ini aku ada di samping suamiku."


Dari serentetan pertanyaanku tidak ada satu pun yang Uma jawab. Uma hanya memintaku duduk, lalu ia menggenggam erat jari jemariku. Genggaman tangannya ini seperti sedang memberikan kekuatan.


"Uma, Ais minta tolong jangan seperti ini. Apakah Uma berubah pikiran hingga tidak meridhoi pernikahan aku dengan Pak Zain? Kenapa Ais merasa ada hal yang aneh. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang Ais tuduh itu benar?"


Tiba -tiba Uma tertunduk dan terisak. Tubuhnya bergetar menandakan jika Uma berusaha untuk tidak menangis tapi sayangnya gagal. Uma tetap menangis.


"Uma..., kenapa Uma menangis?"


Uma mendongak. Lalu menatapku dengan dalam. Namun sebelumnya ia menyeka air matanya.


Aku mengangguk paham. "Iya, percaya Uma. Karena percaya pada takdir termasuk rukun iman nomor enam."


"Jika Ais percaya, berarti percaya juga jika segala sesuatu yang terjadi pada diri kita termasuk ke dalam bagian takdir Allah SWT. Baik takdir baik ataupun takdir buruk sekalipun."


Uma menjeda perkataannya, ia menarik napas dalam-dalam. Lalu mengembuskan secara perlahan dari mulutnya. Sementara aku hanya bisa menunggu perkataan apa lagi yang akan Uma ucapkan.


"Kita sama sekali tidak boleh mengingkari sebuah takdir. Karena sejatinya apa yang terjadi saat ini telah Allah SWT catat sebelum kita terlahir ke dunia. Apa -apa saja yang kita lalui dan kita dapat sudah Allah SWT susunan dengan Serapi, sebagus dan seadil mungkin."


Aku semakin bingung dengan arah pembicaraan Uma. Dalam benakku bertanya ada kaitan apa perkataan Uma dengan pernikahan ini?

__ADS_1


"Uma, sebenarnya ada apa? Cerita saja pada Ais. Kenapa Ais merasa Uma hanya berbicara berputar-putar saja?"


"Uma hanya ingin kamu menerima apa pun yang terjadi kepadamu. Semua tidak luput dari takdir Allah SWT. Percayalah Allah SWT tahu apa yang terbaik untuk kita. Maka apa pun itu terimalah dengan segenap keikhlasan, keridhaan dan kerelaan."


"Ais tahu Uma. Semua yang terjadi di dunia ini tidak lain adanya campur tangan Allah SWT. Sedihnya, bahagianya semua milik Allah SWT. Bahkan diri kita saja milik Allah swt. Uma, Abi, kakak -kakak Ais, harta, anak dan semuanya milik Allah SWT yang sewaktu -waktu akan Dia ambil kembali."


Uma kembali memelukku. Sungguh aku sebenarnya belum tahu apa yang terjadi. Aku merasa ada yang aneh. Namun... aku mencoba untuk menepis segala keraguan. Aku serahkan saja semua urusanku pada Allah SWT.


Uma sekali lagi menggenggam tanganku. Ia seperti tengah bersiap - siap untuk kembali berbicara.


"Ais. Berat bagi Uma untuk mengatakan ini. Tapi... sungguh Uma harus mengatakan ini. Sesembunyi apa pun Uma maupun Abi menyembunyikan kebenaran ini tetap kamu akan tahu. Karena kebenaran ini begitu nyata." Uma berkata dengan sesegunan.


Kebenaran? Kebenaran apa yang Uma maksud? Kenapa perasaanku mendadak tidak enak seperti ini? Ada hal buruk kah yang terjadi, tapi apa?


"Uma, jangan buat Ais takut. Sebenarnya apa yang ingin Uma katakan."


"Ini tentang Zain."


"Pak Zain? Kenapa dengan suami Ais, Uma?"


Bukannya menjawab, Uma malah menangis semakin menjadi. Ia juga kembali membawa tubuhku ke dalam pelukannya. Pelukannya semakin tidak bisa terkendali lagi.


"Dia ... dia...,"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Zain ... dia... mobilnya... masuk jurang."


__ADS_2